Bab 19

1030 Words
I'm Back... Rindu kalian banget aku tuh... Cus lah. Happy Reading. Typo koreksi. ____ Suasana hening menyelimuti perjalanan mobil milik Axel ketika melaju membelah jalan raya sekitar pukul enam pagi. Di samping Anggun duduk dengan memejamkan mata, kepalanya bersandar pada jok kursi menghadap jendela. Ketika bangun tadi Anggun tidak banyak bicara dengannya, entah karena terluka akibat sikapnya semalam atau gadis itu sedang malas saja berbicara dengannya. Karena, ketika mereka sama-sama terbangun Anggun dengan cepat masuk kedalam mandi membersihkan dirinya. Keduanya bahkan belum sarapan pagi ini. Mobil Axel berhenti di salah satu pedagang bubur ayam langganannya. Lelaki tampan itu menyentuh bahu Anggun dan membangunkannya. "Anggun, bangun." "Eenggh." lenguhnya pelan membuat Axel menjauhkan badannya. "Anggun." "Sudah sampai Om." "Belum, kita sarapan dulu. Ayo turun." "Nggak mau, Anggun mau pulang aja Om." Axel mendesah berat, lelaki itu memperhatikan wajah lelah dan lesu Anggun dari tempat duduknya. Lelaki itu memegang kedua bahu perempuan yang sedang di jodohkan dengannya lembut hingga Anggun kini menghadapnya, sorot matanya sempat terkejut tapi berubah redup ketika menatap tepat di manik mata milik Axell Wiradhana. Hati Axel tersentil. Lelaki itu mencoba menurunkan sikap egoisnya agar Anggun mau menurutinya. "Kita sarapan dulu, saya nggak mau bawa kamu pulang dengan keadaan perut kosong Anggun." Dengan gelengan kepala lemah gadis itu tetap menolak tidak mau. "Nggak, Om." "Anggun." geramnya mulai jengah. "Kenapa Om maksa aku buat sarapan? Bukannya Om sendiri yang bilang jangan berharap sama Om. Aku nggak mau bikin hati aku berharap sama laki-laki yang bahkan nggak mau menerima aku sama sekali." "Maaf aku nggak tahu kalau Om sudah memiliki kekasih. Om jangan khawatir, aku yang akan batalin rencana perjodohan ini. Aku yang akan bicara sama tante Maya dan om Dika tentang pembatalan ini." Deg. Kedua mata Axel terbelalak lebar mendengarnya namun hatinya berdesir ketika melihat raut sendu Anggun di hadapannya. Gadia itu mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. "Anggun saya--" "Ayo sarapan Om, nanti Anggun pulang sendiri saja. Anggun nggak mau Om kena marah Daddy karena mengantar Anggun pulang." ucap gadis itu pelan dan segera turun mendahuluinya. Brak. Tatapan Axel tertuju lurus memperhatikan punggung gadis yang sedang berjalan lambat menuju tenda bubur ayam dengan perasaan aneh. Gelisah. Entah kenapa mendengar inisiatif Anggun dari bibir gadis itu langsung ketika ingin membatalkan perjodohan mereka membuat hatinya tidak nyaman. Akhirnya, Axel ikut turun ketika Anggun sudah berdiri di samping mang Ujang dan tampak memesan. "Satu bubur ayamnya pak, pake seledrinya banyakin ayamnya juga jangan pake kacang sama bawang goreng ya pak." "Siap Neng." sahut beliau ramah. "Kamu sudah pesan?" "Eh ada mas Axel." "Pagi Pak Ujang." Terlihat Anggun menatap lelaki tampan di sampingnya dengan si penjual bubur bergantian bingung. "Saya kenal sama beliau." "Oalah, si Neng datang bareng Mas Axel toh. Iya Neng, si Mas nya langganan Bapak." jelas beliau membuat Anggun tersenyum ramah kearah pria paruh baya itu. "Silahkan duduk dulu Neng sama Mas nya." lanjut beliau di balas anggukan kepala keduanya serentak. "Saya biasa makan disini kalau nggak sempat sarapan di rumah." ucap Axel tanpa di minta, Anggun hanya meliriknya sekilas lalu mengangguk sekali dan bergumam pelan sebagai responsnya. "Anggun saya--" "Ini Neng sesuai pesanannya, nah ini punya Mas Axel silahkan di nikmati Bapak balik dulu." "Terima kasih Pak." sahut keduanya sopan. Sepeninggal mang Ujang, hening kembali menyelimuti Anggun mulai memakan sarapan buburnya setelah berdoa. Dalam keheningan yang tercipta, Axel sesekali mencuri-curi pandang lewat ekor matanya memandang Anggun yang tampak tenang saat makan saat ini. Sepuluh menitan kemudian keduanya sudah selesai sarapan, Axel sedang membayar bubur yang di makan mereka tadi. Sedangkan, Anggun berdiri di luar tenda sambil memandang kendaraan yang sudah berlalu lalang pagi ini. "Sudah. Ayo Anggun." "Om ... aku pulang sendiri saja." Hah. Alis Axel terangkat naik keatas, tidak percaya kalau gadis itu benar-benar ingin pulang sendiri. "Anggun--" "Aku sudah pesan taksi, Om bisa pulang duluan. Lagipula jarak ke rumah nggak terlalu ja--" Grep. "Tidak. Ayo saya antar." potong Axel menahan lengan Anggun dan menggenggamnya. "Om." "Saya yang bawa kamu semalam, jadi saya yang antar kamu pulang. Saya bukan laki-laki yang akan lepas tangan." ucapnya tegas mengabaikan sorot mata protes Anggun kepadanya. Benar saja, Axel tidak tahu kalau Anggun sudah memesan taksi online. Lelaki itu menoleh mendelik datar sebelum menarik gadis itu mendekati taksi tersebut. "Ini Pak, maaf dia tidak jadi naik taksi Bapak." ucap Axek menyodorkan uang lembaran berwarna merah sambul menunjuk kearah Anggun yang menggeleng-gelengkan kepalanya kearah sang supir. "Om, apa-apan sih. Aku mau pulang sendiri." gerutunya. "Silahkan. Tapi saya mau kamu ganti uang saja 100x lipat. Mau?" Anggun mendengus keras, memutar bola matanya malas. "Maaf ya Pak. Terima kasih. Ayo pulang." Pasrah, Anggun membiarkan lelaki tampan itu membawa lagi kedalam mobil. Brak. Menghembuskan napas kesal, Anggun bersidekap d**a dengan raut menekuknya. Tidak suka, karena Axel memaksanya pulang bersama. "Jangan cemberut Anggun, kasihan pak Ujang nanti dagangannya tidak laku gara-gara kamu menekukkan wajah di depan kedainya." Anggun mendelik, sadar kalau ucapan Axel hanya gurauan saja. "Cepat jalan Om." selaknya geram. Axel terkekeh dalam hati melihat ekspresi Anggun. Mobil pun kembali melaju, tidak ada percakapan selama perjalanan menuju rumah gadis di dalam mobil tersebut. Sampai akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi berhenti tepat di rumah berlantai dua yang ada di sampingnya, Anggun segera melepas seatbelt gadis itu nyaris keluar sebelum menghentikannya ketika suara Axel masuk membuat dadanya sakit. "Terima kasih karena kamu sudah mau membatalkan perjodohan ini. Saya tidak ingin menyakiti kamu Anggun, saya ingin kamu mendapatkan laki-laki yang bisa mencintai kamu tulus. Perasaan saya ke kamu belum ada dan tidak akan pernah ada selamanya. Hati saya sudah dimiliki oleh wanita lain, saya mencintai wanita itu sampai detik ini Anggun. Karena itu, saya tidak mau menerima rencana perjodohan konyol ini dan merugikan kamu. Kamu masih muda, lebih baik kamu melupakan saya dan belajar membuka hati untuk orang lain. Saya minta maaf Anggun, selamat istirahat. Jangan khawatir besok saya yang akan bicara menjelaskannya dengan mama dan papa dan juga orangtua kamu. Saya akan menerima konsekuensinya karena sudah menyakiti kamu." Brak. Anggun keluar tanpa menoleh apalagi merespons ucapan Axel. Gadis itu berjalan dengan wajah datarnya melangkah memasuki rumah, melewati Kiana yang menegurnya dan menutup rapat pintu serta mengunci kamarnya cepat. Bruk. Tubuh Anggun meluruh, gadis itu menutup mulutnya dengan tangan bersamaan bulir air mata membasahi wajah cantiknya dengan deras, bahu dan tubuh Anggun bergetar hebat. Om hiks jahat  Seseguknya dalam hati. Sekarang, semua sudah berakhir. Anggun tidak akan bisa melihat wajah om Axelnya lagi. Hubungan mereka sudah tidak terikat lagi, membuat hati Anggun berdenyut nyeri sesak hingga Anggun kesulitan bernapas hanya karena mengingat ucapan perpisahan lelaki yang sudah di cintainya. Selamat tinggal. _____ BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD