“Ya.” Habib Sarman mengangguk setelah Ardina Sarman menyetujui permintaannya.
Mawar Janis teringat satu hal lagi. Seolah memberi isyarat, dia memandang Habib dan mengingatkannya, “Suamiku.”
Habib langsung teringat. Dia melihat Ardina yang sedang menaiki tangga dan berkata, “Ardina, sekarang kamu sudah bersama Pak Irwando Gazali. Liontin giok yang diberikan keluarga Margono tidak pantas untuk kamu simpan lagi, sebaiknya kamu kembalikan.”
Ardina menghentikan langkahnya. Mendengar kata “keluarga Margono”, sudut bibirnya terukir senyuman sinis.
Liontin giok keluarga Margono diberikan oleh Pak Ibrahim Margono untuk calon cucu menantunya. Namun, tahun lalu Ardina baru mengetahui bahwa Johanes Margono telah tidur dengan Hayana Sarman tanpa sepengetahuannya. Hal ini diketahui oleh Habib, Mawar dan orang tua Johanes. Semua miliknya telah direnggut. Keluarga, ayah, tunangan, dan sekarang hadiah pertunangannya pun juga harus dikembalikan.
Hari itu, Ardina berencana langsung tidur setelah pulang dari sekolah. Saat dia melewati depan kamar Hayana, dia mendengar suara pria dan wanita sedang terengah-engah di dalam kamar.
Ardina penasaran. Pria buta mana yang tertarik pada Hayana!
Melalui celah pintu, dia melihat pemandangan pria dan wanita saling berpagut di dalam kamar. Dia tercengang, tubuhnya menggigil seperti jatuh ke dalam es.
Pria yang memeluk dan mencium Hayana bukanlah orang lain, tapi tunangannya – Johanes.
Ardina telah membuat perjanjian pernikahan dengan Johanes sejak lama. Saat itu, ibu Ardina masih hidup. Sejak kecil, Ardina tahu bahwa Johanes yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia selalu berpikir bahwa suatu hari dia bisa keluar dari rumah keluarga Sarman dan menjalani kehidupan pernikahan yang sederhana dan damai.
“Hayana, aku mencintaimu.”
Dari balik pintu itu, Ardina mendengar pengakuan Johanes yang begitu lembut kepada Hayana. Dia yang berdiri di depan pintu mengepalkan tangannya. Dia ingin mendobrak masuk untuk memukul pria b*jingan dan wanita j*lang itu.
Mengapa Hayana merebut tunangannya? Apakah dia tidak cukup mengalah padanya?
Saat Ardina hendak mendorong pintu, ia mendengar Habib yang berdiri di ujung tangga dan memanggilnya.
“Ardina!”
Habib menatapnya dan memintanya untuk menyingkir.
Ardina jelas-jelas mengerti. Johanes dan Hayana bisa berhubungan badan di dalam kamar karena Habib yang mengizinkannya.
Hayana begitu haus dan sangat berhasrat akan seks. Dia begitu bernafsu membawa Johanes untuk berhubungan badan dengannya, hingga dia tidak mengunci pintu kamarnya. Betapa naifnya pikiran Habib. Dia membiarkan anak perempuannya berhubungan badan dengan seorang pria di rumahnya sendiri saat siang bolong.
“Ardina, kamu telah melihat apa yang seharusnya kamu lihat,” Habib berkata kepada Ardina dengan terus terang saat mereka berada di ruang baca.
Ardina mengangkat kepalanya dan bertanya pada Habib dengan nada datar.
“Sejak kapan mereka berdua bersama?”
Yang pasti bukan akhir-akhir ini. Dari ekspresi Habib, Ardina bisa melihat bahwa Hayana dan Johanes telah bersama sejak lama, bahkan hubungan mereka telah mendapat persetujuan Habib.
"Dua tahun lalu," jawab Habib singkat.
Pikiran Ardina tiba-tiba menjadi kosong. Dia baru menyadari betapa lugu dirinya. Dia baru mengetahui tunangannya bersama wanita lain setelah dua tahun berlalu. Kalau dia tidak sengaja melihat apa yang mereka lakukan hari ini, dia mungkin baru akan mengetahuinya setelah Hayana mengandung anak Johanes.
“Johanes mengatakan bahwa dia mencintai Hayana. Orang tua Johanes juga menyetujuinya.”
“Menyetujui apa?” Ardina bertanya sambil mencibir dan tangannya gemetar.
Orang tua Johanes memperlakukan Ardina dengan baik. Mereka tidak menunjukkan bahwa mereka tidak menginginkan Ardina untuk menjadi menantu keluarga Margono.
Mereka yang terlalu pintar berpura-pura atau dia yang terlalu bodoh?
“Ardina, karena Johanes dan Hayana sudah bersama, lebih baik kamu mundur saja,” Habib mengatakannya dengan terus terang.
Menurut Habib, Ardina seharusnya merestui hubungan Hayana dan Johanes.
Ardina Sarman menggigit bibirnya dan tidak bicara lagi. Mundur? Kesalahan apa yang dilakukannya?
“Dan masih ada lagi.” Kata-kata Habib Sarman terhenti. Ia menatap Ardina ketika dia hendak melanjutkan kalimatnya.
Firasat Ardina sangat akurat. Hayana Sarman dan Johanes Margono telah bersama selama dua tahun. Keluarga Sarman dan keluarga Margono menyembunyikannya dengan sangat baik. Bagaimana mungkin Ardina bisa memergokinya hari ini secara kebetulan?
Jadi, hal ini pasti sudah direncanakan sejak lama.
Jadi, tujuan mereka bukan hanya untuk menyuruhnya mundur.
“Sebelumnya, keluarga Gazali datang melamar.”
Ardina pernah mendengar tentang hal ini dari pelayannya, Maria. Maria juga mengatakan bahwa Hayana tidak sudi menikah dengan Irwando Gazali. Selain itu, Hayana juga berkata bahwa Irwando sangat buruk rupa. Hayana membayangkan kehidupan pernikahannya dengan Irwando akan seperti seorang janda dan itu akan membuatnya mati.
Hayana tidak sudi menikah dengan Irwando dan menyuruh Ardina untuk menggantikannya.
“Ayah, umurku belum genap 20 tahun,” jawab Ardina sambil tertawa.
Awalnya, dia akan menikah dengan Johanes ketika dia genap berusia 20 tahun, tetapi sekarang dia dipaksa oleh Habib untuk menikah meskipun dia belum genap berusia 20 tahun.
“Keluarga Gazali tidak mengatakan bahwa harus ada surat nikah. Lebih baik kamu tinggal di sana dulu untuk sementara waktu.”
Ardina mencibir Habib yang berkata seperti itu. Sebagai seorang ayah, bukankah dia harus melindungi putrinya? Sekarang, apa yang dia lakukan?
Menikah dengan putra keluarga Gazali? Ardina bahkan tidak mengenal siapa Irwando. Jika benar seperti apa yang dikatakan Hayana, bukankah itu artinya keluarganya sendiri justru mendorongnya ke lubang api?
“Ayah, justru Hayana yang diinginkan keluarga Gazali.”
Habib terdiam dan tidak segera menjawabnya.
“Seperti yang kamu lihat, Hayana dan Johanes saling mencintai, Ayah tidak bisa memaksa mereka berpisah.” Habib seolah mengatakannya dengan berat hati. “Ardina, kamu juga tahu status kedudukan keluarga Gazali di Kota Nirwantra. Kita tidak bisa menolak permintaan keluarga seperti itu.”
“Bisa menikah dengan putra keluarga Gazali juga merupakan sebuah berkah untukmu.”
“Jika kamu menikah dengan putra keluarga Margono, kamu akan menderita. Johanes tidak mencintaimu.”
Habib mengatakan kalimat-kalimat itu seolah-olah demi kebaikan Ardina.
“Ayah, aku tidak takut menderita,” sahut Ardina. "Karena aku dan Johanes ada perjanjian pernikahan, maka kita lakukan saja sesuai dengan perjanjiannya."
“Keluarga Gazali sangat baik. Lebih baik Kak Hayana saja yang pergi.” Ardina sengaja berkata seperti itu, sehingga Habib merasa sangat kesal dan wajahnya pun memerah.
Tidak sampai sepuluh menit Habib berpura-pura menjadi ayah yang penyayang, akhirnya dia menunjukkan wajah aslinya.
“Ardina, gantikan Hayana menikahi putra keluarga Gazali.”
“Atas dasar apa!” Kali ini, Ardina sudah tidak tahan lagi dan mempertanyakan niat Habib.
Habib tidak senang karena Ardina melawannya. “Aku sudah mengatakan kepadamu apa yang harus kukatakan.”
“Menikahlah dengan putra keluarga Gazali. Itulah yang terbaik untukmu.”
Habib memutuskan hal ini secara sepihak untuknya!
“Akulah yang memiliki perjanjian pernikahan dengan Johanes! Justru Hayana yang seharusnya menikah dengan putra keluarga Gazali.”
“Aku tidak akan menikah dengan putra keluarga Gazali.”
Dia tidak sudi menikah dengan pria asing dan menjadikan hidupnya sebagai lelucon.
Habib tertegun. Dia tidak menyangka Ardina menolak perintahnya dengan tegas. Habib tidak meluapkan kemarahannya, melainkan menatap Ardina dan tersenyum.
“Ardina, aku akan memanggil dokter untuk kakakmu."
Kalimat ini memukul Ardina dengan telak. Habib tahu persis apa kelemahannya. Dia menggunakan trik ini untuk memaksa Ardina menikah dengan putra keluarga Gazali
Pada saat itu, tubuh Ardina bergetar tak terkendali saat melihat senyum Habib. Ardina tak sanggup menahan air matanya yang mengaburkan pandangannya. Dia merasa Habib yang ada di hadapannya sangat keji.
Dia memanfaatkan putri sulungnya untuk memaksa putri bungsunya menikah dengan pria asing yang tidak dicintainya.
Ketika Ardina mengenang kejadian selama setengah bulan itu, dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum sinis.
Pertama, Habib menyuruhnya untuk menggantikan Hayana untuk menikah dengan putra keluarga Gazali. Sekarang, Habib menyuruhnya untuk memutuskan pertunangan. Karena Ardina tidak menyetujuinya, maka Habib menggunakan ‘kartu as’ nya untuk menundukkannya.
Habib tahu bahwa cara ini selalu berhasil membuat Ardina menyetujui semua permintaannya.
Saat Ardina tiba di lantai atas, Ardina mencoba memperbaiki suasana hatinya. Meskipun sedih, dia tidak boleh menunjukkannya di hadapan kakaknya.