Bab 14

994 Words
Pulang ke rumah dengan wajah masam tertekuk tentu bukan hal yang ingin di lihat oleh Kiana maupun Albert ketika melihat putri bungsunya yang padahal tadi pagi berwajah cerah bak mentari kelebihan sinar kini wajahnya terlihat seperti awan mendung. Suram. Kiana hendak memanggilnya putrinya ketika gadis itu berlalu begitu saja melewati kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. Kiana menggeleng sedangkan Albert menatap lamat punggung putrinya. Pria paruh baya itu merogoh saku celana bahannya, karena beliau juga baru pulang kerja. Albert mendial nomor seseorang yang sudah ia minta kemarin tanpa ada jawaban sama sekali. Sekali lagi Albert mencoba dan mendapat suara operator. "Mas, apa nak Axel nggak jadi jemput Anggun ya. Makanya muka anak kita jadi masam gitu." Albert menggedik bahu tidak tahu. Tangannya mencengkram telepon genggamnya erat. Jangan sampai membuat saya marah Axel. Batinnya menahan marah. Tak lama putri kesayangannya itu turun lagi dengan pakaian rapih seperti akan pergi keluar. Albert berdiri memanggil anak perempuannya itu membuat Anggun tersentak dan terkejut menatap kemunculan kedua orangtuanya yang tidak dia sadari. "Daddy Mommy! Sudah pulang?" tanyanya seperti orang bodoh. Albert meminta Anggun mendekat, gadis itu menurut mendekati ayahnya. Tatapan ayahnya begitu penuh selidik membuat Anggun meneguk ludahnya sudah payah. "Dad, aku ada janji sama Joana dan Sella." ucapnya lebih dulu seblum di tanya apa-apa oleh Albert "Daddy belum ngomong apa-apa.” balasnya membuat Anggun meringis. “Daddy mau tanya? Kamu kenapa cemberut tadi? Apa ada yang menyakiti kamu? Siapa orangnya bilang sama Daddy." "Daddy. Aku nggak cemberut kok. Aku baik-baik aja Dad. Daddy tenang ya. Aku nggak ada masalah apapun." "Nak Axel jadi jemput kamu tadi anggun?" Tubuh Anggun terkesiap, ia menoleh cepat menatap Kiana yang juga terlihat ingin menginterogasinya. "Ah! Mmm … tidak Mom.” "Ap--" "Om Axel bilang dia ada rapat penting Mom. Makanya Anggun pulang naik taksi. Mommy jangan marah sama om Axel. Om Axel sudah minta maaf kok karena nggak bisa jemput Anggun. Sekarang Anggun mau jalan dulu sama Joana dan Sella Dad Mom. Anggun boleh pergi kan Dad?" paparnya terlihat benar-benar meyakinkan nada bicaranya, Anggun tidak mau kedua orangtuanya maarah dengan Axel karena ingkar janji lelaki itu padanya. Albert mendesah pelan sebelum mengangguk saja, sedangkan Kiana yang belum 100% percaya hanya bisa diam menatap intens putrinya seraya mencoba mencari kebohongan. Anggun tersenyum tipis, segera berpamitan dengan kedua orang tuanya buru-buru. Gadis itu harus segera pergi sebelum Kiana menginterogasinya lebih lanjut. “Mas,” protesnya. “Biarkan saja dulu, Mas mau melihat bagaimana nak Axel memperlakukan Anggun setelah ini. Kalau dia tidak baik, Mas sendiri yang akan langsung membatalkan rencana perjodohan mereka.” “Tapi, Mas--” “Sssttt, kamu tenang dulu ya Sayang. Aku juga nggak mungkin ngebiarin dia nyakitin Anggun Sayang.” “Pokoknya Mas harus bisa jaga Anggun, biarpun Mommy sering marahin Anggun tapi dia tetap putri kita Mas dan Mommy sayang sama Anggun.” “Iya Sayang.” balasnya. Tentu. Albert juga tidak mungkin membiarkan siapapun menyakiti putrinya dan membuat anak-anaknya menangis. Bahkan sekalipun itu Axell Wiradhana putra sahabatnya. ___ Anggun melajukan mobilnya diatas rata-rata menuju alamat rumah seseoang bukan kafe seperti yang dikatakannya tadi kepada kedua orangtuanya. Sumpah serapah terus ia lontarkan dalam hati untuk sosok laki-laki yang sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Empat puluh lima menit kemudian, mobilnya sudah terparkir diluar pagar berwarna putih menjulang tinggi. Gadis itu membuka kaca mobilnya ketika seorang security mengetuk kaca jendelanya. Senyum ramah Anggun berikan ketika beliau bertanya ingin bertemu dengan siapa, bapak security tampak menghubungi seseorang lewat telepon dantak lama pintu gerbang terbuka lebar. Gadis itu dipersilahkan memasukkn mobilnya kedalam, Anggun segera turun dari mobilnya mengeluarkan paper bag bingkisan kue yang ia beli saat dalam perjalanan kesini. Pintu rumah utama bercat senada dengan gerbang terbuka, Anggun tersenyum manis ketika seorang wanita paruh baya mnyambut hangat kedatangan dan memeluk erat gadis itu. Anggun tertawa kecil, menanyakan kabar calon mertuanya dengan sangat sopan. “Tante apa kabar? Maaf ya Tan, Anggun datang kesini nggak bilang-bilang Tante. Padahal tadinya pas pulang jalan sama Om Axel, Anggun mau mampir ke sini bentar. Eh, tahunya jadi juga kesini sendirian.” kening Maya terangkat mendengar penuturan calon menantunya. “Tunggu dulu? Maksud Anggun kamu nggak lagi bareng sama Axel?” gelengan kepala Anggun berikan bahkan gadis itu sudah gemas ingin mencubit Axel karena lelaki itu ingkar janji kepadanya. “Astaga! Kemana anak itu? Mama pikir Axel berangkat pagi-pagi karena ingin antar kamu ke kampus. Soalnya sejak pagi anak itu sudah pergi. Kalau bukan ketempat kamu, itu anak kemana sekarang. Ya ampun, Axel. Sebentar ya Sayang, Mama telepon Axel dulu.” Maya tampak marah` bingung dan tidak enak kepadanya. Selama menunggu tante Maya mencoba menghubungi lelaki itu Anggun berjalan kearah sudut lemari kaca berisi banyak koleksi dan berbagai foto keluarga Wiradhana. Kedua sudut bibir Anggun tertarik melihat wajah tampan Axel sejak dulu, lalu matanya beralih pada foto dimana Axel masih sekolah duduk berdua dengan Max kembaran laki-laki itu tampak sangat menggemaskan. “Sayang, maaf ya. Nomor Axel tidak bisa dihubungi. Mama juga sudah telepon Max, kita tunggu kabar dari Max saja ya. Mungkin Axel ada meeting makanya dia nggak jadi pergi sama kamu.” Anggun mngangguk mengerti. “Baik Tante, tidak apa-apa.” ujarnya. “Tante ini Om Axel kan?” tunjuknya bertanya memandang wajah bayi tertidur di ayunan bayi. “Iya, Sayang. Itu Axel. Tampan kan?” kekeh beliau, Anggun mengangguk membenarkan dengan sorot mata penuh binar. “Tapi Sayang jangan panggil Tante lagi dong, panggil saja Mama. Mama, ya?” lanjut beliau dengan lembut, gadis itu mengangguk mau. Siang itu akhirnya Anggun habiskan berdua bersama Maya sambil menunggu kepulangan calon suaminya itu. Di waktu yang sama berbeda tempat, Axel tampak duduk tegap dengan tubuh menegang di tempatnya. Ruangan sunyi berdominasi warna putih sekarang ini adalah tempat yang selama lima tahun terakhir Axel hindari. Cukup satu tahun saja leleki itu terjebak dalam ruangan yang hanya ada dirinya dan seorang dokter. Pintu terbuka, wanita cantik dengan jas putih memasuki ruangan itu dan berjalan dengan postur hangat menyambut kedatanagn disana. Axel memutar bola matanya, ketika mendapat senyum lebar dokter Selly kearahnya. “Apa bisa kita mulai sekarang, Axel?” tanya dokter Selly ramah dibalas tatapan malas lelaki itu. Sialan lo Bar, awas aja. Umpatnya mengingat wajah melas Bara dan ancaman lelaki itu kepadanya ketika di apartement tadi. Axel yang terpaksa memulai sesi konsultasinya dengan Selly itu tampaknya benar-benar melupakan  sesuatu. melupakan janjinya kepada Anggun, hingga gadis itu terpaksa pulang kerumah dengan hati kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Axelnya. ____ Tbc>>      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD