Happy reading.
Typo koreksi.
___
Seorang lelaki berpakaian kemeja biru langit dengan celana jeans pendek, menatap seorang wanita cantik tengah memasangkan jarum infus di lengan sahabatnya. Sosok di atas tempat tidurnya bahkan sudah terlelap setelah wanita bernama Selly memberinya obat bius penenang.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
Selly menegakkan tubuhnya, menatap Bara dengan senyum simpul tipis.
"Untuk sekarang dia masih bisa menahannya. Aku akan buat jadwal terapi Axel lagi. Kamu masih bisa menemaninya kan untuk datang kesana? Saat ini biarin dia istirahat? Setelah pemeriksaan besok berjalan kita akan mengetahui apa ia mengalami hal itu lagi." papar sang dokter menjelaskan.
Bara menatap Axel dengan tatapan miris. "Apa dia bisa sembuh Dok?"
"Setiap pasien yang menderita depresi bisa sembuh Bara, tergantung apa dia bisa mengatasi trauma dan masalah yang tengah ia pikul sendiri. Dan faktor orang-orang sekitar yang mendukungnya bisa membawa dampak baik bagi pasien. Karena itu saya mohon untuk kamu dan kalau bisa keluarga Axel mensupport dia."
"Tapi, keluarganya belum tahu tentang masa lalu Axel Sel." ucap Bara tidak lagi memanggil kata dokter lagi pada sosok di depannya, karena ia butuh teman berbagi keluh kesah.
Selly menghela napas pendek, menatap lelaki yang sudah menjadi pasiennya selama enam tahun belakangan ini.
"Saran aku beritahu mereka Bara. Mungkin dukungan moril dari mereka bisa menggairahkan semangat Axel untuk tidak lagi terjebak dalam bayangan masa lalunya. Semua sudah berlalu Bara dan Axel berhak bahagia karena dia tidak bersalah. Kamu tahu itu kan? Axel hanya mendoktrin dalam hatinya kalau semua adalah salah dia."
Bara termenung, menatap Selly dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Lelaki itu menatap Axel yang deru napasnya terlihat beraturan sejenak.
"Akan aku coba Sel."
"Hmm, bagus kalau begitu aku pulang dulu ya Bar. Setelah obat penenangnya habis dia akan sadar, dan aku minta kamu tolong kasih Axel obat ini. Karena aku tahu dia pasti tidak pernah minum obat lagi. Jadi tolong paksa dia minum obat ini. Besok akan aku kosongkan jadwal untuk Axel. Sampai ketemu besok Bara." Lelaki itu mengangguk, menerima obat yang di berikan Selly lalu mengantar wanita itu keluar apartementnya.
"Terima kasih Selly." ujar Bara saat di ambang pintu, di balas senyum ramah Selly yang kemudian berjalan menjauh. Bara masuk kembali ke dalam apartement berjalan menuju dapur kecilnya, lelaki itu membuka botol air mineral dan meminumnya. Lelaki itu menghembuskan napas berat, kepalanya berdenyut memikirkan bagaimana caranya mengatakan semua hal tentang masa lalu Axel kepada keluarga lelaki itu.
Sialan jadi pusing gue. Umpatnya kesal.
____
Keesokkan harinya gadis di dalam kamar berdominasi warna pink pastel tampak bersemangat dan sudah bersiap-siap untuk jam kuliah pertamanya nanti. Ketukan pintu terdengar membuat dirinya bergegas membuka pintu, raut terkejut melihat sosok putrinya yang sudah rapih dan cantik di depan matanya.
"Anggun."
"Pagi Mom."
Kiana tampak mengucek matanya sekali, memastikan jika benar sosok di depannya sekarang adalah Anggun Qaisha Dimitri putrinya.
"Kamu kesambet apaan?"
Bibir Anggun mengerucut memdengar sindiran ibunya, gadis itu masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil tas sling bagnya.
"Mom, Anggun ada kelas pagi hari ini."
"Biasanya meskipun kamu ada kelas pagi, selalu Mommy yang bangunin kamu." celetuk Kiana sambil berjalan beriringan turun ke lantai bawah bersama putrinya yang memutar bola matanya malas.
"Ah! Mommy tahu. Semua karena nak Axel kan? Kamu mau berubah karena dia? Iya? Ck, dasar anak pemilih."
Anggun menyengir kuda memeluk lengan ibunya saat mereka sudah berada di lantai bawah, Albert menggeleng dari kejauhan melihat interaksi istri dan juga putrinya.
"Pagi Daddy." sapanya ceria berjalan mendekat Albert dan mencium pipinya sayang.
"Kalau tahu anak Daddy bisa urus dirinya sendiri tanpa disuruh-suruh. Seharusnya dari lama Daddy carikan kamu calon suami ya."
"Daddy." cicitnya dengan semburat merah malu, Albert tertawa sedangkan Kiana mendengus geli.
Pagi itu Anggun benar-benar tampak senang dan tidak sabaran menunggu Axel yang berjanji akan menjemputnya.
Sedangkan di apartement Bara tampak suasana suram melingkupi kamar si pemilik rumah. Bara memandang kesal sikap keras kepala Axel sahabatnya.
"Xel, mereka harus tahu tentang ini!" geram Bara lelah.
"Nggak Bara."
"Kenapa elo bersikeras nggak mau bilang sama mereka. Kenapa? Mereka keluarga lo Xel. Orangtua lo, Max pasti khawatir sama keadaan lo sekarang."
"Dan biarin mereka tahu kalau gue sempat depresi."
Deg.
Tubuh Bara menegang kaku mendengar suara putus asa Axel.
"Xel, percaya sama gue. Mereka nggak mungkin menghakimi lo Xel. Semua bukan salah lo."
"SEMUA SALAH GUE. SEHARUSNYA GUE NGGAK BIARIN DIA SENDIRIAN MALAM ITU. DIA ... DIA NGGAK MUNGKIN--" gejolak perut kembali naik lelaki itu bergegas lari kekamar mandi membuat Bara menatap nanar sahabatnya.
Suara muntahan terdengar dan Bara mencoba kembali mengajak Axel berbicara pelan-pelan.
"Xel, lo pantas bahagia. Avril nggak mungkin senang kalau lo seperti sekarang. Dia cinta sama lo dan pastinya Avril mau lo nggak menyalahkan diri. Karena bukan salah lo." ucap Bara lembut. Ia beranjak meninggalkan bayangan tubuh Axel yang berdiri di depan wastafel kamar mandi.
Kepergian Bara membuat suasana semakin mencekam dan suram, Axel membasuh wajahnya dengan kasar. Melihat pahatan wajahnya di balik cermin membuat lelaki itu menggeratkan rahangnya.
Lo nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi Bar. Batinnya pelan.
___
Di kampus Universitas tempatnya mengemban ilmu, Anggun dkk duduk di kantin kampus. Seorang pemuda menghampiri meja mereka berdiri menjulang membuat salah satunya mendengus dalam hati.
"Anggun, nanti pulang gue antar ya. Ada event keren di GI loh." seru pemuda tampan yang tengah menjulang tinggi di samping mejanya dengan senyum lebar.
Anggun memutar bola matanya jengah, sebal ketika melihat ketua BEM itu selalu mencoba mendekatinya.
"Maaf ya Kak Putra. Aku sudah ada janji." Putra menghela napas pelan mendengar penolakan Anggun kepadanya. Sebagai ketua BEM tentu saja hal itu mengusiknya, Anggun bahkan selalu bersikap acuh kepada dirknya yang mencoba PDKT pada gadis cantik tersebut.
"Kamu sudah ada yang jemput? Aku lihat kamu naik mobil Joana tadi pagi? Mobil kamu kenapa mogok?"
Anggun mulai jengah, gadis itu berdiri mendongak menatap putra yang lebih tinggi diatasnya. Pemuda itu tersenyum menawan yang mampu membuat kaum hawa di sekitar mereka langsung terpesona kecuali anggun.
Putra tidak jelek, pemuda itu tampan, tajir dan humble. Tapi Anggun tidak menyukainya karena pemuda itu terlalu tebar pesona menurut Anggun.
"Maaf banget ya Kak Putra. Mobil aku baik-baik aja kok. Aku pulang di jemput tunangan aku. Makanya aku nggak bisa ikut Kakak. Soalnya tunangan aku itu orangnya cemburuan banget. Hmmm bisa bahaya kalau aku ikut Kakak. Maaf ya."
Mulut Putra menganga mendengar perkataan gadis yang sudah ia incar lama itu. Melihat Anggun yang kembali duduk dengan tampang cuek seolah ucapannya tidak membuat malu Putra membuat wajah pemuda itu seketika merah padam. Malu dan kesal.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Putra beranjak meninggalkan suasana kantin yang mulai berisik membicarakan kejadian barusan.
"Gila lo nyet. Kak Putra kayanya malu deh elo gituin tadi." ucap Joana setengah tidak percaya atas tindakan sahabatnya itu, sedangkan Sella tertawa geli di tempatnya.
"Gue penasaran kaya gimana tunangan-tunangan halu lo itu." cibir Joana di balas delikan tajam mata Anggun dan gelengan kepala Sella yang membiarkan Joana mengejek sahabatnya tersebut.
"Gue bakalan buktiin sama kalian kalau calon suami gue pasti datang." ucap Anggun menggebu-gebu.
Krik.
Krik.
Krik.
Suasana sunyi area parkir membuat Joana dan Sella puas menertawakan raut masam Anggun setelah mereka menunggu hampir dua jam di area parkir kampus. Kendaraan mahasiswa sudah banyak yang pulang dan hanya menyisahkan beberapa saja.
"Jadi ... mana CALON SUAMI nya." ejek Joana puas.
Wajah Anggun merah padam, tangnnya mencengkram tali tasnya erat. Dalam hati menyumpah serapahin Axel yang tidak datang menjemput.
"Traktir ... traktir ... traktir."
Anggun menoleh menatap wajah menyebalkan Joana dengan tangan terangkat dan bergerak-gerak seperti ingin mencakar.
"Dasar nyebelin lo berdua." sentaknya mengundang gelak tawa kencang kedua sahabatnya.
Awas aja ya Om. Aku balas, udah bikin aku malu hari ini.
____
Tbc>>>