Menjadi Rahasia

1885 Words
Plak! Sonya menampar Amam tepat keduanya berada di taman rumah sakit. "Lo jadi cowok brengs*ek banget sumpah. Lo tu punya adek cewek, kalau adek lo yang digituin cowok lain gimana perasaan lo, Bang." "Iya gue salah. Tapi apa nggak ada lagi cara gue benerin semuanya?" Sonya berkacak pinggang. Dia kasihan dengan nasib Amam sekarang tetapi entah mengapa melihat wajah lelaki yang merusak masa depan perempuan, membuat emosi Sonya mendidih. "Yang lo pikirin sekarang apa?" Aman menggeleng pelan. "Gue cuma bisa mikir satu hal dan itu nggak cukup meyakinkan buat gue." "Apa? Nikahin Kak Seira?" tanya Sonya agak nyolot. Amam mengangguk patah-patah. Dia siap bertanggung jawab atas perbuatannya. Sonya duduk di kursi taman, mencari sumber oksigen sebanyak mungkin. "Emang cuma itu satu-satunya yang bisa lo lakuin sekarang. Masalahnya, lo nggak punya apa-apa, Bang. Mau makan buat diri sendiri aja susah gimana mau nafkahin keluarga?" Sonya sebenarnya tidak perlu mempertegas hal itu. Amam sadar diri. Dia mengerti dengan apa yang sedang ia hadapi sekarang. "Gue bisa kerja, Sonya. Gue akan lakuin apa pun." Sonya tidak bisa mempercayai apa yang Amam katakan. "Hidup di Jakarta tu berat. Biaya hidup mahal. Lo mau kerja apa gue tanya? Satu-satunya yang bisa lo lakuin adalah bilang ke mama sama papa, minta bantuan mereka." Amam menggeleng tegas. "Ga bakal, Sonya. Mereka akan ngebunuh gue kalau tahu anaknya ngehamilin orang. Lo tahu sendiri mereka sedisiplin apa. Lo remedial aja dihukum tidur di luar apalagi gue." "Ya udah lah. Terserah lo. Asal lo bisa bertanggung jawab dengan keputusan lo." Sonya menyerah." Gue bakal nemenin lo lewatin ini, Bang, walaupun jujur gue kecewa banget sama cowok yang ada di depan gue sekarang. Gue juga bakal nemenin lo datang ke rumah Kak Seira buat bahas hal ini. Hari ini, lo pulang dulu. Istirahat. Udah malam nih. Yuk!" "Lo duluan aja, Sonya. Gue lagi pengen sendiri." "Bang? Gue bilang pulang." "Sonya. Gue bilang lo duluan. Plis kali ini nurut." Amam bertutur dengan tatapan sendunya. Sonya menghela napas dan mengangguk. "Ya udah. Gue duluan, ya. Besok kita ke rumah Kak Seira sama-sama." "He'em," angguk Amam. Sonya lalu berdiri, berbalik badan meninggalkan Amam. Setelah melangkah beberapa kali, ia berhenti dan menoleh ke arah kakaknya. Beberapa hari ini dia senang sekali melihat perubahan drastis yang dilalui oleh Amam, tetapi hari ini, detik ini, dia merasa dikhianati oleh kebahagiaannya. *** Amam dan Seira saling mencintai. Menjadi pasangan suami istri juga sudah ada di kamus hidup mereka. Tetapi, bukan untuk saat ini. Setidaknya sebelum kehamilan Seira terungkap. Seira diizinkan pulang. Septi yang mengurus semuanya. Layaknya anak kecil, Seira selalu memeluk pinggang ibunya seolah takut ibunya akan pergi. Mereka menaiki mobil sedan. Seira duduk di belakang agar bisa setengah berbaring sedangkan Septi yang menyetir. Beberapa belas menit perjalanan, mereka tiba di pekarangan rumah. Di beranda, Acel sudah menunggu di kursi. Seira yang melihatnya merasa takut untuk turun. "Papa pasti akan marah besar ke Seira, Ma. Seira harus gimana?" "Bagaimana pun kamu salah, Ra. Kamu harus meminta maaf ke Papa layaknya orang dewasa." Seira menelan ludahnya yang kelat. Begitu Septi turun dari mobil, Seira dapat melihat tatapan kosong papanya. Seira kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu mobil lantas turun. Kakinya lemas melihat wajah papanya. Ia melangkah mengikuti mamanya. Begitu tiba di hadapan Acel, Seira dengan kepala menunduk dan kaki bergetar, berusaha membuka mulutnya. Septi di sebelahnya merangkul pundak Seira, seolah bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Seira menarik napasnya sekali lalu menekuk kaki untuk bersimpuh. "Pa." Acel menahan pundak Seira, membuat pergerakan Seira tertahan. "Nggak usah, Seira. Lebih baik kamu masuk ke dalam, ganti pakaian. Papa udah beliin makanan. Habis makan kamu istirahat, ya?" Ucapan halus dari Acel membuat kantong mata Seira terasa berat. Air berkumpul di sana, membumbung dan akhirnya tumpah. "Pa ... maaf." Tangis Seira pecah. Namun, Acel menggeleng. Dia menarik kepala anaknya dan merengkuh tubuh itu. "Udah minta maafnya. Jangan dipikirin sekarang. Kamu makan terus istirahat. Jangan sampai sakit. Sekarang kamu dititipin sama Allah sesuatu yang harus kamu jaga, Seira. Jangan mikir aneh-aneh dulu, ya." Septi menahan air matanya dengan telapak tangan. Dia tidak menyangka suaminya akan sebaik ini menerima Seira. *** Sonya tidak bisa tidur. Dia masih kepikiran. Umur ia dan Amam sama-sama 16 tahun, tetapi sekarang Amam akan menjadi ayah. Membayangkan hal itu membuat Sonya gelisah. Apa yang bisa diharapkan dari seorang anak 16 tahun? Hidup sendirian tanpa orang tua, menafkahi anak dan istrinya. Sonya merasa akan gila. "Kalau Mama sama Papa tahu, gimana nasib Abang, ya? Duh, kenapa jadi gini sih?" Sonya mengacak-acak rambutnya. Sekarang dia paham alasan Amam melarangnya pacaran dengan Adrian. Amam takut adik perempuannya dirusak. Sonya lalu memutuskan untuk membuka pintu balkon kamarnya, duduk di kursi menikmati langit gelap. Tak lama, sebuah mobil abu-abu berhenti di depan rumah. Sonya tahu itu siapa. Seorang wanita berusia 38 tahun, berpakaian ketat, turun dari mobil seorang pria yang lebih muda darinya. Sila, mamanya, berselingkuh dengan anak buahnya yang masih berusia 25 tahun. Atau mungkin Sonya tidak bisa bilang itu perselingkuhan karena papanya juga sudah tahu dan papanya punya selingkuhan. Keluarga yang bodoh. Mempertahankan keluarga padahal sudah jelas-jelas tidak sehat. Sila mencium pipi Arkan dengan mesra, membuat Sonya geli. Mana mungkin dia dan Amam tumbuh menjadi anak baik-baik kalau orang tuanya gagal begini. "Bangsaat!" Kepala Sonya rasanya ingin pecah. Ia ingin melarikan diri dari rumah ini. Ia ingin menemukan kebebasannya, bukan perasaan terkekang tiap hari. Sonya memang punya segalanya, kecuali satu hal. Keluarga bahagia. *** Dengan koneksi yang ia punya, Acel menghentikan semua pemberitaan percobaan kasus bunuh diri kemarin. Dia tidak mengizinkan media mana pun membahas kejadian yang menimpa anaknya. Dia ingin agar Seira bisa sekolah seperti semula setidaknya hingga akhir semester ini. Meskipun kemungkinan kisah itu diceritakan dari mulut ke mulut. Acel terus membuat catatan mengenai apa yang akan Seira hadapi. "Kalau temennya Seira ada yang curiga Seira hamil, terus kabar tentang bunuh diri ini bocor, maka dugaan mereka akan semakin diperkuat dan itu akan membahayakan Seira." Lapor ke sekolah kalau ada pencemaran nama baik yang merugikan Seira. Naikkan taraf masalah dengan mengatakan bahwa Seira sedang melewati fase sulit di rumah yang membuat kondisinya sulit. "Kalau seperti ini nama baikku dan Septi akan sedikit tercoreng karena orang-orang akan beranggapan kamu gagal memberikan kebahagiaan kepada Seira." Acel menimbang-nimbang. "Nggak pa-pa, asal nama Seira enggak tercoreng." Setelah akhir semester Seira akan dibawa ke luar negeri untuk menenangkan diri dan memperbaiki kondisi emosionalnya. Sebagai seorang mantan sutradara, Acel terlatih merangkai skenario seperti ini. Dia mengeplot apa pun yang bisa ia lakukan. Selama cuti setahun itu, Seira akan menuntaskan kehamilannya dan anak itu akan diakui sebagai anak Septi dan aku. Selesai. Untuk sementara ini, skrip itulah yang akan ia jalankan. Walau begitu, Acel tidak merasa nyaman. Bagaimana pun apa yang sedang direncanakannya ini adalah kebohongan dan sejauh yang ia tahu rencana dengan dasar kebohongan tidak akan berhasil. Terlebih terkait dengan nasab atau hubungan anak Seira nanti. Bagaimana pun juga cucunya tidak bisa diakui sebagai anak. Itu menyalahi aturan. Seira adalah ibunya dan Amam adalah ayah biologisnya. Skenario terbaik adalah menikahkan Amam dan Seira. Namun, jika hal itu dilakukan bagaimana nasib sekolah Seira dan Amam? Hal ini cukup mengganggu pikiran Acel. Acel sebenarnya tidak membenci Amam. Dia merestui hubungan Seira dan lelaki itu. Yang ia sayangkan adalah hubungan yang mereka lakukan sudah kelewat batas. Usia 16 tahun bukan usia siap menikah. Keluarga mereka beruntung karena memiliki cukup uang untuk menutupi hal ini, termasuk dengan mengirim Seira ke luar negeri suatu hari nanti. Namun, lagi-lagi, rencana Tuhan tidak benar-benar bisa ditebak. *** Setahun lalu. Amam mengenakan setelan rapi berwarna putih, lengkap dengan blazer dan dasi kupu-kupu untuk acara perpisahan SMP. Ia terlihat sangat tampan dan tampak sedikit lebih dewasa untuk anak seusianya dengan postur tubuh dan rahang setegas itu. "Bang, buruan! Papa nunggu." Sonya yang mengenakan gaun biru dongker selutut untuk acara prom night malam ini tampak tak kalah mempesona. Rambutnya dicepol dengan leher jenjang. "Sebentar, Dek." "Ish lama. Lo mau ngegantengin siapa sih?" Amam menyemprotkan parfum ke lehernya. "Cewek gue lah, siapa lagi." Sonya mengerucutkan hidungnya. "Serah lo aja. Gue tunggu di bawah, ya?" Amam mengangguk sekilas lalu mencari jam tangan yang sesuai. Setelah merasa cukup dia mematut diri lagi di cermin dan kembali berdecak demi memuji ketampanannya yang paripurna. Setelah itu, Amam turun ke bawah dan menyusul Sonya dan Artar, papanya, yang berada di mobil. "Wangi banget, Mam, parfumnya." Amam hanya menyengir menanggapi pertanyaan papanya. Tiba di sekolah, ratusan murid kelas 9 datang bersama orang tuanya. Mereka mengenakan pakaian formal yang rapi. Amam menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan seseorang. Hingga berada di aula ia tetap tidak menemukan sosok itu. "Lo nyariin Kak Seira?" tanya Sonya agak berbisik. Mereka duduk di barisan depan. "Iya. Di mana, ya?" "Ya mana gue tahu. Lo telepon lah." "Udah. Ga diangkat. Gue jadi khawatir." Amam membuka ponselnya, mencoba menelepon Seira, tetapi tidak diangkat. "Pa, Sonya. Amam tinggal duluan, ya, mau nyari temen." Artar menoleh sejenak, lantas mengangguk. "Oh iya, Mam." Amam lalu setengah berlari menjelajahi tempat acara. Dia keluar aula atau auditorium itu, menjelajahi gedung SMP. Kemudian dia bertemu Rian yang sepertinya juga habis keliling sekolah. Dari kemarin Rian sudah bilang dia akan merindukan sekolah ini dan nyaris setiap hari dia memutari sekolah. Terbukti dari kamera yang ia bawa saat ini. "Mam. Lo mau ke mana?" tanyanya saat berlimpasan dengan Amam di koridor. "Eh, Yan. Itu, gue nyariin Seira. Kok dia belum datang ya?" Rian menautkan alisnya. "Ooooh, gue kayaknya lihat Seira di toilet tadi, Mam. Udah ada lah setengah jam. Lo samperin aja coba. Apa mau gue temenin?" "Oh makasih, ya, Yan. Ga usah, gue sendiri aja. Lo buruan sana ke aula, bentar lagi acaranya mulai." Tanpa perlu menunggu lama ia lalu kembali berlari untuk mencari keberadaan Seira di toilet. Malam ini koridor sepi sekali. Semua orang berkumpul di auditorium sekolah. Saat kakinya menginjak area toilet, Amam juga tidak menemukan keberadaan Seira di sana. Beruntungnya telinga Amam cukup tajam, dia mendengar ada suara ketukan di toilet wanita. Amam bergegas datang ke sumber suara. "Seira! Kamu di sini?" "Amam!!! Tolong Seira. Di sini mati lampu!" Benar. Ternyata Seira di dalam toilet dan gadis itu terkunci. Tanpa menunggu lama Amam langsung menyiapkan tubuhnya untuk mendobrak pintu itu. "Seira mundur! Ngejauh dari pintu, ya?" Satu. Dua. Tiga. Brak! Pintu itu berhasil dibuka. Gagangnya sampai lepas. Namun, Seira ternyata tidak menghindar cukup jauh hingga akhirnya tubuh Amam menabrak dan menindih tubuhnya. Di bawah penerangan yang remang itu mata mereka saling beradu. Hal itu membuat Amam meneguk ludahnya. Wajah mereka benar-benar dekat, bibir nyaris bertemu. Hal itu membuat adrenalin Amam berpacu dan jantungnya berdebar hebat. Secara refleks dia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Seira dan akhirnya saling berpagutan. "Amam. Stop!" Seira mendorong d*ada Amam, membuat lelaki itu tersadar dan termundur. "Maaf, Seira." Seira menggeleng. "Nggak pa-pa, Amam. Makasih ya udah menyelamatkan Seira." Amam mengangguk. "Sei, pakaian kamu basah. Mau pulang aja?" Seira melihat gaunnya panjang dan kerudungnya basah. Dia tidak mungkin hadir ke acara ini dengan pakaian yang lusuh. "Papa atau Mama kamu ke mana? Ada di sini?" Seira menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri ke sini, Mam. Mereka lagi ke luar kota." "Ya udah. Kita pulang ke rumah kamu dulu, ganti pakaian, baru abis ini kita balik ke sekolah. Aku temenin ya?" "Nggak usah, Mam. Sonya sama Oom Artar nungguin kamu, kan?" "Ck. Nggak pa-pa. Aku pesanin taksi online, kita pulang sama-sama." Tanpa menunggu persetujuan Seira, Amam sudah membuka ponselnya dan memesankan taksi online karena ia tahu ponselnya Seira mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD