Bab 11

1073 Words
Happy reading Typo koreksi ___ Sepasang anak adam dan hawa masih duduk dengan jarak yang dekat, Anggun mengikuti arah pandangan Axel yang melihat lurus ke depan tanpa ekspresi. Entah, apa yang di pikirkan lelaki itu Anggun sendiri tidak tahu. Setelah mnegucapkan terima kasih kepadanya lelaki tampan itu diam kembali tanpa perlu repot-repot mengajaknya berbicara. Berdehem, Anggun menoleh menatap wajah Axel dari samping dengan mata berbinar. "Om." panggilnya membuat Axel menoleh cepat, pandangan keduanya bertemu. Axel bisa melihat binar bahagia di manik indah milik gadia itu. "Om kenapa belum menikah? Umur Om sudah cukup matang kan?" Axel menggedikkan bahu acuh tanya tidak tahu. "Entahlah. Kenapa? Apa kamu mau membatalkan semuanya?" Bibir Anggun mencebik sebal. Belum coba kok di suruh batalin sih, ck. Gerutunya dalam hati. Melihat raut kesal Anggun membuat Axel menggeleng-geleng kepalanya dalam hati. "Apa menikah di lihat dari umur seseorang?" "Tapi kan Om sudah tu-- eh maksud aku Om itu kan sudah mapan, pasti cari istri juga gampang kan." ucapnya menyengir cepat saat Axel mendelik tajam kearahnya. "Istri bukan mainan Anggun." "Yang bilang mainan siapa juga sih Om." "Om beneran nggak suka sama aku?" Axel menggeleng cepat membuat bahu Anggun lemas, gadis itu memasang wajah betenya sebelum berdiri dengan ogah-ogahan. "Ayo masuk Om. Sebelum Om sempat batalin. Lebih baik kita teken dulu di dalam." "Teken?" beonya tidak mengerti apa yang di maksud calonnya tersebut. "Iya Om. Teken. Di cap dulu gitu. Pake materai sekalian. Biar Om nggak bisa batalin perjodohan ini seenaknya." Axel mendengus geli, mendengar kalimat abstrud Anggun kepadanya. "Kamu pikir aku ini berkas file." "Om kalau kita mau bikin KTP saja kan harus di cap cap dulu Om. Kalau tidak, mana bisa keluar itu KTP nya. Ayo Om. Kelamaan di belakang Om bisa kesambet penunggu rumah Daddy." Axel geleng-geleng, menatap punggung Anggun yang berjalan lebih dulu. Matanya melirik kaki gadis itu yang kembali memaksakan memakai sepatu high hells nya lagi. Ck, dasar bandel. Dua keluarga itu kembali berkumpul kali ini mereka duduk dalam satu ruangan yang memang sudah di sediakan dengan sofa berhadap-hadapan. Anggun duduk di tengah-tengah Mommy dan Daddy nya, sama seperti Axel yang duduk di tengah kedua orangtuanya. "Kayanya acara malam ini kita mulai saja ya, Al." ujar Dika memulai, semuanya mengangguk kecuali Axel. Lelaki itu hanya menatap lurus Anggun yang kembali bersikap malu-malu di depannya. Ia mendengus geli dalam hati. "Begini, Albert dan Kiana kedatangan kami ini sebenarnya ingin mempersunting putri kalian Anggun untuk menjadi menantu keluarga kami. Tapi, karena kedua anak kita belum saling mengenal. Mungkin kalian bisa mengijinkan mereka berkenalan lebih dulu. Cocok atau tidaknya kita serahkan sama keduanya. Axel juga sudah mapan dan dewasa usianya bukan lagi usia yang ingin main-main. Putra kami ingin ke jenjang yang lebih serius. Itu pun kalau Nak Anggun dan Axel sudah cocok kita sekeluarga bisa membahas hal lainnya. Bagaimana?" Axel terdiam kaku, menatap Anggun yang mengangguk malu-malu ketika ayahnya menanyakan apakah dirinya bersedia berkenalan dulu dengannya atau tidak. Kedua tangan Axel bertaut erat, keringat dingin membasahi telapak tangannya yang lebar dengan mata dingin. "Alhamdulillah." Seruan Ayahnya membawa Axel kembali pada kenyataan kalau gadis di depannya sekarang adalah sosok yang akan bertemu dengannya setiap saat. Mereka akan bersama dalam waktu yang tidak Axel ketahui akan berakhir seperti apa. Anggun berjalan di samping Axel yang tampak lelah, keluarganya sedang mengantar keluarga Wiradhana kembali ke mobil mereka. "Hati-hati di jalan, Dika. Terima kasih sudah datang." ucap Albert hangat kepada sahabatnya itu. "Baiklah, semoga semuanya lancar ya Al." Albert mengangguk mengaminkan. "Om, besok jemput aku ya." Alis Axel terangkat mendengar bisikan gadis di sebelahnya. Max tampak menahan tawanya karena lelaki itu nyatanya juga mendengar ucapan Anggun kepadanya. Axel mendelik tajam kearah kembarannya, lalu beralih menatap calon istrinya itu lekat. "Aku kerja Anggun." sahutnya, sudut bibir Anggun tertarik ke bawah wajahnya tampak sangat menggemaskan ketika gadis itu merajuk. "Terus Om kapan ada waktu jalan sama aku. Kata Om Dika tadi kan kita di suruh kenalan dulu. Kalau nggak ada ketemu gimana kita bisa saling kenal Om." cebiknya sebal. Anggun melipat tangannya di d**a dengan wajah kesal. "Baiklah, besok aku jemput kamu pulang kuliah. Oke." Wajah Anggun seketika berubah sumringah. "Terima kasih, Om." Cup. Bibirnya mengecup pipi Axel sekilas sebelum akhirnya gadis itu berlari kearah kedua orangtua mereka meninggalkan Axel yang terpaku dan Max yang tertawa pelan melihat tingkat calon kakak iparnya. ___ Sampai dirumah. Axel menghempaskan tubuhnya di atas kasur kasar setelah berada di kamarnya, bahkan panggilan kedua orangtuanya ia abaikan. Lelaki itu memilih mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, memejamkan matanya rapat-rapat. Menggeram ketika mengingat sekarang harinya tidak akan tenang dan sama seperti kemarin. Siap tidak siap lelaki itu kini sudah memiliki calon istri yang usianya setengah dari umurnya. Sial, apa kami nanti tidak terlihat seperti Om dan keponakan. Pikirnya baru menyadari jika usia mereka terpaut cukup jauh. Wajah Anggun terlintas lagi, bagaimana gadis itu menyembunyikan wajahnya malu-malu, bagaimana celoteh Anggun yang suka abstrud serta tindakan spontan gadis itu mulai menganggunya. Semua terlintas hanya beberapa detik saja sebelum wajah sosok yang selama ia coba hilangkan muncul kembali menganggu debaran jantungnya menjadi tidak nyaman. Pembunuh. "AVRIL." Kedua matanya terbelalak lebar napas tiba-tiba sesak. Kilasan samar peristiwa itu kembali terngiang, membuat gejolak perut Axel seketika naik menuju tenggorokkan minta keluar. Lelaki itu loncat dan berlari kedalam kamar mandi memuntahkan isi perutnya tidak nyaman. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, lelaki itu  membasuh mulutnya dengan air. Matanya yang biasa datar kini terlihat sayu dan kosong, Axel menggeser tubuhnya bersandar pada dinding samping wastafel dengan kepala mengenadah keatas menatap langit-langit kamar mandi yang gelap lelaki itu mencoba mengatur napasnya agar kembali normal meski nyatanya sulit. Hanya ada deru napas Axel terdengar memenuhi kamar mandi. Axel kembali memejamkan matanya saat wajah cantik sempurna serta binar penuh cinta itu menemani Axel yang tertarik kembali untuk terjebak lagi ke dalam selimut luka kelam. "Pem-bunuh." Suara bisikan menyayat hati kembali berdengung. Deg. Jantung Axel seperti di remas kuat nyaris berhenti berdetak, sorot itu berubah menjadi marah, kecewa dan terluka. Bayangan pertengkaran mereka malam itu terngiang, di susul dengan ceceran darah memenuhi ruangan datang silih berganti. Tubuh Axel mengigil, kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya luruh terduduk di lantai kamar mandi dengan rintihan sakit tertahan dari bibirnya Axel mencoba mempertahankan kesadarannya.. "Pem--bunuh." Kepalanya menggeleng kuat. Tidak. Tidak Avril. Jeritnya dalam hati berteriak keras. Jantungnya mencelos dengan tubuh menegang kaku ketika samar ia melihat sebuah pisau menancap di atas perut sosok di atas tempat tidur yang mengeluarkan darah segar merembes di atas seprai. Kepala Axel seperti baru saja di hantan ribuan ton besi membuat dadanya sesak. "Av-- Avril." lirihnya dengan napas kian tercekat susah payah, pandangan Axel tidak bisa lagi ia tahan hingga kesadaran merenggut Axel yang kembali jatuh pada lubang yang sama yang belum bisa ia kendalikan. Lubang gelapnya. ____ Tbc>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD