KISAH DARI SELATAN
"Saatnya dua sayap hati terlepas terbang bebas. Biarkan mereka mencari yang terbaik untuk hinggap pada hati yang baru. Bahagianya adalah tujuan asa, asal jangan kau patah dan remuk redamkan mereka.
Dari selatan sejuta kenangan tertinggal. Berusaha mencintai sesuatu yang tidak pernah dia cita-citakan, tetapi takdir menuntun kaki menjadi sebuah panggilan hati. Barat tempat dimana sebuah hati tertambat. SELATAN menuju BARAT, sebuah harapan ku pegang erat."
Pagi ini Jogja menyapa dengan dinginnya hawa. Entah untuk hari yang kesekian kali betapa kota ini menjadi dingin tak terkira. Malas ... malas sekali ketika harus memaksa tubuh untuk bergerak dari nyamannya kasur busa. Dengan langkah berat, lelaki itu memaksa kaki untuk menyentuh dinginnya air pagi.
Dingin ...
Tapi masih terlalu dingin hati yang ia rasa. Tak terlalu lama ia berkecimpung dengan air pagi, segera ia starter motor sport kesayangan untuk berangkat ke tempat bekerja. Setidaknya, disanalah ia bisa merasa terhibur dan tidak merasakan dingin dan sepi lagi.
Reysandria Deannova, itulah nama yang tersemat di akta kelahiran. Sedari kecil, orang-orang memanggilnya dengan nama Reysan. Baru tujuh bulan kepindahan dari Surakarta ke Jogja telah membawa banyak perubahan situasi dalam hidup lelaki berkaca mata itu. Karena pada dasarnya, dia selalu menyukai tantangan baru dan hidup tidak monoton dengan berpindah-pindah kota.
Baginya, Surakarta adalah kota yang membuat pikirannya bekerja dengan ekstra. Beberapa tragedi hampir membuat hidup lelaki yatim piatu itu kacau balau. Memang tidak terlalu jauh dari Jogja, tetapi Kota Pelajar adalah pilihan yang tepat. Kota dengan sejuta budaya dan keunikannya.
Terlihat Agung Pramudya sudah berada di tempat duduk. Partner kerja terbaik yang mungkin baru ia temukan disini. Reysan adalah seorang pekerja baru yang hidup didalam sarang penyamun. Itulah julukan baru yang tersemat sejak bekerja di kantor startup ini, PT. Platinum. Betapa tidak, perusahaan startup tempatnya bekerja hampir sembilan puluh persen pegawainya adalah laki-laki. Untuk kaum hawa tentunya hanya bisa dihitung jari saja. Tempat kerja yang selalu menerapkan standard disiplin tinggi, apalagi untuk pendatang baru seperti dirinya. Sebagai seorang programmer, tentu bukanlah satu-satunya cita-cita. Layaknya anak kecil pada umumnya, dokter adalah cita-cita pertamanya. Namun itu hanya angan seorang Reysan kecil. Nyatanya memilih untuk menjadi seorang programmer sesuai dengan hobi adalah takdir yang harus ia ambil. Prinsipnya, bekerjalah sesuai dengan apa yang di sukai, agar terasa ringan dan menyenangkan dalam menjalani.
"Pagi mas ...."
Suara beratnya memecah lamunan mas Agung.
"Eh ... elu Rey. Jam berapa nih?" sambil melihat jam tangan Swiss Army hitam di pergelangan tangan. "Buset ... kagak salah lu jam segini udah berangkat? Biasanya telat melulu lu." Agung dengan tawa pecah.
"Yeh, ngeledek nih orang. Salah gitu kalau gue berangkat jam segini? Kepagian salah. Kesiangan apa lagi ckckck." Rey berdecak sembari meletakan tas diatas meja.
"Ya kan biasanya lu telat karena begadang di warmindo. Emang lu semalem kagak nongkrong di sana hah?" mas Agung menatap nya tersenyum.
"Kagak lah mas, warmindo semalem tuh lagi nggak asyik. Isinya mahasiswa pacaran doang. Males amat gue jadi obat nyamuk." jawabnya sambil merapikan meja kerja yang masih agak berantakan.
"Makanya, buruan cari pacar lagi. Cari istri kalau perlu hahaha." ledek mas Agung sembari menjulurkan lidah.
"Ah ... rese lu, nyesel gue nyapa elu. Setau gue, biasanya kalau orang ngasih saran setidaknya dia harus kasih contoh dulu." geramnya dengan sedikit gebrakan kecil di meja.
Ditariknya kursi yang berada dibelakang meja. Mas Agung yang sedari tadi tertawa terbahak mendadak mengernyitkan dahi, diam mendengar sebuah sindiran telah mengenainya dengan telak. Lelaki berkaca mata itu hanya terkekeh melihat orang yang duduk diseberang meja kena telak terhadap serangan balik sindiran nya.
Mas Agung sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Sebagai keturunan Betawi, dia sama-sama sebagai pendatang baru di Jogja. Dua tahun lalu ia datang dari Jakarta untuk bekerja di perusahaan startup itu sebagai Project Manager. Banyak aplikasi yang menembus rating tinggi dengan jutaan pengguna mendownload dibawah divisinya. Nggak mau rugi, banyak ilmu yang Reysan ambil dari tangan dingin Agung Pramudya. Beruntungnya mas Agung mau mengajari senior programmer itu untuk menjadi programmer yang baik dan handal dengan senang hati. Agung sangat menyukai jika melihat seorang anak muda sangat antusias untuk belajar hal baru. Penampilan Reysan yang cuek pun tidak menjadi halangan untuk bekerja sama sebagai tim yang solid. Bahkan kecuekan dan kesomplakan nya menjadikan pergaulan lelaki jawa itu lebih mudah dengan segala lini lapisan staf.
"Mas, lu melamun apa si dari tadi?" Reysan penasaran sembari mendekat ke arah mas Agung.
"Enggak Rey, gue lagi mikir aja tentang rencana boss buat buka kantor cabang di Jawa Barat. Menurut lu selain di Bandung, ada alternative kota lain nggak?" mas Agung menatap sang adik dengan mimik serius.
"Oh soal itu. Jawa Barat ya? Kenapa si harus Jawa Barat? Kenapa nggak di Surabaya aja gitu." jawabnya agak cuek. Agung segera menyeringai.
"Kenapa emang kalau di Jawa Barat? Jadi inget masa lalu lagi yah lu? Hahaha ...." tawa mas Agung meledak.
"Duh nggak penting deh mas. Coba cari kota lain yang strategis gitu untuk dunia startup. Contohnya Surabaya. Surabaya kan kota terbesar kedua di Indonesia. Lebih berpeluang besar kalau buka cabang disana." Reysan sembari mengambil permen yang selalu tersedia di meja project manager itu.
"Gimana kalau Karawang?" mas Agung mengembangkan senyum.
"Karawang? Makin ngarang aja deh lu mas. Nggak akan bisa disana." Rey mengalihkan pandangan ke arah langit-langit.
"Itu mah cuma kata elu, Rey." Agung menggeleng-gelengkan kepala.
Mendengar kota itu seketika Rey terdiam. Perasaan aneh itu muncul kembali. Dadanya terasa nyeri, sekaligus sesak. Peristiwa demi peristiwa sejenak bermunculan satu per satu. Bagai slide dalam film yang takan bisa dihentikan, apalagi dihilangkan. Reysan pernah mengukir kenangan di kota itu. Baik kenangan manis, bahkan sampai terpahit pun.
Haruskah kantor cabang benar-benar akan dibuat disana? Atau hanya pikirannya yang mendadak hiperbolis menanggapi ide spontan mas Agung tentang Karawang itu? Pikiran lelaki berkaca mata itu melayang kembali ke tahun 2016, saat pertemuan dengan seseorang yang merubah alur hidupnya tepat di kota itu. Ya ... di kota itu, KARAWANG.