“Dodol, kerupuk kulit, dan kotoran domba untuk Citra. Sudah, cukup.”
Aku sedang memeriksa daftar belanjaan oleh-oleh yang akan aku beli. Ya, liburan sudah hampir usai. Besok, aku harus kembali merantau. Rasanya libur 2 minggu kurang puas. Bisakah aku minta tambah sebulan lagi?
Bersama Ibunda Ratu dan Harsa kami pergi menuju kota Garut menaiki mobil pikap milik Abah. Harsa mengemudi, Ibunda Ratu ditengah, aku di kursi penumpang. Beruntung badanku dan Ibunda Ratu ramping, kami jadi tidak kesempitan.
Ibunda Ratu memeriksa daftar belanjaanku. Kedua matanya melotot.
“Kotoran domba?” tanyanya.
“Iya, Bu. Ada yang salah?”
“Daripada kotoran domba, mending eek ayam. Tuh, di kandang ayam Abah banyak, berceceran.”
Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran.
“Ya sudah, aku akan bawa dua, kotoran domba dan eek ayam.”
Citra pasti akan senang. Di saat yang lain hanya mendapat satu oleh-oleh, ia dapat dua sekaligus.
“Good! Itu baru anakku.” Ibunda Ratu terlihat bangga dengan keputusanku. Aku terharu. Air mataku hampir menetes. Bukan, bukan karena terharu. Tapi, karena butiran bedak yang beterbangan ke wajahku. Asalnya dari waria yang naik motor RX King di sebelah mobil pikap kami. Waria itu memberikan kiss bye padaku.
“Bye, kasep,” katanya.
Aku menatap Ibunda Ratu. “Bolehkah aku mengutuk makhluk hidup itu, wahai Ibunda Ratu?” tanyaku.
Beliau menggeleng dengan sangat anggunly. “Jangan, anakku. Biar semesta yang mengirimkan azab untuknya. Azab yang sangat pedih.”
Aku mengangguk. “Baiklah, Ibunda Ratu.”
Sementara itu, Harsa yang sedang fokus mengemudi, tiba-tiba saja tancap gas. Ia terlihat bernafsu ingin menabrak waria yang sebelumnya menggodaku. Apakah ini tanda dari semesta bahwa waria itu akan segera terkena azab?
“Harsa, jangan!” kata Ibunda Ratu.
“Jangan ragu-ragu. Tabrak yang kencang,” lanjutnya.
Nasib baik bagi waria itu. Saat mobil pikap kami mau menabraknya, ia berbelok ke sebuah jalan kecil. Kami bersorak kecewa.
“Yah, sayang sekali,” kata Ibunda Ratu. “Padahal sedikit lagi.”
Setibanya kami di pusat oleh-oleh kota Garut, aku langsung mengambil semua barang yang aku inginkan sesuai yang tertulis di dalam daftar. Ibunda Ratu dan Harsa berkeliling, mencari sesuatu yang tidak ada. Setengah jam berkeliling, aku sudah mendapatkan semua barang yang kumau. Tak kusangka jumlahnya akan jadi sebanyak ini. Tapi, tak apa. Toh, namanya juga buah tangan. Sekarang, aku tinggal mencari kotoran domba untuk Citra.
Ibunda Ratu dan Harsa melihat-lihat baju, jam, tas dan sepatu di bagian fashion. Di sini, terbesit dalam benakku untuk membelikan mereka sesuatu. Sekalian juga untuk Abah dan Baginda Nenek. Uang tabunganku kan ada banyak.
Tanpa bertanya pada mereka, aku langsung mengambilkan beberapa barang—baju, celana, gaun, tas, jam dan dompet—yang langsung kumasukkan ke dalam troli.
“Banyak sekali. Ini untuk oleh-oleh juga?” tanya Ibunda Ratu.
“Bukan. Ini untuk Ibu, Harsa, Abah dan Nenek,” jawabku.
Harsa yang mengetahui bahwa aku mentraktirnya, lantas me-request sebuah barang.
“Ambil saja,” kataku.
“Boleh tiga?” tanyanya.
“Lima pun boleh,” jawabku lantang dan mantap.
Harsa pergi. Mengambil barang yang ia mau. Harsa senang, tapi tidak dengan Ibunda Ratu. Beliau menatapku heran dan penuh curiga.
“Wahai anak muda.”
“Iya, Ibunda Ratu,” jawabku.
“Dari mana gerangan uangmu ini? Tampaknya banyak sekali. Melebihi uang jajan bulanan yang saya berikan padamu.”
Duar! Seperti disambar petir di siang bolong. Aku lupa. Beliau kan tidak tahu kalau aku kerja sampingan jadi dukun. Sekarang, aku harus menjawab apa? Tidak mungkin kan aku bilang, “Wahai Ibunda Ratu, semua uang ini adalah hasil kerja keras hamba sebagai Dukun Ibukota. Pasien hamba sudah banyak. Sekarang hamba sangat terkenal.” Wah, aku bisa diamuk.
Berkelit. Aku harus berkelit. Aha!
“Ibu ini. Aku kan suka ikut part time yang diadakan pihak sekolah. Upahnya besar, pakai dollar pula. Makanya, uang tabunganku bisa jadi sebanyak ini.”
“Oh, ya?” Ibunda Ratu memicingkan kedua matanya. Ia berusaha menginterogasiku lebih dalam.
“Sungguh. Uang-uang ini aku dapatkan dari kerja part time.” Aku berusaha meyakinkannya. Tak mau kalah.
Ibunda Ratu terus menatapku. Aku juga terus menatapnya, tak berpaling sedikit pun. Kami saling tatap. Aku harus terus menatapnya agar beliau percaya. Tapi, lain cerita kalau beliau sudah menggunakan kekuatannya. Bisa-bisa semua kebohonganku terbongkar. Semoga saja beliau tidak menggunakan kemampuan telepatinya untuk membaca pikiranku.
“Baiklah, Ibu percaya.”
Fyuh! Aku bisa bernapas lega.
“Tapi!”
Aku tak jadi bernapas lega.
“Y—ya, Bu?”
“Ibu tidak mau baju yang ini. Modelnya terlalu nenek-nenek. Ibu mau ganti. Nah, yang ini. Ibu suka tulisannya, Bad Bitches! Terdengar garang dan penuh percaya diri.”
“O—oke. Ambil yang itu saja,” kataku.
Aku kembali merasa lega. Ternyata, beliau hanya ingin menukar baju yang aku pilihkan untuknya. Syukurlah. Aku masih aman.
Lapar, kami memutuskan untuk makan siang. Tidak di restoran, tapi di rumah makan pinggir jalan. Eits! Jangan menganggap remeh dulu! Rumah makan ini sangat terkenal. Tidak afdol rasanya kalau ke Garut, tapi tidak mampir makan di sini. Namanya Rumah Makan Mak Ceceut. Tersedia berbagai macam makanan khas sunda, beserta variasi sambalnya yang cetar membahana. Sambalnya yang terkenal.
Sistemnya seperti makan di warteg. Ambil yang kami mau, lalu bayar di akhir. Aku dan Ibunda Ratu mengambil lauk secukupnya. Yang penting kenyang, tapi tidak sampai kekenyangan. Bagaimana dengan Harsa? Tentu saja dia kesetanan. Berpiring-piring makanan ia bawa. Meja kami penuh hanya dengan makanannya saja. Satu orang, tapi porsi makannya seperti 10 orang kuli yang habis membangun 1000 candi. Dia benar-benar monster.
“Kamu yakin, Har?” tanyaku.
Harsa tampak berpikir. Aku yakin dia pasti menyesal karena mengambil makanan terlalu banyak.
“Benar juga,” katanya.
Tuh, kan. Dia baru sadar sekarang.
“Sepertinya masih ada yang kurang.”
Apa!?
Dia bangkit dan lalu mengambil ikan kakap goreng tepung berukuran besar. Utuh, baru diangkat dari penggorengan. Asapnya masih mengepul.
“Nah, ini baru komplit,” katanya dengan raut wajah bahagia.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aku dan Ibunda Ratu saling tatap. Dengan menggunakan kemampuan telepati, kami saling berbicara.
“Kamu masih punya uang tabungan kan, Nak?”
“Iya, Bu. Masih. Kenapa?”
“Tolong bayar semua ini dulu ya. Uang Ibu tidak cukup. Ibu tidak mengira Harsa akan memesan makanan sebanyak ini”
Aku mengiyakan sembari menahan tawa. Kenapa aku mau tertawa? Karena aku ingat, uang ibu dipakai Baginda Nenek untuk membeli topi jerami yang dipakai Luffy dari anime One Piece. Mana harganya sangat mahal. Karena hobi baru Baginda Nenek ini, Ibunda Ratu jadi kesulitan untuk mengelola keuangan. Beruntung, beberapa bulan terakhir pasien Abah terus berdatangan silih berganti. Entah untuk disembuhkan dari penyakit non medis, meminta penerawangan tentang jodoh dan keuangan, bahkan ada yang meminta untuk mengirimkan santet ke musuhnya—untuk yang terakhir ini Abah selalu menolak. Sehingga keuangan kami tetap stabil, walau permintaan Baginda Nenek semakin aneh-aneh.
Sepertinya aku harus meminta Abah untuk menghipnotis Baginda Nenek agar tobat dari dunia per-wibu-an yang menyesatkan ini. Sungguh, aku takut beliau bercita-cita ingin menjadi Mikasa Ackerman.
Seorang bule eropa cantik bersusu besar—maksudku, menggendong tas keril besar menghampiriku. Wow. Dia seperti Jennifer Lawrence.
“Can u speak english?” tanyanya.
“Yes, I’m fluent. May I help you, Ma’am ?” Jiwa tour guide-ku seketika keluar.
“Iyeu, abdi teh bade ka Tasik. Terminal bes pang caketna di palih mana nya, Kang?”
Artinya: Ini, saya mau ke Tasik. Terminal bus yang paling deket di mana ya, Kang?
Kutarik lengan bule itu. Kutatap kedua matanya lekat.
“Kok jadi bahasa sunda, Teh?” tanyaku.
Bule itu menjawab, “Ya karena saya ada blasteran Sumedangnya, Kang”
“Lalu kenapa bertanya, can u speak english?”
Sambil cengengesan, bule itu menjawab, “Cuma gimmick, Kang. Biar seru.”
Jika bukan turis, sudah kulempar dia ke kawah Tangkuban Perahu. Ada-ada saja kelakuannya. Definisi cantik-cantik spesial.
Kutunjukkan arah ke terminal bus. Bule bernama Warsidah itu berterima kasih, lalu pergi meninggalkan kami.
“Namanya seperti merek sabun kecantikan,” kata Ibunda Ratu.
Wardah. Benar juga. Aku baru sadar.
Pukul lima sore kami sudah tiba di rumah. Hujan turun sangat deras. Udara berubah jadi sangat dingin. Aku langsung mengepak oleh-oleh yang kubeli ke dalam beberapa tas besar. Ibunda Ratu dan Harsa membantu. Dari arah dapur, Baginda Nenek datang membawa bala-bala yang masih panas. Bala-bala dengan toping cabai hijau. Rasanya sangat enak, pedas, menggoyang lidah.
“Ini untuk Nenek?” tanya Baginda Nenek saat menerima daster bergambar awan batik Mega Mendung.
“Iya, Nek. Nenek suka?”
Beliau mengangguk. “Sangat!” katanya. “Motifnya mirip jubah Akatsuki. Nenek akan memakainya ke pasar besok. Dipadukan dengan topi bajak laut mugiwara, pastinya Nenek akan terlihat sangat kawaii.”
Oke, keluargaku tidak ada yang normal. Aneh semua. Termasuk aku juga. Baginda Nenek benar-benar sudah menjadi wibu. Beliau harus segera ditangani. Jika Abah tidak mau menghipnotis beliau, maaf, biar aku yang turun tangan.
Sembari memilah dan memasukkan oleh-oleh yang aku beli ke dalam tas, aku mengobrol dengan Ibunda Ratu. Membicarakan perihal kemampuan penerawanganku yang akhir-akhir ini sering kali aktif. Aku lebih sering mendapatkan penglihatan masa depan. Penglihatan buruk.
“Bagus dong,” kata beliau. “Itu berarti kekuatanmu semakin meningkat.”
Kata beliau, kelebihan dari keluarga Aditama dibanding penyihir-penyihir lain adalah kemampuan penerawangan dan kekuatan pikiran kami yang di luar nalar. Jadi, bukan hal yang aneh jika kemampuan penerawanganku semakin sering aktif, walau yang diperlihatkan hanyalah hal-hal yang buruk.
“Suatu hari nanti kamu pasti bisa menguasai kemampuan penerawangan ini dengan baik. Bisa melihat masa lalu dan masa depan sesuka hati, persis seperti apa yang Ibu dan Abah lakukan,” kata Ibunda Ratu.
“Tapi, satu hal yang harus selalu kamu ingat. Kekuatan yang hebat harus dibarengi dengan tanggung jawab yang besar. Saat kamu sudah menguasai kemampuan penerawanganmu dengan baik, gunakan kemampuanmu itu untuk hal-hal yang baik dan berguna. Jangan gunakan kemampuan tersebut untuk mencelakai, apalagi untuk menguntungkan diri sendiri. Kendali atas waktu adalah kekuatan yang sangat hebat. Kamu harus berhati-hati dalam menggunakannya.”
Aku mengangguk. Mengiyakan perkataan beliau. Tidak salah aku membicarakan hal ini dengan Ibunda Ratu.
“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak mau menceritakan tentang pekerjaanmu sebagai Dukun Ibukota? Ibu penasaran loh. Apalagi tentang Sulastri.”
Eh? Aku terkejut. Ibunda Ratu ternyata sudah tahu. Tapi, kenapa ia tidak marah?
Tersenyum, Ibunda Ratu meminta padaku untuk menceritakan seluruh pengalamanku.
Seperti maling yang tertangkap basah karena mencuri, dengan perasaan tidak enak, aku menceritakan semua pengalamanku. Harsa dan Baginda Nenek mendekat. Ingin mendengarkan juga. Tapi sebelum itu, aku terlebih dulu meminta maaf kepada Ibunda Ratu karena telah membohonginya.
“Tidak apa, wahai anakku. Ibu memaklumi. Sekarang, cepat ceritakan pengalamanmu. Mumpung bala-balanya masih hangat.”
Malam harinya, Harsa mengajakku untuk berendam di kolam air panas Cipanas. Kami kembali lagi ke kota, tapi kali ini hanya berdua. Ibunda Ratu, Abah dan Baginda Nenek tidak mau ikut. Harsa sengaja mengajakku ke sini untuk me-rileksasi tubuh. Air panas dari sumber mata air panas pegunungan memang memiliki khasiat yang baik, bukan? Harsa benar-benar membawaku ke tempat yang tepat.
Terdapat beberapa kolam dan ruangan di tempat ini. Harsa mengajakku ke kolam yang paling sepi, paling jarang didatangi orang-orang. Ia sengaja memilih tempat ini. Katanya, ia ingin menghabiskan waktu untuk berdua denganku, sebelum aku kembali merantau ke Jakarta.
“Nikmatnya,” kata Harsa saat seluruh tubuhnya sudah berada di dalam air panas. Menyisakan bagian kepalanya saja di atas permukaan air.
Aku masih berusaha untuk beradaptasi. Baru bagian kaki hingga lutut yang masuk ke dalam kolam. Air ini terasa panas. Aku tidak kuat.
Aku duduk di pinggir kolam. Masih berusaha memasukkan tubuhku sepenuhnya ke dalam air. Panas! Rasanya seperti direbus hidup-hidup. Tapi, aku coba untuk bertahan. Kumasukkan lagi sedikit demi sedikit badanku ke dalam air. Setelah perjuangan yang cukup lama, akhirnya aku bisa merendam seluruh tubuhku, masuk ke dalam air. Rasanya nikmat sekali. Kolam ini tidak dalam. Aku bisa duduk di dasarnya dengan kondisi kepala yang berada di luar.
“Idemu benar-benar brilian, Har. Berendam di sini membuat rasa cepekku hilang,” kataku. Mulai memejamkan mata. Menikmati.
Tiba-tiba saja sesuatu yang berat mendarat di pundakku. Kubuka kedua mataku. Ternyata itu kepala Harsa. Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Raut wajahnya tampak sedih. Sejak di perjalanan tadi ia juga lebih banyak diam. Ada apa dengannya?
“Kamu kenapa?” tanyaku.
Menatapku dengan tatapan sedih, Harsa menjawab, “Aku hanya ingin bermanja-manja dengan Abang, sebelum Abang pergi meninggalkanku besok.”
“Eh?” Aku menatapnya. Ingin tertawa.
Aku mengerti sekarang. Dia sedih karena besok aku akan kembali meninggalkannya. Karena itulah sifat manja dan kekanak-kanakannya muncul.
“Kan nanti kita akan bertemu lagi,” kataku.
“Iya, tapi lama.”
Dia benar-benar seperti anak kecil yang sedang ngambek. Apa dia tidak malu dengan badan besar berototnya?
“Ngomong-ngomong, selama aku di sini, aku tidak melihat kau berkencan dengan pacar-pacarmu. Kenapa?”
Harsa mengembuskan napasnya berat. “Kan ada Abang. Aku harus memprioritaskan Abang, ketimbang pacar-pacarku.”
Uh, so sweet-nya. Aku mengusap kepala Harsa lembut. Kini tak hanya kepalanya saja yang bersandar di pundakku, tapi juga tangannya yang melingkari lenganku. Aku khawatir orang-orang akan mengira kami sebagai pasangan homo yang sedang m***m.
“Tak usah sedih,” kataku. “Kapan-kapan, kalau tabunganku banyak, aku akan mengajakmu, Ibu, Abah dan Nenek ke Jakarta. Aku akan menyewa hotel bintang lima. Kita akan liburan sama-sama.”
Seketika raut wajah sedih Harsa menghilang. Berganti menjadi senyum yang sangat lebar.
“Ide yang bagus,” katanya. “Aku juga akan ikut menabung, agar biaya yang Abang tanggung tidak terlalu berat.”
“Nah, iya. Kita patungan.”
“Semoga saja bisa terealisasikan.” Harsa tampak bersemangat.
“Harus!” kataku.
Syukurlah. Dia tidak lagi terlihat sedih. Paling tidak untuk sementara ini.
Kami lanjut berendam. Gantian, kini aku yang bersandar di pundaknya. Tapi, baru saja kepalaku mendarat di pundaknya, Harsa langsung membuka lebar tangannya, merangkul tubuhku, menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya.
“Lebih nyaman begini,” katanya.
Awalnya aku merasa agak canggung. Ini terlalu dekat. Tapi—ya sudahlah. Aku lanjut merebahkan kepalaku di pundaknya. Lama kelamaan rasa canggung itu hilang, berganti menjadi rasa nyaman. Kalau diingat-ingat, sejak kecil kami berdua memang sedekat ini. Tak ada jarak. Seakan-akan kami adalah satu jiwa di dalam dua raga yang berbeda. Tapi, karena usia kami yang semakin bertambah, aku mulai merasa canggung jika harus berdekatan sedekat ini dengan Harsa. Selain rasanya aneh, aku sedikit khawatir dengan pandangan orang-orang yang melihat kami. Takut mereka berpikir yang macam-macam. Zaman sekarang, melihat dua laki-laki berhubungan sangat dekat bisa menimbulkan fitnah. Aku tidak mau hal seperti ini sampai terjadi.
Keesokan paginya, Harsa, Ibunda Ratu, Abah dan Baginda Nenek mengantarku ke terminal bus. Libur telah usai, waktunya aku untuk kembali merantau. Setelah Harsa dan Abah membantuku memasukkan barang-barang ke dalam bagasi bus, aku langsung berpamitan pada semuanya. Nasihat dan petuah kudapatkan dari Ibunda Ratu, Abah dan Baginda Nenek.
“Jadilah anak baik. Utamakan adab di atas segalanya,” kata Ibunda Ratu.
“Shap! Ibunda Ratu!” Aku memberi hormat.
“Jangan lupa latih terus ilmu sihir yang sudah Ayang kuasai. Buat diri Ayang semakin kuat. Tapi ingat, sejago-jagonya Ayang dalam ilmu sihir, jangan kirim pelet ke anak gadis orang. Abah not approved,” kata Abah.
“Tenang, Bah. Wajah tampan sepertiku ini tidak mungkin tidak disukai oleh wanita. Fansku banyak, tinggal pilih sambil merem pun takkan rugi,” kataku percaya diri. Padahal, cintaku pada Naraya bertepuk sebelah tangan.
“Ini.” Baginda Nenek memberikanku uang 200 ribu rupiah. Aku berterima kasih. Uang jajan dari nenek memang jauh lebih berkesan, ketimbang uang jajan yang diberikan oleh orang tua.
“Bukan untukmu. Tapi untuk membeli action figure Zoro. Belikan satu ya, Ayang. Kalau bisa yang seukuran anak orok.”
Sebentar, sebentar, sebentar, jadi uang 200 ribu ini untuk membeli action figure? Duh, Nek, takkan cukup. Harga action figure yang sebesar upil saja dibandrol dengan harga jutaan. Ini lagi, beliau ingin membeli yang sebesar orok. Takkan mungkin terbeli.
“Pokoknya belikan satu,” kata Baginda Nenek. Ngotot. Ibunda Ratu memberikan gestur untuk mengiyakan. Aku pun mengiyakan perkataan Nenek.
Aku mengucapkan selamat tinggal pada Harsa. Kami berpelukan. Erat. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar, pun dengan suaranya. Dia pasti menahan tangis. Karena kini aku juga sedang berusaha menahannya.
“Sampai bertemu lagi, Broh,” kataku.
“Sampai bertemu lagi, Bang,” balas Harsa.
Bus melaju pergi. Meninggalkan tanah kelahiranku, juga orang-orang yang aku cintai. Lambaian tangan menjadi salam perpisahan terakhir. Tangis Harsa pecah, Ibunda Ratu mencoba menenangkan. Aku juga ingin menangis, tapi kuurungkan saat melihat ingus Harsa turun dan menggantung seperti kepompong. Lucu, aku ingin tertawa.
Sampai bertemu lagi keluargaku. Kuharap semesta masih memberikan kita waktu untuk bertemu lagi, nanti. Untuk kembali bersama dan melepas rindu.
Sekarang, di pikiranku terbesit wajah Divya, Baskara dan Citra. Sudah terbayang di otakku bagaimana reaksi mereka nanti. Aku tersenyum. Ingin segera melepas rindu pada mereka. Tunggu aku, bestie. Aku akan segera pulang.
Arkana: The First: Selesai