Happy reading.
Typo koreksi.
___
Axel memandang tajam pemandangan hangat dan akrab yang sedang berlangsung didepan matanya, mereka bahkan mengabaikan keberadaannya yang sudah jengah ketika melihat wanita yang sudah dikenalkan ibunya sebagai CALON ISTRINYA. Entah apa yang dilihat ibunya selain wajah gadis itu yang cantik, karena pertemuan awal mereka siang itu sudah membuat penilaian buruk pada sosok cantik tersebut. Tapi, kini gadis itu sangat terlihat anggun dengan gaun pink peach long dress yang bahkan membentuk lekukkan tubuhnya yang indah.
Sialan. Batinnya ingin menyumpah serapah.
Mata indah itu bahkan seperti betina malu-malu ketika bertemu dengan sang jantan.
Pintar sekali gadis ini bersikap sok manis di depannya. Pikirnya.
Dan yang lebih memuakkan adalah Max bersikap nice kepada gadis itu dan bahkan terlihat Max lah yang cocok menjadi calon suami gadis itu bukan dirinya.
"Wah hebat ya, Nak Axel. Om bangga banget kamu sekarang sudah semakin dewasa dan matang. Padahal terakhir ketemu masih suka main sama Fahri." Lontaran pujian Albert kepada setelah Dika memberitahu apa saja pekerjaannya.
"Om, Pa saya permisi sebentar."
"Ah, iya silahkan Nak." balas Albert mempersilahkan anak yang akan menjadi menantunya itu pergi ke taman belakang.
Anggun yang duduk mengobrol bersama Max langsung mendongak melihat Axel jalan kearah taman belakang sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
"Samperin sana. Coba kenalan. Maklumin aja ya, kalau nanti dia ngomong ketus atau gimana. Anaknya emang gitu." Seruan Max membuatnya tersentak, tersenyum malu karena kepergok memperhatikan Axelnya yang sejak tadi mengobrol dengan ayahnya dan juga Om Dika ayah Axel dan Max.
"Anggun permisi sebentar ya Kak."
"Yup. Good luck beuaty." Anggun bangkit dari duduknya, mereka semua sudah selesai makan malam dan sekarang sedang mengobrol santai.
Sampai di taman Anggun bisa melihat Om Axel memijat pangkal hidungnya sendiri, gadis itu diam sejenak diambang pintu memperhatikan Axel lebih dulu.
"Om Axel."
"Astaga!" Lelaki itu terlonjak kaget saat membalikkan badan melihat sosok Anggun sudah berdiri didepannya dengan wajah manis.
"Om mau kemana?" Tahannya ketika melihat pergerakan Axel yang ingin memghindarinya.
"Saya mau masuk lagi."
"Masuk kemana?" Alis Axel terangkat bingung.
"Kenapa Om, nggak berusaha masuk ke hati aku."
Hah.
Rahang Axel nyaris jatuh mendengar kata abstrud gadis yang katanya calon istrinya itu bergidik geli.
"Kenapa saya harus masuk ke hati kamu. Kamu hanya calon kan belum ada kata final dalam hal perjodohan ini." Bibir Anggun mengerucut mendengar balasan Axel yang sebenarnya bisa saja membuatnya sakit hati, tapi ucapan Max tadi membuat gadis itu mencoba bersabar menghadapi sikap Axel kepadanya.
"Iya sih, belum final." Ia mengangguk bersidekap menatap Axel penuh minat dan menggoda. Gadis itu bahkan dengan sengaja menekan tangannya sendiri ke dadanya agar payudaranya yang tidak terlalu besar terangkat naik kebelahan gaunnya agar bisa terlihat Axel, yang justru berhasil membuat lelaki itu ikut geleng-geleng kepala melihat usaha Anggun.
"Saya tidak tertarik."
"Apa?"
"Punya kamu kecil dan saya tidak suka." Kedua tangan Anggun terlepas jatuh kesisi badannya dengan sorot mata kaget mendengar sindiran sarkas Axel barusan.
Mata gadis itu memicing berjalan maju selangkah membuat Axel ikut mundur. Tidak terima diejek kecil, Anggun kembali mendekati Axel yang memasang raut was-was kearahnya. Dan....
Brak.
Gadis itu terkekeh melihat Axel jatuh terduduk di bangku gazebo belakang rumahnya, lelaki itu melotot di balas senyum manisnya.
"Huh, daritadi dong Om. Duduk. Aku capek tahu. Kaki aku sakit banget pake hells tinggi ini."
Axel refleks ikut merunduk melihat kearah kaki mulus gadis itu yang sedikit memerah karena memakai sepatu tersebut.
"Ssshhh," rintihnya perih.
Axel mendongak menatap wajah Anggun dari samping, tampaknya gadis itu benar-benar kesakitan.
"Ck, dasar bodoh." Anggun memcoba mengabaikan kalimat pedas Axel untuknya.
"Om. Aku bolehkan kenal Om lebih dekat. Kata Tante Maya kita bisa kenal dulu. Kalau Om tetap merasa nggak cocok, kita berdua bisa batalin perjodohan ini." ucapnya lembut membuat Axel sempat tertegun.
Lelaki itu mengalihkan tatapannya memandang lurus kedepan dengan sorot mata yang sulit di jelaskan.
"Saya tidak cocok untuk kamu."
Anggun mendongak menatap wajah datar Axel dari sampingnya, pahatan sempurna itu terlihat di depan matanya membuat Anggun nyaris menubrukkan badannya ingin memeluk Axel.
"Aku juga nggak cocok buat Om." sahut Anggun santai.
"Aku tuh masih muda, cantik, enerjik, sedang Om sudah tua menang ganteng aja sih."
Mata Axel terbelalak mendengar celentukan gadis di dekatnya. Di tatap garang oleh Axel membuat Anggun malah tertawa pelan.
"Tapi bukannya itu namanya melengkapi kan Om. Aku melengkapi Om dan Om melengkapi aku." lanjutnya di balas raut tidak terbaca Axel.
"Saya bukan pria baik-baik Anggun."
"Kyaaa! senangnya Om panggil nama aku. Daritadi Om sibuk sama Daddy terus kan aku jadi nggak bisa dengar Om manggil nama aku." pekik gadis di sebelahnya membuat lelaki tampan itu memandang sosok cantik dan muda Anggun dengan tatapan aneh.
"Saya bukan pria baik-baik Anggun." ulangnya mencoba menarik eksistensi gadis itu lagi. Anggun menatap lamat sosok lelaki yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal bertemu.
"Kenapa? Apa Om pernah membunuh?"
Deg.
Tubuh Axel menegang, sorot dinginnya membuat atmosfer di sekitarnya terasa tidak nyaman.
"Tapi menurut aku Om nggak mungkin membunuh seseorang. Kalau Om pernah membunuh pasti Om nggak akan ada di sini di hadapan aku dan menjadi calon suamiku. Benarkan?"
Axel tidak menjawab, tatapannya yang sulit di jelaskan menusuk manik gadis di sampingnya.
"Daddy bilang di dunia ini nggak ada makhluk yang nggak pernah berbuat dosa. Contoh aku. Aku selalu menyusahkan mama, selalu di bangunkan mama kalau sudah kesiangan, buat masalah di kampus, dan bahkan buat masalah dijalan." Anggun tersenyum tipis mengingat begitu banyak dosa yang telah ia perbuat kepada kedua orangtuanya.
"Jadi, kenapa Om menganggap diri Om bukan pria baik-baik. Bahkan orang-orang yang membunuh sampai menghilangkan nyawa seseorang saja, masih bisa mendapat maaf kalau mereka benar-benar menyesalinya. Tuhan juga bisa memaafkan hambaNya lalu kenapa manusia nggak bisa."
Hening seperkian detik, Anggun menunggu balasan Axel atas persepsi yang keluar dari pikirannya.
Bagi Anggun semua manusia punya dosa. Jadi, apa yang salah kalau kita ingin memperbaiki kesalahan yang kita perbuat.
"Ya. Aku sudah membunuh seseorang."
Mata Anggun terbelalak nyaris keluar dari rongganya menatap Axel yang berkata dengan nada datar dan wajah serius.
Aku sudah membunuh seseorang. Otaknya mencerna ucapan lelaki yang akan menjadi calon suaminya dengan raut tidak terbaca.
"Aku akan membela Om."
"Apa?" seru Axel bingung.
"Aku akan membela Om kelak jika orang-orang menghakimi Om karena Om sudah membunuh seseorang. Aku akan menompang diri Om dan menjaga Om dari orang-orang yang akan menjelekkan calon suami aku. Mau?"
Axel menggeleng, menahan tawanya mendengar kata-kata konyol tidak masuk Anggun yang ingin melindunginya.
"Terima kasih Anggun." sahutnya lebih santai meski wajahnya tampak tidak berekspresi apapun.
Aku akan menyakiti kamu Anggun. Pria tidak baik-baik ini pasti akan menyakitimu. Batinnya.
___
Tbc>>>