Kandidat Yang Tepat

1012 Words
“Dia ... dia orangnya, Bos.” Pekerja pabrik yang ditunjuk oleh Yuni pun menatap heran ke arah ketiganya. Ia juga tercengang melihat mandor Yuni menunjuk ke arah dirinya. “Kamu yakin kalau dia orang yang tepat?” “Saya yakin, bahkan sangat yakin ....” Emmi dan putranya saling tatap. Keduanya seolah belum yakin dengan kandidat yang saat ini tengah ditunjuk oleh Yuni. “Hanya dia satu-satunya pekerja yang menurut saya tidak centil dan tidak caper terhadap Bos.” Tanpa meminta persetujuan Alvin dan ibunya, Yuni segera memanggil pekerja pabrik yang biasa bertugas membersihkan kamar Alvin untuk ikut bergabung dan duduk bersama. “Al ke sini sebentar,” panggil Yuni pada pekerja itu. Dia adalah Alma, salah seorang pekerja pabrik yang bekerja di bagian pencucian sekaligus bertugas membersihkan kamar, dapur dan juga pakaian kotor milik Alvin. “Ada apa, Kak? Kenapa Kakak tunjuk-tunjuk aku?” Yuni tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alma. Ia justru kembali meminta Alma untuk segera mendekat ke arah mereka. “Ke sini dulu. Ada yang ingin Bos bicarakan denganmu.” Alma pun menduga-duga, perihal apa Bos memanggil dirinya. Seingat Alma semua pekerjaan yang ia kerjakan sudah benar. Niat Alma saat hendak masuk ke kamar bosnya juga hanya untuk melakukan pekerjaan, tetapi mengapa tiba-tiba mandor Yuni mengatakan jika Bos ingin bicara dengannya. Dengan perasaan sedikit cemas Alma mulai melangkah mendekat ke arah tiga orang tersebut. “Duduklah,” titah Yuni sembari menunjuk ke arah sofa. “Tunggu dulu, ini sebenarnya ada apa? Maaf Bos, apa pekerjaan saya ada yang salah?” Alma semakin merasa khawatir. Ia benar-benar takut jika memang ia melakukan kesalahan, Alma takut ia akan diberhentikan. “Tidak ada.” Alvin menjawab singkat. “Terus kenapa saya dipanggil?” “Ini mengenai ....” Alvin sedikit ragu membicarakan rencana pernikahannya yang batal pada Alma, meskipun sudah dua tahun ia mengenal Alma dan selama itu pula Alma bekerja di pabrik sekaligus menjadi Art-nya. “Ceritakan saja pada Alma, Bos. Tidak apa-apa. Alma, aku minta padamu setelah kamu tahu semuanya, setuju atau tidak, kamu jangan pernah mengatakan perihal ini pada siapa pun, dan aku juga berharap kamu setuju dengan rencananya Ibu Bos.” “Ini sebenarnya ada apa, Bos? Kenapa bicara Kak Yuni seperti itu?” Alma tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari Alvin. Alvin justru memanggil Yuni. “Yun ....” Alvin menatap ke arah Yuni, tatapan Alvin seolah memberi titah kepada Yuni untuk menjelaskan semuanya pada Alma. Yuni mengangguk, tanda ia paham maksud dari tatapan bosnya. “Iya, Bos.” Yuni kemudian beralih pada Alma, ia mulai menjelaskan perihal masalah yang dihadapi oleh bos mereka. “Begini Al, saat ini Bos sedang membutuhkan bantuan kita, lebih tepatnya salah satu dari kita. Tiga hari lagi Bos akan menikah, dan tiba-tiba pihak keluarga calon istrinya Bos membatalkan rencana pernikahan itu.” Alma terkejut mendengar penjelasan dari Yuni. Ia tak menyangka jika pria setampan dan semapan seperti Alvin mengalami kejadian seperti ini. “Ini betulan, Bos?” Alma menoleh ke arah bosnya, ia memastikan kembali perkataan mandor Yuni. Alvin pun mengangguki pertanyaan Alma. “Dan sekarang Bos sedang bingung mencari siapa orang yang bisa menggantikan posisi Kak Salsa sebagai mempelai pengantin wanita. Bos meminta pendapatku untuk menunjuk salah satu dari pekerja yang ada.” “Terus hubungannya denganku apa, Kak? Jangan bilang kalau Kakak menunjukku untuk menggantikan posisi Kak Salsa.” Alma mengerti ke mana arah pembicaraan dari mandor Yuni. Alma tampak keberatan jika ia yang di minta menggantikan posisi Salsa, calon istri Alvin. “Dengarkan dulu penjelasanku, Al. Bos juga tidak menyuruhmu secara cuma-cuma, Bos akan memberimu uang. Aku tahu saat ini kau juga sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang pengobatan ayahmu. Dan satu lagi, pernikahan ini hanya pura-pura ....” Alma terlihat bingung. Ia terdiam dan tampak berpikir, wajahnya juga silih berganti menatap ke arah tiga orang yang kini sedang menunggu jawaban darinya. “Bagaimana, Alma? Apa kamu setuju? Kalau kamu setuju, sekarang juga aku akan beri uangnya, tapi tidak semua. Sisanya akan aku beri setelah akad dan resepsi selesai.” Alma kembali terkejut mendengar perkataan bosnya. ‘Akad’ yang baru saja diucapkan oleh bosnya menandakan jika ia satu keyakinan dengannya. Selama ini Alma mengira jika bosnya yang bermata sipit memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya. “Akad ...? Bos ternyata mus—“ “Iya, Al. Meski aku bermata sipit, tapi aku muslim sejak lahir,” potong Alvin menyela ucapan Alma. “Bagaimana Alma, apa kamu setuju dengan tawaran ini? Kalau kamu setuju, saya sebagai maminya Alvin sangat berterima kasih sama kamu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana malunya saya dan keluarga jika pernikahan Alvin batal ...." Mendengar penuturan dari ibunya Bos, Alma bisa ikut merasakan rasa kecewa yang dialami Bos dan Ibu Bosnya. Alma juga melihat raut wajah tampan Alvin yang kini didera rasa kecewa dan juga bingung, meski pembawaan Alvin yang duduk dalam sikap tenang, tetap saja Alma bisa melihat itu semua. Di sisi lain, Alma juga tak bisa mengesampingkan permasalahan yang juga tengah ia hadapi. Kondisi keuangan keluarganya juga sedang sulit. Biaya pengobatan almarhum ayahnya meninggalkan hutang yang tidak sedikit, bahkan sertifikat rumah yang kini menjadi satu-satunya peninggalan berharga dari almarhum ayahnya menjadi agunan dan terancam akan disita, jika Alma dan keluarga tidak membayar uang yang sudah dipakai dari salah seorang tetangga. “Bagaimana, Al? Kau setuju ‘kan dengan tawaran Bos? Pernikahan ini hanya pura-pura, dan uang yang diberikan Bos bisa kau pakai untuk membayar hutang.” Alvin, Emmi dan Yuni kini tengah menunggu kepastian dari Alma. Alvin dan Emi yang semula sempat ragu atas kandidat yang ditunjuk oleh Yuni, kini merasa yakin jika Alma adalah kandidat yang tepat. Apa yang dikatakan oleh Yuni sebelumnya benar, jika selama bekerja Alma memang tidak pernah terlihat centil apalagi ‘caper’ alias cari perhatian kepada Alvin, meskipun Alma punya akses untuk keluar masuk ke dalam kamar Alvin. “Bagaimana, Al? Kamu setuju ‘kan?” Alma benar-benar bingung akan menerima atau menolak tawaran dari bosnya. Saat ini ia memang sedang membutuhkan uang, tetapi di lain sisi Alma juga takut menerima tawaran tersebut. "Bagaimana, Al? katakan saja, setuju atau tidak?" tegas Yuni lagi. “Aku ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD