CHAPTER 13 : KEJUTAN

1548 Words
Aries mengendarai mobilnya ke sebuah toko bunga, sore ini ia ingin membeli buket bunga. "Aries apa kabar?" Seorang wanita cantik, tinggi, dan berkulit putih menyambutnya. Aries tersenyum tipis. "Hai key, sudah lama tidak ketemu, gue baik, lo gimana? Makin rame kayaknya nih toko bunga." "Gue juga baik. Hehe iya makin laris, mau beli bunga nih, buat siapa?" tanya Keysha, teman Aries semasa kuliah, lebih tepatnya mantan pacar. Namun, dari mantan-mantan Aries yang lain, hanya Keysha yang masih berhubungan baik dengan Aries. "Iya ... apa ya bunga yang bagus buat istri ratu gombal?" tanya Aries sambil memperhatikan buket-buket bunga di sana. "Istri?" Keysha mengernyit. "Oh iya, lo pasti belum tau, kalau gue udah nikah." Aries dengan santai menunjukkan cincin pernikahannya. "Yah telat deh gue, tapi selamat ya," ucap Keysha dengan nada bercanda sambil terkekeh. "Yang sabar ya." Aries berpura-pura simpati. Dia mengambil buket mawar merah dan tersenyum menerka bagaimana reaksi Starla diberi bunga ini. Pasti berlebihan tentu saja. Keysha dari tadi mengamati ekspresi Aries. "Kayaknya lo benar-benar ketemu pendamping yang cocok," ungkapnya. "Entahlah, tapi dia menghibur." Aries tersenyum kembali menatap buket bunga di tangannya. Sementara Aries sedang dalam suasana bahagia, pasangannya yaitu Starla sedang dalam keadaan murung. "Aduh, Non, itu masakannya gosong kalau nonnya bengong." Mbok Sur mengambil alih masakan Starla. "Mbok, aku sedih …." Gadis itu melangkah ke kursi yang ada di dapur, lalu duduk dengan ekspresi cemberut. "Kenapa, Non?" tanya Mbok Sur. "Aa' marah sama aku." Starla mulai bercerita. "Kenapa bisa marah?" Starla menggeleng. "Aku nggak tau, tadi pas sarapan nggak ngajak ngobrol, pas berangkat juga nggak cium kening aku," keluhnya. "Mungkin Den Aries lagi mikirin kerjaan." Mbok Sur berusaha netral memang tidak biasanya Aries mengabaikan sang istri kecil, mungkin lagi banyak kerjaan, pikirnya. Setelah mengobrol sebentar, Starla memilih pergi ke kamar si kembar untuk membangunkan keduanya dan mengajak mandi sore. Tidak lama Aries pulang, biasanya dia akan pulang sedikit larut, tapi hari ini spesial jadi ia pulang cepat, bahkan Selina saja belum pulang. Di tangannya sudah ada buket bunga dan sekotak kue. Mbok Sur yang selesai memasak, terheran melihat majikannya pulang cepat. "Den Aries, itu buat siapa?" tanya Mbok Sur penasaran dengan buket mawar merah. "Yang jelas bukan buat Mbok Sur." "Iya saya juga nggak mau nerima sih Den, nanti Beb Surya cemburu kalau saya dikasih bunga sama pria lain." Mbok Sur terkekeh geli. Aries terlihat malas menanggapi. "Starla mana?" tanyanya. "Lagi mandiin si kembar, dari tadi uring-uringan katanya Den Aries marah. Eh, roman-romannya ini mau ada yang ngasih kejutan." Mbok Sur yang otaknya cukup cerdas sudah bisa menebak. Aries hanya tersenyum tipis, dia memberi kue pada Mbok Sur untuk disiapkan. Aries membawa buket bunga ke dalam kamar dan ia sembunyikan. Lalu, ia bergegas membersihkan diri. Tidak lama pria itu keluar dari kamar mandi dengan tampilan lebih segar. Aries pura-pura mengabaikan istrinya yang duduk di tempat tidur dengan wajah ditekuk. Mata Starla yang beralih menatapnya bahkan sudah berkaca-kaca. Kasihan sekali, batin pria itu. Dia bagai suami jahat saat ini. Starla yang merasa diabaikan bergegas membersihkan diri dengan perasaan tak enak hati. Dia takut Aries bosan dengannya dan berpindah ke lain hati. Kalau kata tetangganya dulu, suami yang mulai mengabaikan istrinya itu mempunyai wanita idaman lain. Ketika keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, bukannya lebih segar, tapi mata Starla malah sembab karena menangis. Namun, tiba-tiba sebuket bunga mawar merah yang sangat indah muncul dari belakangnya. Gadis itu terkejut lalu berbalik. Ada Aries di sana yang tersenyum kepadanya. Apa ia ulang tahun? Perasaan tidak. Apa suaminya salah tanggal? Starla jadi bingung kenapa ia diberi kejutan. "Happy satu bulan pernikahan," ungkap Aries. Starla terbelalak tak percaya. Dia melupakan satu bulan pernikahannya. "Aa'...." Gadis itu langsung memeluk manja tubuh suaminya. "Happy satu bulan pernikahan juga," balasnya. Setelah lama berpelukan, Starla mengambil buket bunga mawar merah itu sambil mencium aromanya. "Suka, tidak?" tanya Aries. Sekarang bebannya sudah hilang, mendiamkan sang istri tidak sampai sehari jadi beban untuknya. Takut istrinya yang sangat bucin itu jatuh sakit. "Suka, tapi lebih suka Aa'," jawab Starla sambil kembali memeluk suaminya. "Jadi pingin nyanyi, bunga mawar merah satu tanda cinta yang berarti bahwa Aa' cinta pada Eneng. Asyikkk!" "Oke, cukup." Aries menghentikan nyanyian istrinya sambil terkekeh. Sekarang keduanya saling bertatapan tersenyum malu-malu. Aries mendekatkan bibirnya ke bibir Starla hingga gadis itu terbelalak ketika merasakan sentuhan hangat bibir suaminya. Progres pasangan suami istri itu memang sedikit lambat mereka bahkan baru pertama kali berciuman bibir. Aries hanya takut Starla terkejut. Walau tampang Starla kadang genit, tapi Aries tau sang istri yang terlalu mencintainya itu lemah. Dia bisa merasakan tubuh Starla menegang ketika dicium olehnya. Aries berusaha selembut mungkin, meski ia ingin merasakan lebih dalam, tapi istrinya belum membalas. Aries melepaskan ciumannya sebentar, lalu menatap wajah kaku, namun merona milik sang istri. "Kamu tidak suka dicium?" tanya Aries sambil mengecup pipi istrinya gemas. "Suka, tapi aku lemas jadinya." Starla mulai oleng, Aries segera menangkap serta memeluknya. "Ya sudah sambil tiduran," saran Aries yang masih ingin mencicipi bibir manis sang istri. "Waduh tiduran, posisi mantap itu," celetuk Starla. Aries geli sendiri mendengarnya di saat lemas juga bisa berkata konyol seperti itu. Starla sekarang sudah berada dalam posisi tidur. Sementara Aries berada di sampingnya sedang memandangi wajah istrinya itu penuh rasa sayang, membuat Starla menutup matanya malu. "Aa' bisa tidak jangan tatap aku—" Belum menyelesaikan kalimatnya Aries sudah menciumnya kembali, tubuh Starla kembali menegang. Tidak lama, Aries melepaskan ciumannya, mencoba sebaik mungkin agar istrinya itu tidak tegang. Berbisik kata sayang yang membuat istri kecilnya berbunga-bunga, mereka kembali berciuman. Sekarang Starla membalas ciuman itu. Mulai menikmati, perutnya pun terasa tergelitik, tapi kenapa lama-lama mulas. "Aa'…." Starla memanggil di tengah ciuman panas mereka. "Apa?" Aries melepas ciumannya. "Aku tiba-tiba mules, A'." Starla langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Aries sendiri sempat tertegun, kemudian tertawa geli. *** Keluarga Aries sedang menikmati kue yang dibeli pria itu untuk merayakan satu bulan pernikahannya. "Mama aneh senyum-senyum sendili." Venus heran memperhatikan sang mama. Lihatlah sekarang pipinya malah dicubit gemas oleh mamanya itu. "Kuenya terlalu enak, Sayang, jadi Mama senyum," balas Starla. Tapi, lebih enak bibir papa tampanmu, Nak, sungguh kenikmatan yang hakiki, lanjut batinnya. Bibirnya malah tambah tersenyum lebar. Aries dan Selina yang melihat itu sama-sama menggeleng, kalau Mars, dia lebih fokus pada kuenya, tak peduli keanehan mamanya. Malam pun tiba, Aries dan Starla bersiap untuk tidur, mereka sedang berada di bawah selimut yang sama. Aries mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya, sedangkan Starla dengan pipi merona kembali tersenyum. "Kamu kalau lagi senang kelihatan banget," ungkap Aries. "Ya gimana lagi A' namanya juga jatuh cinta. Seperti lagu, cinta ini kadang-kadang tak ada logika. Jadi bisa buat senyum-senyum sendiri," balas Starla. "Kalau Aa' cinta enggak sama aku?" tanya Starla semanis mungkin. Aries memilih mendekap tubuh istrinya itu. "Menurutmu?" Dia malah bertanya balik. "Cinta dong, tapi Aa' malu-malu tikus." "Malu-malu kucing." "Nah itu maksudku." "Kalau saya enggak cinta, bagaimana?" tanya Aries lagi menggoda sang istri kecil. "Itu mah kecil. Tinggal genggam tangan Aa' setiap hari, biar aku nggak bertepuk sebelah tangan." Mata Starla berkedip-kedip genit. Aries yang mendengarnya tersenyum geli. "Aa' udah dulu ya cinta-cintaannya, aku ngantuk nih. Dari tadi adrenalinku terpacu gara-gara nafas buatan Aa' yang mantap surantap," terang Starla yang matanya pun sudah mulai terpejam dan tidak lama akhirnya terlelap. Aries menggeleng, ada-ada saja ucapan konyol sang istri. Ia mengecup kening istri kecilnya itu. Cinta ya? Mungkin Aries memang mengalami apa yang orang katakan cinta karena terbiasa bersama. Entah sejak kapan, Aries juga tidak tau, tapi saat melaksanakan akad nikah waktu itu, Aries sudah bertekad, bahwa Starla akan menjadi cintanya, satu-satunya pendamping hidupnya. Mungkin karena itu dia begitu mudah mencintai gadis dalam dekapannya ini. *** Siang hari setelah Starla menemani anak-anaknya tidur siang, dia berniat membersihkan beberapa ruangan di rumah ini. Sebenarnya itu tugas Ria dan Tia, tapi kasihan juga jika sehabis pulang kuliah diminta bersih-bersih. Starla sebagai majikan yang baik dan penyayang ingin membantu. Dia masuk ke sebuah ruang kerja, yang sebenarnya jarang digunakan karena Aries sendiri hanya sesekali membawa pekerjaan di rumah, pria itu selalu berusaha menyelesaikan semuanya di kantor, kecuali ada tugas dadakan dari Leo. "Banyak sekali bukunya." Ruangan itu bahkan lebih terlihat seperti perpustakaan. Buku-buku di sana sangat banyak dan Starla tidak penasaran karena dia penganut baca buku langsung mengantuk. Di meja ruang kerja itu ada sebuah pigura berisikan foto yang membuat Starla terheran. Dia memegangi pigura itu meneliti wajah tiga orang yang ada di sana. Seorang wanita dewasa yang menurut Starla sangat cantik, tapi tampak tidak asing bersama satu gadis menginjak usia remaja dan satu lagi bocah kecil laki-laki terlihat sangat tampan. Starla mengira bocah kecil laki-laki itu adalah sang suami tercinta dan gadis remaja itu adalah mendiang Estella, kakak Aries sekaligus bunda si kembar, sedangkan wanita dewasa itu… "Apa ini mendiang bundanya Aa' yang namanya juga bunda Astrid, tapi kenapa mirip bunda Astrid, bundanya Selina ya?" Starla membulatkan matanya, terkejut sendiri dengan apa yang ia pikirkan saat ini. "Apa jangan-jangan kembar?" Namun, kemudian ia menggeleng. "Biasanya kalau kembar namanya beda sedikit misalnya satu Astrid, satu lagi Astinah." Starla mengangguk akan pemikirannya yang lumayan cerdas. Dia kembali terbelalak karena pemikiran lain. "Apa jangan-jangan benar Aa' Aries dan Selina saudara yang terpisah belasan tahun lamanya?" Starla menutup mulutnya tak percaya. Dia harus mencari tahu hal ini, tapi dia sekarang bingung harus mulai dari mana. Tunggu Aa', Eneng akan jadi detektif yang menyelidiki sebuah rahasia besar, batin Starla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD