Fajar baru menyusup di balik tirai kamar mereka. Leonard terbangun dengan napas berat, dadanya naik-turun, seolah baru saja keluar dari mimpi buruk. Di sampingnya, Nayla masih tertidur. Wajahnya tenang, rambut terurai berantakan, dan tangan kirinya menyentuh sisi ranjang tempat Leonard biasa tidur.
Selama beberapa detik, Leonard hanya diam menatapnya. Ada sesuatu yang ganjil dalam rasa aman yang kini mulai tumbuh. Sesuatu yang membuatnya merasa… terlalu nyaman.
Dan di dalam dunia Mahesa Atmajaya, kenyamanan selalu datang dengan harga yang mahal.
***
Pagi itu di ruang rapat utama, Leonard memimpin rapat direksi yang cukup mendesak. Perusahaan konstruksi rekanan dari Singapura tiba-tiba menarik diri dari proyek pelabuhan internasional. Tidak masuk akal kerjasama itu sudah disepakati secara lisan, dan hanya tinggal menunggu kontrak tertulis.
“Ini sabotase,” ucap Leonard dingin. “Terlalu bersih untuk disebut kebetulan.”
Salah satu direktur keuangan mengangkat alis. “Maksud Anda... sabotase dari dalam?”
Leonard menatap ke ujung meja. “Aku sedang tidak menuduh siapa pun… tapi jika ada yang bermain dua kaki di perusahaan ini, maka bukan hanya sahamnya yang akan kulenyapkan. Tapi juga karier dan namanya.”
Suasana ruang rapat mencekam. Bahkan Aurora, yang hadir sebagai komisaris, memilih untuk tidak bersuara. Tapi dari sorot matanya, jelas: ia menyimpan sesuatu.
***
Sementara itu di rumah, Nayla kembali menerima pesan anonim:
“Kau tidur dengan musuhmu. Dan sebentar lagi, dia akan tahu siapa sebenarnya kamu.”
Jari-jari Nayla menegang. Kali ini pesannya tidak mengancam, tapi menyusup. Seperti bisikan jahat yang mencoba merobek kepercayaannya pada Leonard. Atau… sebaliknya.
Ia mengecek kamera pengawas di rumah. Beberapa file rekaman malam terakhir… hilang. Terhapus otomatis.
Bukan ulah orang sembarangan.
***
Malam harinya, Leonard pulang lebih awal. Ia tampak letih. Tapi ketika Nayla hendak membukakan dasinya, Leonard menahan tangannya.
“Ada sesuatu yang perlu aku tanyakan,” ucap Leonard tenang.
Nayla mengangguk. “Apa?”
Leonard mengambil tablet, membuka rekaman hasil investigasi tim keamanannya. Di sana, ada foto lama Nayla bersama ayahnya di depan kantor firma hukum yang dulu berseteru dengan Mahesa. Tahun kejadian: dua bulan sebelum merger keluarga Atmajaya dengan Grup Santosa.
“Kenapa kau tidak pernah bilang kalau ayahmu dulu terlibat langsung dalam konflik dengan keluargaku?” tanya Leonard. Suaranya tidak tinggi. Tapi matanya tajam.
Nayla diam.
Leonard menatapnya lebih dalam. “Apa pernikahan ini bagian dari balas dendam?”
Nayla menghela napas panjang. “Ayahku kehilangan segalanya karena merger itu. Dan Mahesa-lah yang memaksakan perjanjian yang tidak adil. Jadi ya, awalnya aku memang ingin membalas...”
“Awalnya?” potong Leonard.
“Ya. Tapi semuanya berubah saat aku mulai melihat siapa dirimu sebenarnya. Kau bukan ayahmu, Leonard. Kau bukan pewaris yang kejam seperti yang kupikirkan. Kau terluka... seperti aku.”
Leonard berdiri. Ia tak tahu harus mempercayainya atau justru menjauh.
“Kau bohong di awal, Nayla.”
“Aku bertahan di dunia yang mengajarkan bahwa jika kau jujur, kau hancur. Dan aku tidak pernah ingin menghancurkanmu. Bahkan setelah tahu kau bisa saja menghancurkanku kapan pun.”
Keduanya berdiri dalam ketegangan sunyi. Tapi kali ini, Nayla yang melangkah mendekat.
“Kau bilang tak percaya siapa pun. Tapi lihat aku sekarang, Leonard. Aku tidak lari. Aku tetap di sini, bahkan setelah semua ini terbuka.”
Leonard menatap wajahnya lama. Napasnya berat. Tapi ia tahu: jika ini jebakan, maka ia telah jatuh terlalu dalam.
Ia menyentuh wajah Nayla, dingin namun ragu. “Jangan pernah paksa aku memilih antara cinta dan kuasa. Karena dunia yang kubangun… tidak menerima kelemahan.”
Nayla menyentuh tangan Leonard di pipinya. “Maka aku akan jadi bagian dari kekuatanmu. Bukan kelemahanmu.”
***
Di ruangan lain, Aurora menyeringai saat menerima laporan terbaru dari mata-matanya.
“Leonard tahu sebagian. Tapi belum semuanya,” ujar pria berkacamata tipis yang menyerahkan file padanya.
“Dan Nayla?” tanya Aurora.
Pria itu menjawab, “Dia mulai mencurigai penghapus data CCTV malam itu. Tapi dia belum tahu siapa pelakunya.”
Aurora berdiri dan menatap cermin. Wajahnya memantulkan kemenangan yang belum sempurna.
“Biar kubantu mereka membuka semua rahasia… dan kubuat keduanya saling meragukan sampai saling membunuh.”
***
Malam itu, ranjang kembali menjadi tempat yang terlalu sunyi. Leonard berbaring dengan mata terbuka. Nayla di sampingnya, memunggunginya, tapi ia tahu… Nayla belum tidur.
Ada sesuatu yang mengintai di balik malam. Sesuatu yang membuat keduanya terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain. Seolah di balik selimut dan pelukan, ada pisau yang menunggu waktu.
Dan saat Leonard akhirnya menyentuh punggung Nayla, pelan-pelan memeluknya dari belakang, ia tahu: mereka tidak sedang saling memeluk…
Mereka sedang menjaga satu sama lain dari dunia yang ingin membunuh mereka bahkan dari dalam bayangan tempat tidur mereka sendiri.
***
Malam menjelang lebih dalam. Hujan yang turun sejak sore perlahan mereda, meninggalkan tetes-tetes terakhir di kaca jendela. Suara jam berdetak di dinding kamar, seolah menghitung waktu sebelum segalanya berubah.
Leonard masih terjaga. Pelukannya di punggung Nayla terasa kaku, bukan karena ia tak ingin memeluknya tetapi karena pikirannya terus bekerja. Antara rahasia Nayla, racun dalam cangkir, dan hilangnya file CCTV, ia menyadari satu hal:
Musuh mereka tidak berada di luar. Tapi sudah menyusup ke dalam.
Dan lebih buruknya lagi, bisa saja… musuh itu adalah salah satu dari mereka.
***
“Leonard...” suara Nayla pecah keheningan. Lembut, tapi berat.
“Ya?”
“Kalau besok aku pergi... apa kau akan tetap curiga padaku?”
Leonard tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang.
“Kalau kau pergi tanpa alasan, aku akan curiga,” katanya jujur. “Tapi kalau kau pergi untuk menyelamatkan kita berdua... aku akan menunggu.”
Nayla berbalik, tubuhnya kini menghadap Leonard. Wajahnya suram tapi kuat.
“Aku tidak tahu siapa yang mengawasi kita. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa lagi tinggal di rumah ini tanpa mencari tahu siapa yang bermain di belakang layar.”
Leonard menggenggam tangannya.
“Apa kau akan menemuinya?”
“Regina?” tanya Nayla.
Leonard mengangguk.
“Ya. Dia tahu lebih banyak dari yang dia ucapkan waktu itu. Dan aku akan buat dia bicara.”
Leonard menatapnya, tajam tapi dalam.
“Kalau dia menyakitimu…”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” potong Nayla. “Aku bukan gadis kecil yang butuh dilindungi setiap waktu. Aku partnermu, Leonard. Bukan beban.”
***
Keesokan harinya, Leonard berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada rapat darurat dengan investor karena penarikan modal mendadak dari proyek pelabuhan.
Nayla, di sisi lain, bertemu dengan seseorang di kafe tersembunyi yang letaknya jauh dari pusat kota.
Tante Regina sudah menunggu. Kali ini tak lagi dengan perhiasan mewah, tapi dengan penampilan sederhana sweater krem dan scarf lembut yang menggantung di lehernya.
“Kurasa kau tidak datang hanya untuk basa-basi,” katanya sambil menyeruput teh.
Nayla duduk. Tegas. “Siapa yang menghapus rekaman CCTV di rumah?”
Regina tersenyum miring. “Langsung ke inti, ya? Itu sifat Atmajaya. Tapi maaf, Sayang. Aku hanya mantan istri dari monster yang membesarkan pria itu. Aku tidak punya akses ke rumahnya lagi.”
“Tapi kau masih punya jaringan. Dan kau tahu siapa yang ingin menghancurkan Leonard.”
Regina meletakkan cangkirnya. “Bukan cuma Leonard. Tapi semua yang berpotensi membangkitkan Mahesa dari dalam tubuh pria itu. Dan kau, Nayla... adalah percikan yang menyalakan kembali bara lama.”
“Maksudmu?”
“Mahesa takut pada satu hal semasa hidupnya: wanita yang bisa membuat pewarisnya jadi manusia. Bukan robot.”
Nayla menatap Regina, perlahan menyadari... ancaman ini bukan hanya bisnis. Tapi warisan trauma yang diwariskan turun-temurun.
“Aurora bekerja sama dengan siapa?”
Regina menyeringai kecil. “Itu... pertanyaan yang menarik. Tapi aku akan beri bocoran: musuhmu bukan hanya perempuan itu. Ada satu orang lain. Seseorang yang sangat dekat... tapi tak terlihat.”
***
Sementara itu, Leonard sedang berdiri di balkon kantor pusat Atmajaya Corp, menerima laporan dari tim keamanannya.
“Jejak penghapus file CCTV ditemukan... tapi ada yang aneh.”
“Apa?”
“Itu dilakukan dari jaringan internal. Bukan peretas luar. Tapi... dari akun yang dulunya milik Ayah Anda.”
Leonard membeku. “Akun Mahesa?”
“Ya. Dan data log menunjukkan seseorang mengaktifkannya kembali dua minggu lalu. Kita belum tahu siapa yang mendapat akses.”
Leonard mengepalkan tangan. Mendiang ayahnya masih membayangi kekaisaran ini… bahkan dari dalam kubur.
***
Malam kembali turun.
Nayla pulang lebih lambat dari biasanya. Tapi yang membuatnya lebih terkejut, bukan karena rumah tampak kosong. Melainkan karena saat ia masuk ke kamar, ada satu hal baru di meja rias:
Sebuah foto lama... milik keluarganya.
Ia menggenggamnya. Foto itu… tidak pernah ia bawa ke rumah ini.
Tangannya gemetar. Ini bukan peringatan. Ini deklarasi perang.
Di belakangnya, bayangan Leonard muncul di ambang pintu. “Ada yang masuk?”
Nayla menoleh. “Mereka mulai menyerang dengan cara yang lebih pribadi.”
Leonard melihat foto itu. Wajahnya menegang.
“Besok, kita pasang jebakan,” katanya.
Nayla menatapnya. “Dan jika salah satu dari kita yang tertangkap di dalamnya?”
Leonard mengulurkan tangannya. “Maka kita jatuh bersama. Tapi tidak sendirian.”
***
Malam itu, mereka tidur dalam satu selimut… tapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah sehangat itu.
Dan ketika kamera tersembunyi di pojok langit-langit menyala dalam mode malam…
Seseorang di tempat lain sedang mengamati, mencatat, dan bersiap…
Karena dalam dunia mereka, bahkan tempat tidur pun bisa menyimpan musuh yang tak terduga.