Bab.5 Keluarga Sarman Menutupi Rahasia

1398 Words
  Habib mendengar dengan jelas pertengkaran antara Ardina dan Hayana di depan pintu tadi.   Hayana mengerutkan bibirnya. Di bawah desakan Mawar Janis, cara ini seharusnya bisa berhasil.   Setelah Habib pergi, Hayana tidak dapat menahan amarahnya. Ingin sekali dia naik ke lantai atas dan memberi pelajaran pada Ardina, tetapi Mawar menarik tangannya.   Ardina tidak hanya menamparnya, bahkan adik tirinya itu tidak menanggapi urusan liontin giok sedikit pun.   “Ibu, apa maksud Ardina? Dia sudah bersama Irwando. Mengapa dia masih tidak mengembalikan liontin giok yang diberikan keluarga Margono?” Hayana bertanya dengan kesal saat Mawar menahannya.   Mawar berusaha menenangkannya. "Hayana, seperti yang kamu katakan, Ardina sekarang sudah bersama Irwando. Dia punya kualifikasi apa lagi untuk menikah dengan Johanes?"   “Tapi, bagaimana kalau dia tidak menyerahkan liontin giok itu? Pak Ibrahim Margono hanya mengakui liontin giok itu sebagai tanda ikatan pernikahan,” kata Hayana.   Liontin giok yang belum juga dikembalikan Ardina menyebabkan keluarga Sarman dan orang tua Johanes Margono pusing. Pak Ibrahim berkata bahwa siapa pun yang menerima liontin giok itu akan menjadi cucu menantu keluarga Margono.   “Hayana, saat ini, kamu jangan terburu-buru,” sahut Mawar dengan nada lembut. Dia melihat ke arah tangga kosong dan mengangkat sudut bibirnya. “Biarkan dulu kakak beradik itu berkumpul baik-baik hari ini.”   Setelah Mawar mengatakan ini, Hayana tiba-tiba teringat sesuatu. Benar juga, bagaimana dia bisa lupa? Di tangan mereka masih ada bidak catur yang bisa mereka gunakan, yaitu Riana Sarman.   Justru karena Riana, Ardina akhirnya menurut untuk menikah dengan Irwando Gazali dan membiarkan mereka menindasnya.   -   Ada sebuah rahasia yang disembunyikan di lantai atas rumah keluarga Sarman. Ardina berjalan cepat di koridor lantai atas. Koridor yang remang-remang itu sangat sunyi. Biasanya tidak ada orang yang berani datang ke sini, karena lantai ini dikategorikan sebagai area terlarang oleh Habib Sarman.   Tanpa seizin Habib, tidak ada yang boleh masuk.   Tidak ada satu pun orang luar yang tahu bahwa masih ada orang yang tinggal di lantai atas di rumah keluarga Sarman.   “Kakak.” Ardina berjalan mendekati pintu besi yang tidak terkunci. Dia merapikan pakaiannya dan membuka pintu dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya.   Seorang wanita yang rambutnya tergerai sedang duduk di atas tempat tidur. Dia sedang melihat pemandangan di luar jendela.   Wanita itu mendengar suaranya. Ia membalikkan badan dan melihat Ardina. Wajah kurusnya menunjukkan senyuman manis yang tulus.   Ardina masuk dan duduk di atas tempat tidur, lalu meringkuk ke pelukan wanita itu.   “Kakak, aku merindukanmu.”   Ketika Ardina berada di pelukan kakaknya, mata Ardina terasa perih. Hanya saat berada di sinilah dia baru merasa bahagia.   Ardina tidak berani meneteskan air mata. Dia diam-diam menyeka air matanya. Dia tersenyum manis dan mengangkat kepalanya agar dia bisa melihat Riana yang sedang tersenyum kepadanya.   “Kakak, biarkan aku menyisir rambutmu.”   Riana tidak menjawab. Ardina mengambil sisir, lalu menyisir rambut kakaknya. Dia tidak tahu kapan dia bisa membawa kakaknya pergi meninggalkan tempat itu. Ardina juga tidak tahu kapan dia bisa terlepas dari ancaman Habib.   Setelah Ardina menikah dengan Irwando, memutuskan pertunangan dengan Johanes, dan menyerahkan liontin gioknya, dia tidak tahu Habib akan memaksanya melakukan apa lagi di masa depan. Tentu saja Habib akan memanfaatkan kakaknya untuk mengancamnya.   Ardina sudah tidak punya apa-apa lagi. Bagaimanapun sulitnya keadaan ini, dia tidak bisa membiarkan kakaknya sendirian.   Ardina tetap tinggal di rumah keluarga Sarman untuk menemani kakaknya makan siang. Sekitar pukul empat atau lima sore, dia baru pergi ke turnamen balapan yang akan diadakan malam ini. Dia berencana untuk pergi ke lokasi turnamen lebih awal untuk bersiap-siap.   Turnamen balapan akan dimulai jam dua belas tengah malam. Turnamen ini sama seperti turnamen ‘bawah tanah’. Hanya ada menang atau kalah, bukan tentang hidup dan mati. Jika terjadi kecelakaan saat mengemudi, peserta hanya akan dianggap kurang beruntung. Namun, hadiah dari turnamen ini sangat besar, sehingga Ardina berambisi menjadi juara pertama.   Dia diam-diam keluar rumah untuk mengikuti turnamen seperti ini dua tahun lalu. Ardina menjadi semakin mahir dalam tiap pertandingan hidup dan mati ini. Di mana letak keberaniannya? Meskipun dia membutuhkan uang, dia tetap menghargai nyawanya.   Kalau dia meninggal, siapa yang akan menjaga kakaknya?   “Ardina!”   Di garis start, Sarah Fuad mengemudikan mobilnya sampai di depan Ardina dan berteriak lantang, “Kamu harus berhati-hati! Ini mobil baru kakakku!”   Ardina Sarman menerima kunci mobil yang diberikan Sarah Fuad. Kemudian ia menatap mobil baru di depannya dengan mata berbinar. Mobil ini telah dimodifikasi. Dilihat dari lekukannya yang indah serta dekorasi interior yang canggih, Ardina tahu bahwa mobil ini benar-benar bagus.   "Mobil ini didesain khusus oleh perusahaan dan tidak ada di pasaran," Sarah berkata dengan bangga.   Ardina menepuk bahu Sarah. Ternyata nasib seseorang memang berbeda. Sarah mempunyai seorang kakak yang sangat baik. Ini membuat Ardina merasa iri kepadanya.   "Ngomong-ngomong, Ardina, mengapa kamu kabur meninggalkanku semalam?"   Ardina menjelaskan kepada Sarah bahwa semalam pria yang diciumnya di bar adalah suaminya yang baru menikah dengannya, Irwando Gazali.   Selain keluarga Sarman, Ardina hanya memberi tahu Sarah mengenai pernikahannya dengan Irwando.   “Irwando Gazali!” Sarah berkata dengan penuh semangat di telepon setelah mendengar penjelasan Ardina, “Rupanya suamimu adalah Irwando Gazali!”   Dalam waktu sepuluh tahun ini, sama sekali tidak pernah terdengar rumor ataupun skandal mengenai hubungan Irwando dengan wanita. Dia juga tidak pernah punya kekasih. Hal itu menyebabkan banyak orang berasumsi dan mengatakan bahwa Irwando sebenarnya seorang gay. Bahkan, ada pula yang mengatakan bahwa Irwando tidak pandai dalam urusan seks, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa wajah tampannya membuat iri banyak orang.   "Ardina Sarman, kamu kejatuhan durian runtuh!"   "Tak kuduga rupanya Irwando Gazali sangat tampan! Jika aku jadi kamu dan setiap hari bisa menyentuhnya sekali saja, itu sudah membuatku sangat bahagia!"   Sarah berkata dengan penuh semangat, "Dia lebih tampan dibanding Johanes Margono! Bahkan kudengar kharismanya juga tidak ada tandingannya."   Ketika Sarah membicarakan Johanes Margono, Ardina hanya menunduk dan tidak berkata apa-apa.   Tidak lama kemudian, Ardina menimpali ucapan Sarah dengan kesal, "Apa maksudmu aku kejatuhan durian runtuh?"   Irwando berusia tiga puluh satu tahun dan Ardina baru berusia sembilan belas tahun. Bukankah Irwando yang justru seperti seekor sapi tua yang menikmati dan memakan rumput muda?   Ardina masih muda, cantik, dan energik. Bukankah justru seharusnya Irwando yang kejatuhan durian runtuh?   Sarah tidak sependapat dengan perkataan Ardina. Jika bukan karena rumor bahwa Irwando punya masalah seksual, wanita yang mengidolakan dan menginginkannya akan rela berbaris dari depan hingga ke ujung Kota Nirwantra hanya untuk menjadi istrinya.   Tidak! Bahkan jika Irwando punya masalah dalam hal ini, dengan latar belakang dan kekuasaan keluarga Gazali, masih banyak wanita yang bersedia hidup seperti seorang janda hanya demi mendapat status sebagai istri Irwando.   "Sayang sekali, dia tidak pandai dalam urusan ranjang!"   Tidak! Irwando sangat energik dan bernafsu di atas tempat tidur. Mana mungkin Irwando disebut tidak pandai dalam urusan ranjang!   "Jika kulihat dari postur tubuhnya, Irwando tidak mungkin tidak hebat dalam urusan seks! Aku justru menduga, jangan-jangan dia seorang gay atau justru sama sekali tidak tertarik dengan wanita!"   Pikiran Sarah makin lama makin melenceng. Ketika Ardina hendak membantahnya, dia mendengar suara dari belakangnya.   "Ardina!"   Pemuda berambut pirang yang biasa memandu rombongan datang mendekati mereka berdua. Dengan nada provokatif dia berkata, “Jika kamu kalah hari ini, kamu harus lari sepuluh keliling Kota Nirwantra!” Saat dia berkata demikian, dia menoleh ke belakang dan memandang rekan-rekannya sambil tertawa tertawa terbahak-bahak, “Dan kamu harus lari telanjang!"   Sebelum Ardina mengikuti turnamen balapan ini, pemuda ini selalu menjadi juara. Sejak kedatangan Ardina, Ardina selalu mengalahkannya. Dalam turnamen kali ini, dia tidak datang demi hadiah, melainkan ingin mempermalukan Ardina.   Perkataan pemuda itu, Muklis Gazali, menuai tawa dari rekan-rekannya.   Dia meminta seorang gadis lari telanjang. Ini sungguh memalukan.   "Baiklah!" Ardina menerima tantangannya. Hari ini dia mengenakan celana kulit yang menonjolkan lekuk tubuhnya, terutama dadanya yang berukuran 36. Penampilannya membuatnya kelihatan sangat menawan di mata para pemuda. "Jika kamu kalah, kamu harus lari mengelilingi alun-alun Kota Niwantra pada pukul sepuluh pagi!"   "Dan kamu harus telanjang!"   Alun-alun sangat ramai pada pukul sepuluh pagi. Muklis ingin melihat Ardina ditertawakan. Namun, pertama-tama, dia harus mengalahkan Ardina dulu.   “Kamu!” Melihat Ardina yang begitu sombong, Muklis memelototinya dengan getir dan mengertakkan gigi.   “Jangan khawatir, aku tidak akan kalah,” sahut Ardina dengan senyum penuh kemenangan, “Bersiap-siaplah melepas pakaianmu!” Setelah berbicara demikian, Ardina membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, didampingi Sarah yang duduk di kursi penumpang di sampingnya.   "Ardina, Mukli sangat kesal padamu," kata Sarah saat Ardina masuk ke dalam mobil.   Orang yang datang untuk balapan di sini tidak akan menyebutkan nama aslinya, seperti nama Ardina adalah Aradina, dan nama Sarah adalah Sarafana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD