BAB 14: KAKEK DAN KEDUA CUCUNYA

3096 Words
Pagi-pagi buta, saat langit masih gelap, aku, Harsa dan Abah pergi menuju Candi Cangkuang. Candi yang terletak di tengah danau ini berlokasi dekat rumah kami. Tujuan kami ke sana tidak lain dan tidak bukan adalah untuk berlatih. Dengan berjalan kaki, melewati jalan belakang—hutan—diterangi lampu senter, kemudian menaiki rakit, kami akhirnya tiba di sisi Candi Cangkuang yang tidak dijamah oleh orang-orang. Sangat sepi. Suara jangkrik dan embusan angin mendominasi. Cukup membuatku merinding. Pulang dari sini sepertinya aku akan masuk angin. Di depan batu raksasa berwarna hitam pekat yang terdapat beberapa simbol aneh di permukaannya, kami mulai bermeditasi. Kami menyatukan fokus, hingga berhasil pindah ke Alam Meditasi. Di alam inilah biasanya Abah mengajak aku dan Harsa berlatih. Tak jauh berbeda seperti Alam Fana, tempat latihan yang kami gunakan berupa sebuah pulau asri dan hijau, yang dialiri aliran-aliran sungai yang jernih, air terjun, dan dikelilingi oleh lautan biru yang luas. Bukit-bukit berjejer tinggi melindungi kami. Jika naik ke atas salah satu bukit, kami bisa melihat pemandangan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitaran pulau tempat kami berada. Sangat indah. Untuk bisa masuk ke alam ini, orang-orang tidak bisa bermeditasi di sembarang tempat. Harus di tempat-tempat suci dan keramat, seperti di depan batu hitam raksasa tadi. Jika sudah saling terhubung, dua orang di tempat yang berbeda bisa bertemu di satu tempat yang sama di Alam Meditasi. Tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Apa pun yang dilatih di sini, baik ilmu magis, maupun kekuatan fisik, maka hasilnya akan dibawa hingga ke dunia nyata. Luka, rasa capek dan lelah pun bisa dibawa ke Alam Fana. Perputaran waktu di sini lebih cepat di banding Alam Fana. Satu jam di Alam Fana sama dengan tiga hari di sini. Walau kami berlatih selama berhari-hari di sini, di Alam Fana, kami hanya sedang bermediasi selama beberapa jam saja. Itulah kenapa Abah menjadikan tempat ini sebagai tempat latihan yang ideal. Bayangkan, dalam waktu singkat di Alam Fana, kami sudah bisa memperoleh peningkatan yang sangat pesat hasil latihan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan di sini. Keren sekali, bukan? “Kita pemanasan dulu,” kata Abah. Kami berlari bersama mengelilingi pulau. Udara di sini sangat sejuk dan segar. Selesai berlari 5 putaran, latihan dimulai. Abah memanggil salah satu panglima jin terkuatnya. Harsa akan bertarung melawan jin tersebut. Hah!? Benarkah itu? Jin yang Abah panggil setahuku sangat kuat. Salah satu dari 4 jin favorit Abah. Seingatku, jin yang ini mewakili kekuatan Bumi. “Abah, Abah yakin Harsa harus melawan jin Abah yang ini?” tanyaku. Aku sungguh tidak percaya. “Tentu. Abah sangat yakin.” Berbeda denganku, Abah sama sekali tidak terlihat khawatir. “Mulai!” kata Abah. Pertarungan dimulai. Harsa jadi orang pertama yang maju. Ia meninju dan menendang jin milik Abah. Suara palu yang menghantam permukaan batu terdengar sangat keras. Bukan, Abah tidak sedang memahat batu, tapi suara tadi berasal dari tendangan dan tinju Harsa yang mengenai tubuh jin. Apakah tangannya baik-bak saja? Aku jadi ngeri sendiri. Jin melakukan serangan balasan. Keduanya beradu kekuatan fisik dan ilmu bela diri. Pertarungan berlangsung sangat sengit. Aku hanya bisa mematung saking tidak percayanya. Harsa jadi sekuat ini. Dia benar-benar tangguh. Otot-otot tubuhnya yang terpahat sempurna terlihat jelas setiap kali ia bergerak—menyerang, bertahan, menghindar. “Bagaimana? Masihkah Ayang merasa khawatir?” tanya Abah. Aku menggeleng. “Tidak, Bah. Harsa benar-benar sudah menjadi sangat kuat,” kataku. Di sini, Abah bercerita bahwa Harsa ingin sekali menjadi sangat kuat. Ia ingin menjadi pelindung keluarga Aditama yang tidak terkalahkan. Ia ingin melindungi semuanya, terkhusus aku. “Harsa tidak ingin Ayang kenapa-napa. Maka dari itu dia berlatih sangat keras, hingga jadi seperti sekarang ini,” ujar Abah. Aku terharu mendengarnya. Walau manja, sejak kecil Harsa memang selalu melindungi dan menjagaku dari segala macam mara bahaya. Sosoknya seperti ksatria suci yang melindungi sang raja, ia tidak pernah mundur ataupun kabur. Sosok pemberani dari yang paling pemberani. Pertarungan tiba di babak puncak. Jin mulai mengeluarkan serangan-serangan pamungkas, pun dengan Harsa yang kini telah menggunakan sepasang pedang sihir berukuran besar sebagai senjatanya. Dengan senjata perak itu ia berhasil mengimbangi kekuatan jin yang semakin bertambah kuat. Teknik-teknik serangannya bak seorang pendekar pedang profesional. Serangan-serangan jin berhasil ia gagalkan dengan menebasnya. Setiap tebasan mengandung kekuatan sihir angin yang menggandakan setiap serangan. Serangannya tampak brutal dan mengerikan. Aku merinding melihatnya. “Hebat,” batinku. Harsa dan jin milik Abah terus imbang. Keduanya sama-sama kuat. Kondisi tempat latihan kini porak poranda. Entah siapa yang akan menang, aku tidak tahu. Hingga secara mengejutkan sihir itu Harsa tunjukkan di hadapanku. Salah satu sihir berbahaya dan sulit untuk dikendalikan. Sihir api biru. “Abah.” Kutatap Abah. Meminta penjelasan. Bagaimana bisa Abah mengajarkan sihir yang berbahaya dan sulit dikendalikan itu pada Harsa. Namun, Abah berdalih tidak mengajarkannya. Harsa mempelajari sihir itu seorang diri. Hebatnya, dia berhasil tanpa mengalami luka sedikit pun. Kutatap Harsa. Kedua pedangnya kini diselimuti oleh api biru. Sangat membara. Kedua sorot matanya pun memancarkan warna serupa. Merinding, itu yang aku rasakan. Harsa terlihat seperti iblis yang siap membantai siapa saja. Dengan satu serangan kuat Harsa berhasil melukai jin milik Abah. Jin yang awalnya kuat dan tak terkalahkan itu ambruk. Ia kalah dengan tubuh yang terlahap oleh api biru. Beruntung, Harsa langsung menonaktifkan kekuatan sihirnya, sehingga jin itu tidak tewas, terbakar hidup-hidup. Pertarungan selesai, Harsa keluar sebagai pemenang. Dia berhasil mengalahkan salah satu jin terkuat Abah. Kuulang, salah satu jin terkuat. Abah dan aku memberi tepuk tangan. Harsa yang sejak tadi tampak sangat serius, kini tersenyum. Menghilangkan kedua pedangnya, ia menghampiriku dan lalu memelukku. Erat, aku tidak bisa bernapas. Keringatnya menempel di tubuh dan pakaianku. Beruntung tidak bau. Abah memuji kehebatan bertarung Harsa yang semakin meningkat. Harsa tampak senang dipuji seperti itu. “Apakah aku sudah pantas disebut sebagai pelindung keluarga ini, Bah?” tanya Harsa. Abah menggeleng. “Hampir. Kamu masih harus berlatih lagi,” katanya. “Tapi, Abah yakin, setahun atau dua tahun mendatang, kamu pasti sudah layak menyandang gelar itu.” Harsa melebarkan senyumnya. Aku bisa merasakan perasaan bahagia darinya. Aku pun merasa senang atas pencapaiannya ini. “Lihat saja. Aku pasti akan menjadi pelindung keluarga Aditama terkuat sepanjang sejarah. Takkan ada yang bisa mengalahkanku,” kata Harsa penuh percaya diri. Kini giliranku yang berlatih. Abah akan mengajariku ilmu sihir pemanggil. Salah satu sihir yang sejak dulu ingin aku kuasai. Karena masih pemula, aku akan memanggil jin tingkat rendah terlebih dahulu. Jin dengan tingkatan tersebut akan sangat mudah untuk diperintah dan dikendalikan. Hal ini tentunya takkan menyulitkanku. Caranya terbilang simpel. Mencari tahu nama jin yang mau aku panggil, kemudian membaca mantra sembari memasukkan nama jin tersebut ke dalam rapalan mantra, sembari menciptakan lingkaran pemanggil berbentuk cermin tipis tempat jin yang dipanggil keluar. Baiklah, aku pasti bisa melakukannya. Jin yang akan kupanggil bernama Digdi, anjing jadi-jadian yang mampu mencium target buruan dari jarak belasan kilometer. Kurapalkan mantra, memasukkan nama Digdi di dalam bacaan mantra, kubuat lingkaran pemanggil menggunakan telunjuk tangan kananku. Dan ya! Aku gagal. Aku tidak berhasil. “Coba lagi,” kata Abah. Aku mengangguk, mengiyakan. Percobaan kedua, aku masih gagal. Percobaan ketiga dan keempat, aku juga masih gagal. Tibalah di percobaan kelima, aku berhasil membuat setengah lingkaran pemanggil, sebelum akhirnya menghilang. Walau gagal, tapi ini terhitung sebagai kemajuan. “Coba lagi,” pinta Abah. Aku mengiyakan. Tak kusangka, sihir semacam ini cukup menguras tenaga dan spiritku. Aku sampai berkeringat karena terus berusaha menciptakan lingkaran pemanggil. Percobaan demi percobaan terus aku lakukan. Gagal, hampir berhasil, gagal lagi, gagal terus. Tapi, aku tidak menyerah. Harsa sudah sampai di titik ini, dia sudah menjadi sangat hebat, aku pun pasti bisa sepertinya. Aku akan mengikuti jejaknya, bertambah kuat. Aku akan berusaha. Kucoba lagi dan lagi. Terus, hingga tanpa sadar hidungku mimisan. Banyak sekali. Panggil kami! Terkejut. Aku seperti mendengar suara seseorang. Tapi, saat kuperhatikan Abah dan Harsa, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Sepertinya aku salah dengar. Aku pun lanjut berlatih dengan hidung yang disumpal tisu. Harsa meminta agar aku beristirahat dulu, tapi aku menolak. Cuma mimisan, bukan masalah. Aku masih bisa lanjut. Terus berusaha, lagi dan lagi. Waktu terus berlalu, jam demi jam. Hingga tibalah aku di percobaan yang—entah ke berapa, akhirnya aku bisa menciptakan lingkaran pemanggil. Ukurannya sebesar cermin kamar mandi. Dari dalamnya keluarlah jin berbentuk seekor anjing serigala berwarna abu-abu gelap. Kedua matanya berwarna kuning keemasan, menyala. Gigi taringnya begitu runcing dan panjang. Sepasang tanduk kecil tumbuh di atas dekat telinganya. Ukuran makhluk ini terbilang sangat besar, sebesar harimau dewasa. Makhluk ini tampak garang. Inilah makhluk pertama yang berhasil aku panggil menggunakan kemampuan sihir pemanggil. Ya, setelah perjuangan panjang, akhirnya aku berhasil menguasai sihir ini. Abah dan Harsa bertepuk tangan. Mereka memberikan selamat dan pujian kepadaku. Harsa langsung menghampiriku, menanyai kondisiku. “Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,” kataku. Harsa mengangguk. Mengusap pucuk kepalaku lembut. Tapi, raut wajah khawatirnya masih terlihat jelas. Abah ikut menghampiri. Kedua matanya memandangi Digdi yang berhasil aku panggil. Beliau memeriksanya, persis seperti seorang pria dewasa yang baru berumah tangga, yang ingin membeli sebuah mobil baru. Semuanya dicek. “Bagus. Ayang berhasil memanggil Digdi dengan kondisi terbaik. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk seorang pemula,” ujar Abah. Aku senang mendengarnya. “Sekarang, coba Ayang perintah dan kendalikan makhluk ini. Buat makhluk ini melakukan apa yang Ayang mau,” titah Abah. Seperti pelatih hewan profesional, aku memerintahkan Digdi untuk duduk, bangun, tiarap, berguling dan menggonggong. Walau tampak garang, makhluk itu mau menurut. Sayang, aku tidak bisa memberikan camilan untuknya sebagai bentuk apresiasi. Lagi, Abah memujiku karena bisa mengendalikan Digdi yang aku panggil. Kemudian, beliau memanggil sesosok jin berbentuk burung. Makhluk itu ia perintahkan untuk terbang ke arah hutan. “Sekarang, coba satukan penglihatan. Buat agar Ayang bisa melihat apa yang Digdi lihat, juga merasakan apa yang Digdi rasakan. Kejar, temukan dan tangkap jin yang Abah terbangkan ke hutan tadi.” Aku mengangguk, mengiyakan ucapan Abah. Dari arahan yang Abah berikan, aku hanya perlu berkonsentrasi. Kira-kira caranya sama seperti saat aku menggunakan kekuatan telepati. Berhasil. Penglihatanku sudah terhubung dengan penglihatan Digdi. Aku bahkan juga bisa merasakan apa yang Digdi rasakan, salah satunya adalah merasakan aroma jin yang Abah panggil tadi. Kuperintahkan Digdi untuk pergi ke dalam hutan. Dari penglihatan dan penciuman yang kurasakan, burung itu berlari ke arah barat. “Kejar terus, Digdi,” ucapku dalam hati. Digdi terus berlari, melewati segala macam rintangan, bahkan hingga memanjat, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Luar biasa, makhluk ini cepat sekali. Jika disetarakan, mungkin hampir menyamai Cheetah. Setelah pengejaran dan pencarian, akhirnya aku menemukan jin berbentuk burung milik Abah. Segera kusuruh Digdi untuk menangkapnya. Tapi, di luar dugaan, burung itu tiba-tiba saja bermanuver, berbalik dan lalu menyerang Digdi, menghantam tubuhnya dengan sangat keras. Rasa sakit yang Digdi rasakan, juga aku rasakan. Aku benar-benar sudah terhubung dengannya. Digdi yang terjatuh kembali bangkit. Menghindari setiap serangan jin burung yang terus menyerang. Sebelum akhirnya berhasil melumpuhkan dan lalu menangkap makhluk itu hidup-hidup. Misi berhasil. Digdi segera membawa jin tersebut ke hadapan Abah. “Bagus. Ayang cepat sekali beradaptasi,” ujar Abah. “Sekarang, coba tingkatkan kekuatan Digdi menggunakan kekuatan Ayang.” Ternyata masih ada tes yang Abah berikan. Aku mengiyakan. Berusaha melakukan apa yang beliau katakan. Caranya adalah dengan mentransfer sebagian spiritku kepada Digdi. Awalnya aku merasa sangat kesulitan. Selain karena aku yang sudah kelelahan, spiritku sudah terkuras cukup banyak. Tapi karena dirasa tanggung, aku memaksakan diri untuk meningkatkan kekuatan Digdi. Beruntungnya aku, karena berhasil melakukannya. Seperti Digimon atau Pokemon yang mengalami evolusi, tubuh Digdi bertambah besar, wujudnya tampak lebih menyeramkan, cakar dan taringnya bertambah panjang dan runcing. Keren sekali. Kata Abah, durasi dan persentase peningkatan kekuatan berdasarkan kualitas dan kapasitas spirit pengguna. Jadi, semakin kuat spirit dan semakin banyak kapasitas spirit pengguna, maka kekuatan makhluk yang ditingkatkan kekuatannya akan semakin kuat, pun dengan durasinya yang akan semakin lama. Aku paham. “Apa yang terjadi jika ia terluka?” tanyaku. “Jika lukanya terlalu parah, maka ia akan menghilang, kembali ke dunianya, tanpa diperintah,” ujar Abah. “Tugasnya hanya membantu. Tidak lebih.” “Apakah luka yang dia dapat akan berdampak padaku juga?” “Tidak. Ayang akan baik-baik saja jika Digdi terluka.” Aku mengangguk paham. Tapi, aku masih punya satu pertanyaan lagi. “Apakah makhluk panggilan ini bisa mati?” Abah mengiyakan. “Semua makhluk yang hidup, pasti bisa mati,” ujarnya. Mendengar ini, aku jadi enggan untuk memanggil makhluk semacam Digdi. Rasanya akan sangat kasihan jika dia mati cuma karena harus membantuku. Kukembalikan Digdi ke tempatnya berasal. Latihan hari ini cukup. Abah menyuruhku untuk beristirahat. “Kita lanjutkan lagi besok,” ucap Abah. Lelah, itu yang aku rasakan. Kududukkan tubuhku di sebelah Harsa. Kurebahkan diriku, menyandar, kepalaku di d**a bidangnya. Nyaman sekali. Ada untungnya juga memiliki tubuh berotot seperti Harsa. Pas untuk dijadikan sandaran. Pacar-pacarnya pasti sering melakukan hal yang sedang aku lakukan sekarang. Tiba-tiba saja aku membayangkan diriku memiliki tubuh seperti Harsa, lalu aku akan membiarkan Naraya untuk bersandar, merebahkan kepalanya di dadaku. Uh, so sweet. Argh! Tidak! Aku sudah move on! Bagaimana bisa aku memikirkan hal seperti ini!? Hus! Hus! Sana! Menjauhlah pikiran halu! Menjauhlah! Lagi asyik-asyiknya beristirahat, aku dan Harsa malah diajak Abah untuk beristirahat di rumah santai yang berada tidak jauh dari sini. Di alam ini juga ada rumah dan bangunan. Hanya saja aku tidak tahu siapa yang membangunnya. Kata Abah, rumah dan bangunan di sini sudah ada bahkan sebelum beliau pertama kali menginjakkan kakinya di tempat ini. Beliau berspekulasi, semua yang ada di sini dibangun oleh orang yang membangun Alam Meditasi itu sendiri. Jika memang begitu, berarti orang itu sangat hebat. Aku dan Harsa merebahkan tubuh di atas dipan kayu di salah satu kamar. Abah izin mau keluar, mencari makanan dan minuman. Harsa yang sudah rebahan di sebelahku kembali bangkit. Ia ingin ikut Abah. Aku juga mau, tapi Abah melarangku, memintaku untuk beristirahat saja. “Anak perawan tidak boleh kecapekan,” kata Abah. “Abaaaaaah!” Aku merajuk. Harsa tertawa. Bisa-bisanya aku yang gagah ini dipanggil anak perawan. “Duh, anak perawan.” Harsa meledek. Mencubit-cubit daguku. Aku pun menurut, tapi sembari cemberut. Aku masih tidak terima dipanggil anak perawan. Hari kedua dan ketiga kami isi dengan berlatih dan berlatih. Harsa terlihat semakin terampil menggunakan kemampuan sihir api birunya. Senjata-senjata yang ia munculkan pun semakin bervariatif. Salah satunya adalah palu raksasa dengan berat berton-ton yang bisa ia angkat dengan cukup mudah. Aku pun berhasil memanggil jin-jin tingkat rendah lainnya, mengendalikan dan memerintahnya sesuai kehendakku. Tak hanya satu, tapi tiga jin sekaligus di saat yang bersamaan. Di hari keempat dan kelima, aku berhasil memanggil, mengendalikan dan memerintah lebih banyak jin-jin tingkat rendah, bahkan dengan jumlah di atas tiga dalam sekali pemanggilan—jin terbanyak yang bisa kupanggil adalah sepuluh ekor. Aku bahkan bisa membuat mereka semua bekerja sama sesuai kehendakku. Rasanya seperti punya b***k pribadi. Tiba di hari ketujuh. Harsa berhasil menguasai teknik bola api biru yang dapat menghasilkan ledakan yang cukup besar. Daya rusaknya sungguh luar biasa. Tekniknya jauh lebih berbahaya dari teknik bola api biasa. Mungkin jika aku mengadunya dengan teknik bola api yang aku kuasai, bola apiku sudah dipastikan kalah. Sedangkan aku, aku berhasil memanggil jin tingkat menengah, mengendalikan dan memerintahnya dengan sempurna. Bahkan, aku bisa menggabungkan gaya bertarungku dengan gaya bertarungnya. Kami bisa kompak dan melakukan kerja sama yang sangat baik. Kemampuan sihir pemanggilku sudah meningkat sepesat ini. Aku benar-benar senang. Latihan selesai. Abah mengajak kami duduk-duduk di pinggir tebing yang mengarah ke lautan lepas. Pemandangan matahari terbenam begitu memanjakan mata. Indah. Embusan angin sejuk menerpa. Suara deburan ombak membuat suasana hati rileks dan santai. Aku suka momen ini. “Abah bangga pada kalian. Cucu-cucu Abah,” kata Abah, memecah ketenangan. Aku tersenyum, pun dengan Harsa yang duduk di sebelahku. Kami menatap matahari yang terus bergerak merendah hingga hampir hilang di ujung cakrawala. Momen antara kakek dan dua cucunya yang tidak memiliki ayah. “Jika suatu hari nanti Abah telah tiada, Abah titipkan Alam Fana pada kalian.” Ucapan Abah seketika melunturkan senyum kami. Kenapa tiba-tiba beliau berbicara seperti itu? Aku dan Harsa saling tatap. Perasaan takut dan khawatir seketika menyergap. “Kalian jangan berpikiran yang tidak-tidak. Takkan terjadi apa-apa pada Abah,” kata Abah dengan senyum yang merekah, menghiasi wajahnya. Syukurlah, aku merasa lega, pun dengan Harsa. “Abah hanya ingin berpesan saja pada kalian. Tidak lebih. Toh, momennya sangat pas. Matahari terbenam, di tebing pinggir laut, ditemani oleh suara deburan ombak dan embusan angin sejuk. Persis seperti film yang abah tonton kemarin malam.” Tunggu sebentar. Beliau bilang apa? Persis seperti film yang beliau tonton kemarin malam? Aku langsung menatap Abah tidak percaya. Beliau membuatku dan Harsa berpikiran yang tidak-tidak hanya karena terinspirasi dari sebuah film yang beliau tonton? Ada-ada saja orang sepuh satu ini. Sepertinya, mulai dari sekarang kami harus mengawasi tayangan yang Abah dan Baginda Nenek tonton. Bisa-bisa mereka teracuni oleh setiap film dan anime yang ditayangkan di televisi. Ingat, Baginda Nenek punya celana dalam bermotif awan Akatsuki. Mungkin jika dibiarkan ke depannya, beliau akan memaksa ingin cosplay menjadi Tsunade. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi. “Abah,” kataku. “Iya, Ayang?” “Televisi di rumah, sama televisi yang ada di pondok dijual saja ya.” Hari kesembilan. Penasaran, aku mencoba untuk memanggil jin tingkat tinggi. Abah belum mengizinkanku untuk memanggil jin di tingkatan ini. Bahaya, itu katanya. Tapi, aku yang sudah terlanjur kepo ingin tetap mencobanya. Diam-diam kucari namanya di buku daftar jin yang Abah bawa. Nama Igu menjadi pilihanku. Jin berwujud naga humanoid tanpa sayap. Aku akan memanggilnya. Kurapalkan mantra, kusebut nama Igu, dan lalu mulai membuat lingkaran pemanggil. Panggil kami! Deg! Jantungku seketika berdebar, sangat cepat. Suara ini? Bukankah ini suara sama yang aku dengar saat pertama kali aku mempelajari sihir pemanggil? Deg! Panggil kami! Kenapa ini? Kenapa suaranya terus terdengar? Deg! Panggil kami! Suaranya semakin keras. Semakin ramai. Deg! Panggil kami! Argh! Kenapa tiba-tiba kepalaku terasa pusing? Deg! Panggil kami! Panggil kami! Panggil kami! Deg! Panggil kami! Kami ingin keluar! Tuan! Tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap. Hening. Benar-benar hening. “Abang! Sadar, Bang!” Samar-samar aku mendengar suara Harsa. “Abang!” Kurasakan tubuhku diguncang dengan begitu hebat. Suara Harsa juga terdengar semakin jelas, terus memanggilku. “Abang!” Aku tersentak bangun. Harsa ada di hadapanku. Aku berada di pangkuannya. Apa yang terjadi? “Syukurlah. Akhirnya Abang sadar.” Harsa langsung memelukku. Menangis. Ia tampak sangat khawatir. “Kenapa? Apa yang terjadi?” tanyaku. Kutatap Abah dan Harsa secara bergantian. Tak ada yang menjawab. Baik Abah maupun Harsa, keduanya diam. “Ayang hanya kelelahan,” kata Abah. “Ayo, kita pulang. Kita sudahi latihannya sampai di sini.” Walau berbicara sembari tersenyum, tapi aku bisa merasakan kekhawatiran yang begitu besar pada diri beliau. Sungguh, apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa ini? Kenapa kalian berdua bungkam? Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD