Bab.3 Siapa yang Tidak Bisa Berpura-pura Lemah

1290 Words
  Hayana Sarman menghentikan Ardina Sarman di pintu, lalu menamparnya. Hal ini pasti telah diizinkan oleh Ayah mereka, Habib Sarman.   Ardina sejak awal sudah putus asa terhadap ayahnya yang seperti ini. Dia tidak berharap ayahnya melindunginya, tidak sekali pun. Kalau bukan karena kakaknya masih tinggal di keluarga Sarman, Ardina sungguh tidak akan pulang.   Bersama dengan Irwando Gazali, setidaknya Ardina tidak akan dipukuli, dimarahi atau ditindas.   “Ayah, Ardina menamparku!” Melihat Ardina menghindari tamparannya, Hayana menutupi wajahnya dan berlari sambil menangis.   Melihat bekas merah di wajah Hayana, wajah Habib dan Mawar Janis langsung berubah.   Habib selalu berpihak pada Hayana. Sebelumnya, jika melihat Hayana dipukuli Ardina, Habib pasti akan balik menamparnya, tetapi sekarang dia harus menahannya.   “Bu, lihatlah wajahku bengkak karena ditampar Ardina.” Hayana menangis di pelukan Ibunya.   Mawar mengangkat kepalanya dan menatap Ardina dengan sadis. Dia menepuk-nepuk punggung tangan Hayana.   “Ardina, kalau ada sesuatu yang kau merasa tidak puas, sampaikan langsung kepada Mama Mawar. Kenapa kau melampiaskannya kepada Hayana?” Mawar menanyakannya dengan lemah lembut. Dengan demikian, seolah Ardina menampar Hayana karena kebencian Ardina pada Mawar.   Ardina benar-benar tidak menyukai Mawar, bahkan muak padanya. Tidak akan ada orang yang menyukai wanita yang merebut ayahnya dan membunuh ibunya.   “Mama Mawar, Kak Hayana yang lebih dulu ingin menamparku,” kata Ardina. Sepasang matanya melihat Habib yang sedang minum teh di ruang tamu. Suara Hayana di pintu terdengar sangat kencang. Ardina tidak percaya Habib dan Mawar tidak mendengarnya.   Mendengar apa yang dikatakan Ardina, Hayana memelototi Ardina di pelukan Mawar, lalu dia menangis.   "Ayah, aku hanya bermain-main dengannya, tapi dia menamparku dengan keras. Lihat wajahku!"   Kekuatan tamparan Ardina tidaklah ringan. Wajah Hayana meninggalkan bekas tamparan berwarna merah. Namun,dia sedikit pun tidak memiliki rasa bersalah, karena Hayana sudah menghina kakak Ardina.   "Ardina, minta maaf!"   Habib mulai bicara. Dia menatap dan memerintahkan Ardina.   Ardina tersenyum. Ia tahu bahwa beginilah hasilnya. Setiap kali Hayana menindasnya, dan ketika masalah ini sampai kepada Habib, pasti selalu Ardinalah yang jahat.   Tidak! Dia tidak bersalah dan dia tidak akan meminta maaf.   “Ayah, Kak Hayana tadi berkata aku masih remaja, tetapi sudah melakukan hal-hal yang memalukan,” jawab Ardina. Ia dengan sengaja menyibak rambutnya untuk memperlihatkan cupang di lehernya. "Itu sebabnya aku menamparnya."   Tiga orang yang sedang duduk itu paham dari mana tanda cupang itu berasal. Bahkan, mereka tahu bahwa tanda cupang itu dari Irwando.   "Bagaimana kalau begini saja. Bukankah Kak Hayana lebih tua daripada aku? Aku rugi sedikit tidak masalah. Suruh saja Kak Hayana ke rumah keluarga Gazali.”   "Aku tidak ingin dimaki dan direndahkan seperti p*lacur setiap kali aku pulang."   Setelah Ardina berkata, matanya pun memerah. Siapa yang tidak bisa berpura-pura lemah.   Setelah mendengar perkataan Ardina, ketiga orang tersebut pun panik dan tak berniat menyuruh Ardina untuk minta maaf lagi.   Pada saat itu, keluarga Gazali datang untuk melamar putri keluarga Sarman yang sudah cukup umur untuk menikah, yaitu yang usianya sudah genap 20 tahun.   Hayana sesuai dengan kriteria keluarga Gazali, sedangkan Ardina baru berusia 19 tahun.   Namun, Hayana tidak bersedia. Dia tidak ingin menikah dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Selain itu, dia sedang menjalin hubungan asmara dengan Johanes Margono, putra tertua dari keluarga Margono.   Keluarga Margono memang tidak sebanding dengan keluarga Gazali, tetapi Johanes sangat tampan dan berkarakter lembut. Jika dilihat dari penampilan luarnya, Hayana dan Johanes memang pasangan yang sangat serasi. Namun, ada satu hal yang mereka lupakan, yaitu Ardinalah yang memiliki perjanjian pernikahan dengan Johanes.   Sekarang, jika mendengar Ardina mengatakan bahwa Hayanalah yang pergi ke keluarga Gazali, mana mungkin Hayana dan Habib tidak panik.   "Aku tidak ingin pergi ke sana! Aku tidak mengenal latar belakang Irwando! Umurnya juga jauh lebih tua dariku! Aku tidak mau."   Irwando lebih tua sepuluh tahun dari Hayana dan lebih tua dua belas tahun dari Ardina.   “Baiklah… Kau tidak akan menikahinya.” Mawar Janis menepuk-nepuk tangan Hayana Sarman dan membujuknya. Mawar dan Habib Sarman saling berpandangan.   "Ardina, omong kosong macam apa yang kamu katakan? Kau sudah menjadi Istri Pak Irwando Gazali. Bagaimana bisa kamu pulang seenaknya?"   Setelah Habib selesai memarahinya, ia melanjutkan perkataannya dengan nada lembut, “Apa yang dikatakan Hayana memang keterlaluan. Umurnya...” Habib ingin mengatakan bahwa Hayana masih muda, dan setelah dipikir ulang, Ardina usianya lebih muda dari Hayana.   "Dia tidak mengerti apa-apa. Jangan hiraukan dia."   "Lupakan saja masalah kamu menampar Hayana."   Ardina menundukkan kepala, lalu tertawa dengan nada meremehkan. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum dan berkata kepada Habib, "Ayah, aku membalas juga demi kebaikannya. Lihatlah, sekarang aku ini adalah istri Irwando. Dia menamparku, lalu aku pulang ke rumah keluarga Gazali. Di wajahku ada bekas tamparan, bukankah secara tidak langsung menampar wajah Irwando?"   Dia juga bisa berpura-pura baik.   Begitu Ardina selesai berbicara, terdengar Hayana mencemoohnya, "Irwando akan membelamu?! Huh!"   "Dia hanya menjadikanmu sebagai mainan!"   Menjadi mainan atau tidak, Ardina dan keluarga Sarman juga tahu.   Ardina dan Irwando memang dikatakan menikah, tetapi tidak ada upacara pernikahan, dan mereka bahkan mereka tak punya akte pernikahan. Keluarga Sarmanlah yang mengirim Ardina langsung ke tempat tidur Irwando.   Keesokan harinya, setelah Irwando meniduri Ardina, ia langsung pergi bekerja dan meninggalkan Kota Nirwantra. Irwando belum pernah mengunjungi keluarga Sarman sampai sekarang.   “Ya.” Ardina menerima kata-kata Hayana. Ucapan “Ya” Ardina membuat Hayana tercengang.   Mereka bertiga tidak menyangka ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah mainan. Ardina sungguh murahan!   "Baiklah." Habib berkata di saat yang tepat, dan dia memberi isyarat kepada Ardina untuk duduk, "Ardina, Ayah memanggilmu kembali karena ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu."   Ardina duduk berhadapan dengan Habib. Saking bosannya, ia mengeluarkan ponsel dan mengobrol dengan Sarah Fuad.   "Ardina, jangan lupa turnamen balapan malam ini!"   "Ya! Aku pasti datang tepat waktu."   Setelah Ardina mengirim pesan singkat itu, dia mengangkat kepalanya dan menatap Habib. Habib sudah selesai bicara, tetapi ternyata Ardina tidak mendengarkannya.   “Ardina!” Melihat Ardina yang menatap dirinya dengan bingung, Habib mengucapkannya dengan kesal.   "Ayah, barusan Ayah bilang apa?"   Wajah Habib mulai terlihat tidak mengenakkan, tapi karena ada sesuatu hal yang membutuhkan bantuan Ardina, dia terpaksa mengulangi apa yang dikatakannya tadi.   "Beberapa hari lagi akan ada jamuan makan di rumah, ajaklah Pak Irwando ke sini!"   Mengajak Irwando ke rumah keluarga Sarman? Habib terlalu percaya diri!   “Ayah, aku adalah mainan Irwando.” Saat Ardina mengatakan ini, ia menatap Hayana.   Kalimat ini baru saja diucapkan oleh Hayana, dan sekarang dia mengembalikannya pada mereka.   “Ardina!” Kata Habib dengan suara pelan, “Aku mohon padamu.”   Awalnya, keluarga Gazali datang melamar putri keluarga Sarman. Karena keluarga Gazali sangat berpengaruh di Kota Nirwantra, Habib takut menyinggung perasaan keluarga Gazali. Tanpa banyak pertimbangan, ia menyetujuinya lamaran keluarga Gazali. Habib mengutamakan proyek yang sedang dikerjakan PT Sarman. Jika perusahaan keluarga Gazali bergabung dengannya melalui ikatan pernikahan, maka proyek tersebut tidak hanya akan sukses, tetapi juga akan menerima keuntungan yang berlimpah.   Namun, setelah Ardina pergi ke rumah keluarga Gazali, jangankan membahas soal proyek, wajah Irwando pun belum pernah dilihatnya sebelumnya.   “Ayah, bukankah ini menyulitkanku?” Ardina menjawab. Sungguh menyulitkannya. Sampai sekarang, dia dan Irwando hanya mengucapkan tidak lebih dari sepuluh kalimat.   "Suamiku!" Teriak Ardina saat Irwando mengajaknya berhubungan.   "Jangan!" Ardina memohon, mencoba menolak permintaan Irwando.   "Pelan-pelan!" Ardina mulai merasakan kesakitan   "Aku sangat mengantuk!" Kini, Ardina sudah tak tahan lagi.   “Ardina!” Melihat Ardina menolak, Habib berteriak dengan kesal, lalu dia mengatakannya lagi dengan nada dingin, “Kamu harus membawa Pak Irwando ke sini!”   Jika Ardina tidak bisa membawa Pak Irwando, bagaimana dengan proyeknya? Proyeknya tidak akan bisa dilaksanakan dan Habib harus kehilangan setengah dari PT Sarman. Bagaimanapun, Ardina harus membawa Irwando ke keluarga Sarman!   Ardina hanya bisa menyetujui permintaan ayahnya. Dengan berat hati, ia akhirnya menggantikan Hayana dan menikah dengan Irwando. Permintaan Habib untuk menikah dengan Irwando saja sudah disetujuinya, tentu Ardina juga tidak bisa menolak permintaan Habib yang lain.   “Ayah, aku akan pergi menemui Kakak!” Ardina berdiri dan memandang Habib dengan hati-hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD