Mentoring Perdana

1366 Words
Ponsel Amam berdering sesaat ia keluar dari ruang kelas. Sonya "Hmm?" "Bang, ih, jemput Adek! Lupa apa gimana?" "Kakak baru pulang nih. Lagian kamu nggak ada bilang minta jemput ah." "Eh iya sih nggak ada. Ya udah pokoknya jemput. Aku tunggu di depan sekolah." Amam mendesah malas. Kembarannya yang satu ini memang terkadang suka berbuat seenaknya. Usia mereka terpaut tak lebih dari lima belas menit, tetapi kelakuan mereka bertolak belakang. Sonya tipikal cewek manja dan cerewet sedangkan Aman tipe cowok mandiri yang tertutup pada orang tuanya. Saat akan meninggalkan gedung sekolah, Amam melihat Seira duduk sendirian di halte. Lelaki di sekitarnya tampak berbisik sambil menatap genit ke arah Seira. Amam tidak bisa menerima tatapan itu. Ia lalu mengendarai motornya untuk mendekati Seira. "Sei. Naik yuk!" Seira yang awalnya sibuk memainkan ponsel refleks mengangkat kepalanya. Dia agak kaget menyadari kehadiran Amam. "Ngapain naik? Bentar lagi di jemput." "Sei naik. Sekalian." Seira yang tampak agak pucat menatap Amam dengan sinis. "Pergi aja sana! Kamu kan suka pergi tanpa izin." "Seira ....." Amam membuat isyarat dengan matanya, melirik segerombolan kakak kelas genit yang seperti haus mangsa. Seira menghela napasnya dengan agak berat lalu menggenteng totebagnya. "Aku ga ada helm." Seira memutar matanya, enggan menatap Amam. Tetapi lelaki itu justru melepas helm dan memasangkannya ke kepala Seira. Seira agak terkejut. Bisa-bisanya Amam memberikan helm yang ia pakai kepadanya. "Kamu aja ih yang pakai, aku kan nebeng." Amam menahan tangan Seira yang hendak melepas helm. "Aku udah sering jatuh, kalau jatuh sekali lagi masih aman kok kepalaku. Kamu aja yang pakai." Seira hanya mengangguk, terhipnotis, lalu meletakkan totebag itu di belakang punggung Amam baru kemudian ia naik ke atas jok motor bebek lelaki itu. Saat naik ternyata pijakan kaki sebelah kanan Seira belum turun, beruntung Amam dengan sigap menurunkan pijakan kaki itu. "Dah, anteng-anteng duduknya. Pegangan." Rasanya canggung. Benar-benar canggung. Seira hanya bisa memegang pegangan motor sambil terus meneguk air liurnya. Dulu ia tak segan memeluk pinggang Amam, meraba-raba perutnya, tetapi sekarang situasi telah berubah dan Seira harus belajar memakluminya. Tak terkecuali Amam, dia nyaris meraih tangan Seira agar memeluknya saja tetapi ia langsung ingat bahwa mereka sekarang bukan siapa-siapa. Amam lalu memasukkan gigi dua pada motornya dan menarik gas hingga motor itu bergerak meninggalkan lokasi mereka. *** Selama dua puluh menit saling diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka menelusuri gang-gang kecil untuk menghindari lampu merah atau kemungkinan razia. Tiba di perumahan Astara Batari blok A nomor 4, Amam memelankan motornya. Seira turun perlahan lalu melepas helm bogo milik Amam. "Makasih." "Sama-sama, Seira." Keduanya lalu sama-sama mematung. Seira terhipnotis untuk menatap tapak sepatunya sendiri. "Ya udah masuk, kirim salam ke Mama sama Papa." Perkataan lembut Amam terasa membekas di hati Seira tetapi wanita itu hanya mengangguk. "Hati-hati, Amam. Assalamualaikum." "Waalaikumussalam." Amam lalu menyaksikan Seira meninggalkannya dengan rambut lurus panjang tergerai, memasuki pekarangan rumah yang diselimuti rumput jepang. Seira juga menutup gerbangnya karena saat ini rumah sedang kosong. Ibu dan ayahnya masih bekerja, mereka biasa pulang sore hari setelah ashar. Kemudian Amam merasakan ponselnya berdering. Ia merogoh saku celana dan melihat 15 panggilan tak terjawab dari Sonya. Ia lalu menyambut panggilan itu sambil menyipitkan sebelah matanya, bersiap menerima kejutan mematikan dari saudara kembarannya. "AMAM b**o! GUE NUNGGUIN DARI TADI k*****t LO KE MANA!!!!! KERING KULIT GUE YA BERJEMUR DI DEPAN GERBANG, IH ABANG BANGKE EMANG." "I-iya ini gue jempu—" "GA USAH, GUE UDAH DI ANGKOT ..." "Mbak suaranya bisa dipelanin gak, ini transportasi umum." "Oh iya, maaf hehehe." Sonya memelankan suaranya lalu ia lanjut berbisik melalui ponsel. "Awas aja ya Bang kalau ketemu gue, gue pelintir bibir lo yang sok manis itu. Bye!" Kalau Sonya bilang akan memelintir bibirnya, itu bukan cuma gertakan. Perut Amam pernah membiru gara-gara cubitan Sonya hanya karena dia memakan es krimnya. Iya, Sonya kadang emang sekriminal itu. *** Amam tiba di warung makan perempatan dekat sekolah setelah mampir salat Zuhur sebentar di masjid pinggir jalan. Di sana sudah ada Rian, Enan, Yori, dan Bang Rahman. Lelaki itu melangkah pelan-pelan dengan agak malu. Beruntung Rian sadar akan kehadirannya. "Woi sini woi nggak usah ngelamun!" Rian melambaikan tangannya. Amam melangkahkan kakinya menuju meja mereka. Warung makan cukup ramai dipenuhi anak sekolah, mahasiswa, dan pekerja yang makan siang. Saat Amam tiba di meja, Bang Rahman mengulurkan tangannya. "Assalamualaikum." Lelaki berjenggot tipis, mengenakan kemeja hitam dengan borderan bendera Palestina di saku d**a kirinya, dan celana cingkrang itu tersenyum hangat. Dahinya terdapat noda hitam yang kata orang-orang menandakan orang yang sering salat. Amam menjawab uluran tangan itu. "Waalaikumussalam." "Saya Rahman, antum?" "Emmm," Amam melirik Rian yang duduk di dekat posisinya berdiri. Rian berbisik, "Nama lo siapa?" Amam membulatkan mulutnya, ber-oh. "Saya Amam, Bang Rahman." "Ooh Amam. Ya udah monggo duduk. Kita baru mau pesan ini." Amam mengangguk lalu duduk di kursi dekat Rian. Enan menopang dagunya, menatap Amam dengan saksama. "Ngapain lo, Nen, natap gue begitu?" "Lo mau mentoring juga?" "Ya iyalah, terus ngapain gue ke sini?" Amam agak kikuk diberikan pertanyaan seperti itu. Beruntungnya Enan akhirnya hanya mencebikkan bibir dan melupakan pertanyaannya. *** Seira memegangi perutnya yang terasa kembung dan sesak. Ia merasa mual. Belakangan ia juga jadi lebih sering buang air kecil seolah ada sesuatu yang mendesak kandung kemihnya. Mood Seira memburuk, dia bolak-balik di atas tempat tidur, mencari posisi yang enak. Namun, dia justru menjadi kesal dan berteriak, "Aaarggh! Nggak enak banget! Ini kenapa sih?" Ia lalu bangun dan menjejakkan kakinya ke ubin. Ia mengatur napasnya dengan ritme teratur. Entah mengapa pikiran buruk menyerangnya. Dia sudah telat datang bulan selama tujuh minggu. Ia dapat mengingat dengan baik bahwa dua bulan lalu ia masih berhubungan dengan Amam. Seira mendadak takut dengan kemungkinan itu. Ia lantas memejamkan mata dan menggeleng. "Enggak mungkin, Amam selalu hati-hati." Akan tetapi, pikirannya kontradiktif. Apa ia beli testpack saja? Tidak, dia hanya kurang sehat. Belakangan ini ia kurang tidur, ditambah lagi pelajaran sekolah yang serba sibuk, itu membuatnya kelelahan. Beberapa saat kemudian, mama dan papa Seira datang. "Rara! Ini Mama bawa makanan, mie ayam favorit kamu, ekstra pangsit lho!" Seira memang lebih sering dipanggil Rara. Hanya Amam yang memanggilnya Sei. Kata Amam, panggilan Sei gampang dipelesetkan menjadi seiyeng. Tapi sekarang, kadang-kadang orang lain juga terdistraksi memanggilnya dengan Sei, bahkan mama dan papanya juga. "Iya, Ma!" Seira lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur yang berada di lantai satu. "Tumben cepat pulangnya, Ma, Pa?" Septi, mamanya Seira tersenyum simpul. "Sebenarnya Mama sama Papa izin nggak masuk kerja hari ini, kita jalan-jalan berdua." Astaga. Seira tersenyum mendengarnya. "Papa kamu tuh yang punya ide." Acel, papanya, mengangkat bahu. "Nostalgia masa muda. Nggak setiap hari kita bisa jalan berdua, termasuk di akhir pekan. Akhirnya ya nekat aja izin dari kantor." Usia mama dan papa Seira sudah 40-an tetapi mereka tetap terlihat cantik dan tampan dengan postur tubuh yang ideal. "Iya deh yang nostalgia." "Ya udah makan dulu sana mienya, nanti bengkak lho kalau nggak dimakan." "Iya, Ma." Seira mengambil mangkok dan sendok untuk menyantap mie ayam itu. Tetapi, ketika mie itu sudah tersuguhkan di dalam mangkok, selera makan Seira menurun. Pangsit kering dan pangsit basah di mangkok yang biasanya menjadi makanan pertama yang ia masukkan ke mulut mendadak tidak berarti apa-apa. Seira merasa mual mencium aroma mie ayam itu. Saat ia nekat mengambil satu suap mie, seketika ia juga Seira muntah. Septi langsung berlari dari kamar mandi demi menghampiri Seira yang sudah muntah-muntah, dia memijat tengkuk Seira. "Kamu kenapa, Ra? Pa ambilin air putih!" Seira menggeleng. "Rara cuma pusing aja, Ma." "Ini minum dulu, Ra, airnya." Seira menerima gelas dari papanya itu. "Kamu istirahat di kamar aja dulu ya, Sei, ini Mama yang beresin." "Ayo Papa gendong aja!" Acel sudah jongkok di samping kursi Seira, menyuruh anak perempuannya naik ke pundak. "Seira bisa jalan sendiri, Pa." "Udah naik aja, anak Papa pasti kecapekan kalau jalan." Alhasil Seira hanya menuruti perintah papanya. Dia naik ke atas pundak lebar lelaki itu lalu tubuhnya terangkat ke atas. Acel membawa anak perempuannya ke kamar yang berada di lantai dua dan membungkusnya dengan selimut setelah meletakkannya ke atas ranjang. Satu kecupan dirasakan Seira di kening saat Acel hendak meninggalkannya di kamar. "Istirahat yang cukup, nanti Papa bawain buah." Saat tubuh Acel menghilang dari balik pintu, air mata Seira menetes. Dia jadi semakin takut. Bagaimana kalau dia akan membuat orang tuanya kecewa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD