Bab.2 Kau Pintar, Aku Puas!

1208 Words
  “Pakai ini!” Irwando menyerahkan pakaian dalam itu kepada Ardina.   Ardina mengangkat kepalanya dan memandangi jari-jari ramping Irwando yang menjepit pakaian dalamnya. Wajah Ardina yang selalu terlihat tidak tahu malu itu tiba-tiba memerah tersipu.   Dia menundukkan kepalanya sedikit dan mengambilnya.   Dia tidak berani menghadapi Irwando karena takut dia akan ingat bahwa dialah yang menggodanya di bar.   Irwando jelas tidak ingat. Sebenarnya, dia tidak ingat persis seperti apa rupa istrinya.   Irwando membalikkan badan, lalu Ardina berkata dengan ketakutan.   "Terima kasih, suamiku!"   "Suami."   Ardina ingin mengatakan bahwa dia telah membantu menyiapkan air di kamar mandi agar Irwando bisa mandi.   Irwando menoleh, dalam pandangannya terlihat sosok Ardina yang menunduk dan malu-malu.   Malu apa?! Ardina menundukkan kepalanya bukan karena rasa malu. Ia melakukan sesuatu yang buruk dan merasa tidak nyaman, sehingga dia menundukkan kepala dan tidak banyak bicara.   Irwando pada awalnya tidak terlalu berhasrat. Dalam sekejap ia b*******h, karena bisikan “suamiku” yang ucapkan Ardina.   Ini istrinya! Tidak mungkin seorang pria bersikap cuek ketika melihat seorang wanita cantik terbungkus handuk dengan tubuhnya yang harum. Selain itu, Ardina yang sudah mandi sangatlah cantik, dan Irwando adalah pria yang normal.   “Kemarilah!” Irwando merendahkan suaranya dan menatap Ardina dengan lembut.   Ardina mengangkat kepalanya dan melirik Irwando, lalu dia berjalan ke arahnya dengan patuh. Irwando menarik Ardina ke dalam pelukannya sebelum Ardina di sampingnya. Aroma tembakau di tubuh Irwando dalam sekejap beradu dengan aroma bir.   Apa yang akan dia lakukan? Dia menginginkan itu lagi!   Ardina tiba-tiba menjadi gugup. Irwando adalah seorang pria tua berusia tiga puluhan, mengapa dia tidak tahu bagaimana mengontrol diri? Setiap kali pulang, Irwando selalu menginginkannya, dan mereka harus melakukannya beberapa kali.   Irwando melihat Ardina termangu. Dia meraih pinggangnya, menundukkan kepala dan menciumnya.   Ciuman panas membuat pikiran Ardina tiba-tiba menjadi kosong.   Meskipun mereka sudah berhubungan intim dan keterampilan Irwando tidak buruk, dia juga lembut dan sabar pada Ardina. Namun, saat Ardina disentuh olehnya, seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang dan dia masih belum bisa beradaptasi.   Dia ingin kabur, tapi tidak bisa.   Ardina tidak mundur ketika dia memilih menggantikan Hayana untuk dinikahi Irwando. Tidak peduli Irwando itu pria yang seperti apa, apakah dia akan memperlakukannya dengan baik, dia harus menjadi istri yang lemah dan pintar sebelum Irwando bosan padanya.   "Kau benar-benar pintar! Aku puas!"   Irwando melepaskan Ardina. Ketika dia melihat pipi Ardina yang memerah, dia tidak bisa menahan senyum.   Kulit lembut dan halus gadis yang di ujung jarinya itu membuat gairahnya bangkit kembali. Tatapannya semakin membara, lalu dia menarik Ardina yang bersandar di pelukannya ke tempat tidur.   Irwando tidak mencintai gadis di hadapannya itu meskipun dia telah menikahinya, tetapi dia akan berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang suami.   Entah berapa kali mereka melakukannya, yang pasti, pada akhirnya Ardina pingsan. Pria dewasa itu sangat energik dan bernafsu besar. Setiap kali dia berhubungan badan dengan Ardina, dia selalu membuat Ardina kelelahan.   Irwando Gazali sudah pergi pagi-pagi. Ardina terbangun oleh telepon dari ayahnya, Habib Sarman.   Keluarga Sarman juga merupakan keluarga kaya di Kota Nirwantra. Habib dan istrinya bekerja keras selama lebih dari 30 tahun membangun PT Sarman. Pelan tapi pasti, mereka akhirnya memperoleh status di Kota Nirwantra.   Tentu saja, keluarga Sarman tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga Gazali yang terkenal.   Saat Irwando menghentakkan kakinya di Kota Nirwantra, seluruh kota pun akan berguncang. Keluarga Sarman tidak berani memprovokasi orang yang seperti itu. Jadi, ketika Irwando melamar putri keluarga Sarman, Habib tidak ada pilihan lain selain menyerahkan putrinya.   Namun, sebenarnya yang akan menikah dengan Irwando adalah Hayana Sarman. Hayana mempercayai rumor yang beredar bahwa Irwando yang berusia 30 tahun pasti bermasalah karena belum menikah. Kalau dia tidak buruk rupa, berarti dia cacat. Hayana bersikeras tidak sudi menjadi menantu keluarga Gazali.   Hayana adalah putri Habib dari istri keduanya. Dia mendapatkan kasih sayang dari Habib dan Mawar Janis, ibu kandungnya. Mereka pun memukuli Ardina yang tidak disayangi ayahnya saat ibunya sudah meninggal.   Habib menyuruh Ardina menggantikan Hayana ke keluarga Gazali.   "Ardina!"   Begitu Ardina masuk ke pintu rumah keluarga Sarman, dia mendengar suara Hayana yang penuh emosi.   Setelah Hayana menamparnya, Ardina menatapnya tajam. Ia langsung melangkah ke samping dan mengelak.   “Beraninya kau mengelak?!” Teriak Hayana yang marah saat melihat Ardina berhasil menghindar tamparannya.   Apakah Ardina bodoh sehingga dia hanya berdiri di situ dan tidak menghindari tamparan Hayana? Ardina mengangkat alisnya dan menatap Hayana dengan penuh ejekan.   Usia Hayana dua tahun lebih tua dari Ardina. Dia merupakan anak dari hasil perselingkuhan ayahnya. Saat Ardina berumur satu tahun, ibu Ardina baru mengetahui bahwa Habib memiliki kekasih gelap, bahkan sudah memiliki anak. Beberapa tahun yang lalu, ibu Ardina bekerja keras demi PT Sarman hingga kelelahan. Setelah melahirkan Ardina, kondisinya memburuk dan penyakitnya semakin parah karena ulah Habib. Tak lama kemudian, ia meninggal, meninggalkan Ardina dan kakaknya.   Ardina menatap Hayana dengan penuh ejekan ketika dia akan masuk. Hayana menarik tangannya.   "Kau kan yang mengecat bagian belakang pakaianku!"   Kemarin Hayana pergi ke sebuah pesta. Dia mengenakan gaun putih yang baru dibelinya. Sesampainya di pesta, dia berpikir dia mampu memikat perhatian semua orang. Namun, dia tidak menyangka dirinya malah menjadi bahan tertawaan orang.   Cat berwarna merah terlihat di bagian pantatnya. Noda itu memang tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat jelas.   “Ya.” Ardina mengaku. Apa dia bisa disalahkan? Siapa suruh Hayana suka berpura-pura suci? Ardina tahu bahwa Hayana membeli setumpuk gaun putih, sehingga ia seolah terlihat begitu suci di hadapan orang-orang yang melihatnya.   Hayana semakin marah ketika mendengar Ardina mengakui perbuatannya. Ketika dia ingin menampar lagi, matanya yang jeli melihat bercak merah yang tersembunyi di balik kerah baju Ardina.   Bercak merah yang ada di leher hingga d**a Ardina adalah bekas kecupan yang ditinggalkan oleh Irwando.   “Kau benar-benar tidak punya muka!” Hayana merendahkannya. “Ardina, kamu baru berusia 19 tahun. Kau sangat tidak tahu malu!”   Siapa yang tidak punya muka? Siapa yang tidak tahu malu? Bukankah Hayana yang tidak sudi menikah dengan Irwando, sehingga Habib dan ibunya berniat buruk dan memaksa Ardina tidur dengan Irwando?   “Kau sama saja seperti kakakmu! Kalian p*lacur yang tidak tahu malu!” Hayana menatap Ardina dan mencemoohnya.   Mendengar Hayana memaki kakaknya, tampang Ardina langsung terlihat dingin, dan dia dengan tenang berkata, "Katakan sekali lagi!"   Suara Hayana dan Ardina menarik perhatian Habib yang ada di ruang tamu.   Ardina sudah terbiasa ditindas oleh Mawar dan Hayana. Mereka berdua bahkan menyuruhnya menggantikan Hayana untuk dinikahkan dengan Irwando. Hayana merasa Ardina mudah ditindas, tetapi melihat tatapannya yang dingin, Hayana pun gemetar dan menelan ludahnya. “Baiklah, akan kuulangi lagi kata-kataku!”   "Ardina, kau sama seperti kakakmu! Kalian sama-sama p*lacur yang tidak tahu malu! Kau belum juga dewasa, tapi sudah berhubungan badan dengan laki-laki!"   Begitu Hayana selesai berbicara, ia menerima tamparan yang cepat dan keras dari Ardina.   Ardina melakukannya dengan cepat. Hayana tidak siap. Tamparan telak itu pun mendarat dengan keras di wajahnya.   Sejak kecil Hayana selalu dimanjakan oleh Habib dan Mawar. Sekarang, dia ditampar oleh Ardina yang paling dibencinya. Kemarahan di dadanya semakin menjadi-jadi. Dia murka dan berteriak meluapkan kemurkaannya, “Ardina, kamu itu p*lacur murahan! Beraninya kau menamparku!   Ketika tamparan itu ditujukan ke arahnya, Ardina mengelak dengan gesit, kemudian dengan cepat menuju ke ruang tamu.   Karena dia sering dipukul dan dimaki Hayana, kemampuan menghindarnya pun semakin baik.   "Ayah!"   Di ruang tamu, Habib yang mendengar suara itu justru tidak keluar. Dia sedang membaca koran dan melahap apel yang sudah dikupas Mawar.   Melihat Ardina masuk, Habib mengangkat kepalanya dan meliriknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD