Hongkong

1988 Words
"Selamat pagi dan selamat datang di Hongkong bagi Bapak dan Ibu Sekalian" Ucap Quenny setelah semua para peserta sudah duduk di dalam bis dan siap untuk berpetualang di Hongkong yang merupakan surganya berbelanja. "Hari ini kita akan memulai perjalanan dengan menuju restauran terlebih dahulu untuk sarapan. Selanjutnya kita akan menuju Victoria Peak untuk melihat keindahan kota HongKong dari puncak tertingginya yang berada di 525 meter diatas permukaan laut. Kita juga akan masuk ke Madame Tussaud, nah Bapak dan Ibu bisa berfoto dengan orang - orang terkenal di seluruh dunia. Jangan lupa kita foto dengan Bapak Presiden kita, Pak Jokowi. Bapak/Ibu jangan lupa juga cari patung lilin saya, kalau ketemu, saya kasih hadiah, kalau tidak ketemu pun, saya tetap akan memberi Bapak/Ibu hadiah". Terang Quenny kembali. "Yesss, kita semua dapat hadiah". Sorak - sorai dari para peserta. Dan Alvaro hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Quenny. "Setelah Bapak dan Ibu selesai dari Madame Tussaud, kita akan makan siang di Jumbo Kingdom. Restaurant terapung dan terbesar di seluruh dunia. Kita belum sah ke Hongkong jikalau kita belum pergi ke Jumbo Kingdom, itu slogan para wisatawan yang ke Hongkong. Quenny menjelaskan kembali mengenai Hongkong. "Nah, Bapak dan Ibu sekalian, setelah makan siang kita akan menuju Sky 100 yang terletak di lantai 100 di gedung International Commerce Center (ICC) . Dari situ kita bisa melihat keindahan kota Hongkong dari ketinggian dengan pemandangan 360 derajat. Kita bisa melihat pemandangan Peninsula Kowloon secara keseluruhan. Dan selanjutnya kita akan menggunakan Star Ferry menuju Hongkong Island. Sampai disini ada pertanyaan dari Bapak dan Ibu sekalian?" Quenny memberikan pertanyaannya kepada para peserta di dalam bis. "Mbak Quenny, kapan kita shoppingnya?" Tanya antusias seorang ibu yang memang sudah memberitahukannya kepada Quenny sebelum berangkat ke Hongkong jikalau ibu tersebut mau shopping. "Besok kita ada waktu bebas, jadi ibu bisa pergunakan waktu tersebut untuk shopping sepuasnya. Ibu bisa shopping di Causeway Bay atau Tsim Sha Tsui". Terang Quenny kepada ibu tersebut. "Terima kasih mbak". Ucap ibu itu kembali. "Dan sekarang akan saya perkenalkan local guide kita yang bernama Carrie Ng, ibu cantik ini akan menemani perjalanan kita selama di Hongkong dan beliau bisa berbahasa Indonesia. Sedangkan pak supir kita bernama Peter Lam". Quenny memperkenalkan partnernya di dalam bis yang akan bekerja sama dengannya selama perjalanan di Hongkong. Selajutnya sang local guide memberikan informasi mengenai Hongkong dan Quenny duduk di tempatnya bersebelahan dengan Alvaro. Karena Sebelum naik ke dalam bis, Alvaro sudah memesan tempat duduk di bagian depan karena mengingat, jika Alvaro duduk di bagian belakang, kepalanya menjadi pusing. **** "Saya lihat, kamu menikmati sekali akan pekerjaan seperti ini, rasanya kamu menemukan kesenangan dan jati dirimu?" Tanya Alvaro kepada Quenny. "Saya suka sekali pekerjaan ini Pak, saya merasakan inilah diri saya, ini dunia saya". Jawab Quenny. "Kamu mau jadi private tour leader saya? Besok kan kita punya acara bebas, kamu temani saya menjelajahi Hongkong ya". Terang Alvaro yang berupa perintah bukan permohonan. "Ehhmmm.. Baik Pak". Jawab Quenny dengan senyum yang tidak enak hati. "Tenang saja, saya akan bayar sesuai tips standar internasional". Alvaro kembali berbicara. "Tidak perlu sungkan Pak, memang sudah tugas saya untuk menemani para peserta mengellilingi tempat wisata, tapi kalau Bapak tidak keberatan untuk memberikan tips tambahan, saya akan terima dengan senang hati, apalagi melebihi tips standar internasional". Ucap Quenny sambil terkikik. "Saya akan berikan apa yang kamu mau, kamu kan private guide saya, dan juga kamu adalah adiknya sahabat saya, tidak mungkin saya tidak kasih apa yang kamu mau, nanti kamu mengadu lagi sama kakak tersayangmu itu, habislah saya dibantai sama Rafael". Ucap Alvaro dengan senyuman yang hangat. "OMG senyumnya, please jangan buat gue jadi diabetes akut karna senyum elo Al, gue masih mau hidup lebih lama menikmati senyum elo itu Al". Guman Quenny dalam hati. "Bisa aja Pak Al ini, saya jadi tidak enak hati sama Bapak". Senyum Quenny sambil menahan gejolak jantungnya. "Bapak sudah berapa kali ke Hongkong?" Tanya Quenny.  "Sudah beberapa kali, hanya untuk berbisnis, saya tidak ada teman untuk menjelajahi Hongkong". Terang Alvaro yang memang dirinya sering ke Hongkong hanya untuk meeting dan setelah selesai langsung kembali pulang tanpa menikmati keindahan Hongkong. Sebenarnya Alvaro tidak berminat untuk mengikuti perjalanan ini karena pekerjaannya sangat banyak. Tetapi sekretarisnya memberitahukan jikalau Quenny yang mengatur perjalanan perusahaan mereka dan Quenny pula yang akan menjadi tour leader yang memimpin rombongan perusahaannya, Flashback on "Sisca, untuk perjalanan ke Hongkong yang mendapatkan reward itu sudah selesai semua persiapannya?" Tanya Alvaro kepada sekretarisnya. "Sudah Pak, besok mbak Quenny akan mengambil semua berkas dan paspor yang akan pergi ke Hongkong". Jawab Sisca kepada atasannya. "Quenny?" Tanya Alvaro kembali kepada sekretarisnya. "Iya Pak, mbak Quenny Acelin, beliau yang mengurus perjalanan perusahaan kita dan juga mbak Quenny yang akan memimpin perjalanan ini". Terang sekretarisnya. "Ohh ternyata Quenny bekerja di Travel Agent dan jadi tour leader juga". Guman Alvaro dalam hati. "Masukkan data saya untuk perjalanan ke Hongkong bersama mereka yang mendapatkan reward dan juga saya duduk di economy class saja". Perintah Alvaro kepada sekretarisnya. "Baik Pak, akan saya siapkan, saya permisi dulu Pak". Jawab sekretarisnya sambil bertanya - tanya dalam hati. "Sejak kapan Pak Varo mau ikutan acara beginian dan juga duduk di economy class? Apa matahari sudah berubah terbit dan tenggelamnya?" Guman Sisca dalam hati. Karena sekretarisnya sangat mengetahui sifat boss nya yang tidak suka mengikuti acara gathering ataupun acara perjalanan reward yang sering dilakukan oleh perusahaannya. Boss nya lebih suka bekerja di kantor daripada menghabiskan waktu dengan hal - hal yang tidak menguntungkan dirinya. Dan juga boss nya duduk di economy class pula. Hal yang sangat luar biasa yang tidak pernah dilakukan oleh boss nya. Kalaupun menggunakan pesawat komersial, minimal boss nya harus duduk di business class jika memang penerbangan tersebut tidak ada first class. Itupun sangat jarang dilakukan karena boss nya lebih suka menggunakan jet pribadinya jika tidak bertabrakan jadwal penerbangan dengan papinya. Mereka sering menggunakan jet pribadi untuk perjalanan ke luar ataupun dalam negri. Sisca mengerutkan dahi nya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya karena sikap boss nya yang benar - benar aneh dan diluar dari kebiasaannya. Flashback off **** "Baik Bapak/Ibu sekalian, kita sudah tiba tempat tujuan kita, kita akan menaiki Tram untuk menuju Victoria Peak. Siapkan kamera Bapak/Ibu, hati - hati dengan tas yang dibawa, walaupun Hongkong terkenal aman, tapi sebaiknya kita tetap waspada dengan benda - benda berharga kita". Terang Quenny. "Bapak/Ibu silakan mengikuti Ms. Carrie, saya akan mengawal Bapak/Ibu dari belakang agar tidak ada yang tersesat. Kalaupun sampai tersesat, silakan telpon saya dan tunggu ditempat Bapak/Ibu tersesat, saya dan Ms. Carrie akan menjemputnya. Kita kembali tidak menggunakan Tram ini lagi, bis kita menunggu di parkiran Victoria Peak ". Kembali Quenny memberikan informasi kepada peserta tournya. Para peserta hanya mengangguk - anggukkan kepalanya menandakan jikalau mereka sudah mengerti dan mereka juga sudah sibuk dengan berfoto masing - masing. "Mari Pak, saya bantu jika mau berfoto?" Tanya Quenny kepada Alvaro. "Sini kita foto berdua saja". Ajak Alvaro tidak mau menyia - nyiakan kesempatan untuk foto berdua Quenny. "Berdua neh pak? Yakin Bapak mau foto berdua sama saya?" Tanya Quenny salah tingkah dan jangan lupa, jantungnya berdetak kencang. "Iyalah, kamu kan tour leader, saya mau ada kenang - kenangan foto dengan tour leader saya". Ungkap Alvaro untuk meredakan pacuan jantungnya karena dirinya tidak menyangka bisa mengajak Quenny foto berdua. Rasanya ini bukan dirinya Alvaro, dirinya merasa receh sekali dengan sikapnya. Baik.. mari Pak, tapi Bapak harus tersenyum fotonya, biar gantengnya tambah maksimal". Ajak Quenny kepada Alvaro. "Ckrek.. ckrek.. Coba Pak, saya lihat hasilnya? Hmm.. bagus.. nah gitu donk Pak tersenyum, nanti tolong kirim fotonya ya Pak, saya juga mau". Pinta Quenny kepada Alvaro. "Hmm.." Alvaro hanya mengguman sambil memperhatikan hasil foto mereka berdua. "Imut sekali kamu Quenn, bibirmu yang pink rasanya ingin saya cicipi". Guman Alvaro dalam hati. "Shittt... tahan Alvaro..  tahan nafsumu". Alvaro memaki dirinya yang sudah mulai m***m. **** "Bapak/Ibu kita sekarang sudah sampai di Avenue of Stars. Disini Bapak/Ibu bisa melihat cap telapak tangan artis - artis yang terkenal di selutuh dunia. Kita juga akan menyaksikan A Symphony of Lights jam 20.00 nanti waktu Hongkong selama 14 menit. Setelah itu saya tunggu di cafe yang akan saya tunjukkan untuk titik kumpul kembali. Jika sudah berkumpul semua, kita akan menuju bis dan kembali ke hotel untuk beristirahat'. Terang Quenny kepada para pesertanya. "Quenn, kita tunggu mereka di cafe saja, kamu mau minum kopi sambil menunggu mereka?" Tanya Alvaro. "Boleh Pak, kita tunggu mereka di cafe saja. Saya suka sekali tempat ini, cocok buat nongki - nongki. Jika saya ada beberapa grup bisa, saya sama teman - teman saya suka nongki disini setelah selesai membawa para peserta istirahat di hotel. Kami sengaja untuk kembali kesini hanya untuk menikmati malam di Hongkong". Quenny menceritakan pengalamannya sesama tour leader. "Besok malam kita kesini lagi aja untuk menikmati malam terakhir di Hongkong". Ajak Alvaro setelah mendengarkan cerita Quenny. "Kita duduk di bagian depan aja ya Pak, saya mau menikmati A Symphony of Lights, saya suka sekali, keren lampu - lampunya, kesannya romantis. Seandainya ada pria yang melamar saya disaat lampu - lampu itu dinyalakan bergantian, akan saya terima, tidak akan saya tolak. Suasannya mendukung sih". Quenny terkikik membayangkan seorang pria yang akan melamarnya dengan romantis. Alvaro hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya dan dalam hatinya berguman "tunggu tanggal mainnya Queen, aku akan mengabulkan permintaanmu itu". "Saya kok jadi bicara melantur sih sama Bapak, jadi curcol kok.. maaf ya Pak, saya hanya bercanda aja Pak". Quenny menjelaskan sambil tersenyum kecut karena perkataannya kepada Alvaro.  Mereka menikmati waktu dalam diam sambil mendengarkan lagu dari Cafe yang mereka tempati. Mereka menyaksikan lampu - lampu yang menyala bergantian dengan latar belakang gedung bertingkat - tingkat.  "Queen, mau kah kamu jadi kekasih saya?" Tanya Alvaro dengan suara yang kecil. "Maaf Pak, tadi Bapak bicara apa? Saya tidak kedengaran". Terang Quenny, padahal dirinya mendengar apa yang diucapkan tetapi Quenny ingin mengkorfirmasi apa yang sudah didengar apa yang dilontarkan Alvaro. "Tidak.. saya tidak bicara sama kamu". Alvaro menjawab dengan salah tingkah namun langsung mengendalikan dirinya dan memasang muka datarnya kembali. "Oh.. saya kira Bapak bicara sama saya". Jawab Quenny. Walaupun dirinya sempat deg -deg an dengan pernyataan Alvaro, tapi setelah Alvaro menjawab seperti tadi, ada rasa kecewa sedikit yang dirasakan oleh Quenny. **** "Baik Bapak/Ibu kita sudah tiba di hotel, tolong diperiksa tempat duduknya, jangan ada barang bawaan yang tertinggal karena besok kita tidak menggunakan bis ini lagi". Terang Quenny. "Saya akan membagikan kunci kamar Bapak/Ibu di lobby hotel". Kembali Quenny memberikan informasi untuk berkumpul di lobby hotel guna mengambil kunci kamar mereka masing - masing. "Saya akan informasikan hal - hal yang penting, besok Bapak/Ibu akan ada morning call jam 07.00, sarapan jam 08.00 dan selanjutnya waktu bebas. Jangan lupa sekarang kita menggunakan waktu lokal Hongkong. Beda waktu kita satu jam lebih awal. Kalau di Jakarta jam 09.00 malam berarti kita sekarang jam 10.00 malam. Baik Bapak/Ibu, kunci kamar sudah saya bagikan.. selamat malam dan selamat istirahat. Jika ada yang mau ditanyakan bisa telpon  ke kamar saya di 1024 atau via w******p juga tidak masalah. Jika tidak ada masalah, jangan telpon saya atau WA saya karena saya pun ingin istirahat". Terang Quenny sambil terkikik. "Bisa aja mbak Quenny.. selamat malam mbak.. sampai ketemu besok". Ucap ibu yang suka shopping itu. "Selamat malam semuanya.." Ucap Quenny. "Malam Mbak Quenny cantik". Jawab mereka serempak. "Kamu di lantai sepuluh juga Queen? Saya di 1026, sepertinya kamar kita bersebelahan".Komentar Alvaro kepada Quenny.    "Iya, sepertinya kamar kita bersebelahan atau berhadap - hadapan". Jawab Quenny sambil menempelkan kunci kamarnya ke lift untuk memilih lantai dimana kamarnya berada. "Ini kamar saya, dan kamar Bapak tepat didepan kamar saya". Ucap Quenny. "Selamat malam dan selamat beristirahat, jangan lupa mimpiin Quenny yang imut ini ya". Ucap Quenny kembali sambil terkikik. Alvaro berjalan mendekati Quenny dan "CUP", Alvaro mengecup kening Quenny sekejap dan mengacak rambut Quenny. "Good night, have a nice dream and don't forget to dream about me". Alvaro tersenyum dan meninggalkan Quenny menuju kamarnya. "OMG... jantung gue, please jangan merathon kayak gini, gue belum mau mati muda, gue masih mau jalan - jalan keliling dunia bareng Alvaro, upss.. kok jadi Alvaro lagi sih". Guman Quenny dan dirinya masuk ke dalam kamarnya dan langsung loncat ke kasurnya. "Arrrggghhhhh... bisa gilaaa... Alavaroooooo bangkeeeee... elo bikin gue melted". Quenny berteriak didalam kamarnya. Sedangkan Alvaro didalam kamarnya hanya tersenyum - senyum karena sudah mencium Quenny tanpa dirinya rencanakan. "Night my lil queen, hope tomorrow will be sweet than today". Alvaro berbicara sambil menatap jendela yang menampakkan gedung tinggi bertingkat di Hongkong. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD