Bab 7

1245 Words
Aku tidak pernah menyukai jalan berlubang ketika hujan. Namun aku sangat menyukai lubang berjalan. Sepertimu!! Matahari terik yang membakar tubuh Ora semakin membuatnya emosi. Disaat yang bersamaan, hampir setengah jam Ora memanggil ke dalam rumah tersebut tidak ada yang menyahut. Padahal dia rasa sudah benar alamat yang tertera pada kartu nama tersebut. Sambil mengusap peluh di keningnya, Ora melirik ke kiri dan ke kanan. Siapa tahu ada penjaga yang bisa dia panggil. Tapi kekecewaan yang lagi-lagi dia dapat. Desahan napas beratnya semakin menyiksa. Ora berjanji jika suatu saat nanti dirinya menjadi orang kaya, dia tidak akan membiarkan penjaga di depan rumah kosong. Sampai adanya tamu seperti ini tidak ada yang membukakan pintu. Kedua mata Ora menyipit kala melihat seseorang dengan wajah cukup tampan berjalan mengendap-ngendap seperti ingin ditangkap. Pikiran Ora mulai bergentayangan. Memikirkan sesuatu hal nakal yang bisa ia lakukan bersama laki-laki itu berdua. "Woy, Pak!! Yang punya rumahnya ada?" Ora menunggu dengan setia pergerakan laki-laki itu yang sepertinya ... Marah. Oh no!! Apa ada yang salah dengan pertanyaannya barusan? "Cari siapa?" Tanya laki-laki itu dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. OH PLEASE!!! GUE TAHU LO CAKEP!!!! Ora menelan air ludahnya dengan susah payah. Hari yang panas untuk objek di depannya yang membakar. Menatap dari bagian kaki sampai pinggang,membuat Ora mati kutu. Ughh.. LEH UGA!! Tapi ketika dia perjelas pandangannya ke arah wajah laki-laki itu, kok kayak kenal ya. Dimana? Apa jangan-jangan laki-laki ini salah satu objek fantasinya selama ini dalam lukisan yang ia buat. Atau ... Ah, kebanyakan kata atau. Kenapa tidak langsung ditanya saja. Tapi tanya apa? "Ehm, mas" Baru satu kata saja yang keluar dari bibir Ora, kedua mata laki-laki itu mendelik. Ya elah, salah apalagi sih? "Saya mau cari Afsheen" sambung Ora sambil melihat reaksi laki-laki itu selanjutnya. "Afsheen?" Ulangnya tidak percaya. Ya ampun, harus diulang banget ya? Jelas Ora cari bocah tengik itu. Bukan cari suami ganteng di sini. "Iya, mas ini ..." "Saya supir di sini" potongnya cepat. Walah, supir kece begini bagaimana majikannya? *** Awalnya Kara tidak yakin benar dengan objek di depan mata yang dia lihat. Tapi dia yakin seratus persen bahkan seribu persen benar, ini adalah perempuan itu. Dia Ora!!!!! OH MY GOD ... Kenapa Kara bisa yakin? Ya Tuhan dia tidak pikun dan dia bisa melihat dengan jelas. Semua bukti-bukti memang mengarahkan bahwa ini adalah Ora. Yang pertama, dari wajahnya. Kara sudah men-scanning berulang kali wajah perempuan di depannya. Dan jawabannya masih sama. Ini Ora. Ora dengan kedua mata belo dengan bulu mata begitu panjang dan lentik. Lalu yang kedua, hidung perempuan itu mungil tapi mancung. Cocoklah bentuknya untuk buntut terakhirnya nanti. Dan yang terakhir rambut blonde perempuan itu. Cuma Ora dan hanya Ora mungkin di dunia ini, yang wajahnya begitu pribumi tapi rambutnya berwarna pirang khas bule-bule. Pernah dulu Kara bertanya langsung pada Ora, apakah dia mewarnai rambutnya. Dan perempuan itu mengaku rambut pirangnya sejak ia lahir. Mungkin gen yang diturunkan kedua orang tua Ora sedikit menyimpang hingga seunik ini hasil yang tercipta. Andai dia boleh berangan-angan, seperti apa buntutnya dengan Ora kelak yang akan tercipta. Kalau laki-laki pasti ganteng sepertinya. Kalau perempuan, cantik seperti kulit mulus miliknya. Haha .. Bukannya Kara tidak ingin anaknya kelak mirip Ora, dia hanya mau bagian-bagian menonjol saja dari yang Ora miliki diturunkan ke anak mereka kelak. Hey, yang menonjol bukan bagian d**a saja. Mungkin saja kepintaran dari Ora. "Mas .. Oi .. Mas" tegur Ora. Kara tertawa kaku. Aih, dia malu sekali ketahuan sedang berfantasi ria. Tapi tidak apalah, memang semua masa depan berawal dari fantasi. Jadi biarkan dia bersenang-senang. "Ada perlu apa cari Sheen?" Ketika Kara menangkap Ora tengah mengenali tatapan matanya, laki-laki itu berusaha semakin menampilkan senyum ramah. "Maksud saya ..." "Kamu .... MasKara?" Tunjuk Ora secara tiba-tiba. O.M.G ternyata cepat sekali perempuan ini mengenalinya. *** Mendadak rasa gugup menyelimuti diri Ora. Eh, kok sepertinya dia salah mengenali laki-laki di depannya. Perasaan Ora sudah memakai kekuatan kebatinan yang dia miliki untuk mengingat-ingat pernah bertemu dimana wajah laki-laki itu. Dan ketika satu jawaban yang dia dapat, jelas Ora langsung menyuarakannya. Namun dari ekspresi yang ditunjukkan, kok sepertinya salah ya? Boleh Ora mengeceknya sebentar. Dia mengingat-ingat foto demi foto yang sudah dikirimkan oleh sosok Mas Kara, laki-laki yang dia kenal melalui aplikasi cari jodoh. Pertama, foto laki-laki bertelanjang d**a dengan rokok ditangannya. Elah, dia kan sedang tidak merokok sekarang. Lalu yang kedua foto laki-laki bertelanjang d**a di kolam berenang. Walah, Ora baru sadar ternyata foto yang Mas Kara kirim selalu bertelanjang d**a. Eits, itu nanti. Setelah mereka sama-sama SAH. Duh Ora apa yang dia pikirkan sebenarnya? Dia datang ke sini ingin bertemu Afsheen. "Ada yang lucu?" Oh No!!!! Tadi dia yang memergoki Kara sedang melamun ria. Sekarang dia yang dipergoki oleh laki-laki itu. Kok mereka berdua seperti jodoh ya? "Nggak papa mas," cengir Ora. Kedua manik matanya kembali membandingkan sosok Mas Kara dengan laki-laki di depannya. Memang semua foto yang pernah dikirimkan terlihat dari samping, tapi masih terlihat mirip. Atau mata Ora saja yang sudah terlilit oleh pesona Kara? "Mas, sorry. Boleh miring sebentar" pinta Ora. Dengan masih rasa kaget, Kara mengikuti perintah Ora. Berdiri sedikit menyamping di depannya. Tapi tiba-tiba saja Ora tertawa. Kok gak mirip. Mungkin karena yang ini pakai baju, yang difoto tidak. Masa Ora harus minta dia telanjang d**a untuk membuktikan ini benar si Mas Kara. "Ehm..." "Apalagi?" Bibir Ora meringis karena merasa pikirannya tertebak oleh laki-laki di depannya. Posisinya menjadi salah tingkah. Alah, bisa tidak sih kedua tangan Ora membantu untuk membuka kancing kemeja tersebut agar rasa penasarannya terjawab. Lama tidak ada yang bersuara, akhirnya Kara yang memulainya kembali. "Adek benar, saya mas Kara" ungkap Kara disambut gelak tawa geli dari Ora. Melihat Ora yang tertawa geli, Kara merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dia menatap keseluruhan tubuhnya, dari atas sampai bawah. Apa resleting celananya terbuka? Sedangkan bagi Ora, dia merasa kaget bercampur lucu. Di dalam pikirannya kembali berputar memori percakapan mereka berdua selama ini. Dan beginilah sosok Mas Kara yang suka sekali menggombal dengan alaynya. Sosok laki-laki yang membuat Ora jijik atas otot-otot besar yang dimiliki laki-laki itu. Dan sosok yang sekarang membuat tubuhnya melumer disaat yang bersamaan. "Dek ..." Tegur Kara. Bibir Ora membulat. Dia menarik napas sedalam-dalamnya ketika wangi harum dari napas Kara dapat dia rasakan. Lututnya lemas. Dengan keringat dingin hingga terasa basah kebagian bawah tubuhnya, Ora membalas tatapan Kara. Menyelami manik mata tegas milik Kara. Mencari pantulan dirinya di sana. Dan gotcha!!!! Dia dapat. Kara juga sedang melakukan hal yang sama ke dalam manik matanya. Serius ... Dia bukan sedang di surgakan? Wangi yang berasal dari tubuh Kara itu loh buat perut Ora kembang kempis. Super sekali pesona laki-laki satu ini. "Masih terus mau pegangan sama mas atau mau mas ...." "MAAUU.. MAUU..!!!" Potong Ora cepat. "Mau apa?" Goda Kara. "Mau dibawa ke KUA kan?" Jawab Ora pelan. Wajahnya yang tersipu malu semakin membuat Kara gemas. Kara refleks mencubit kedua pipi Ora sampai perempuan itu mengaduh sakit. Kedua pipinya sengaja digembungkan hingga terlihat bekas cubitan Kara di sana. "Pegang bayar!!!" Kesalnya. "Ok. Mas bayar. Tapi kamu juga harus bayar" balasnya tidak mau kalah. Ora merasa tidak terima disuruh bayar oleh Kara. Memangnya dia berhutang apa sama laki-laki itu? Bahkan ini pertemuan pertama mereka. Tapi kok seperti sepasang kekasih yang sudah menjalin kasih puluhan tahun. Ah, apa ikatan perasaan mereka berdua begitu dekat. Hingga sulit terpisahkan. "Jangan senyum-senyum. Bayar dulu" goda Kara semakin menjadi. Sudut bibir laki-laki itu semakin berkedut, menahan gelak tawa yang sebentar lagi akan pecah."Bayar apa sih? Ora kan nggak punya hutang!!" "Memang kamu nggak punya hutang. Tapi dimana-mana kalau buang air kecil bayar" tutup Kara. Kedua alisnya bergerak-gerak naik dan turun menunggu reaksi dari Ora. Kemudian mereka berdua sama-sama melihat ke arah bawah dimana pusat tubuh Ora yang menjadi ledekan Kara berada.Di sana, di s**********n Ora yang terbalut celana pendek berwarna khaki nampak basah membentuk bulatan dibagian area sensitifnya. ASTAGAAAAA... DIA NGOMPOL!!! "Jangan lupa dibersihkan ya adek sayang" ____ Continue.. Komen siapa yang udah pernah baca sebelumnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD