"Ini Bun, untuk Fania." Ujar Farel dengan menyodorkan nampan berisi segelas cokelat panas untuk Fania. Kartika tidak bisa menahan senyum melihat putranya yang terlihat begitu mengkawatirkan dan memperhatikan Fania dengan baik. Sayangnya, sikap visioner Farel akan kesuksesan terlalu dominan saat ini sehingga sulit bagi Kartika untuk kembali mengajak Farel agar mau nikah muda. Lagi pula, menikah tetaplah kesiapan dari calonnya, bukan hanya orangtua yang harus siap, tapi calon yang mau menikah pun juga harus siap dengan segala kondisi ke depan, sehingga pernikahan bisa berjalan dengan baik. "Gimana Bun keadaannya?" tanya Farel pada sang bunda. Saat ini Farel sudah selesai mandi dan juga telah menggunakan sweater berwarna army serta celana panjang berwarna abu. "Ternyata dia demam, Rel. Lum

