Amukan

1649 Words
Usai mengantar Sonya pulang ke rumah dengan selamat, Amam memilih berkeliling-keliling kota sambil menunggu waktu magrib. Dia lalu mampir di masjid pinggir jalan saat adzan berkumandang, menunaikan salat berjamaah. Setelah memutuskan untuk hijrah dan kembali ke jalan Allah, Amam merasakan ketenangan yang luar biasa. Dia merasa urusannya mudah, hidupnya lebih teratur, dan satu per satu masalah berhasil ia lewati. Usai salat magrib, Amam merasakan jalanan yang lengang. Namun. Begitu dia melangkah lebih jauh, dia melihat seorang perempuan di atas jembatan layang. Awalnya ia tidak sadar siapa sosok itu. Semakin matanya memicing, debar jantungnya meningkat hebat. Ia yang penasaran memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Begitu ia sudah lebih dekat, dia menengadah, melihat ke atas jembatan layang, seorang gadis yang ia kenal ada di pinggir pembatas, hendak meloncat. Seira akan meloncat jika dia tahu orang-orang mencegatnya atau menghampirinya. Maka dari itu, Amam diam-diam naik ke atas, berlarian dengan perasaan campur aduk tetapi di sisi lain dia membuat langkahnya membal agar situasi tetap tenang. Tiba di atas jembatan layang yang rusak dan tua itu, Amam langsung berlari. Dia memeluk perut Seira tepat sesaat gadis itu hampir tumbang ke depan. Seira berhasil diselamatkan. Namun, hal lain yang membuat dunia Amam berubah adalah saat ia melihat hasil tes kehamilan milik Seira. Dunianya seperti berhenti dan berotasi berlawan arah semula. Pikirannya benar-benar kacau. Saat ini Amam ada di ruang UGD Rumah Sakit Persik sembari menunggu perintah masuk ruangan oleh tenaga medis. Amam setia meremas jemari Seira, mencium tangan itu, sambil memejamkan matanya. "Ditenggelamkan di laut terdalam, diceburkan dalam api paling panas, juga nggak akan bisa menembus kesalahanku sama kamu, Sei." Wajah Amam teramat kusut dan kusam. Kulitnya berminyak dan berkeringat, bercampur dengan air mata yang dilap asal-asalan. Baju koko dan sarung yang biasanya membuat Amam merasa jadi pria yang baik, kali ini justru membuatnya merasa jadi pria paling jahat sedunia. Tak lama, Acel dan Septi tiba ke rumah sakit. Mereka menghampiri Seira yang sedang tertidur. "Septi, anakku, ya Allah. Kenapa kamu, Nak?" Septi langsung datang membelai rambut Seira, meraba tangan dan kaki anaknya yang dingin. "Astaghfirullah." Acel yang menyadari keberadaan Amam bertanya pada lelaki itu. "Seira sebenarnya kenapa, Amam?" Amam mendadak kelu. Tubuhnya gemetaran. Dia takut dan sangat merasa bersalah. "Amam? Seira kenapa bisa begini? Papa nggak marah, kok, Amam jelasin dulu." Septi ikut ambil suara. "Iya, Amam. Seira kenapa bisa begini. Seira sama kamu, Sayang?" Septi dan Acel memang sangat baik kepada Amam, mereka menganggap Amam sebagai anaknya sendiri. Hal itu lah yang membuat Amam merasa bersalah. "Amam?" Septi bertanya lembut sambil mengusap-usap tangan Seira. "S-Seira melakukan percobaan bunuh diri, Pa." Orang tua mana yang tidak kaget mendengar hal itu. Setahu yang mereka ingat, mereka selalu mencukupi kebutuhan Seira. Kasih sayang pun tak lupa mereka taburkan dalam keluarga, mereka selalu memperhatikan Seira. Tetapi kenapa Seira melakukan percobaan bunuh diri? "Kenapa Seira melakukan itu? Kamu nggak bohong, Amam?" Suara Septi terdengar bergetar, merasa tidak percaya. "Amam, kenapa?" tanya Acel melengkapi kekacauan di hati Amam. Amam lalu memberanikan diri mengambil hasil tes kehamilan Seira di meja dan menyerahkannya kepada Septi. Tangannya seperti tremor, panas dingin. Septi lalu membuka surat itu dan ... "Ya Allah ... Ya Rabbi! Kenapa Engkau memberikan cobaan ini kepada keluarga hamba?!" Septi langsung terduduk lemas di lantai Sedangkan Acel mengambil alih surat itu. Ia membacanya dengan tatapan kosong. Lelaki itu tampak kaget, saking kagetnya ia tidak berbuat apa-apa. Amam reflek turun berlutut di kaki Acel, mencium kaki itu sambil terus terisak penuh sedu sedan. "Amam minta maaf, Pa. Amam nggak nepatin janji untuk menjaga Seira. Amam, Amam udah jadi laki-laki b******k yang bikin Seira seperti ini. Amam rela dihukum apa pun bahkan jika Papa dan Mama mau Amam mati, Amam rela." Namun, tatapan Acel terkunci. Dia meremas kertas ditangannya dan membuangnya ke lantai. "Saya merestui hubungan kamu dan Seira karena Seira bilang kamu laki-laki yang sangat baik, Amam. Kamu selalu menjaganya, memperlakukannya seperti seorang ratu, tidak membiarkan anak saya lecet sedikit pun. Anak saya bilang, satu-satunya laki-laki yang ia cintai selain saya adalah kamu. "Saya senang jika itu membuat Seira bahagia. Saya percayakan kamu untuk menjaganya. Tetapi apa yang kamu perbuat?" "Pa, Amam salah. Amam bodoh karena udah merusak kepercayaan Papa. Tapi Amam benar-benar cinta dengan Seira." "Amam yang saya kenal tidak akan membiarkan Seira melalui hal seperti ini. Apalagi sendirian. Belakangan dia sering mengunci diri di kamar, mudah sakit dan pingsan, tetapi nggak sekali pun saya melihat kamu ke rumah untuk sekadar nanya kondisinya." Acel sangat menyayangi Seira, dia tidak bisa membiarkan anaknya tersakiti. "Kamu bangun!" titah Acel. Amam lalu bangun dengan hidungnya yang berair dan wajahnya yang merah padam. "Tatap mata saya, Amam!" Dengan patah-patah, Amam mengangkat wajahnya. Tatapan tajam penuh luka milik Acel membuat bibir Amam bergetar dan dia kembali tersedan. "Bilang ke saya, siapa yang berani menghamili putri kesayangan saya?" Kali ini mata Acel menjadi berkaca-kaca. Amam hanya bisa menahan bibirnya dan membiarkan air matanya terus lolos. "Amam jawab saya! Jangan bikin saya menunggu." "S-saya, Pa." Dunia Acel lalu menghitam. Pikirannya sempit. Dengan gegabah tangannya mengepal dan melayang menghajar rahang Amam. Lelaki itu langsung jatuh ke belakang, membentur meja rumah sakit. Acel kembali mendekati Amam, mengapit kaki Amam dengan pahanya. "SAYA SUDAH MEMPERCAYAI ANAK SAYA BUAT KAMU DAN INI YANG KAMU LAKUKAN?!" BUG! "KAMU MEMBIARKAN SEIRA MELALUI INI SENDIRIAN SAMPAI DIA MENCOBA BUNUH DIRI!" BUG! "Pa udah, Pa! Cukup!" teriak Septi. "Bicarakan baik-baik, Pa." "TIDAK AKAN!" Mendengar kekacauan di ruangan, perawat pun datang untuk mengecek. Mereka panik melihat keributan dan mencoba memanggil perawat lain untuk membantu melerai. "Pak, Pak tolong jangan bikin keributan di rumah sakit." "Lepasin!" Acel tidak mengizinkan tiga perawat laki-laki menahan tangannya, tetapi tiga lawan satu, Acel tidak bisa menolak tubuhnya diseret. Acel harus membiarkan Amam meringkuk di lantai setelah ia pukuli beberapa kali. *** Septi jelas kecewa dengan apa yang terjadi pada keluarganya. Mati-matian ia mendidik Seira agar menjadi anak yang berguna tetapi yang terjadi justru seperti ini. Meski begitu, Septi tidak sedikit pun membenci anaknya. Ia tahu apa yang dilalui oleh Seira sudah terlalu sulit. Ia tidak ingin menambah masalah anaknya. Begitu Seira sadar, Septi langsung bangun dan mengambilkan air putih untuk Seira. Perempuan itu mengisap air minumnya perlahan. "Seira udah baikkan?" tanya Septi lembut. Seira tidak menjawab, dia menggenggam tangan Septi dengan dua tangannya lalu meletakkannya di d**a. "Mama. Maafin Seira." Septi menggeleng. "Jangan bahas dulu itu, ya. Fokus ke kondisi kamu dulu, Sayang." "Mama pasti kecewa ya sama Seira. Seira bodoh ya, Ma? Mama boleh kok usir Seira, buang Seira jauh-jauh asal Mama dan Papa maafin Seira." Septi menggeleng. "Sssst. Jangan bilang gitu ya, Seira. Mama bilang apa tadi? Jangan pikir yang aneh-aneh dulu. Yang penting Seira sembuh." Namun, air mata Seira justru meleleh. Dia tahu orang tuanya sudah melihat hasil tes itu. Mereka berdua pasti merasa sangat hancur, gagal mendidiknya. Sebelum anaknya bicara lagi, Septia sudah mendaratkan bibirnya ke kening Seira, mengantarkan rasa hangat kepada anak semata wayangnya. Sementara itu, di luar ruangan UGD, Amam duduk dengan wajah babak belurnya. Sekali lagi dia menegaskan bahwa ia tidak masalah dihajar sekeras apa pun. Dia memang lelaki b*rengsek. Amam meremas jemarinya dan menepuk-nepuk lantai dengan sepatunya. Dia ingin masuk ke dalam tetapi ia takut. Takut bertemu Seira dan takut bertemu mamanya. Lelaki itu lalu berinisiatif untuk menelepon Sonya untuk menceritakan masalah yang barusan terjadi. Begitu panggilan diangkat. Keheningan justru terjadi. "Bang? Kok diem?" "Bang?" "Sonya ...." "Iya Bang kenapa? Lo nangis? Ada apa eh? Jangan bikin khawatir!" "Seira nyaris bunuh diri." Deg. "Hah kok bisa?! Ih lo apain Kak Seira, Bang? Dia gimana sekarang?!" Amam tidak kuat melanjutkan. Dia kembali tersedan dalam tangisan, membuat Sonya bingung. "Bang? Jawab gue!" "S-Seira hamil anak gue." Seketika lengang. Di ujung telepon Sonya merasa jantungnya berhenti berdetak. "Gue nggak tahu dia ngelewatin ini sendirian. Gue nggak tahu, Sonya!!!" Seperti ada gemuruh yang timbul dari suara Amam dan itu membuat Sonya memaku di tempat. "Gue mutusin dia dan ngebiarin dia sampai dia putus asa begini. Gue bodoh! Gue bodoh!" Sonya seperti kehilangan pegangan. Amam yang selalu baik dan perhatian kepadanya ternyata nyaris membuat seorang perempuan mengakhiri hidupnya. Sonya terduduk di lantai ruang tamu sambil menunduk. "Bang. Lo di mana sekarang?" Amam diam sejenak untuk menenangkan napasnya, baru kemudian dia menjawab, "D-di Rumah Sakit Persik." "Gue ke sana sekarang." *** Acel diusir dari rumah sakit dan tidak diizinkan kembali. Emosinya masih membuncah dan dia uring-uringan di jalan. Dia duduk di trotoar dan menangkup wajahnya, menunduk. Acel jelas marah dengan Amam, tetapi lebih dari itu dia marah dengan dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjadi ayah. Sebagai seorang imam sudah kewajibannya menuntun keluarganya ke surga. Tetapi dia merasa gagal. Selama ini ia sangat menyayangi Seira. Ia rela memberikan apa pun kepada anaknya. Namun, mengapa hal seperti ini terjadi? Seira masih sangat muda. Usianya belum sampai 17 tahun. Dia masih kelas 1 SMA. Apa nasib masa depannya? Bagaimana seorang anak semanis Seira akan menjadi ibu? Bagaimana Seira hidup di tengah gunjingan orang-orang? Acel berani memastikan bahwa Seira bukan anak nakal atau liar. Seira hanya khilaf melakukan kesalahan. Sonya datang dengan menggunakan gojek dan melihat Acel di pinggir jalan. Ia lalu memutuskan memberhentikan gojek dan menyusul keberadaan Acel. "Oom?" Acel mengangkat kepalanya dan melihat sosok Sonya di hadapannya. Acel buru-buru mengelap air mata yang ada di pipinya. "Sonya?" Acel tersenyum penuh paksaan. Amam, kakaknya Sonya, memang melakukan kesalahan. Namun, Sonya tidak. Apa yang terjadi sekarang tidak membuat Acel membenci Sonya. Sonya berjalan ke arah Acel, berlutut di kakinya. "Oom Acel, maafkan Abang saya, Oom. Ampuni dia. Dia sangat menyayangi Kak Seira sepenuh hatinya." "Sonya jangan begini, jangan berlutut begini, Sonya." "O-om, Sonya sayang Kak Seira, juga sayang dengan Bang Amam. Apa pun yang sudah terjadi. Itu adalah kesalahan masa lalu mereka. Ampuni mereka, Oom." Acel mengangkat bahu Sonya agar perempuan itu bisa menegakkan kepalanya. "Stop, Sonya. Jangan bela mereka. Bagaimana pun mereka salah." "Mereka khilaf Oom." Acel menggeleng. "Khilaf tidak mungkin sampai hamil, Sonya." Ia memutuskan berdiri. "Jika kamu ingin menemui mereka, temui lah. Saya tidak ingin mengurusi hal ini lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD