Testpack

1597 Words
Amam memarkirkan sepeda motor di halaman depan kosnya. Ia lalu berjalan ke koridor dan kaget saat seorang perempuan berjilbab berdiri di depan pintu kamarnya. "Ih lo ngapain ke sini, Sonya? Ini kos cowok astaga malah berdiri di depan kamar." "Sengaja! Ya udah bukain dong kosnya! Lama amat." Amam mengerang sebal lalu memutar anak kunci kosnya. Ruangan sempit dan hangat dengan seprai berantakan dan sepatu berserakan membuat Sonya mengurut alisnya. "Sumpah, mending pindah deh. Kos kamu sumpek banget kayak gudang, Bang." Kalau situasi agak membaik Sonya akan berbahasa halus dengan Amam, pakai aku-kamu, aku-abang, bahkan kadang pakai adek-abang. "Lagian pakai acara pergi dari rumah, ngapain sih?" "Di rumah nggak enak, banyak nggak bolehnya. Kalau ngekos kan enak mau ngapain aja bebas." "Ya kan Mama sama Papa larang lo demi kebaikan. Biar lo ga banyak tingkah di luar sana." Sonya melangkah masuk lalu memunguti pakaian kotor Amam. "Ih kolornya basah abis diapain!?" Amam buru-buru merebut benda itu. "Udah jangan banyak tanya." "Halah, aibnya kebongkar tuh, jadi malu." Sonya tidak mau ambil pusing, berusaha memaklumi hal tersebut. Setelah lumayan rapi, ia duduk bersandar di dinding, bersebalahan dengan Amam. "Aku kangen Abang di rumah, sekarang aku sendiri mulu. Mama sama Papa ke luar kota terus, pembantu udah dipecat. Sekarang semua kerjaan rumah aku yang beresin, rasanya capek, Bang. Kalau ada Abang, kan, kita bisa bagi tugas." Sonya menatap Amam dengan saksama. "Bang balik ke rumah yuk. Temanin adek. Adek takut kalau malam-malam sendirian di rumah. Tiap nelepon Mama sama Papa, mereka langsung bilang, 'iya uangnya ditransfer,' abis itu tutup telepon. Padahal aku nelepon kan buat bahas hal lain." Amam tidak heran lagi dengan kelakuan orang tuanya. Sejak kecil hanya diatur jangan begini jangan begitu. Tetapi tidak pernah memberi arahan apa tindakan yang perlu dilakukan. Kalau berbuat salah selalu dimarahi. Mendengar cerita Sonya barusan hati Amam terketuk. Namun, tiba-tiba .... Sonya memelintir bibirnya. "Rasain tuh!!! Dadah Abang, aku pulang dulu!" Gadis itu berlari ke luar dan Aman dengan bibir yang terasa bengkak hanya menggeram. Amam mengejar Sonya yang sudah lari cukup jauh. "Baru juga tersentuh udah diginiin aja." *** Tadi saat mentoring mereka lebih banyak sharing tentang masalah sehari-hari dan Amam bertanya mengenai esensi taubat bagi manusia. "Allah itu maha pemaaf. Kalian tahu sendiri, kan?" Bang Rahman menjawab pertanyaan Amam. "Ampunan-Nya sangat luas, saking luasnya detik ini kamu membuat dosa sebesar gunung, kamu bertobat, detik itu juga gunung tersebut tenggelam dalam lautan pengampunan." "Tapi, Bang, remaja sekarang bandelnya bukan main. Zina di mana-mana seolah itu dosa kecil. Bukannya zina itu hanya bisa diampuni kalau dihukum cambuk ya bagi orang yang belum menikah? Dan, dihukum rajam sampai mati bagi mereka yang udah nikah?" Pertanyaan Enan membuat d**a Amam gentar. Bang Rahman mengangguk. "Benar, Nan. Tapi kita nggak tahu cara kerja Allah secara pasti. Tobat nasuha boleh jadi udah cukup, ya setidaknya untuk mengurangi dosa-dosa itu. Tinggalkan maksiat dan perbanyakan amalan bisa menggugurkan dosa kok. Mungkin nggak sekaligus, tapi bisa." Bang Rahman menyadari ada yang tidak beres dari raut wajah Amam, juga terkait alasan dari pertanyaan Amam tadi. Ia menepuk pundak Amam. "Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah karena justru itu yang bahaya. Nggak ada salahnya kok tobat, pasti dosa akan digugurkan. Makin banyak tobat makin banyak dosa yang digugurkan." "Kalau dosanya kebanyakan, kan, malu Bang. Apalagi kalau sampai bikin manusia lain ikut rusak." Amam berujar pelan. "Kenapa harus malu kalau Allah saja senang. Manusia tanpa dosa tu nggak ada, kecuali nabi dan rasul yang emang udah maksum. Kita mah mana apa gitu. Tapi karena Allah maha adil, Allah ngasih kesempatan hambanya yang nggak ada apa-apanya ini buat bertobat." *** Rasanya akan sedikit aneh jika tidak mengenal empat cowok paling kontroversial di SMA Batara. Yorizkal Eka Pradipura. Panggilan keluarga Ekal, kalau di sekolah malah dipanggil Yori. Dia adalah anak sulung keluarga Pradipura yang punya rumah makan Bebek Bali "Mangunkarsa" yang eksistensinya sangat diakui di Jakarta. Yori adalah tipe lelaki penurut dan hobi tebar senyum. Kulitnya putih bersih dengan mata agak sipit kalau lagi nyengir. Jumlah mantannya empat. Hubungan terlama dua bulan sepuluh hari. Terakhir pacaran satu semester yang lalu. Status terbaru mencoba insyaf. Enandika Ekia Alman. Waktu SD dia dipanggil Al, tetapi sejak duduk di bangku SMP orang-orang lebih tertarik memanggilnya Enan atau Nanan. Malah orang-orang kurang ajar seperti Amam dengan iseng memanggilnya Nenen. Kalau sampai nama itu menyebar ke orang lain bisa-bisa nama Enan akan berubah menjadi lebih menyedihkan lagi. Jumlah mantan pacar? Baru dua. Tapi yang digantung harapan sama dia jumlahnya jangan coba ditanya. Enan adalah tipe lelaki yang hobi nge-ghosting kalau sudah bosan. Bukan sok ganteng. Dia cuma malas berhubungan serius dengan perempuan karena menurutnya hanya bikin ribet dan buang-buang waktu, dia lebih sering tenggelam dalam hubungan TTM (teman tapi mesra) walau endingnya cuma jadi viewers di status w******p. Status sekarang: ibadah jalan maksiat sesekali. Lalu ada Muhammad Rayyan Alfarezqi. Kalau ini jangan ditanya. Jomlo Istiqlal (istiqamah sampai halal) dari masih bayi. Jadi incaran Pak Wawan untuk dijadiin calon menantu. Nama panggilannya Rian karena orang-orang suka salah sebut kalau memanggil namanya. Kandidat ketua rohis terkuat untuk periode depan karena track recordnya yang bukan asal-asalan. Terakhir ada Abrisham Zein Kuala. Setiap perkenalan nama dia selalu bilang nama panggilannya Isham. Tetapi orang-orang tetap memanggilnya Abi atau Amam. Usai mentoring, Bang Rahman menawarkan Amam untuk curhat segara personal. Dia adalah mahasiswa psikologi UI, baru semester dua, Bang Rahman cukup paham untuk mengatasi orang-orang yang punya masalah. Saat ini Yori, Enan, dan Rian sudah pulang, tinggal Amam dan Bang Rahman. "Saya bisa lho ngeliat kalau kamu lagi stress sama sesuatu. Mau cerita?" Amam menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia bingung sekaligus malu. "Nggak harus nyeritain detailnya. Cukup yang bikin kepala kamu mumet saja." Setelah menimbang-nimbang, Amam akhirnya meneguhkan hatinya. Baiklah, Amam akan bercerita. "Saya baru putus sama pacar saya. Dia terlihat sangat hancur dan saya tidak sanggup lihatnya." Alih-alih senang, Bang Rahman justru menautkan alisnya. Dia tahu betul pacaran itu haram tetapi bukan berarti putus adalah hal yang baik karena hakikatnya manusia tidak tahu apa-apa. Maka dari itu Bang Rahman justru bertanya, "Kenapa kamu putusin?" "Saya ingin dia kembali ke jalan Allah. Bersama saya dia banyak berubah Bang. Saya seperti merusaknya." "Kamu ceritakan alasan kamu putus? Abang tebak pasti enggak." Amam terdiam. Tebakan itu tepat. "Iya saya nggak bilang alasannya." Terdengar suara tarikan napas dari Bang Rahman. "Abang juga pernah pacaran dan sama, Abang putusin. Tapi Abang bilang alasannya, agar bisa saling mengikhlaskan dan bisa menjadi lebih baik. Wanita itu rapuh, Mam. Hatinya rentan terluka. Bilang baik-baik ke perempuan itu." Entah Bang Rahman tahu atau tidak apa yang sudah Amam lakukan bersama Seira saat masih berpacaran. Mungkin jika dia tahu, dia tidak akan berkata selembut ini. "Kalau dia nggak mengampuni saya gimana, Bang?" "Tetaplah meminta maaf. Tetapi jangan mainkan perasaannya ya. Nggak baik." "Maksudnya?" Amam memicingkan mata. "Kalau kamu sudah mencoba istiqamah buat nggak pacaran, jangan ngasih harapan ke dia kalau kalian akan balik seperti dulu. Beberkan realitanya. Dan ... jangan sampai justru kamu terlibat dengan wanita lain. Tenang Amam, Allah mencintai hambanya yang menyucikan diri termasuk dengan bertobat dan kembali ke jalan yang benar." Tepukan tangan Bang Rahman pada pundak Amam membuat lelaki itu merasa sedikit tenang. Ia lalu mengangguk dan berterima kasih dengan Bang Rahman. *** Tengah malam sekali, Seira mengenakan masker dan hoodie dengan menutupi kepalanya. Dia memakai celana pendek dan sandal jepit, berjalan pelan-pelan menuruni anak tangga. Dia memutar kepala ke kanan dan kiri demi memastikan bahwa rumahnya sedang sepi. Saat tiba di pintu depan, Seira menarik napas dalam-dalam lalu menarik gagangnya. Dia buru-buru pergi menuju minimarket 24 jam dekat rumahnya untuk membeli testpack. Dada gadis itu tak kunjung tenang dari debaran. Ia seperti buronan. Seira membeli beberapa testpack untuk membandingkan hasilnya. Saat menuju pintu kaca untuk keluar pasca bertransaksi, Seira tidak sengaja menabrak seorang laki-laki hingga salah satu testpacknya jatuh. Dia melotot dan meneguk ludahnya yang kelat berkali-laki. Rian, lelaki itu, menatap dirinya dengan bingung lalu tatapannya dialihkan pada lantai. Rian melihat dengan jelas benda yang terjatuh tetapi ia tidak mengenali Seira karena gadis itu langsung pergi. Rian terdiam sejenak. Merasa familier dengan gadis berhoodie abu-abu dengan tulisan Paris itu. *** Besok paginya Seira belum sempat mengecek urinnya. Dia masih takut dan belum siap menerima hasilnya. Untuk membayangkannya saja Seira sudah mau menangis. Hari ini dia ke sekolah dengan murung, kehilangan fokus. Apalagi di sekolah ini ia tidak dekat dengan siapa-siapa. Satu-satunya orang yang dulu selalu menjadi tempatnya bergantung adalah Amam. Namun kini lelaki itu bukan siapa-siapa lagi. Menjadi populer tidak membuat 'mereka' punya banyak teman. Justru sebaliknya, banyak musuh dalam selimut yang bertebaran. Kakak kelas yang kemarin mengawasi Seira di halte berjejer di anak tangga saat Seira hendak naik ke lantai atas. Sontak gadis itu memutuskan untuk berbalik badan. Namun, seorang laki-laki kurus tinggi dengan rambut gimbal menarik rambut Seira yang terurai di belakang. Refleks Seira mengaduh dan menepis tangan nakal. "Apaan sih Kak tarik-tarik?! Nggak lucu tahu nggak!" "Waah waah berani juga ni anak." Cowok itu tertawa sok asyik yang membuat darah Seira mendesir. Ia lalu mengusap wajah mulus Seira yang langsung dihadiahi tepisan. "Ga usah macem-macem ya atau gue teriak?!" "Waduh ngancem. Coba gimana teriaknya? Ah, ah, ah, ah, ngggh." Cowok itu menirukan suara desahan perempuan. "Gak usah jual mahal gitu dong. Gue satu kos sama Amam, gue tahu kalian ngapain aja. Selama ini gue diem karena lo masih pacar dia, sekarang kan bukan. Boleh dong ngerasain semalem." Plak! Seira refleks menampar lelaki itu. Tangannya gemetaran dan tubuhnya mendadak dingin. Kepalanya pusing, perutnya juga mendadak mual. Cowok tadi bersama teman-temannya memasang wajah nyalangnya. Ia hendak mendorong Seira dari tangga, tetapi sebelum itu terjadi Seira lebih dulu jatuh terjengkal ke belakang dan tidak sadarkan diri. Ia pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD