Bab 4

890 Words
Happy reading. Typo koreksi. ___ Disinilah mereka sekarang, di rumah ketua RT setempat. Anggun dan teman-temannya menolak di bawa ke kantor polisi, mereka langsung berjanji akan membantu perawatan korban asal tidak berurusan dengan pihak berwajib. Keinginan para gadis itu tentu saja sempat menimbulkan kericuhan lagi, karena warga yang sudah terlanjur kesal kepada mereka tidak menerima permintaan ketiga gadis itu. Pria yang terjebak karena membantu ketiganya pun sekarang bisa duduk sambil memijit keningnya pusing, bukan karena ia harus terlibat dengan tiga gadis yang tidak dikenalnya. Tapi, karena sosok cantik dengan rok pendek itu sejak tadi selalu saja menggeser duduk mendekatinya hingga pahanya yang terbuka tanpa sengaja menyentuh kakinya yang tertutup celana bahan. Astaga. Desahnya lelah. "Om, mereka nggak akan makan aku kan? Muka mereka keliatan garang banget." adunya bernada manja menatap dua orang pemuda sebagai perwakilan warga dengan raut takut-takut, tingkahnya membuat pria yang sejak tadi ia panggil Om hanya diam menggeram dalam hati. "Om, aku mau pulang." "Om aku haus." "Om--" "Kamu bisa diam." desis sosok itu akhirnya dengan sorot mata dingin, jengah mendengar rengekan gadis di sampingnya. Nyali Anggun menciut, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh sambil bersidekap d**a, bibirnya maju beberapa senti kelakuan tentu saja  mendapat gelengan kepala dari kedua sahabatnya yang sejak tadi memperhatikan tingkah Anggun kepada lelaki tampan itu. "Pak, saya mau pulang." Seruan suara lantang Anggun patut diacungin jempol, gadis itu memandang sebal sekitarnya. Sifat mudah merajuk Anggun membuat gadis itu terkadang menjadi lebih menyebalkan lagi. "Neng ka--" "Maaf Pak." potong lelaki yang di panggil Om oleh gadis itu cepat. "Kamu bisa diam." ucapnya berbisik pelan di balas gedikkan bahu Anggun acuh. "Ya memang Mas harus minta maaf. Anak masih bau kencur gini udah di kasih bawa mobil. Bikin bahaya aja, mana nggak ada sopannya lagi." gerutu pemuda yang sepertinya tidak suka melihat tingkah gadis cantik itu. Anggun mendelik kesal lalu membuang wajahnya kesembarang arah malas. "Maaf Mas. Sebenarnya saya--" "ANGGUN!" Semua orang seketika menoleh kearah pintu dengan raut berbeda-beda, disana ada sepasang paruh baya baru saja memasuki dengan raut khawatir yang ketara. Tak lama gadis cantik itu pun bangkit dari duduknya berjalan tergesa dengan mimik melas. "Mom Dad." Bugh. "Awww." Jerit Anggun keras membuat semua orang terperanjat kaget. "MOMMY." protesnya melotot mengelus bahunya sakit. "APA!" sentak beliau, bibir Anggun mengerucut memandang sebal Kiana ibunya. Albert mendesah berat melewati putrinya begitu saja menghampiri orang-orang yang tengah berkumpul disana. Pria paruh baya itu memasang wajah tidak enak. "Selamat sore. Maaf saya datang terlambat. Saya minta maaf atas kesalahan putri saya Anggun. Saya-- loh Nak Axel?" Anggun membalikkan badannya cepat mendengar ayahnya memanggil nama seseorang. Rautnya berubah terkejut saat melihat si Om tampan tadi terlihat membungkukkan badannya sedikit sopan kearah ayahnya. "Sore, Om." sahut lelaki itu dengan sopan. "Bapak kenal Mas ini?" tanya Pak RT  kepada ayahnya. "Ah, iya Pak. Saya kenal, dia anak sahabat saya." Wajah Anggun berbinar mendengarnya, gadis itu sudah bersiap-siap ingin mengangkat kakinya melangkah. Tapi pergerakannya tertahan saat tas sling bag miliknya di tarik seseorang dari belakang. Anggun menoleh dan tertunduk lesu saat melihat delikan mata tajam sang ibu. Papa kenal Om itu. Batinnya girang. "Oh, begitu. Baik Bapak sebenarnya ...." Anggun sudah tidak lagi mendengarkan pembicaraan ayahnya bersama Pak ketua RT dan warga tadi. Yang ada di otaknya hanya menghapal nama Om tampan tersebut. Om Axel. Om Axel. Om Axel. "Ayo pulang." Suara ketus ibunya membuyarkan lamunan indah Anggun yang masih berdiri di tempatnya. Gadis itu bisa melihat kedua sahabatnya sudah melangkah keluar rumah ini, sedangkan Albert sang ayah tampak masih berbincang dengan Om itu. Melihatnya membuat gadis itu berlari mendekat memeluk lengan Albert erat, Kiana menggeleng mendesah berat. Axel menatap Anggun sekilas sebelum menatap sahabat ayahnya lagi. "Anggun." desis ayahnya terlihat menahan amarah di depan umum. Albert kesal karena harus terburu-buru datang kemari karena ulah putrinya. Quality time dirinya bersama Kiana istrinya harus terganggu karena masalah yang ditimbulkan Anggun. "Nak Axel, sekali lagi Om minta maaf karena putri Om sudah melibatkan kamu." "Tidak apa-apa Om." balasnya. "Anggun cepat minta maaf." "Maaf Om." ucap gadis itu dengan binar tersipu membuat Axel langsung menatap gadis itu datar.  "Dia Anggun adik Fahri anak Om." "Iya, Om." balasnya masih berusaha sopan meski sebenarnya Axel sudah malas melihat tingkah adik Fahri teman SMP nya dulu. "Anggun. Nama Om siapa?" ujar gadis itu memperkenalkan dirinya. Axel menatap uluran tangan gadis cantik di depannya lempeng tanpa ekspresi, lelaki itu mendesah pelan sebelum menerima uluran tangan mungil itu sekilas. "Axel." sahutnya. "Om, maaf saya harus pergi sekarang." ucap Axel terburu-buru. "Ah! Iya Om lupa. Maaf ya Nak, sudah menganggu waktu kamu." "Iya Om. Tidak apa-apa." jawabnya dengan mimik berbeda ketika melihat Albert ayah Anggun. "Kalau begitu saya permisi dulu Om." "Iya Nak. Hati-hati." Anggun tersenyum dalam hati melihat sifat sopan Axel kepada ayahnya. Hihihi mantu idaman. Kikiknya geli mengkhayal. Tuk. "Ssshhh," meringis, Anggun mendongak melihat ayahnya. Wajah merah kesal Albert membuat gadis itu menarik sudut bibirnya kaku. "Daddy." "Pulang." tekan Albert datar. Bahu Anggun meluruh lemah, ia mengikuti ayahnya sambil sesekali menghentakkan kaki ke lantai dengan wajah cemberut. Di luar gadis itu melihat mobil BMW berwarna hitam melaju melewatinya meninggalkan perkarangan rumah bapak ketua RT. Om Axel. Ucapnya dalam hati menatap kepergian kendaraan dari besi baja itu dengan senyum lebar yang sangat manis. "Anggun! Ayo pulang. Atau uang bulanan kamu Mama potong!" teriakan Kiana membuat Anggun tergelak. "Iya Mom." "Astaga udah tua masih aja teriak-teriak." Gerutunya di balas teriakan sang ibu lagi dari dalam mobil. "Anak gadis kok lelet banget jalannya. CEPAT ANGGUN." "YA TUHAN, MOM. IYA IYA INI ANGGUN JALAN CEPAT." ucapnya setengah berteriak. Ck, dasar emak-emak. ___ Tbc>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD