cukup lama Lidya berdiri sambil menunggu pria di hadapannya hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukan jam 10 malam, sekarang perasaanya khawatir karena dia telah pulang terlambat.
"tuan, apakah saya sudah boleh pergi?" tanya Lidya.
farel yang merasakan tubuhnya sudah jauh lebih baik segera melihat ke arah lidya tentu saja dia sadar bahwa wanita yang menolongnya sudah cukup lama berada di sana.
"tinggu sebenar" farel segera beranjak dari duduknya." kamu tidak akan mungkin kan pulang dengan keadaan seperti itu" sambung farel yang melihat baju yang di pake Lidya kotor akibat ulahnya.
Lidya yang sadar dengan ucapan farel segera mengagukan kepalanya tentunya dia tahu bahwa tidak mungkin dia pulang dengan keadaan seperti itu, bagaimana nanti dia menjelaskan semuanya kepada Sheila teman satu kamarnya.
farel segera berjalan ke arah salah satu kamar yang tidak jauh darinya namun seketika langkahnya terhenti saat menyadari bahwa Lidya tidak mengikutinya dengan cepat dia segera menoleh ke arah lidya yang masih berdiri di tempatnya.
"kenapa kamu masih berdiri di situ! cepat ikuti aku" pinta farel.
lidya pun segera berjalan ke arah farel tanpa berpikir apapun lagi, tentunya yang dipikirkannya saat ini adalah segera mengganti bajunya dan pulang.
Farel pun segera membuka pintu kamar miliknya dan Lidya mengekor di belakangnya belum juga rasa takjubnya hilang melihat suasana apartemen Kini dia dibuat melongok kembali setelah melihat ruangan kamar yang tak kalah megahnya.
"Tuan mau ngapain?" ucapannya yang sudah berada di dalam kamar.
"kamu pikir saya mau ngapain!" jawab Farel dengan sedikit memicingkan matanya.
"Kenapa Tuan membawa saya ke sini?" tanyanya sambil memerhatikan wajah pria yang ada di hadapannya.
Farel sekarang tentu mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan wanita yang berdiri tidak jauh darinya sungguh dia tidak habis pikir Mengapa wanita selalu berpikiran seperti itu kepadanya.
"kamu pikir saya mau ngapain?" ucap Farel yang tidak percaya bahwa wanita di hadapannya sudah berpikir sejauh itu.
Lidya langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tentu saja dia begitu malu karena sudah berpikir terlalu jauh kepada pria yang berdiri di hadapannya itu, makan Farel hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia tahu apa yang ada di pikiran gadis yang itu.
tanpa berkata apapun lagi pada segera melangkah menuju ke arah lemarinya mengingat di sana Ada beberapa pakaian yang dia simpan, mencari cukup lama akhirnya dia mendapatkan satu pakaian ya walaupun dia tidak tahu pakaian itu akan cocok dengan gadis itu atau tidak yang penting baginya adalah gadis itu segera mengganti bajunya yang kotor karena dirinya.
"sekarang kamu ganti baju kamu dengan ini" pada sambil menunjukkan baju yang dia pegang ke arah Lidya.
"tapi Tuan itu baju untuk pria" jawab Lidya yang tahu bawa baju yang ditunjukkan kepadanya adalah baju yang biasa dipakai untuk pria.
"memang baju untuk pria tapi di sini tidak jadi baju wanita Ya terserah kalau kamu mau pakai silakan tidak juga tidak masalah" Farel yang tidak ambil pusing dengan hal itu.
yang tidak punya pilihan akhirnya hanya bisa mengambil baju yang diberikan oleh Farel, setelah memberikan baju itu akhirnya pamer mempersilahkan Lidya untuk mengganti bajunya di kamar itu Dan Dia segera melangkah pergi keluar dari kamar.
setelah kepergian Farel sejenak Lidya memandangi setiap sudut kamar yang begitu sangat indah dan mewah bahkan mungkin hanya dalam mimpinya saja dia bisa melihat kamar seperti itu namun sekarang dia bisa melihatnya langsung.
karir yang merasakan keadaannya jauh lebih baik akhirnya memutuskan untuk mendidik kamar tamu apalagi dia merasakan badannya sudah sangat lengket sekali.
Risma yang baru saja sampai di di lobby apartemen milik anaknya segera turun dari mobil. sedangkan Pak Ujang di minta untuk menunggu.
Risma segera masuk ke dalam gedung apartemen itu Dan Dia segera melangkah menuju litt setelah pintu lift terbuka akhirnya dia bergegas masuk hanyaperlu waktu beberapa menit Akhirnya dia pun sampai di lantai di mana kamar Farel berada.
dengan perasaan marah dia segera melangkah menuju kamar Farel namun setelah berada di depan pintu kamar pada dia segera mengetuk pintu namun tidak ada jawaban hingga membuat dirinya semakin kesal dengan tingkah Farel.
karena dia mengetahui kunci akses apartemen milik farel dia pun segera memencet sandinya dan pintu pun terbuka, setelah pintu terbuka dia melihat sekeliling ruangan yang masih sepi namun pandangannya menuju ke arah meja dimana terdapat gelas tentunya dia yakin bahwa anaknya berada di sana.
tanpa menunggu lama dia segera berjalan menuju kamar farel dan segera membukanya namun seketika dia berteriak saat melihat siapa yang berada di dalam kamar, begitu juga dengan Lidya yang ikut kaget saat mendengar teriakan itu.
farel yang berada di kamar sebelah segera keluar saat mendengar teriakan itu namun seketika dirinya kaget saat melihat maminya sudah ada di sana.
"mami"ucap farel.
Risma yang masih kaget segera menoleh ke arah suara itu dan dirinya semakin terkejut saat melihat anaknya hanya mengunakan handuk saja.
Lidya yang berada kamar farel bergegas memakai baju tentu saja dia tidak tahu bahwa akan ada orang lain yang datang kesana.
"apa semua ini?" tanya Risma sambil menatap penuh kemarahan ke arah farel.
"maksud mami apa?" jawab farel yang tidak mengerti apa maksud perkataan maminya.
Risma yang semakin marah segera melangkah menuju ke arah farel tanpa mengucapkan apapun lagi dia segera menampar wajah putranya.
plak
plak
sontak farel kaget karena maminya tiba-tiba menamparnya.begitu juga dengan Lidya yang melihat itu tak kalah kagetnya hingga dia berpikir bahwa wanita yang datang itu adalah kekasih pria yang dia tolong, tentu saja pemikirannya sampai sejauh itu apalagi saat melihat penampilan wanita paruh baya itu tentunya dia yakin bahwa dia bukan wanita sembarang.
farel yang kaget segera memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang dilakukan maminya. " mami kenapa menampar aku?" tanya farel yang bingung kenapa maminya sampai menamparnya.
Risma yang begitu marah menatap tajam ke arah farel karena dia menyangka anaknya telah melakukan hal yang tidak-tidak apalagi dia melihat seorang wanita sedang berganti baju dikamar anaknya dan melihat farel hanya mengunakan handuk saja tentu saja pemikirannya sudah sangat jauh.
"mami tidak pernah mengajarkan kamu berbuat hal memalukan seperti ini, lalu katakan apa yang sudah kamu lakukan dengan gadis itu" tanya Risma yang langsung menoleh ke arah lidya yang berdiri terpaku di ambang pintu kamar farel.
"mi, aku tidak melakukan apapun" jawab farel yang tahu bahwa maminya telah salah paham kepadanya.
"kamu pikir mami ini bodoh hah!" teriak Risma yang tentu saja semakin membuat Lidya ketakutan.
farel menggelengkan kepalanya sungguh dia tidak habis pikir mengapa maminya bisa berpikir sejauh itu kepadanya, tentu saja dia tidak mau jika sampai maminya salah paham kepadanya apalagi maminya berpikir dia telah melakukan hal yang tidak-tidak.
Lidya yang tidak mau di tuduh seperti itu memberanikan diri untuk melangkah mendekat ke arah keduanya tentu saja dia ingin menjelaskan tentang kesalah pahaman yang terjadi di sana.
"maaf nyonya, sepertinya anda salah paham" Lidya memberanikan diri untuk berkata walau dengan suara sangat pelan.
Risma segera menoleh ke arah lidya sejenak dia memerhatikan penampilan Gadis itu tentunya dia bisa menilai bahwa gadis itu adalah gadis baik-baik.
"kamu tidak usah ikut campur, biar saya selesaikan urusan ini dengan anak kurang ajar ini" sahut Risma yang masih berpikir kalau farel telah memperdaya gadis polos itu.
"tapi nyonya
"sudah sekarang kamu diam saja, saya pastikan anak saya akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat" potong Risma sambil tersenyum ke arah lidya.
Lidya dan farel langsung kaget mendengar hal itu tentunya mereka tahu bahwa wanita di hadapannya sudah salah paham dengan apa yang dia liat, tentu saja hal ini tidak bisa farel biarkan.
"mami itu bicara apa? aku tidak melakukan apapun dan mengapa kau harus bertanggung jawab" ucap farel dengan nada sedikit kesal.
"kamu bilang tidak melakukan apapun! lalu apa ini" Risma segera menunjuk ke arah tubuh farel yang hanya terbalut handuk saja.
farel segera menepuk jidatnya saat menyadari dirinya hanya mengunakan handuk saja pantas saja maminya salah paham kepada dirinya.
"jadi gara-gara ini, mami menuduh aku telah berbuat yang tidak-tidak" ucap farel.
"mami tidak menuduh kamu, tapi mami hanya melihat apa yang mami liat, apa kamu pikir mami akan percaya jika kamu bilang tidak melakukan apapun" kata Risma.
farel tentu saja tidak terima dengan tuduhan yang di tunjukan kepadanya dengan cepat dia melihat ke arah lidya yang menundukan wajahnya tentu saja hanya wanita itu yang bisa menjelaskan kepada maminya bahwa tidak ada yang terjadi di antara mereka apalagi keduanya baru tadi bertemu itu pun karena dirinya yang sedang mabuk.
"hey nona, tolong jelaskan bahwa kita tidak melakukan apapun" pinta farel sambil melihat ke arah lidya.
"saya harus menjelaskan apa?" tanya Lidya yang merasakan bingung karena dia tidak mengerti harus menjelaskannya dari mana.
"iya Lo tinggal jelaskan saja semuanya sama mami gue" sahut farel dengan nada sedikit meninggi karena dirinya kesal melihat tingkah bodoh Lidya.
mendengar anaknya berkata kasar tentu saja semakin membuat Risma berpikir kalau anaknya memang sudah melakukan hal yang tidak baik, berbeda dengan Lidya yang sekarang terkejut karena ternyata wanita yang berdiri di hadapannya itu adalah ibunya padahal sebelumnya dia berpikir kalau pria itu adalah pria simpanan.
"farel, Jaga bicara kamu, mami tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbicara kasar kepada wanita" kata Risma dengan sedikit emosi karena farel sudah berani berkata kasar kepada wanita.
"aku hanya kesal karena dia tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bahkan aku dan dia pun baru pertama kali bertemu" jelas farel yang mencoba menjelaskan semuanya kepada maminya.