Bab 18

1002 Words
Happy reading. Typo koreksi. ___ Saat kembali ke kamar hotel tempat dirinya akan menginap Axel tertegun melihat wajah polos Anggun yang sudah terlelap tidur di atas kasur dengan lampu menyala terang. Axell Wiradhana hanya bisa mendesah gusar, kembali tidak nyaman memikirkan sikapnya beberapa saat lalu kepada gadis itu. Axel mencoba mengabaikan keberadaan Anggun yang mengganggu hati dan juga pikirannua. Ia pun memilih duduk di sofa dengan tubuh yang benar-benar lelah, tapi sayangnya rasa kantuk yang beberapa saat lalu hinggap kini sudah menguap entah kemana. Helaan napas terdengar pelan. Axel menatap lurus pada sosok yang lelaki itu akui memiliki wajah sangat cantik. Axel yakin banyak kaum adam yang menaruh hati pada sosok Anggun Qaisha Dimitri tersebut. Gadis itu berhasil membuat dirinya tidak tenang hingga Axel harus menghabiskan beberapa batang rokok di atap rooftop hotel seorang diri. Karena rasa bersalahnya pun Axel nyaris memesan kamar hotel lagi untuk dirinya, jika saja lelaki itu tidak mengingat bagaimana raut memohon Anggun kepadanya agar mau menemaninya tidur di sana. Apa perjodohan ini akan berhasil. Batinnya merasa tidak yakin sambil menatap wajah Anggun yang memang tengah menghadap kearahnya. Bibirnya yang tipis merona alami, kulitnya yang putih mulus, juga rambut panjang melewati bahunya membuat gadis itu tampak sangat polos di atas tempat tidur. Berbanding terbalik dengan sikap cerewetnya ketika tidak dalam keadaan tidur. Pikiran Axel kini semakin kusut dan bercabang, perjodohan ini ingin lelaki itu batalkan. Tapi, ada keluarga besarnya yang juga lelaki itu pikirkan. Bagaimana reaksi keluarganya jika Axel membatalkan perjodohan ini dalam waktu dekat. Apa mereka akan menyetujui hal tersebut. Melihat bagaimana sikap ibunya kepada gadis itu, Axel sangat yakin jika ibunya sudah menyukai gadis itu dan hal itu membuat ia semakin sulit memutuskan rencana perjodohan ini kecuali Anggun sendiri yang ingin membatalkan. Ya. Benar. Jika ia ingin terlepas dan melepaskan calon istrinya itu. Tentu Axel harus membuat Anggun menjauhinya. Bagaimanapun caranya. Tring. Notifikasi pada layar ponselnya  membuat lelaki itu merogok saku celananya. Sebuah pesan singkat masuk dan pesan itu dari Bara sahabatnya. Bara Lo hutang penjelasan sama gue tentang cewek tadi dan satu lagi, gue harap lo harus memikirkan saran dokter Selly tadi. Ingat Xel, ini semua demi masa depan lo. Mendapat pesan itu tentu tidak membuat Axel nyaman. Selly. Ya, tentu saja Bara akan terus mendesak dirinya untuk kembali fokus melakukan proses terapi penyembuhan lagi dengan dokter Selly. Di tambah lagi pihak keluarganya yang tentunya belum mengetahui hal ini membuat hatinya masih merasa was-was. Axel juga tidak ingin Anggun dan keluraga besar gadis itu mengetahui penyakit depresi yang di alaminya. Meski kondisinya tidak separah dulu, Axel tidak ingin ada yang mengungkit masa lalunya lagi terlebih itu adalah keluarganya sendiri. Mama, papa dan Max tidak perlu mengetahui hal ini sampai kapanpun. Lelaki itu sudah bertekad akan mencoba sembuh untuk dirinya sendiri. Kelak, jika hatinya sudah bisa menerima apa yang terjadi di masa lalu. Barulah ia akan menceritakan semua hal tentangnya. Karena bagi Axel, sosok Avril tetap akan tersimpan dalam hatinya. Tidak peduli seberapa luka itu akan terus mengoyaknya. Karena tidak ada yang tahu, betapa besar perasaan Axel ketika mencintai Avril tanpa menuntut lebih. Mengingat paras cantik yang sudah menemaninya di masa lalu itu, tentu bukanlah hal yang menyenangkan jika kenangan indah kebersamaan mereka berubah bagai duri neraka yang bisa kapan saja mencuat keluar menancapkan racunnya. Axel menghembuskan napas gusar, lelaki itu menarik napasnya panjang agar bayangan kelam itu tidak kembali muncul. Ketika napasnya mulai tidak beraturan lelaki memejamkan matanya sejenak ketika kembali membuka kedua bola matanya wajah polos Anggun terlihat jelas di hadapannya membawa rasa tenang yang entah datang darimana. Ditatapnya lekat wajah itu, tidak ada yang berbeda tetap sama. Tapi memandang wajah itu membuat deru napasnya yang tadi sedikit sesak mulai kembali beraturan dalam waktu singkat. "Anggun." bisiknya memanggil si pemilik nama itu dengan nada ragu. "Anggun." "Anggun." "Anggun." Axel terus memanggil nama itu dengan nada pelan agar tidak menganggu gadis di depannya. Tangan Axel terulur menyentuh dadanya, detakan jantungnya sudah normal tidak ada rasa terhimpit setiap Axel mulai membayangkan masa lalunya. "Avril." Deg. Bayangan wajah ceria dan senyum lebar wanita yang dicintainya terlintas membawa gelanyar sesak dalam hatinya. Axel menutup matanya tiga detik lalu kembali memandang intens sosok Anggun dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Kemudian lelaki itu tertawa miris, merasa aneh sekaligus bingung dengan jantungnya saat ini. Mengapa hanya melihat wajah Anggun dan memangil nama Anggun dalam hatinya, perasaan gelisah itu hilang menguap dalam sekejap. Tidak. Gelengnya tidak percaya dengan senyum mengejek. Tidak mungkin. Anggun bisa membuat hatinya berubah hanya melihat wajah polos gadis itu. Bahkan Axel bisa menghabis waktu lama agar perasaannya kembali membaik setiap bayangan Avril mengusik pikirannya. Apa yang kamu perbuat Anggun, tidak mungkin kamu bisa ... Axel tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati tempat tidur. Matanya memicing tajam, tepat di samping tempat tidur lelaki itu terdiam kepala sedikit dimiringkan karena merasa aneh ketika memandang wajah di hadapannya sekarang. Aneh. Hatinya menjadi teduh hanya karena melihat betapa manis dan polosnya wajah Anggun ketika tidur. Sial. Umpatnya menyumpahi diri sendiri. Tanpa sadar Axel sudah duduk di tepi tepi tempat tidur dengan sorot yang semakin sulit di artikan. "Kenapa kamu buat saya merasa tidak nyaman sekarang Anggun. Saya ingin mengakhiri hubungan ini. Agar saya tidak menyakiti kamu lebih dalam. Jangan mencintai saya, karena semua akan berakhir sia-sia." ucap Axel dengan nada yang berubah dingin dan datar. Jujur. Axel benar-benar tidak suka ketika keberadaan Anggun mulai mengusiknya. Dan perasaan aneh yang terjadi saat dirinya hanya memanggil nama dan melihat wajah polos Anggun tentu tidak bisa Axel terima. Tidak. Dia tidak menyukai gadis bernama Anggun Qaisha Dimitri di depannya saat ini. Ya. Dia tidak suka. Lalu apa arti gerakan tubuhnya yang sudah membungkuk ini. Memegang pinggiran ranjang untuk menahan bobot berat badannya serta kepalanya yang sudah turun dan sejajar di depan wajah Anggun. Apa arti sorot mata ingin lebih yang tiba-tiba terpancar dalam manik mata tajamnya untuk sosok yang bahkan tidak merasa terusik ketika deru napasnya menerpa wajah polos itu. Apa maksud semua ini. Sialan. Axel menggeram dalam hati, menahan gejolak sesak di dadanya yang membuat perutnya terasa melilit. Axel terus mengumpat, ketika naluri lelaki itu memintanya menutup matan dan mendarat bibirnya keatas kening Anggun dengan sangat hati-hati dan mengecupnya pelan. Cup. Ah! Sial benar-benar ... Brengsek kamu Axel. ___ Tbc>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD