Hum cuit hum

1511 Words
"Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Bagaimana dengan tidurnya? Nyenyak? Bagaimana shopping kemarin? Sepertinya banyak neh yang diborong. Bukan ibu - ibunya saja yang borong, bapak - bapaknya juga ikut borong. Kayaknya uang saku dari perusahaan dikasihnya besar neh, betul begitu pak Alvaro?" Tanya Quenny sambil bercanda. "Jadi pengen ngelamar di perusahaan Pak Alvaro jadinya". Kelakar Quenny lagi. Dan para peserta tertawa mendengar gurauan dari Quenny. Dalam hati Alvaro, "Ada juga kamu yang saya lamar buat jadi istri aku, Queen". "Ya .. Bapak/Ibu sekalian tolong diperiksa kembali, apakah ada yang tertinggal di hotel seperti paspor, jam tangan, henpon, barang belanjaan, gigi palsu". Quenny mengingatkan para pesertanya diselingi dengan candaan. "Tolong Bapak/Ibu periksa lagi henponnya, jangan salah bawa. Takutnya yang kebawa malah remote TV bukan henpon Bapak/Ibu nya". Kelakar Quenny lagi. Dan langsung mereka tertawa serta memeriksa yang mereka bawa itu benar henpon atau remote TV. "Aman mbak... henpon yang saya bawa, bukan remote". Jawab salah satu peserta tour. "Aman semua nya? Jika sudah aman, kita akan menuju ke bandara untuk penerbangan kembali ke tanah air kita". Ucap Quenny sambil menghitung para peserta, apakah sudah komplit semua atau belum. "Aman mbak Quenny yang cantik". Ujar mereka semua. Sesudah menyuruh supir untuk berjalan, kembali Quenny berbicara kepada para peserta tournya. "Saya atas nama Travel Agent yang menaungi perjalanan Bapak/Ibu mengucapkan terima kasih. Saya, Quenny Acelin, Carrie Ng dan Peter Lam mengucapkan terima kasih. Apabila ada kesalahan dari ucapan dan tindakan kami, mohon sebesar - besarnya untuk dimaafkan. Kami bersyukur bisa bertemu dengan Bapak/Ibu sekalian. Berkenalan dengan Bapak/Ibu merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami tersendiri. Sampai bertemu di lain kesempatan, di grup tour kami selanjutnya, apabila ada pertanyaan, kiranya Bapak/Ibu jangan sungkan - sungkan untuk menghubungi saya. Saya siap untuk membantu, tetapi ingat apa Bapak/Ibu? Jangan telpon/WA saya jikaaa?" Tanya Quenny kepada mereka. "Tidak ada masalah karena saya pun ingin tidurrr". Jawab mereka serempak sambil tertawa. "Betulll sekaliii" Quenny pun tertawa karena candaan yang telah dibuatnya. "Saya tunggu di perjalanan Bapak/Ibu selanjutnya dengan Travel Agent yang sudah menaungi kita, Sampai bertemu dan terima kasih". Quenny menutup pidatonya. **** "Baik Bapak/Ibu, kita sudah tiba di bandara. Jangan lupa cek kembali barang bawaannya. Kita harus check in sendiri - sendiri dengan membawa koper masing - masing. Bagi Bapak/Ibu yang berpasangan suami - istri bisa check in bersama". Terang Quenny untuk prosedur check in bagasi pesawat. "Ce, mana paspormu, aku bantu buat check in, kamu bantu peserta yang lainnya". Alvaro meminta paspor Quenny. "Ini kak, thank you". Quenny mengucapkan terima kasih sambil memberikan paspornya, "Ms, please put seat us together, because we are husband and wife. My wife can't seat far away from me. She has a little dizzy, so I have to take care of her". Ucap Alvaro kepada staff check in counter. "Let me do the best, I'll try to find the seat for both of you Mr. Scott". Ucap staff check in counter. Quenny mendengar obrolan antara Alvaro dan staff check in counter dan seketika itu Quenny hanya bisa terbengong dengan ucapan Alvaro. "Husband and wife? Kagak salah die ngomong kayak gitu? Sejak kapan gue nikah sama dia? Gue kan tour leader dia.. mau an aja tuh orang dikerjain sama kak Al". Guman Quenny dan dirinya kembali fokus untuk membantu para pesertanya check in. "Kak jangan gini, aku masih kerja loh, aku harus bersikap profesional. Jangan pegang tanganku donk, ga enak kalau dilihat sama yang lain". Ungkap Quenny sambil melepaskan genggaman tangan Alvaro karena takut ada peserta tournya melihat jikalau Alvaro menggenggam tangan Quenny. Hal itu bisa mengubah pandangan seseorang  dan melihatnya menjadi tidak profesional dengan pekerjaannya karena bekerja sambil berpacaran. "Baiklah, aku kan melepaskannya, tapi didalam pesawat, kamu tidak boleh melepaskan genggamanku my lil queen". Terang Alvaro sambil menjawil pucuk hidung Quenny. "Tenang aja kak, aku tidak akan melepaskan tangan kakak. Akan aku genggam tangan kakak terus, kalau perlu aku kekepin lengan kakak. Aku ga rela kalau kak Alvaro dilihatin cewek - cewek, apalagi pramugari - pramugari itu. Biar aja mereka pada lihat kalau kak Alvaro sudah punya pacar". Jawab Quenny sambil tertawa. "Eitss... nada - nadanya ada yang cemburu nih". Goda Alvaro sambil terkekeh. "Siapa yang cemburu? Aku cemburu? No Way.. Quenny yang cantik tidak akan cemburu, ada juga kakak yang bakal cemburu sama aku. Mau coba?" Tantang Quenny kepada Alvaro. "Iya deh.. kakak percaya dengan ucapanmu?" Alvaro menjawab sambil memutarkan bola matanya. "Let's go to the gate and flying back to Jekardahh.. Home sweet home". Ajak Quenny. Mereka akhirnya berjalan menuju gate yang sudah ditentukan untuk penerbangan ke Jakarta.  "Ce, kamu tidur saja dalam penerbangan ini, kamu keliatannya capek sekali sayang". Alvaro menyuruh Quenny untuk istirahat saja. Sambil mengelus dan mengecup puncak kepala Quenny di pundaknya, Alvaro berharap Quenny bisa tertidur walau hanya beberapa jam. **** "Ce, kamu pulang nanti saya yang antar saja, kamu pulang kemana sayang?" Tanya Alvaro setelah mereka selesai mengambil bagasi mereka dan melepas para peserta untuk kembali ke rumah masing - masing karena perjalanan mereka telah selesai setelah mereka tiba kembali di tanah air. "Aku pulang ke apartemen aku kak karena besok aku harus masuk kerja dan harus menyerahkan laporan perjalanan ke admin dan Pak Boss". Ungkap Quenny. "Pak Jum, nanti kita antar Quenny ke apartemennya dulu, setelah itu ke penthouse saya". Perintah Alvaro kepada supirnya Pak Jum. "Baik den". Jawab supir dengan sopan dan membantu Quenny membawa kopernya.  "Gimana tidurmu tadi di pesawat sayang? Sepertinya nyenyak sekali sampai - sampai ada bekas iler di bajumu". Goda Alvaro. "Ciusss kak? Aku tidur ga ngiler loh". Quenny bertanya dengan antusias karena ucapan Alvaro. "Bercanda sayang". Ucap Alvaro sambil mengelus pipi Quenny yang halus. "Kita makan dulu ya sayang sebelum pulang". Alvaro mengajak Quenny untuk makan terlebih dahulu sebelum Alvaro mengantar Quenny pulang. "Aku mau makan di dekat apartemen aku aja kak, aku lagi pengen makan pecel lele. Maknyus sekali pecel lele di tempatku itu". Ungkap keinginan Quenny. "Baiklah, nanti kakak temani kamu makan pecel lele". Jawab Alvaro sambil mencium punggung tangan Quenny. "Sipp. Kakak tidak akan menyesal makan pecel lele Bang Ragil. Dijamin bakal ketagihan. Aku setiap pulang bawa tour, wajib hukumnya kudu makan kalau ga makan, rasanya aku masih di luar negri". Quenny menjawab Alvaro sambil mengacungkan jari jempolnya sambil tertawa. "Jadi penasaran sama rasa tuh pecel lele". Jawab Alvaro sambil tertawa lepas. Pak supir pun tersenyum melihat Alvaro yang tertawa. Dirinya jarang sekali melihat anak Boss nya tertawa lepas seperti itu. **** "Gimana? Maknyuss kan pecel lelenya? Ga bohong kan aku sama rasanya?" Tanya Quenny dengan antusias. "Iya enak.. enak banget kok". Alvaro menjawabnya biasa saja karena ini pertama kalinya makan pecel lele. "Kakak mau langsung pulang?" Tanya Quenny setelah selesai membereskan sisa makanan mereka. "Nanti dulu, kakak masih kenyang, kamu ada teh?" Tanya Alvaro karena mulutnya masih berasa bau terasi. "Ada kak, tapi teh hijau? Mau?" Tanya Quenny. Dan Alvaro pun menganggukkan kepalanya. "Ini kak, minum saja dulu sambil nonton. Anggap saja rumah sendiri. Aku mandi dulu ya, hanya sebentar. Badanku terasa lengket". Ujar Quenny. "Gimana kak? sudah enakkan perutnya? Atau masih kekenyangan?" Tanya Quenny antusias. "Glekk.. shittt.. kenapa Quenny seksi banget hanya pakai baju tidur selutut yang berbahan flanel gini. Shittt.. adik gue dibawah sudah sesak nih". Guman Alvaro dalam hati. "Ehmmm... ma.. masih sedikit kenyang". Alvaro merutuki jawabannya yang terbata - bata karena dirinya fokus melihat Quenny yang menurutnya sangat seksi saat itu. Quenny menempatkan dirinya duduk disamping sambil meminum tehnya juga yang sempat disedunya sebelum dirinya mandi. "Kalau gitu kakak pamit pulang dulu ya sayang, takut khilaf kakak kalau duduk dekat kamu berduaan saja". Pamit Alvaro sambil mencium bibir Quenny lembut, namun lama - kelamaan menuntut lebih dalam. "Ehhhmmmm.."Quenny mulai mendesah dan mulai menikmati ciuman yang diberikan sang kekasih. Alvaro sudah menekan tengkuk leher Quenny untuk menciumnya lebih dalam lagi. Quenny sudah membuka bibirnya. Dan dengan tidak segan - segan, lidah Alvaro sudah mulai merangsek masuk ke dalam mulut Quenny dan mengabsen gigi putih Quenny satu persatu. Mereka sudah saling bertukar saliva. Namun Alvaro cepat - cepat menyudahi ciumannya. Alvaro sadar untuk berhenti menciumi Quenny supaya tidak terlanjur lebih dalam lagi dan akhirnya kebablasan. Tetapi Quenny merasakan kehilangan ciuman dari Alvaro karena Alvaro telah menghentikan ciuman mereka. "Cukup sampai disini dulu sayang, aku takut kebablasan, aku harus menjagamu my lil queen". Ungkap Alvaro sambil menghapus bekas salivanya di bibir Quenny dengan jempolnya. Sebenarnya Alvaro tidak ingin menghentikan ciuman mereka, tetapi dirinya tersadar dengan ucapan papinya dahulu kala. "Jika kamu mencintai wanita, hendaknya kamu menjaganya, bukan merusakinya". Hal itu yang selalu diingat oleh Alvaro. Ya, dirinya harus menjaga Quenny, bukan untuk merusakinya. "Terima kasih atas semuanya, terima kasih atas ciumanmu. Berasa teh hijau bibirmu". Ucap Alvaro sambil tersenyum. Sedangkan Quenny hanya menahan malu dengan muka yang merah. "Ahhh.. manis sekali kamu jika sedang malu, mukamu merah seperti kepiting rebus". Ucap Alvaro kembali. "Selamat malam sayang... mimpi yang indah, jangan lupa mimpiin aku ya". Kali ini Alvaro sudah berdiri dan menuju pintu untuk keluar. "Night my lil queen". Alvaro kembali mencium lama kening Quenny seakan - akan tidak rela meninggalkan Quenny seorang diri, tetapi Alvaro tetap harus pulang. Dan dirinya berjalan menuju lift untuk kembali ke mobilnya.   "Night my king". Ucap Quenny pelan karena Alvaro sudah meninggalkan dirinya sendiri didalam apartemennya. "Home sweet home, enaknya kembali ke rumah, bertemu dengan kasur dan guling kesayangan. Night all of you". Quenny berbicara sendiri dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat dan bersiap untuk memulai pekerjaanya esok kembali. "Arrrhhhh elo sweet banget sih Al.. bakal nyenyak tidur gue neh". Quenny berbicara lagi dengan dirinya sendiri dan mulai memejamkan matanya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD