Hamil

1584 Words
Amam yang menyaksikan kejadian saat Seira tumbang itu langsung berlari dan menghampiri Seira. Dia memelototi Jack yang diam saja bersama gengnya. "Abis lo sama gue entar," ujar Amam dingin. Ia lalu tanpa banyak babibu langsung menggendong Seira dan membawa gadis itu ke UKS. Sedangkan Jack tampak tidak merasa bersalah sedikit pun. Setelah membaringkan Seira di atas brangkar, Amam membuatkannya teh manis. Kebetulan UKS masih sepi, baru ada mereka berdua di sana. Seira mengerjapkan mata, menetralisir silau dari pantulan cahaya pada plafon putih. Seira merasakan sekujur tubuhnya dingin, tubuhnya bergetar karena gigil. Dia menarik selimut untuk menyelimuti tangan dan kakinya. Tak lama setelah itu Amam pun datang. "Seira, kamu udah mendingan?" Amam mempercepat langkahnya saat melihat Seira sudah bangun. Dia menyodorkan teh manis hangat kepada gadis itu. "Minum dulu, sayang." Deg! Amam tidak sengaja mengatakan hal itu. Ia keceplosan. "Maksudku, Seira." Seira tidak begitu mendengarkan perkataan Amam pada saat itu karena fisiknya juga sedang lemas. Dia hanya menurut dan membiarkan Amam menjejakkan tepi gelas ke bibirnya. "Apa yang kamu rasain sekarang, Sei?" "Dingin, Mam. Dingin." Bibir Seira tampak ikut bergetar dan pucat. Amam lalu dengan tangkas berdiri dan menarik selimut-selimut yang ada di brangkar lain. Ia lalu melilitkannya pada Seira. "Sekarang gimana, Sei?" Seira diam saja. Ia meremas perutnya yang terasa mual. Amam memijat kaki dan tangannya agar gadis itu merasa baikan. "Seira, kamu sakit apa, hah?" Amam menyelipkan rambut Seira ke belakang telinganya. Tampak keringat bermunculan di dahinya. Mata Seira juga sudah sayup antara sadar dan tak sadar. Tiba-tiba, perut Seira seperti didesak oleh sesuatu dan cairan keluar dari mulutnya, menyembur ke arah Amam. Dia muntah. "Ya Allah, Seira! Muntah aja, Seira, gak pa-pa, muntah di sini sepuasnya." Alih-alih jijik, Amam justru membantu Seira untuk muntah. Dia memijat tengkuk Seira. Gadis itu muntah hingga dua kali semburan lagi. "Udah enakan?" tanya Amam panik. Gadis itu mengangguk lemas. Amam lalu mengambilkan air putih dan meminumkannya kepada Seira lalu memberinya air teh yang tadi. Dia mengabaikan seragam pramukanya yang kotor. "Kamu sakit apa, Seira?" "Masuk angin aja, kok." Amam mengembuskan napas. "Aku antar pulang aja, ya?" "Aku nggak pa-pa, Amam. Aku sehat." Namun, Amam menggeleng. "Tetap pulang. Atau mau aku telepon mama sama papa?" "Eh jangan," sergah Seira tidak sengaja, murni karena refleks. "Emm, kamu bisa anter aku? Tolong." Mana mungkin Amam menolak permintaan tulus dari gadis itu. Sejak awal emang ia sudah berinisiatif untuk mengantar Seira pulang, tidak perlu meminta sama sekali. Amam mengulurkan tangannya. "Kita pulang, ya?" *** Seira tidak mengizinkan Amam untuk masuk setelah mengantarnya pulang meski lelaki itu masih khawatir. Amam pun pulang dengan perasaannya yang tidak enak, jatuh dalam kecemasan. Seira lalu menutup pintu dan naik ke kamarnya di lantai dua. Dia mengunci semua pintu dan jendela sehingga di sini dia benar-benar sendirian. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur dan tatapannya terarah pada laci pada nakas di dekatnya. Testpack. Seira mati-matian membujuk dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia menggigit bibir bawahnya hingga memerah dan sedikit luka. Ia lalu mencoba memberanikan diri untuk mengambil beberapa buah testpack yang sudah dibelinya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah melakukan tes, ia hanya membiarkan alat itu di dalam laci. Dia belum berani melihatnya. Seira mencoba membuka sosial media untuk menghibur diri. Lalu tatapannya terhenti saat melihat postingan Amam tadi malam. "La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Di postingan itu Amam memotret kubah masjid yang berpendar di tengah malam. Seketika Seira merasakan sejuk merayap pada sekujur badannya. Dia merasa tenang melihat postingan itu. Akhirnya Seira memutuskan untuk berwudu, membasuh wajahnya yang mulus. Dia juga menatap sosok dirinya yang ada di cermin. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Melihat wajahnya sendiri, Seira merasa terpukul. Dia sontak menunduk dan membiarkan beberapa tetes air matanya bercampur dengan air wudu. "Aku udah terlalu jauh. Aku punya Allah tapi aku udah ninggalin itu semua. Aku udah terlalu jauh meninggalkan agamaku. Aku terlalu bergantung dengan manusia padahal hanya Allah yang nggak pernah meninggalkan aku sedikit pun. Aku sangat bodoh!" Seira membenturkan kepalanya ke cermin, membiarkan rasa sakit itu memenuhi kepalanya sebelum perasaan lain yang masuk menyertai dirinya. Usai wudu, Seira salat dua rakaat. Dia berkomitmen akan menjadi Seira yang dulu. Seira yang selalu mengenakan jilbab panjangnya, menjaga pandangannya, tak pernah lepas dari wudu, dan tak mau bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahram. *** Jika dulu Amam selalu menonton tayangan tak senonoh di ponselnya, sekarang alunan Alquran sering memenuhi dinding-dinding kamarnya. Atau kalau tidak, tausiah dari akun dakwah yang ada di YouTube. Dengan buku kecilnya Amam mencatat hal-hal kecil tentang islam untuk bisa ia terapkan dalam kehidupan. Catatan itu akan ia konfirmasikan kepada Bang Rahman minggu depan atau ke ayahnya Rian yang merupakan guru agama islam di Madrasah Tsanawiyah. Dia tidak ingin salah dalam memahami ilmu baru yang ia peroleh. Saat tengah asyik mencatat, Rian datang sambil menenteng bungkus makanan. "Assalamualaikum." Ia tidak perlu mengetuk pintu, tinggal menyelonong masuk. Dia mengintip apa yang sedang Amam tonton. "Hakikat cinta," celetuk. "Lagi galau, Mam?" Amam menggeleng. "Waalaikumussalam." Bukannya menjawab pertanyaan Rian, Amam justru hanya menjawab salamnya meskipun telat. "Piring di rak, ya. Ambil dua." "Dih, kok dua?" "Buat gue kan satu." "Pede banget." Namun, tak urung Rian tetap mengambil dua piring di rak. Ia memang membeli dua porsi nasi goreng seperti biasa. Amam hanya melirik Rian dan tersenyum. Ia lantas mematikan tayangannya dan berdiri untuk mengambilkan air putih dari galon yang dipompa dengan tangan. "Nasgor biasa tutup. Gue beli yang di seberangnya." "Biarin dah sama aja rasanya. Nih minum." "Makasih. Eh iya, Mam. Tadi Seira pulang, lo yang anter? Gue nguping Boy sama Elin." Amam mengembuskan napas. Boy dan Elin benar-benar tukang rumpi. Malas menanggapi, Amam hanya mengedikan bahu. "Jawab kek orang nanya tuh. Angkat bahu mulu." "Ck. Iya gue antar Seira. Dia sakit." "Sakit? Sakit apa?" Rian terlihat cemas. Bagaimana pun Seira juga teman baiknya. "Sekarang kondisinya gimana?" "Satu, satu, dong. Apaan banget nanya beruntun gitu. Gue juga ga tahu dia sakit apa. Kayaknya masuk angin gitu. Semua gara-gara Jack sama gengnya yang godain Seira. Semoga dia baik-baik aja sekarang." "Jack yang lo maksud, Jack yang ngekos di lantai atas. Yang blangsak itu?" "He'em. Kurang aja tuh cowok ngerendahin Seira. Kalau Seira nggak lagi sakit udah gue bantai tu si Jack sama gengnya yang mukanya kek kon—" "Sssst, jangan ngomong kotor." Rian menempelkan telunjuknya ke bibir. "Walaupun lo bener." Amam terkekeh lalu lanjut menyuap makanannya ke mulut. Suasana hening sejenak karena mereka memilih untuk menikmati makanan mereka. Namun, tiba-tiba Rian teringat sesuatu. "Mam, Amam." Amam menaikkan alisnya sambil berdehem. "Kemarin gue ke mini market dekat rumah Seira, habis dari acara keluarga kan gue lewat situ." "Terus?" "Terus di mini market tabrakan sama cewek. Dia beli testpack banyak banget." Amam lantas menautkan alisnya. "Lo kenal sama tuh cewek? Oooh, ibu-ibu ya?" "No! Kayak anak sekolah. Tapi gue ga kenal. Dia pakai hoodie abu-abu." Amam terdiam. Seingatnya di area rumah Seira jarang sekali ada anak perempuan yang masih sekolah. Setidaknya menurut pengamatan dia selama mengantar jemput gadis itu. "Dia ... pakai motor atau kendaraan?" Rian menggeleng. "Dia jalan kaki." *** Sudah dua jam Amam melamun menatap langit-langit kamarnya setelah Rian pulang. Siapa kira-kira perempuan yang dimaksud Rian? Mengapa di kepalanya hanya ada nama Seira? Amam semakin gelisah. Bagaimana jika prasangkanya benar? Ia lalu menggeleng cepat-cepat. Karena merasa gelisah, akhirnya Amam mengambil kunci motor. Dia tidak bisa tidur malam ini, maka menjelajahi jalanan di Jakarta sepertinya akan menjadi pilihan yang baik. Dengan jaket jins gelapnya Amam membelah jalanan di Jakarta yang seolah tak ada matinya. Cafe-cafe masih dipenuhi oleh remaja yang nongkrong. Ada yang minum-minum, ada yang mengaku menginap di rumah teman justru berakhir di hotel kelas merpati. Bahkan di jalan kecil lebih banyak lagi orang-orang yang ia temui. Amam juga bisa melihat sebuah toko kecil di sudut jalan kecil yang sepi, ada sepasang manusia di sana. Amam tidak buta, ia tahu keberadaan hal-hal itu. Jakarta tidak salah. Kota besar tidak pernah menghendaki anak mudanya bertindak seperti ini. Yang salah atau kelonggaran dalam diri, turunnya iman, rasa gegabah, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Amam tidak akan menghakimi siapa pun karena kenyataannya dia juga pernah. Bedanya, sekarang Amam menyesali hal itu. Sepeda motor Amam berhenti di halaman masjid agung Al Munada Darussalam. Di samping masjid itu ada sebuah bangunan berbentuk kapal atau perahu. Di bangunan perahu itu Amam mengambil air wudu, mengusap wajahnya dan membiarkan air segar menelusup ke sela pori-pori. Dia lalu masuk ke dalam masjid untuk shalat tahajud beberapa rakaat. Di sana ada seorang bapak-bapak yang awalnya Amam tak kenal. Usai salat dan berdzikir, bapak tadi menepuk pundaknya. Yang membuat kaget, bapak itu menyebut namanya. "Amam?" Amam sontak menoleh dan ternyata bapak itu adalah Pak Wawan. "Eh, Pak Wawan?" Ia lalu mencium tangan Pak Wawan dan disambut dengan tepukan hangat di pundaknya. "Bapak nggak pernah lihat kamu di masjid ini, kamu ngapain, Mam?" "Nggak pa-pa, Pak. Saya suntuk. Saya habis keliling Jakarta aja terus mampir ke sini buat salat." "Hmm, Bapak tahu. Pasti kamu lagi ada masalah ya, Mam? Ya usia segini emang ada aja masalah. Beruntungnya kamu bisa alihin ke hal yang baik begini. Ya udah, habis ini kamu mau ke mana?" Amam diam sesaat, dia juga belum tahu mau pulang ke mana. Kalau pulang ke kos, jaraknya jauh. "Apa kamu mau mampir ke rumah Bapak? Rumah Bapak deket sini, kok." "Nggak usah, Pak. Kayaknya saya mau pulang aja." "Loh, udah malam. Nanti kamu kesiangan malah nggak sekolah." Amam tampak berpikir. Ia tidak enak menolak tawaran Pak Wawan. Akhirnya ia mengangguk. "Ya udah, Pak. Boleh." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD