Aku tidak bohong kalau aku sadar ada banyak orang yang memujiku. Aku juga tahu gadis mana saja yang suka padaku. Jika kemudian aku diam dan bertingkah dingin itu bukan karena aku tidak peka melainkan aku memang tidak pernah tertarik pada gadis mana pun selain Seira.
Meski begitu aku tidak bisa dibilang setia juga. Soalnya laki-laki bisa menjalin hubungan tanpa didasari perasaan. Saat berpacaran dengan Seira aku juga sempat menjalin hubungan dengan gadis lain, tetapi tidak sampai kutiduri. Maaf jika kesannya aku kurang ajar, tetapi memang sekotor inilah aku.
Pernah juga aku hampir melewati batasanku dengan perempuan lain. Saat itu dia berkunjung ke kosanku dan kami menghabiskan waktu bersama. Saking terbawa suasana aku menghajar bibirnya hingga bengkak lalu melepas pakaiannya. Beruntung saat itu dia sadar bahwa tindakan yang kami lakukan salah dan dia bergegas meninggalkanku dalam perasaan panas-dingin. Ujung-ujungnya hanya kepada Seira aku bisa memuaskan diri.
"Amam sama Seira katanya putus woi. Padahal udah serasi gitu. Kenapa, ya?" Elin sepertinya harus belajar cara bergosip yang benar. Bisa-bisanya dia membicarakan orang yang duduk dua meja di hadapannya dengan suara sekeras itu.
"Udah tahu," sahut Boy sambil terus memainkan ponselnya. Mereka bilangnya tidak pacaran, sih, tetapi tiap hari selalu sama-sama. Katanya sahabatan dari kecil tetapi aku mana percaya.
"Kok gitu sih, Boy? Apa ada orang ketiga?" tanya Elin kepo.
Boy melirik ke kiri dan mengembuskan napas malas. "Itu orang ada di depan. Bahasnya nanti-nanti aja."
Boy, asli, meski kamu berbisik begitu aku masih mendengar jelas suaramu.
Rian kembali ke kelas setelah tadi memutuskan membeli bolpoin. Kepalanya hampir menyentuh kisi atas pintu kelas. Aku terkadang bertanya-tanya mengapa dia bisa setinggi itu. Padahal dulu waktu SMP dia hanya seleherku. Mungkin bapaknya yang guru agama itu punya amalan-amalan sakti yang membuat anaknya bisa tinggi.
Jika aku perempuan mungkin berkencan dengan Rian bisa menjadi pilihan yang baik. Dia berkulit tan, jakunnya terlihat besar, badannya sedang berisi untuk tubuh setinggi itu, senyumnya kotak dan lucu, matanya tajam. Aku merasa dia sudah sangat tampan tetapi dia jomlo sejak lahir. Aku sempat berkata, "Sayang banget punya muka ganteng tapi gak punya cewek. Padahal lo bisa milih siapa pun. Cobain kek pacaran, enak lho. Yang penting kalau mau minta jatah pakai k****m dulu. Insyaa Allah nggak bunting."
Saat itu dia hanya menggeleng sambil berucap, "Astaghfirullahaladzim." Habis itu aku melihat story WA-nya berisi video tentang larangan berpacaran—yang langsung aku skip saat melihatnya.
Saat berjalan berdua sama Rian aku merasa setan dan malaikat sedang berbaikan. Rian malaikatnya aku setannya. Sudah, sudah, aku memang sadar diri sama kelakuan.
Rian mengetuk-ngetuk papan tulis putih yang membuat kelas fokus kepadanya. "Perhatian teman-teman!! Tolong dengarkan dulu! Elin, Boy, tolong matanya ke depan!" Dia memang terkadang galak tetapi siapa yang bisa benci dengan orang seperti Rian? Galaknya dia tidak sebanding dengan perhatiannya. Dia ketua kelas yang baik. Dia bahkan pernah dilabrak kakak kelas karena membela temannya. Dan teman yang dimaksud adalah aku.
Bisa-bisanya aku dianggap PHO padahal memang si cewek yang genit. Mungkin cowok itu minder sama mukanya sampai nyalahin orang lain.
Elin dan Boy mendadak kikuk saat Rian meneriakinya.
"Pak Wawan ada urusan pagi ini jadi beliau nyuruh kita langsung ke Musala pas bel nanti untuk salat dhuha. Yang cewek jangan lupa bawa mukena. Yang nggak salat nanti gue catat!"
Kelas bersorak-sorai. Bukan karena semangat ingin salat Dhuha tetapi karena senang bisa menghabiskan waktu di Musala. Musala sekolah ada AC, hawanya dingin, enak buat tidur. Salat Dhuha dua rakaat dilanjut tidur dua jam pelajaran terasa menyenangkan.
Aku melirik ke pintu, Seira tidak kunjung masuk kelas. Apa dia enggan melihat wajahku? Apa dia membenciku? Aku membuang napas yang terasa mencekik.
Usai pengumuman singkat dari Rian, bel masuk berbunyi. Semua teman sekelasku langsung mengambil barang-barang di dalam tasnya. Earphone, ponsel, kipas elektrik mini—ini Elin yang bawa—bantal tiup. Oke teman-teman, sepertinya kalian salah dengar. Rian menyuruh kita untuk ke Musala bukan untuk pindah rumah. Tetapi kalimat itu hanya tersangkut di kepalaku, aku tak berminat mengutarakannya.
Aku berdiri dari kursi, melangkahkan kaki ke depan. "Rian, yuk!" Aku mengangguk sekali sebagai bentuk ajakan kepada Rian.
Rian mengangkat tangan ke atas, lagi-lagi meminta atensi. "Perhatian! Keluarnya jangan berisik! Hargai kelas lain yang lagi belajar."
***
Seira ada di Musala. Jantungku seperti berhenti melihat dia mengikat rambutnya. Wajah Seira terlihat basah bekas air wudu. Kulitnya yang berwarna kuning langsat, hidung kecil mancung, tatapan dingin, bibir mungil. Ah hentikan! Melihat wajahnya hanya membuat kakiku lemas.
Saat Seira mengangkat kepalanya aku segera membuang muka. Rasanya canggung sekali padahal biasanya kami akan saling melempar senyum dan aku akan menghampirinya. Biasanya kami akan membuat janji untuk makan di kantin Bu Sumi, makan gorengan yang harganya dua ribu tetapi dapat tiga.
Rian menarik kepalaku agar tidak terus-menerus menatap Seira.
Usai mengambil air wudu dan salat Dhuha empat rakaat, aku duduk di pinggir dinding Musala yang tepat berada di bawah AC. Aku memegang Quran di tangan, berusaha fokus. Rian masih salat di shaf depanku, mengambil jumlah rakaat maksimal.
Saat sedang membaca Quran, dua orang laki-laki datang dari arah pintu masuk masjid. Yang satunya membawa tumpukan kertas ukuran A4.
"Yori, Enan? Ngapain?"
Laki-laki dengan celana digulung itu bergerak mendekatiku, diikuti temannya yang seperti ogah-ogahan.
"Enggak ada apa-apa sih, Mam. Gue mau ngasih hasil print formulir pendaftaran rohis ke Rian." Yori agak berbisik.
Setahuku Rian, Yori, dan Enan adalah staf muda di organisasi rohani Islam. Sepertinya mereka sedang menyiapkan reorganisasi rohis kepengurusan sebelumnya. Saat ini sudah menjelang akhir semester dua, organisasi-organisasi sekolah mulai menyiapkan kepengurusan selanjutnya.
"Yor. Titipin aja ke Amam. Gue laper." Enan mengeluh dengan muka masamnya.
Dari gelagatnya, aku tidak percaya Enan adalah pengurus rohis. Kelakuannya tidak jauh berbeda denganku. Bedanya dia sering ke masjid, sedangkan aku baru sekarang ini sering ke masjid.
"Laper mulu!" sentak Yori. "Ya udah, Mam. Gue titip ya formulirnya. Nanti kasih ke Rian. Bisa kan?"
"Bisa, bisa. Gampang lah. Ya udah sono pergi, kasian tuh si Nenen kelaperan."
"Sialan! Nama gue Enan bukan Nenen. Lo mah gitu mulu sama gue, Mam."
Yori mengusap kasar muka Enan dengan tangannya. "Nggak usah drama! Ya udah gue sama Nenen pergi dulu ya. Jangan lupa kasih ke Rian."
Aku mengangguk seraya berdehem. Aku menerima tumpukan kertas itu.
Yori menarik tangan Enan yang sedang memasang wajah masam untuk keluar dari Musala.
***
Sebagian anak cowok menghabiskan waktu di dalam Musala untuk ngadem. Aku justru memilih keluar dan duduk di teras, mengintip Seira yang sedang menunduk dalam bersama mukena birunya.
Aku menghela napas. Entah apa yang sedang dipikirkan Seira. Mungkin dia masih menanam kebencian kepadaku?
Tiba-tiba seseorang berdehem di belakangku. "Nggak usah ngintipin akhwat!" celetuk ... Rian.
Aku langsung mengangkat kepalaku ke agas untuk melihat sosoknya. "Eh Rian. Maaf."
"Nggak usah minta maaf sama gue."
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil nyengir.
Rian memperhatikan tumpukan kertas formulir di tanganku. "Itu dari Yori?"
Aku refleks melihat ke tanganku sendiri yang tengah memegang kertas.
"Oh iya dari Yori. Formulir rohis ya?" Aku menyerahkan kertas itu ke Rian.
Rian mengangguk, mengamati hasil print kertas formulir.
"Gue bisa nggak sih daftar itu?"
"Hmm gimana?" Rian seperti salah dengar dengan pertanyaanku, padahal tidak. Aku mengatakan itu dengan sadar.
"Gue mau gabung rohis."
Rian langsung tersedak mendengarnya. Apa-apaan ini? Memangnya salah aku tertarik ikut rohis? Aku muslim. Agamaku islam. Di mana letak anehnya?
"Lo seriusan?" Sekarang mata Rian tampak berbinar antusias seperti habis menemukan sekarung emas.
Aku mengangguk kikuk sambil menaikkan alis.
Rian lalu menyelinapkan tangannya ke leherku lalu menepuk pundakku pelan. "Pulang sekolah ikut gue mentoring aja yuk sama mentor gue. Masalah daftar urusan belakangan. Mau nggak lo?"
"Boleh aja sih. Gue nyusul aja ya, mau makan siang dulu entar di kantin."
"Iya sama. Gue juga makan dulu. Nanti kita bareng aja. Mentoringnya di warung perempatan sekolah kok, makan di sana aja kita."
"Eh, iya? Gue kira anak rohisnya nongkrongnya ke masjid atau musala doang. Ternyata di warung juga."
Rian terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Pikiran lo sempit amat. Kita juga anak tongkrongan tahu. Cuma nongkrongnya beda topik. Daripada nyeritain orang, mending nyeritain topik islam terkini gitu."
Pantas terkadang saat aku iseng ke rumah Rian, dia tidak ada di rumah. Padahal setahuku dia tidak punya pacar, tidak ada urusan buat nongkrong seperti anak lelaki umumnya. Ternyata dia juga kenal hal-hal begitu dalam bentuk yang lebih berguna.
"Ya udah deh nanti gue ikut. Nebeng ya?"
"Lo kan bawa motor, Amam."
"Lagi mager. Nanti pulangnya antar gue ke sini lagi."
"Terserah lo aja." Rian menjawab malas.
***
Saat jam pelajaran agama selesai kami kembali menuju kelas. Aku adalah laki-laki terakhir yang berada di masjid. Aku duduk di selasar sambil menatap langit cerah pagi ini. Aku tidak sadar bahwa seorang perempuan menatapku dari kaca jendela sambil memeluk sebuah totebag warna hitam.
Perempuan itu dengan ragu melangkah mendekatiku. Ia masih mengenakan mukena untuk menutupi rambut yang tadi pagi barusan kulihat.
"Amam." Dia bersuara lembut, seketika membuat hatiku terenyuh. Aku kira embusan angin yang sedang mengajakku bicara.
Aku menoleh ke samping, melihatnya mengulurkan totebag hitam tanpa menatap wajahku.
"Itu apa Seira?" tanyaku bingung. Aku tidak tahu sama sekali dengan apa yang hendak Seira serahkan padaku.
"Baju sama celana Amam kemarin." Dia menunduk untuk menatap ujung kakinya.
Aku pun buru-buru meraihnya lalu berdiri. "Seira masih marah sama Amam?" Aku memandanginya dengan saksama. Rasanya aneh harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Rasanya canggung, kaki dan tanganku lemas, badanku mendadak berkeringat, jantungku juga berdebar aneh hingga napasku sengap.
Seira menggeleng dengan wajahnya yang memerah.
"Aku pergi dulu." Dia mengatakan itu lalu berbalik badan membelakangiku.
Tiba-tiba mulutku refleks berkata, "Kalau Seira patah hati karena manusia, jangan jauhi Tuhannya, jauhi dan benci hambanya aja yang udah bikin Seira kecewa. Jangan berubah karena manusia, Seira. Jadilah Seira yang dulu, Seira yang belum mengenal Amam."
Aku dapat menyaksikan bahunya yang bergetar dan mendengar isakan halus yang seperti merambati kulitku. Ia lalu kembali melangkahkan kaki setelah sempat berhenti meninggalkanku yang kaku di tempat.