Happy reading.
Typo koreksi.
___
Anggun mesem-mesem seperti orang gila di dalam kamarnya sendiri, setelah mendapat ceramah panjang lebar dari kedua orangtuanya.
Flashback on.
"Kamu keterlaluan Anggun. Kalau bertindak itu harus kamu pikirkan dulu Nak. Perbuatan kamu itu akan merugikan orang lain atau tidak. Beruntung Bapak tadi tidak menuntut kamu, Daddy tidak mempermasalahkan ganti ruginya. Yang Daddy tidak suka tindakan kamu yang lalai. Astaga, apa Daddy perlu mengirim kamu ke rumah kakak kamu Gadis?"
Kedua mata Anggun terbelalak, gadis itu segera mengalihkan tatapannya merunduk dalam menatap lantai keramik dengan raut bersalah. Di depannya Albert dan Kiana memandang putri mereka lelah.
Anggun pun merutuki dirinya sendiri yang ceroboh sampai membuat Albert marah kepadanya.
"Daddy memberikan semua kepercayaan pada anak-anak Daddy bukan untuk di salah gunakan. Anggun kamu sudah besar usia kamu bukan anak enam tahun yang masih harus di kontrol. Daady harap kamu mengerti dan mau belajar untuk tidak sembarangan bertindak. Kalau tidak--"
"Nggak Dad! Aku nggak mau tinggal sama kak Gadis." potongnya cepat.
Anggun menggeleng cepat, ia tidak ingin tinggal bersama Gadis kakak perempuannya. Karena hubungan mereka tidak terlalu akrab. Gadis sang kakak sifatnya itu terlalu pendiam, dan Anggun tidak betah kalau berlama-lama dengan kak Gadis yang selalu berucap seadanya.
"Anggun bagaimanapun Gadis itu kakak kamu." ucap Kiana yang mengetahui bagaimana kedekatan anak-anaknya tersebut.
"Yang bilang kak Gadis bukan kakak aku siapa Mom." gerutu Anggun bernada tidak terima, karena takut kedua orangtuanya berpikiran negatif lagi gara-gara hal ini.
Anggun tidak membenci Gadis, Anggun hanya tidak terlalu akrab dengan kakak perempuannya itu. Kecuali kak Fahri, Anggun sangat dekat dengannya kakak laki-lakinya. Apalagi Fahri itu sifatnya hampir sama seperti ayah mereka Albert. Humble dan suka memanjakannya.
"Kamu belum ada menanyakan kabar kakakmu itu Anggun?" tanya Albert ikut bersuara penasaran.
Anggun mendesah, ia menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Belum."
Helaan napas terdengar berat, Albert menyandarkan punggungnya ke sofa lelah.
"Jangan seperti itu dengan Gadis, Anggun. Daddy tidak pernah membeda-bedakan kalian. Buat Daddy kalian sama. Kamu harus mengerti sifat kakakmu itu. Terima Gadis dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Kamu harus ingat, kalau suatu saat nanti Daddy dan Mommy tidak ada. Orang yang akan ada di sisi kamu itu hanya kakak-kakak kamu. Mereka pasti akan melindungi kamu menggantikan kami." Nasihat Albert membuat gadis cantik itu tertegun.
Ya. Semua yang dikatakan Albert benar.
Siapa lagi yang akan menolong dan menompang diri kita ketika terjatuh nanti selain keluarga.
Anggun menyayangi keluarganya, meski sifat semua anggota keluarganya berbeda-beda. Anggun sangat mencintai mereka, ketidakakraban dirinya dengan kakak perempuannya itu bukan berarti Anggun tidak menyayangi kakaknya tersebut. Gadis tetaplah kakak kandungnya, jauh dari sifat mereka yang bertolak belakang.
"Baik, Daddy."
Albert menatap putri bungsunya lebih tenang, raut wajahnya sudah kembali hangat seperti biasanya.
"Bagus."
"Mmm ... Dad."
"Iya."
"Om Axel itu ... Daddy benar kenal?" bertanya ragu-ragu melirik arahnya.
Alis mata Albert terangkat, sedangkan Kiana memicingkan mata mendengarnya.
"Kenapa kamu pernasaran, Anggun? Jangan bilang--"
"Apasih Mom. Aku tuh cuma ... cuma--"
"Cuma apa?" Bibir Anggun mengerucut ke depan saat Kiana menekan dirinya.
"Memangnya kenapa sama Axel. Ya Daddy kenal. Dia sahabat kakak kamu Fahri waktu SMP. Dan orangtuanya juga sahabat Daddy."
"Bernarkah!" pekik Anggun senang tanpa sadar. Kedua orangtuanya tergelak. Anggun menutup mulutnya malu dengan pipi merona.
"Astaga. Anggun jangan bilang kamu--" ucapan Kiana menggantung ketika gadis itu tiba-tiba bangkit dan berlari sambio berteriak menghindar.
"ANGGUN KE KAMAR DULU. MAKASIH DAD MOM."
Flashback off.
Albert tertawa, sedangkan Kiana mendengus melihat tingkah putrinya.
"Mas kamu nggak curiga sama anak kamu itu."
"Sayang, dia anak kamu juga." balas Albert disela tawanya.
Bugh.
"Ish, aku serius Mas." geramnya.
Albert kembali tertawa menggeleng melihat istrinya.
"Biarin saja. Kamu dulu juga pernah seperti Anggun kan." ujar pria parul baya itu santai.
"Maksud Mas. Anggun sedang--"
"Sudah biarkan saja. Selama dia nggak bertindak ceroboh dan membahayakan dirinya atau orang lain Mas nggak akan melarangnya."
"Mas tapi usia mereka jauh banget Mas." Selak Kiana masih tidak menerima.
"Kiana. Kamu lupa kalau usia kita juga beda sepuluh tahun. Sayang, usia tidak mengukur kita pantas atau tidaknya ketika bersanding dengan seseorang. Tapi pikiran dan sifatnya yang menentukan itu semua." Kiana tergelak, wanita paruh baya itu mendesah mendongak menatap kearah tangga spiral rumahnya menuju lantai dua.
"Sayang, ke kamar yuk."
Kiana menoleh melihat kearah Albert yang sudah memeluk lengannya manja.
"Astaga Mas." Beliau menggeleng geli.
"Hayuk atuh." lanjutnya di balas suara gelak tawa Albert kencang.
Sedangkan di dalam kamar anak gadis, Anggun memeluk bantal guling erat tubuhnya bolak-balik ke kanan dan ke kiri tidak bisa diam. Raut wajahnya sangat cerah saat lagi-lagi terlintas kejadian tadi. Wajah tegas, tampan, wangi parfum lelaki bernama Axel itu masih saja membayang-bayang dalam pikirannya. Anggun memukul guling gemas.
Sial kenapa wajah Om itu nggak hilang-hilang juga sih. Astaga Om Axel ganteng banget. Gumamnya dalam hati cekikikan malu-malu.
"Om Axel udah punya pacar belum ya."
"b**o seharusnya tadi gue tanya sama Daddy rumah Om Axel dimana."
"Iya, ish begk banget." Gadis itu mencak-mencak sebelum wajahnya berubah cerah lagi dengan senyum malu-malu.
"Fix, Om Axel punya gue." Gereget Anggun menggigit ujung bantal gulingnya gemas.
"Daddy Mommy!" Teriaknya membahana seisi kamar.
"Aww. Sakit Mas." ringis Kiana seraya memukul punggung suaminya yang ada di atas tubuh telanjangnya. Albert ikut meringis menatap bersalah sang istri. Tangannya mengusap telinganya yang berdengung
"Telinga Mas gatal kaya ada yang manggil." ucapnya di balas memutar bola mata Kiana istrinya.
"Mau lanjut nggak ini, Mas." rajuknya menatap Albert yang balas tersenyum m***m membuat wanita paruh baya itu terkekeh pelan.
"Geli Mas."
"Kita buat adik untuk anak-anak ya Sayang." ucap Albert tersenyum penuh arti.
Blush.
Wajah Kiana merah padam ia menarik leher dan mencium bibir suaminya dalam.
Cup.
"Ayo Mas." bisiknya mendesah di bawah kukungan suami tercintanya.
Berbeda dengan Anggun yang masih misuh-misuh sendiri dan gemas sendirian di dalam kamar, sedangkan tanpa gadis cantik itu tahu kalau kedua orangtuanya justru berniat menambah adik untuknya.
___
Tbc>>>