Bab 6

1351 Words
Ada masanya dimana cinta rasa tai berwarna dimana-mana sedangkan jodoh rasa kopi s**u tidak pernah ada. Ora mendesah berat kala dia mengingat chat dirinya semalam dengan si santan Kara. Bagaimana dia bisa lupa bila laki-laki itu dengan mudahnya berkata cinta padahal mereka saja belum pernah berjumpa. Adakah alasan yang lebih logis ketika Kara mengatakannya? Atau 3 kata itu hanya sebuah harapan belaka untuk Ora? Mungkin saja Kara tahu soal predikat jomblo ditinggal menikahnya. Atau mungkin saja ada sosok jin yang lewat lalu membuat Kara khilaf dan keluarlah 3 kata itu. Entah mana yang benar. Ora sendiri bingung akan keadaan aneh ini. Padahal selain Kara ada puluhan chat lain yang berkata manis didepannya. Tapi tidak ada yang berkata cinta. Yah, Ora memang sadar diri. Dia bukan perempuan yang memenangkan ajang kontes pemilihan perempuan tercantik sedunia. Dia hanya Azzora. Si perempuan biasa yang terkadang bisa menjadi luar biasa. Sambil mendesah memikirkan segala kemungkinan yang ada, Ora merapikan lipatan terakhir jaket berukuran kecil milih si anak songong waktu itu. Dia berniat hari ini akan mengembalikannya ke rumah gadis kecil itu sebelum suatu saat nanti takdir mempertemukan mereka kembali tapi Ora masih menyimpan jaketnya. Bisa-bisa kalimat ketus gadis kecil itu akan didengarnya lagi. Yang kemarin saja sakitnya belum hilang dihati Ora, kalau ingin ditambah lagi rasanya Ora tidak sanggup. Sambil memasukan jaket bergambar kupu-kupu itu ke dalam tas ranselnya, Ora membaca penuh khidmat alamat yang tertera pada kartu nama itu. Dalam hati yang penuh ketenangan dia mulai menjelajahi otak pintarnya, dan bertanya-tanya dimana letak alamat ini. Rasanya dia belum pernah tahu. Atau mungkin lupa. Karena dia tinggal di Bali baru sekitar 5 tahun terakhir. Semua seluk beluk kota Bali belum sepenuhnya dia ketahui. Tapi apa gunanya ponsel canggihnya bila tidak bisa membantu. Segera dia aktifkan GPS kemudian memasukan alamat tersebut. Hingga ... muncullah lokasi yang akan dia tuju.Tidak begitu jauh dari tempatnya sekarang. Bila Ora berjalan kaki bisa sekitar 1 jam. Dan bila dia memilih menggunakan taksi kurang lebih setengah jam. Itu juga bila lalu lintas tidak ramai. Karena tidak ingin terlalu sore ke sana, Ora segera bergegas. Merapikan tampilannya sedikit, kemudian langsung mencari taksi untuk dia tumpangi ke tempat yang di tuju. Selama perjalanan Ora hanya diam. Melihat ke jalanan yang dipenuhi oleh turis-turis luar negeri. Kadang dalam hatinya merasa geli sendiri. Dia saja ingin sekali ke luar negeri  dimana turis-turis itu tinggal. Tapi mereka semua ingin ke Bali yang katanya memiliki pantai seindah surga. Haduh. Susah memang. Harusnya Ora bersyukur atas negara tempat tinggalnya. Karena apa yang terlihat indah oleh kedua mata, belum tentu nyaman ketika ditinggali. Pergerakan mobil taksi itu terhenti di depan sebuah rumah besar bergaya mediterania. Ora juga asal tebak saja gaya rumahnya seperti itu. Habis bentuk bangunannya begitu klasik sampai kedua mata Ora jelalatan ke sana ke sini melihat setiap detail rumah tersebut. Setelah membayar ongkos taksi, Ora turun. Membenarkan tali ranselnya sambil terus memandang penuh takjub ke arah dalam rumah. Tidak dia sangka, gadis kecil sombong nan judes itu ternyata anak orang kaya. Pantas saja kelakuannya seperti seorang putri raja yang selalu memerintah. Huh, kalau tidak ada keperluan untuk mengantar jaket ini, Ora malas sekali berhubungan dengan orang kaya. Bisa-bisa warga kecil sepertinya diperbudak dengan uang yang mereka miliki. Walau Ora suka sekali uang, tapi bukan berarti dirinya bisa diinjak-injak. Jangan harap bisa merendahkan seorang Azzora Kanaya. Setelah selesai berbatin-batin ria dengan hatinya, Ora mulai beraksi. Lets go!!! Temui bocah judes itu lalu kembali ke depan kanvas kesayanganmu!!! Teriak batinnya penuh semangat. *** Kopi kental yang baru saja masuk ke dalam mulutnya harus keluar lagi. Dia membuka kedua matanya lebar-lebar, membaca kebenaran atas apa yang dia lihat. Siang ini, pukul 1 lewat 45 menit 44 detik waktu Indonesia bagian Tengah, sosok yang tidak mau sekalipun diajak ketemuan olehnya memasang sebuah status. Yang mengabarkan sebuah informasi menarik untuk dirinya perhatikan. Karena isi status tersebut mampu membuat Kara tersedak hingga air matanya mengalir disudut kiri dan kanan kedua matanya. Perempuan itu. Ralat!! Gadis yang selalu jual mahal padanya ada di sekitar daerah rumahnya. Dari status yang baru saja Ora buat terpampang jelas dimana lokasinya kini berada. Sedang apa dia? Kenapa tiba-tiba begini dia datang? Kalau tahu sejak semalam, dia ... Semalam? Perasaannya tiba-tiba ada yang mengganjal. Rasanya ada bagian terlewatkan antara dia dan Ora semalam. Tapi apa? Kara mencoba mengingat-ingat bagian mana yang aneh di sana. Isi chat-nya masih sama. Tidak ada yang berubah. Tapi perasaanya mengapa merasakan keanehan? Coba saja Ora bicara padanya ingin kedaerah ini melalui chat, setidaknya Kara bisa bersiap-siap menjemput sang perempuan pujaan hatinya itu. Siapa tau Kara bisa mendapat untung. Sekali menjemput pulang dapat bonus buntut baru. Buntut yang sudah dia mimpikan sejak 1 tahun lalu. Buntut yang membuat dia dan ibunya selalu perang batin. Bagaimana tidak perang batin, Kara ingin merealisasikan impiannya itu namun lawan yang bisa membuat membuat impiannya menjadi nyata tidak ada. Ibunya selalu mewanti-wanti, tidak akan ada impian bila istri belum Kara miliki. Enak saja menebar benih ke sana kemari. Memangnya ibunya ini petani yang kerjaannya memanen bibit yang Kara sebarkan. Dia juga punya kesibukan sebagai nenek-nenek sosialita. Jadi jangan harap dia mau membantu Kara mengurusnya lagi. Dan sekarang ini Kara sedang berburu buntut baru. Maksudnya dia sedang merapungkan cita-citanya. Sejak mengenal tulisan dia suka sekali huruf vokal A, I, U, E, O .. Lalu apa hubungannya dengan buntut? Buntut Kara. Atau anak yang sekarang sudah dimiliki Kara berjumlah 4 orang. Ada Ucca, Elva, Afsheen dan Idni. Bila diperhatikan untuk melengkapi huruf vokal kesukaannya, dia harus membuat satu lagi sebagai pelengkap. Yaitu O .. Dan Kara berharap perempuan ini mau membantunya dalam melengkapi hurus vokal tersebut. Namun bila dia mau menambah koleksi dengan huruf konsonan, Kara siap sedia bertempur sampai menghasilkan 21 lagi. "Bli, ada tamu diluar," ucapan seorang pekerja rumah tangga menghentikan lamunan Kara. Laki-laki itu diam, memperhatikan wajah perempuan paruh baya di depannya dengan mimik serius. Tamu mana lagi yang datang ke rumahnya disiang bolong begini? Apa ini salah satu teman Ucca? Atau teman Elva? Bukannya keduanya sedang di kampus. Lalu tamu siapa? Dia sendiri tidak sedang menunggu tamu. Kecuali ... "Siapa?" Tanya Kara pada perempuan paruh baya yang baru 2 bulan dipekerjakannya. "Katanya mau ketemu Gek Sheen" Mau ketemu Sheen? Kok bisa? Bukannya Sheen masih di sekolah? Tamu mana lagi yang tersasar ke rumahnya? Jangan-jangan alasan saja ini berkata ingin bertemu Sheen. Tahu-tahunya ada modus dibalik semua itu. Kan dia tidak tahu, bisa jadi tamunya ini orang jahat yang ingin menghancurkan impiannya. "Mbok bisa tolong buatkan minum, biar saya lihat" "Baik Bli" angguknya menurut. Kara berjalan santai menuju ruang tamu. Di tangannya masih bersarang ponsel pintar yang menampilkan aplikasi pencarian jodoh itu. Dengan profil Ora yang cukup banyak menyita perhatiannya. Namun ketika sampai di pintu yang menghubungkan ruang tamu, langkah kakinya terhenti. Dia mengangkat pandangannya dari ponsel dan menatap ke arah depan dimana seorang perempuan duduk di single sofa. Dengan mulut yang terbuka, batinnya terus berteriak. Ya Tuhan, dia datang ... Refleks tangan Kara mengipas-kipas bagian panas yang menjalar disebagian wajahnya. Kurang ajar sifatnya yang satu ini. Mudah sekali dalam menghasilkan hawa napsu. Perempuan itu masih begitu menghipnotis dirinya. Dengan gaya yang sederhana dan rambut yang dibiarkan tergerai, membuat semakin liar fantasi dipikiran Kara. Sistem kerja otaknya mendadak tidak beres. Pikiran kotor langsung merajai otaknya. Padahal perempuan yang masih duduk tak jauh dari tempatnya berdiri belum tentu mau ber-duel dengannya. Kurang ajar, teriak batin Kara semakin menjadi. Dengan seenaknya, sebelah kaki perempuan itu dia tumpukan menjadi satu. Menambah pemandangan mulus dan indah untuk kedua mata Kara. Ini namanya ujian,batin Kara. Sambil meringis mengapit sesuatu ditengah-tengah pusat tubuhnya, dia mencoba berpikir jalam keluar yang akan diambilnya. Harus bagaimana agar keduanya saling mengenakan? Tapi semakin lama dia berpikir, semakin mendapatkan kebuntuan di otaknya. Bagaimana caranya dia mendekat? Kara yakin perempuan itu pasti mengeluarkan kartu siaganya. Pikiran licik perlahan menjelajahinya, mengapa dia tidak berputar arah. Dan muncul tiba-tiba dari belakang perempuan itu. Lalu sedikit meraba dibahunya hingga Kara bisa mulai mencuri-curi sentuhan pada bagian tubuh yang lumayan sintal. Oke!! Coba kita praktekan. Sambil menjalankan niat liciknya, dia melangkah keluar rumah melalui pintu belakang. Dan berniat masuk ke dalam melalui pintu depan. Tetapi ketika tubuhnya sudah berada di luar, seseorang memanggilnya dengan keras. "Woy, Pak!! Yang punya rumahnya ada?" Dia bilang apa? Yang punya rumahnya? Memangnya orang ini tidak tahu bahwa dirinya yang punya rumah. Sambil menahan kesal, Kara mendekati orang yang berdiri dibalik pagar rumah. Menatap lekat dari atas hingga bawah. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Gaya boleh juga, tapi sikap kayak preman pasar!!! "Cari siapa?" "Afsheen" Afsheen lagi, Afsheen lagi!!! Yang cari dia kapan? ____ Continue Udah sampai 500 belum taplovenya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD