"Al, apa nggak sebaiknya kita kabarin orangtuanya Farel?" tanya Rion yang terduduk sambil menatap Aldi yang sejak tadi mondar-mandir di depan ruang UGD. "Jangan, Yon. Nanti kalau mereka khawatir gimana? Keadaan Farel nyaris mati, cuy." Lian mengusap wajahnya kasar. "Ya Tuhan... Nggak nyangka gue kalau Farel ternyata punya riwayat penyakit sebanyak ini." Aldi memijit pelipisnya. Berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. "Lebih baik kita tetep hubungi orangtuanya Farel, tapi setelah udah dapet kabar dari dokter yang sekarang lagi nanganin Farel. Gimana?" Lian dan Rion langsung mengangguk kompak. Aldi bergeser dari depan ruang UGD, ke bangku panjang. Ia duduk di sana bersandar dengan raut wajah khawatir. Ia berharap Farel akan baik-baik saja. Pintu ruang UGD terbuka, satu orang dokter laki-

