Happy reading.
Typo koreksi.
____
Mata yang cukup lama terpejam perlahan terbuka, dengan posisi duduk Axell Wiradhana membuka matanya badannya seperti mati rasa dinginnya lantai keramik kamar mandi menemani Axell yang entah berapa lama lelaki itu tidak sadarkan diri tadi. Axel mencoba bangkit dengan tubuh lemasnya. Beruntung tidak ada yang memergokinya dalam kondisi seperti saat ini. Axel berjalan keluar menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya yang masih lemas dan mencoba memejamkan matanya rapat-rapat. Axel merutuki dirinya yang masih belum bisa mengontrol dirinya ketika bayangan itu kembali muncul, hanya mengingat wajah itu saja mampu membuat Axel merasa tidak berdaya. Lelaki itu menggulingkan badannya menghadap jendela kamar, langit sudah gelap.
Berapa lama ia tidak sadarkan diri.
Bunyi suara dari perutnya membuat Axel meringis, merutuki dirinya sekarang. Jika ia keluar dalam kondisi lemas seperti ini pasti kedua orangtuanya akan menginterogasi dirinya. Tidak, mereka belum boleh mengetahui hal ini. Sebuah nama terlintas membuat Axel langsung duduk dan mencari ponselnya lalu mendial nomor orang itu cepat. Suara berisik menyambut gendang telinganya, membuat lelaki yang baru sadar beberapa saat itu menjauhkan ponsel menggeram kesal.
"Bara." desisnya.
"Sorry, sorry Bro. Ada apa. Guys sebentar ya. Ada big bog telepon." Axel bisa mendengar suara gelak tawa mengejek saling menyahut di ujung sana. Rahangnya mengeras, Bara pasti sedang bersama para pekerja wanita kantornya.
Ck, dasar kadal. Umpatnya dalam hati.
"Sorry, Xel. Ada apa?" tanya Bara disana.
"Lo bisa ke rumah sekarang."
"Kerumah lo? Ngapain?"
"Tolong, belikan nasi goreng dekat simpang tiga perumahan gue. Gue ganti tiga kali lipat."
"Anjir! Lo nyuruh gue ke rumah lo cuma buat beliin nasi goreng langganan lo. Wah parah lo Xel. Ogah ah." Mata Axel melotot meski Bara tidak bisa melihatnya.
"Oke. Beneran nggak mau Bar?"
"Aish, sialan lo. Iya iya gue kesana. Dasar gila lo. Nyuruu gue datang cuma buat beli nasi goreng. Ganti sepuluh kali lipat ya." Axel mendengus.
"Terserah."
Tut.
Sambungan diputus sepihak oleh Axel, lelaki itu menarik napas panjang sebelum beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas membersihkan diri.
Empat puluh lima menit kemudian Axel sudah duduk di balkon kamar bersama Bara yang menatap dirinya tanpa kedip melihat bagaimana cara Axel makan dengan sangat lahap. Mata lelaki itu mengerjap beberapa kali dengan mulut nyaris meneteskan air liurnya.
Sialan, tahu gini gue beli dua tadi. Gerutunya kesal sendiri.
"Lo udah makan Bar?"
"Sudah." sahutnya pelan. Dalam hati mengumpati sikap Axel yang telat menawarinya.
"Xel, lo baik-baik aja kan?" Gerakan tangan lelaki di depannya terhenti seperkian detik, sebelum suara denting sendok terdengar membuat Bara menahan napasnya takut salah bertanya.
Axel menatap lurus kedepan duduk tegak.
"Bar, bisa jadwalin konsul gue sama dokter Selly."
Kedua mata Bara terbuka lebar, menelisik penampilan Axel yang memang sedikit pucat.
"Xel, lo--"
"Iya, gue. Gue ngalamin hal itu lagi." Bara mengatupkan mulutnya kaget.
"Gue hubungin dokter Selly dulu. Tapi please Xel, kali ini aja lo harus benar-benar bertekad Xel. Lupain kejadian itu. Lo sahabat gue. Gue nggak mau kalau nanti penyakit lo kambuh. Gur mohon."
"Kalau elo masih nggak dengar omongan gue. Jangan salahin gue, kalau nanti keluarga lo tahu tentang hal ini. Please, gue benar-benar pengen lo sehat lagi Xel. Tujuh tahun gue rasa waktu yang cukup buat lo nyalahin diri lo. Semua bukan salah lo. Dan Av-- sorry Xel dia juga pasti nggak nyalahin lo. Percaya sama gue."
Pembunuh. Keringat dingin membasahi pelipis Axel dengan mata bergerak gelisah.
Bara menyentuh tangan sahabatnya pelan. "Xel. Xel. Hei, AXEL!"
Tubuh Axel tersentak, matanya berubah sayu dan kosong memandang Bara di depannya.
"Bar ... gue."
"Bukan salah lo. Sialan dengerin gue bukan salah lo b**o. Jangan mendoktrin pikiran lo sama kalimat itu Nji*g." marah Bara kepada lelaki yang kini terlihat berbeda dari yang orang-orang kenal.
"...." Axel tidak merespons apa yang di ucapkan Bara kepadanya.
"Anji*g, sial banget gue hari ini." umpatnya menyumpah serapah.
Bara segera mendial nomor seseorang, mengatakan apa bisa bertemu sekarang mendengar balasan orang di seberang membuat hati Bara sedikit lega.
"Xel, kita ke apartement gue ya. Dokter Selly nanti on the way kesana." Melihat tidak ada reaksi bagus oleh sahabatnya membuat Bara bangkit dan menampar wajah Axel keras.
Plak.
"Sadar sialan. Gue yakin lo nggak pernah minum obat resep dokter Selly lagi. Xel, jangan cari mati dong. Gue nggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama lo. Bisa di hajar Max gue nanti njir." Axel merunduk dan mengatakan kata maaf.
"Sekarang yang penting kita keluar dulu. Gue harus bisa bawa lo keluar tanpa ada yang curiga. Lo tunggu disini dulu. Biar gue lihat orang-orang di bawah dulu."
"Kita jalan bareng aja Bar, nggak apa-apa."
"Nggak! Sssttt, diam aja deh. Gue keluar bentar."
Axel menatap punggung Bara dengan perasaan yang berangsur-angsur tenang. Pipinya masih terasa perih.
Kuat banget lo nampar gue Bar. Batinnya dalam hati ingin mengumpat.
Melihat kedatangan Bara yang terlihat seperti maling membuat Axel menahan sudut bibirnya untuk tidak menertawakan lelaki itu sekarang.
"Sepi, njir. Yuk cabut. Lo udah sadar kan Bro." Axel hanya mengangguk berdiri meski dengan tubuh lemas lelaki itu tidak ingin merepotkan Bara lagi.
Mereka akhirnya benar-benar bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan kedua orangtua Axel yang ternyata sudah tidur. Mobil Bara melaju cepat menuju apartementnya. Membiarkan Axel menikmati jalan raya di malam hari.
Gue mau lo sembuh Xel. Lupain Avril.
___
Di tempat lain, seorang gadis terlihat tengah menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya, Joana dan Sella di dalam kamarnya.
"Tumben banget elo ngerapiin kamar."
"Iya, harua dong. Kan bentar lagi gue jadi istri orang. Ya harus bisa ngurus rumah kan."
Uhuk.
Joana yang sedang makan kacang langsung tersedak, Sella sampai menjatuhkan ponselnya kelantai kamar saking kagetnya.
"Lo ngomong apa nyet!" pekik keduanya serentak, bibir Anggun Qaisha Dimitri menekuk menatap sebal sahabat-sahabatnya.
"Gue mau nikah."
"Hah!"
"Wah gila, lo kesambet apaan. Nikah sama siapa? Pacar aja nggak punya lo. Ya kan Sel."
"Ho'oh. Ngehalu aja lo."
Bugh.
Bugh.
"Aww." Anggun melempar Joana dan Sella dengan bantal sofa miliknya cepat. Matanya mendelik, menatap kesal keduanya.
"Dasar ngeyel lo berdua. Lihat aja besok, gue di jemput CALON SUAMI. Wlee." Joana dan Sella malah tertawa mengejek Anggun dan memgancam untuk tidak coba-coba membohongi mereka.
"Ya. Pokoknya lihat aja besok. Awas ya. Kalau kalian ketemu, wajib traktir gue satu bulan penuh."
"Deal! Kalau lo bohong kita berdua wajib lo traktir gimana. Oke kan." Anggun mendengus melempar gaunnya kearah Joana sebal.
"Deal." jawabnya membuatnya Joana memekik senang.
Gadis itu yakin kalau Anggun hanya menghayal saja.
Dasar, rasain deh kalau lo kalah besok. Ejek Joana girang tidak sabar menunggu hari esok.
Sedangkan Anggun memasukkan sisa-sisa bajunya yang berserakan dengan pipi menggembung, dalam hati mengancam Axel yang sekarang tidak ada di depannya.
Awas aja kalau Om nggak datang. Aku cium kalau ketemu.
___
Tbc>>>