Tiga orang yang berada di kamar Alvin masih menunggu jawaban Alma. Ketiganya berharap Alma segera setuju dengan tawaran yang diberikan.
“Aku enggak bisa jawab sekarang, Kak. Maaf Bos, saya harus memikirkan lagi tawaran dari Bos. Jujur saja kalau saya sekarang memang lagi butuh uang. Tapi ....”
“Tapi apa lagi, Al? Enggak ada sulitnya kau menerima tawaran dari Bos. Ini tuh seperti simbiosis mutualisme. Bukan hanya Bos dan keluarganya yang batal menanggung malu, tapi kau ... kau juga bisa melunasi hutang keluargamu. Pikirkanlah, Al. Jangan menunda waktu. Pernikahan Bos tiga hari lagi.”
Alma tidak menampik jika imbalan sejumlah uang yang akan diberikan bosnya sangat menggiurkan. Selama ia bekerja dua tahun di pabrik sarang burung walet, nyatanya penghasilan yang ia dapat belum bisa menutupi hutang keluarganya.
“Simbiosis-simbiosis, Kakak jangan bicara tentang simbiosis. Aku nggak paham istilah seperti itu.”
“Apa yang dikatakan Yuni benar, Alma. Tidak ada sulitnya kamu menerima tawaranku. Kamu hanya duduk di sampingku di hari pernikahan. Semua dokumen pernikahan masih tetap atas nama Salsa. Artinya pernikahan ini tidak tercatat di negara. Dan semuanya kuanggap selesai setelah resepsi pernikahan.”
“Pikirkan baik-baik, Al. Tapi jangan terlalu lama. Kalau kau tidak bersedia, berikan kabar secepatnya. Bos akan mencari kandidat lain jika kau menolak tawaran ini. Dan tentu saja uang yang seharusnya kau terima akan jatuh ke orang lain.” Yuni kembali mengingatkan pada Alma.
Alma merasa tidak rela mendengar uang imbalan akan jatuh ke tangan orang lain. Bukan karena Alma serakah, tetapi Alma memang merasa butuh uang itu.
Penghasilannya sebagai buruh di pabrik sarang burung walet memang belum memenuhi kebutuhan selama ia masih harus membayar hutang keluarganya, padahal selama ini Alma sudah berusaha sangat keras, bahkan pekerjaan tambahan sebagai ART pun ia lakoni dan tetap saja penghasilannya belum cukup untuk melunasi semua hutang.
“Bisa tidak Bos, kalau Bos jangan mencari orang lain dulu. Saya butuh waktu sehari saja untuk bicara dengan Adik saya.”
Alvin menatap ke arah Mami dan Yuni. Alvin seolah meminta persetujuan dari kedua orang itu.
“Untuk apa, Al? Bukankah kau anak tertua di keluargamu?” Yuni bertanya mengenai alasan Alma meminta tenggang waktu.
“Aku rasa tidak masalah jika Alma membicarakan hal ini terlebih dahulu pada adiknya. Adikmu perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan dan laki-laki, Bos.”
“Adikmu ada dua?”
Alma mengangguk.
“Iya, Bos. Adik saya ada dua.”
“Sudah cukup umur atau belum?”
Emi, Yuni dan Alma saling bertukar pandang. Ketiganya bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Alvin.
“Kenapa kamu bertanya begitu, Al?” Maminya Alvin bertanya.
“Kalau adiknya Alma yang laki-laki sudah cukup umur, dia yang akan menjadi wali saat akad.”
Ketiga orang yang semula bingung dengan pertanyaan Alvin, kini sudah mengerti dan serempak menanggapi.
“Oo ... begitu.”
“Bagaimana, sudah cukup umur atau belum?” tanya Alvin lagi.
“Adik saya masih sekolah menengah atas, Bos. Umurnya sudah tujuh belas tahun.”
“Baiklah, aku tunggu keputusanmu. Kalau tidak bersedia cepat kabari aku. Dan satu lagi, jangan sampai masalah ini diketahui pekerja yang lain.”
“Baik, Bos. Saya permisi mau ambil itu.” Alma menunjuk pakaian kotor milik Alvin yang ada di keranjang pakaian kotor.
“Ambillah.”
Alma lalu beranjak dari duduknya, lalu mengambil pakaian kotor milik Alvin untuk dia cuci.
“Siang ini kamu tidak usah masak, aku akan makan di luar dengan Mami,” sambung Alvin lagi memberitahu Alma.
Setelah itu Yuni juga pamit turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sejak saat itu Alma benar-benar dilema. Ia bingung akan menerima atau tidak tawaran dari bosnya.
Setelah Alma selesai mencuci pakaian milik Alvin, ia kembali ke lantai satu, ke bagian pencucian untuk melanjutkan pekerjaannya.
Selama berada di bagian tahap pencucian, Alma hanya diam. Ia tidak seperti biasa yang selalu bernyanyi mengikuti alunan musik dan lagu yang diputar.
Setiap hari kerja pabrik sarang burung walet memang tidak pernah sepi. Selain terdengar suara beberapa pekerja yang berbicara, juga ada suara alunan musik lagu yang selalu diperdengarkan selama jam kerja.
“Kau kenapa, Al? Tumben diam saja, biasanya kau yang paling berisik.” Rahmi yang juga bekerja di bagian pencucian bertanya pada Alma.
Alma hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Rahmi. Kepalanya tertunduk sembari menyikat pelan sarang burung walet yang ada ditangannya.
“Kenapa sih, kau dimarahi Bos?” Rahmi kembali bertanya sembari menyikut pelan lengan Alma.
“Enggak.”
Rahmi pun tak bertanya lebih lanjut, setelah melihat Alma tidak begitu menanggapi pertanyaannya.
Alma hanya berharap hari ini dia bisa pulang lebih awal ke rumah. Ia tidak sabar ingin menyampaikan tawaran sang Bos kepada adik laki-lakinya.
Di jam istirahat Alma juga duduk menyendiri, ia makan dan duduk dengan jarak yang sedikit berjauhan, tidak bergabung bersama pekerja yang lain.
Yuni melihat Alma yang duduk menyendiri. Ia pun mendekati Alma dan membuka bekal makan siangnya di dekat Alma.
“Kau masih bingung?” tanya Yuni dengan pelan.
Alma mengangguk tanpa melihat ke arah orang yang bertanya padanya.
“Menurutku lebih baik kau terima saja tawaran itu, Al. Ini juga hanya pura-pura. Setelah resepsi selesai, kau dapat uang.”
Alma masih diam sembari menyendokkan nasi makan siangnya.
“Apa kau akan mengatakan ini pada ibumu, Al?”
Alma menoleh ke arah Yuni. Pertanyaan Yuni kali ini menambah dilema baginya.
“Aku belum tahu bakal bilang atau enggak sama Ibu. Yang jelas aku bakal cerita masalah ini dengan adikku.”
“Ya sudah, pikirkan baik-baik keputusan yang akan kau ambil. Kalau kau sudah membicarakan hal ini dengan adikmu kabari Bos secepatnya.”
Pembicaraan singkat antara Alma dan Yuni berakhir. Keduanya kembali melanjutkan pekerjaan setelah jam istirahat berakhir.
Jam pulang pun tiba. Harapan Alma untuk bisa pulang lebih awal batal, sebab ada banyak sarang burung walet yang harus dicuci dan melebihi jumlah dari biasanya.
Setelah sampai di rumah, Alma sangat bersyukur Ibu dan Adik perempuannya tidak ada di rumah.
Ibu dan Adik perempuan Alma diketahui sedang membantu acara pernikahan salah satu saudara sepupunya.
Alma pun memanggil Adik lelakinya yang bernama Aldi. Sebelum mengatakan tawaran yang diberikan oleh bosnya, Alma terlebih dahulu meminta pada adiknya agar apa yang disampaikan Alma tidak diketahui oleh Ibu dan Adik perempuannya.
"Kakak ada masalah apa? Kenapa Ibu sampai enggak boleh tahu?" Aldi bertanya pada Alma.
"Kakak mau ...."