Rumah terasa lebih terang setelah keduanya masuk dengan wajah berseri. Masalah listrik sudah diatasi, masalah hati masih menjadi misteri. Setidaknya bisa tertawa dan duduk di sofa bersama. Malam ini mereka bercanda seperti sebelum menikah. Saling mengejek dan bercerita tentang semua hal. Sampai tak sadar waktu terus berjalan dan memasuki tengah malam.
"Kamu nggak ngantuk?" Panji merebut kacang di pangkuan Citra.
"Emang udah jam berapa? Baru setengah dua belas, 'kan?" Citra melihat jam dinding yang terpasang di sebelah lemari dekat televisi.
"Ahaa, jam setengah dua belas. Itu baru, ya?" ulang Panji sambil mengunyah kacang.
Citra melotot lalu meringis, "Besok masih cuti, hehe."
"Terus kenapa emangnya kalau cuti?" Panji masih asik makan kacang.
"Yaa, santai aja nggak perlu takut bangun siang besok." mengendikkan bahu dan ikut mencomot kacang di tangan Panji.
"Udah sana tidur. Jangan makan kacang mulu. Mahal ini belinya di pinggir jalan." Panji menjauhkan toples kacang miliknya.
"Pelit banget, sih! Paling-paling harganya cuma lima ribu. Jadi orang jangan pelit apalagi sama aku." Citra berusaha merebut toples itu.
Panji bersikeras menahannya, "Emangnya kenapa kalau pelit sama kamu? Nggak boleh? Suka-suka aku dong. Kacang punya aku yang beli. Weekkk!" menjulurkan lidahnya.
Citra menganga, "Ihh, pelitnya kebangetan! Pantes aja nggak ada cewek yang mau sama kamu! Huh!" berpaling melipat tangan di d**a.
"Hehe, sengaja. Kalau nggak mau tidur biar aku yang tidur di kamar. Kamu di sini aja biar tau rasanya digigit nyamuk sama kedinginan. Ntar kulitmu jadi keriput, banyak bentol-bentol merah, terus besoknya demam tinggi. Hiiii, jauh-jauh sama aku!" Panji buru-buru menutup toples kacang lalu beranjak.
"Eh, tunggu-tunggu! Nggak adil kalau gitu. Lagian mana ada orang kedinginan langsung keriput? Duduk dulu!" titah Citra tak bisa diganggu gugat. Panji menurut dengan polosnya sambil memeluk toples kacang.
"Dua hari aku tidur di sofa, udah ngalah sama kamu. Sekarang giliran aku dong di kamar. Kurang baik apa coba? Kurang adil apa?"
"Stop mendramatisir keadaan. Wajahmu jadi jelek bukannya unyuk-unyuk," kata Citra. Panji memutar bola matanya.
"Eemm, gimana kalau gini aja. Kita buat perjanjian." Citra menjentikkan jarinya.
"Perjanjian?" dahi Panji berkerut.
"Iya, perjanjian. Namanya perjanjian kamar!" Citra berseru semangat. Panji hanya mengerjap-ngerjap.
"Jadi gini... Kamar itu buat kita berdua, tapi kamu nggak boleh nyentuh aku dan aku nggak boleh nyentuh kamu barang satu detik saja tetap nggak boleh. Gimana?" mengedipkan matanya dua kali.
Panji meringis, "Enggak! Mendingan aku tidur di sofa daripada sama cewek dekil kayak kamu! Minggir-minggir! Jadi nggak selera, 'kan mau tidur di kamar!" Panji menggeser Citra sampai Citra berdiri.
Penolakan yang sangat telak. Citra berkacak pinggang. "Oh, yaudah. Malahan bagus kamarnya buat aku sendiri. Biar kamu yang digigit nyamuk di sini. Ck, kita lihat aja seberapa kuat kamu di ruang tamu tiap malam. Huuuu, dingiiinnn," katanya menakut-nakuti.
"Haha, bilang aja mau tidur sama aku, 'kan? Jangan mimpi!" Panji tak mau kalah.
Citra semakin menganga, "Dikasih pilihan baik malah nolak, sekarang percaya diri berlebihan. Awas aja kalau nyusul ke kamar!" melengos pergi.
"Yeee, sok ngarep kamu! Ingat buat bayar sewa kamar tiap malam. Itu nggak gratis, ya!" seru Panji saat Citra terus melangkah.
"Dasar cowok ngeselin! Masih baik aku ngasih dia tempat, eh jawabannya bikin naik darah. Aku sumpahin ntar hujan deras biar dia menggigil lebih dingin dari lemari es!" gerutu Citra setelah menutup pintu kamar.
Jedaarrr!!!
Petir tiba-tiba menyambar. Sangat menggelegar membuat Citra terjingkat di ranjang.
"Astaghfirullah! Kenapa mendadak ada petir?" gumamnya seraya mengelus d**a.
Gemuruh kecil pun terdengar dan Citra mulai mengintip dari jendela. Ternyata di luar sedang hujan. Dia menutup mulutnya dan memukulnya pelan berkali-kali.
"Kenapa ucapanku jadi kenyataan? Hujannya turun beneran."
Lalu, menengok pintu hendak mendekati Panji, tetapi perasaannya gengsi. Sedangkan Panji di ruang tamu tanpa selimut, tanpa pakaian tebal, dan hujan semakin deras membuat Citra tak tega. Dia mengambil selimut dari lemari dan membuka pintu cukup kasar.
Panji mendengar suara pintu terbuka dia langsung pura-pura tidur. Sebenarnya dia tahu jika di luar mendung dan pasti akan turun hujan karena anginnya juga sangat dingin. Namun, dia tidak tega membiarkan Citra tidur di sofa, jadi mengorbankan dirinya lagi di sini. Untuk menerima penawaran Citra, dia tidak akan mungkin tidur dengan Citra. Masih canggung sebagai status baru.
"Hahh, dia udah tidur. Meluk toples kacang lagi. Masa suara petir sekeras itu dia nggak dengar?" Citra menggeleng heran seraya membuka lipatan selimut.
Panji diam-diam membuka matanya sedikit kala Citra mengambil toples kacang dalam pelukannya lalu menyelimutinya sampai leher.
"Nah, gini lumayan hangat. Bisa tidur tenang sembari mendengarkan musik hujan. Oh, hujan... Turunlah dengan deras asal jangan ada petir yang bergemuruh. Aku takut!" menengadahkan tangannya berdoa.
'Orang aneh! Malah berdoa hujannya deras. Kalau gitu ngapain kasihan pakai bawain selimut segala,' batin Panji.
Hujan benar-benar turun dengan derasnya. Dingin menusuk tulang tak dapat dihindari lagi. Dalam kamar Citra tak bisa tidur. Berkelung selimut, tubuhnya ditumpuk bantal, masih tidak bisa menghalau dingin. Sedangkan Panji menyesal telah mengalah. Dia bingung kenapa doa Citra dikabulkan begitu cepat.
Pagi harinya dia langsung merebut kamar mandi. Sangat lama sampai Citra tak tahan untuk menunggu buang air kecil. Dingin semalaman membuat tubuh mereka sedikit tidak beres. Akhirnya Citra lari ke masjid terdekat hanya untuk buang air di kamar mandi. Mau numpang ke kamar mandi tetangga, tetapi malu. Satu jam lamanya Panji baru keluar dari kamar penuh air itu. Sudah bisa bernapas lega dan tersenyum cerah. Namun, senyumnya luntur ketika Citra menodongkan pisau setelah dia menginjak dua lantai dari pintu kamar mandi.
"Ci-Citra, kamu jadi penodong, ya? Istighfar, ini aku temenmu sendiri!" Panji mengangkat tangannya.
Citra semakin serius menodongkan pisaunya, "Jangan harap bisa ikut Rama keluar kota! Satu lagi, di kamar mandi sejam ngapain? Tidur, Hah!?"
Panji meringis, "Perutnya bermasalah. Ah, udah nggak usah drama. Rama paling udah nunggu." menepiskan pisau di tangan Citra pelan. Lalu, dengan santainya pergi ke kamar mengganti pakaian.
Citra segera mengikutinya. Tidak memperbolehkan Panji masuk kamar dengan menghalangi langkah Panji.
"Aku bilang nggak boleh pergi berarti jangan pergi. Restoran itu loh urusin. Rama bisa ngatasin sendiri sama tim-nya. Lagian kalau kamu di sana pasti pulangnya lama. Mau pulang pas malemnya, eh, tau-tau diundur jadi besok. Pasti banyak yang nahan kamu juga di sana. Kamu, 'kan baperan." Citra sampai mendongak menatap mata Panji.
Panji melipat tangan dan mendesah, "Kamu mau ngomong apa, sih? Muter-muter tau nggak?" hendak membuka engsel pintu, tetapi Citra menahan tangannya. "Lepasin, Cit. Aku mau ganti baju," pintanya sabar.
"Nggak boleh!" Citra menggeleng cepat.
"Ck, jangan kayak gini, deh. Aku udah janjian sama Rama." Panji berusaha membuka pintu.
"Pokoknya nggak boleh, ya, nggak boleh." berusaha keras menahan Panji.
Mereka berdua jadi saling merebut pintu. Akhirnya Panji mengalah kesal.
"Ah, kamu maunya apa coba? Nggak seru!" kesalnya melengos.
"Dahi dikerutin segala kayak orang tua. Hari ini kita harus pergi ke rumah ayah sama ibu. Tadi telepon mulu. Kamu di kamar mandi nggak keluar-keluar." Citra menyerahkan handphone-nya dan twrlihat banyak panggilan tak terjawab.
Panji segera memeriksa handphone-nya. "Loh, mereka juga manggil aku. Kenapa?" tanyanya menatap Citra.
"Entahlah. Masih mau ikut Rama? Biar aku pulang sendiri terus kamu ntar dimarahin!" Citra menaikkan sebelah alisnya.
Panji berpikir sejenak, "Yaudah, ayo ke rumah orang tua. Takutnya ada apa-apa. Ntar aku bilang ke Rama kalau nggak jadi ikut." membuka pintu tanpa dicegah Citra.
"Nah, itu baru namanya anak berbakti." Citra tersenyum puas. Panji menutup pintunya terlalu keras membuat Citra kaget. Dia ingin memukul pintu itu.
'Huft, spam telepon mereka berguna juga. Kalau gini Panji nggak jadi pergi, hihihi,' batinnya.
Pakaian rapi seperti pasangan muda pada umumnya. Tidak ada yang tahu jika usia mereka sudah tak lagi remaja. Mereka saling pandang di garasi dan mengangguk pasti. Kemudian, menaiki motornya masing-masing dan pulang ke rumah orang tuanya masing-masing meskipun rumah mereka berhadapan. Datang dengan senyum ceria dan disambut dengan ceria, tetapi tak bertahan lama sebuah jeweran dan cubitan mereka dapat lantaran datang sendirian.
"Aduh-duh, sakit, Bu! Anaknya pulang kok dicubit, sih?" Citra berteriak keras di depan pintu yang masih terbuka.
"Aaaa, udah dong, Bu. Telinga Panji bisa panjang ntar!"
Di seberang sana juga terdengar teriakan yang cukup keras sampai bisa terdengar oleh Citra dan keluarganya.
"Loh, itu suara Panji. Kamu datang sama Panji?" sang ibu merasa senang dan melepaskan cubitannya di pipi Citra.
Citra mengelus pipinya, "Ya, iyalah. Tuh, suaranya dengar sendiri. Sshhh, sakit banget kalau nyubit."
Bukannya kasihan pada putrinya, ibunya Citra justru lari ke rumah tetangga dan mencari tahu kebenaran adanya Panji.
"Ayah kok diam aja? Ibu tuh jahat banget! Masa lebih seneng Panji daripada Citra? Dia ibunya Citra apa bukan, sih?" Citra menunjuk
"Husss! Ngawur aja kalau ngomong. Maklumi aja, ibumu bukannya lebih menyukai Panji dari dulu?" sang ayah justru menjawab sangat santai sambil membaca koran.
Citra melengos, "Kalian berdua sama aja! Males, mendingan aku pergi." hendak pergi kakinya berhenti melangkah karena teguran sang ayah.
"Kalau Bernai kuat rumah, Ayah kurung sampai lusa," masih tak menatap Citra.
"Hahh, nasib anak sayang orang tua, ya, kayak begini. Besok Citra harus kerja, Yah. Jangan kayak gini, deh. Emangnya kenapa kok nyuruh Citra sama Panji kemari? Ada masalah?" Citra mendesah duduk di samping ayahnya.
Kemudian, Panji serta orang tuannya datang karena diajak ibunya Citra. Mereka langsung duduk tanpa sungkan lagi, berbeda dengan Panji yang mengerucutkan bibirnya pasrah untuk duduk. Sempat Citra saling pandang dengannya dan keduanya melengos.
"Ibu, ngapain sih bawa Panji sekeluarga ke sini? Udah bagus Citra ke sini terus Panji ke rumahnya. Eh, malah ngumpul jadi satu," Citra tak tahan meluapkan emosinya.
"Haishh! Lihat kalian berdua... Sama-sama masih pembangkang. Kita cuma pengen lihat keadaan kalian doang. Habis nikah terus nggak kesini. Lagi program bikin anak?" jawab ibunya Citra.
Citra dan Panji melotot. "Ya, enggak lah!" jawabnya kompak.
Para orang tua itu saling pandang.
"Eyy, semangat sekali!" goda ibunya Citra.
"Ck, kalian mau apa? Kalau nggak ada apa-apa Citra mau balik dulu. Masih ada yang harus diurus karena besok udah kerja." Citra hendak beranjak.
"Tetap duduk!" ibunya kembali bertitah. Citra hanya bisa menghela napas sabar dan menurut. "Kamu pikir apa, Sayang? Kenapa kita nyuruh kalian datang? Buat nasehatin kalian tentunya. Udah tau jadi mau kabur, 'kan? Oh, tidak bisa," sambung ibunya Citra.
Panji melirik Citra yang mendengkus kesal. 'Lakukan sesuatu biar kita nggak diceramahi soal rumah tangga, ayo!' geramnya dalam hati.
Namun, Citra tak bisa mengelak ocehan ibunya. Sekarang orang tua Arya juga ikut-ikutan berceramah. Dia hanya bisa pasrah sekaligus ingin Panji mendengarkan secara langsung apa yang diharapkan kedua orang tua mereka. Sampai satu jam lamanya mereka tetap duduk. Dalam hati malas bercampur geli ingin tertawa karena ibunya bicara tanpa henti. Ujung-ujungnya membahas soal anak, usia yang sudah tak lagi muda, dan keharmonisan rumah tangga. Rasanya Citra ingin muntah.
"Stop!"
Muak sudah Citra menghentikan mereka. Melihat jam dinding yang sudah pukul sebelas siang.
"Citra mau tidur siang. Pusing dari tadi telinga panas." menekan kata panas lalu buru-buru beranjak sebelum dicegah.
"Loh-loh, mau kemana? Nggak boleh pergi dulu!" ibunya tetap melarang. Citra tak menghiraukannya dan terus pergi ke kamar lamanya.
Kali ini Panji mendesah seraya meraup wajahnya. Tersenyum hangat dan menyita perhatian mereka. "Ayah, Ibu, Panji sama Citra udah dewasa. Soal rumah tangga biar kita yang nentukan. Biar gimanapun juga kita udah nikah. Kita tau betul itu sakral dan bukan main-main. Mau dikasih tau berulang kali pun jadinya malah nggak enak di hati. Itu, kayak Citra tadi yang udah risih. Panji juga risih. Urusan anak... Maaf, kita belum bisa bersama," meninggalkan senyum dan pergi menyusul Citra. Baru beberapa langkah dia pun terhenti.
"Kalian akan bersama secepat mungkin," balas ibunya Panji.
Panji hanya melirik, lalu kembali menyusul Citra. Di kursi belajarnya Citra melipat tangan kesal. Mereka saling pandang lalu membuang pandangan. Setelah pintu kamar tertutup, pintunya terkunci dari luar. Mereka terkejut segera mencoba membuka pintu itu.
"Buka pintunya! Ayah, Ibu, kalian ngunci kita, 'kan? Jangan gini dong!" Citra menggedor-gedor pintu keras.
Panji mencoba membuka engsel pintu, "Bukakan pintunya!"
Orang tua mereka terkikik dari luar kamar.
"Nah, nggak bisa kabur sekarang. Jendela juga sudah terkunci rapat. Kalian puas-puasin berdua di sana, ya. Usahakan besok dapat hasil, kalau enggak kalian bukan anak-anak kami! Yeyy, cucu baru!" seru ibunya Citra.
"Apa?! Ibu, nggak boleh gitu, ini curang namanya! Citra nggak mau terkurung sampai malam! Ini masih siang, Ya Tuhan!" semakin keras Citra memukul pintunya.
'Ibu, Ayah, Panji lapar!" Panji pasrah saja karena percuma jika berusaha membuka pintu nanti tangannya bisa sakit. Citra melototi Panji, "Sesantai itu?"
Panji mengangguk pasti. Citra menggeleng tidak percaya. Ingin memukul kepala Panji, tetapi sahutan dari ibunya membuatnya tak jadi memukul.
"Nanti kita kirim makanannya. Khusus hari ini aja, Nak! Coba buka hati masing-masing. Kita udah tua, mau gendong bayi kecil yang lucu!"
Setelah itu mereka keluar. Citra masih bisa mendengar kekehan mereka di balik pintu. Dia luruh bersandar tembok merutuki nasibnya. Sedangkan Panji sudah asik bermain handphone mencoba menghubungi Rama yang sudah menunggunya dari tadi.
"Halo? Rama, aku nggak bisa ikut. Ini lagi nurutin orang tua, rewel nggak mau ditinggal," kata Panji seraya berpaling dari Citra.
Citra mencebikkan bibirnya menatap punggung Panji, "Ngeles aja bisanya. Jujur kek lagi dikurung buat bikin cucu gitu!" tanpa malu melantangkan suaranya.
Mata Panji melebar langsung mematikan teleponnya. Rama pasti mengomel di seberang sana. "Kamu... Nggak takut didengar Rama?"
Citra mengendikkan bahu, "Mendingan pikirin cara buat keluar. Kayak anak kecil aja pakai dikurung segala." berjalan-jalan mengitari seisi kamar mencari cara.
"Pikirin aja sendiri. Aku mau tidur dulu. Ibumu kalau ngomong bikin ngantuk." Panji menguap lalu membanting dirinya di ranjang Citra.
"Hei, satu jam seratus ribu. Itu udah cukup murah," Citra menarik biaya kamar.
Panji langsung duduk, "Gimana Maksudnya? Jangan perhitungan. Harusnya kamu yang bayar bukan aku. Nggak tau diri!" kembali merebahkan tubuhnya.
Citra menghentakkan kaki kesal. Mencoba membuka jendela, ternyata ada kayu yang menghalangi di luar. Ingin mendobrak pintu dia tak sanggup. Menoleh ke Panji, suaminya ternyata sudah tertidur. Citra jadi curiga apakah Panji tidur sungguhan atau tidak. Perlahan mendekat dan naik ke ranjang. Meneleng mengamati Panji dari atas.
"Hmm, deru napas yang teratur. Pura-pura apa beneran, ya?" gumamnya sengaja mendayu-dayu.
Gemas sudah jarinya ingin bermain di perut Panji agar Panji terbangun, tetapi saat tangannya baru terangkat Panji sudah membuka mata. Alhasil Citra membeku di atasnya.
"Ahaha, ketahuan belum tidur, 'kan? Dobrakin pintu sana!" suruh Citra dengan tangan masih mengambang di udara.
Panji melirik tangan Citra, "Mau nyakar aku? Mau makan aku, ya? Kanibal!" segera duduk membuat Citra menghindar.
"Sembarangan! Dagingmu nggak enak! Cuma mau ngejutin doang. Berhubung sekarang udah bangun sana dobrak pintu." menunjuk pintu dengan dagunya.
"Nggak, ah. Ntar rusak aku lagi yang kena. Gini aja... Mumpung lagi bersama kita selesaiin masalah ini baik-baik. Kita cari solusinya." Panji mengatur posisi duduknya lebih nyaman. Menatap Citra lekat dengan tatapan hangatnya membuat Citra kikuk.
"Maksudnya? Gimana caranya?" tanya Citra.
"Kita buat perjanjian. Bukan yang semalam, tapi perjanjian baru," jawab Panji.
"Ha? Terus yakin aku mau gitu? Kamu aja kemarin nolak tawaranku, buat apa sekarang aku setuju?" Citra melengos.
Panji gemas menengokkan wajah Citra untuk kembali menghadapnya. "Payah! Dengerin dulu! Kesepakatannya kayak gini, kita sama-sama dewasa pasti ada rasa ketertarikan secara alami. Jangan ngelak dan untuk menghindari hal itu kita harus mencegahnya dari sekarang. Kamu nggak mau keperawananmu kuambil, 'kan?"
Citra yang awalnya ingin marah karena kepalanya diputar berubah jadi menggeleng takut.
"Kalau gitu kita nggak boleh punya anak sebelum bisa saling jatuh cinta. Kita juga nggak boleh bercerai walau misalnya nemuin cinta sejati masing-masing. Apapun keadaannya kita harus tetap bersama dan pasrah sampai tua. Kalau nggak bisa saling jatuh cinta, ya, tetap nggak boleh punya anak. Begini, 'kan jadi kayak ada penghalang. Kamu bakal jaga diri baik-baik dari aku begitu juga sebaliknya. Aku akan jaga diri baik-baik dari singa betina dekil kayak kamu." sambung Panji seraya mendorong dahi Citra.
"Aduh! Nggak usah dorong-dorong juga kali! Wah, kesepakatan yang bagus! Aku setuju, tapi orang tua kita enggak." menggeleng sambil membalas mendorong dahi Panji.
"Tanganmu kotor, nggak usah sentuh-sentuh! Lagian mereka pasti paham situasi. Tadi udah aku jelasin sama mereka kalau biarkan kita jalan sendiri aja." mengendikkan bahunya.
Citra menepuk tangannya sekali. "Bagus-bagus! Masalah ini selsai, haha. Jadi bisa tenang deh. Tinggal sekarang gimana caranya keluar kamar?"
"Nanti kalau mereka ngasih makanan kita nyerobot keluar. Ayo, siap-siap di depan pintu!" Panji berubah berbisik dan turun dari ranjang.
Citra mengikutinya seraya mengangguk polos. 'Wah, dia pintar juga. Aku nggak perlu susah payah buat jelasin kalau nggak mau disentuh sama dia, haha,' batinnya.