The Day

1167 Words
"Maaf, Bapak namanya siapa, saya ingin mendata nama Bapak sesuai dengan data peserta grup kita?" Ucap Quenny kepada Bapak yang baru saja menghampiri Quenny untuk melaporkan kehadirannya. "Nama saya Faisal Sakabumi". Ucapnya sambil melihat Quenny mencari namanya di dalam daftar peserta dan meliriknya dari atas sampai bawah. "Baik Pak Faisal, ini ada dua luggage tag nama Bapak, ini tolong dipasang di koper bapak yang akan dimasukkan bagasi dan yang satunya lagi Bapak bisa simpan, siapa tahu nanti kalau pulang koper Bapak jadi beranak. Dan didalam dompet tour ini ada jadwal perjalanan dan sedikit obat - obatan". Sambil menjelaskan, senyum Quenny tercetak di mukanya dengan tulus. "Malam Pak Alvaro, baru tiba Pak? Ini saya berikan perlengkapan tour untuk Bapak yang didalamnya ada luggage tag, buku perjalanan serta sedikit obat - obat". Quenny memberikan infomasi kepada Alvaro yang baru saja tiba dan melaporkan dirinya untuk didata. "Terima kasih ibu Quenny". Alvaro menjawabnya dengan sopan dan menerima perlengkapan tour yang diberikan oleh Quenny. "Selamat malam Bapak dan Ibu Sekalian, sebentar lagi kita akan ke imigrasi untuk check in, saya akan menjelaskan sedikit kepada Bapak dan Ibu sekalian. Nama saya Quenny Acelin, saya yang akan mendampingi perjalanan Bapak dan Ibu. Mungkin sudah ada yang mengenal suara saya, tapi belum pernah ketemu karena kita hanya berhubungan via telepon dan WhatssApp saja. Saya akan mendampingi Bapak dan Ibu selama 4 hari 3 malam selama di HongKong. Apabila ada yang kurang jelas dan ada pertanyaan, jangan segan - segan untuk bertanya langsung kepada saya Saya siap 24 jam untuk membantu Bapak dan Ibu, tapiiii... ada tapinya neh Bapak dan Ibu... jika tiba saatnya untuk istirahat, saya tidak menerima pertanyaan dari Bapak dan Ibu sekalian, saya akan jawab keesokan harinya karena saya pun butuh tidur sama seperti Bapak dan Ibu sekalian". Quenny menjelaskan secara terperinci dan diselingi dengan candaan dan tak lupa memasang tampang yang imutnya. "Saya akan membagikan paspor dan boarding pass Bapak dan Ibu sekalian untuk kita check in bersama - sama. Jangan lupa ya Bapak/Ibu, kita ada di gate 6 dan masih ada waktu 1 jam lagi untuk take off ke HongKong" Ujar Quenny sambil membagikan tiket dan paspor para peserta. "Queen, kamu sudah makan malam?" Tanya Alvaro kepada Quenny, "Sudah Pak, tadi saya makan disini , saya sudah harus stand by di bandara 4 jam sebelum keberangkatan, jadi saya makan disini". Ucap Quenny yang sedang berjalan beriringan dengan Alvaro menuju imigrasi. "Berat juga ya pekerjaan kamu. Kamu sudah harus siap di bandara 4 jam sebelum keberangkatan". Ujar Alvaro sambil mengangguk - angukkan kepalanya. "Mungkin bagi mereka yang tidak suka, akan terasa berat menjalaninya, tapi saya menikmati pekerjaan saya ini, jadi saya tidak merasa terbebani". Jawab Quenny dengan senyuman manisnya. "Kamu nanti duduk di no berapa?" Tanya Alvaro kepada Quenny. "18J". Jawab Quenny singkat. "Saya di 24K, ternyata kita duduk berjauhan ya?" Alvaro memberikan pernyataan kepada Quenny. "Ya lumayan tapi tidak terlalu jauh juga, staff airport handling yang mengatur tempat duduknya. Kami ditempatkan yang jauh dari para peserta duduknya supaya dalam perjalanan kami bisa istirahat tanpa gangguan dari pertanyaan para peserta. Tetapi pulangnya, biasanya kita akan duduk satu grup tetapi acak - acakkan, suami - istri tidak bisa duduk bersamaan. Jadi nanti pas pulangnya akan saya rapikan tempat duduknya supaya suami - istri duduknya tidak terpisah". Jelas Quenny kepada Alvaro. "Bapak kok tidak duduk di bussiness class, Bapak kan CEO, malah duduknya di economy class?" Tanya Quenny dengan penasaran. "Saya hanya ingin dekat dengan karyawan saya saja yang sudah mencapai target, biar mereka lebih semangat lagi dalam berkerja". Ucap Alvaro kepada Quenny. "Manis sekali Pak Boss kita satu ini". Ucap Quenny sambil menaik turunkan alisnya guna menggoda Alvaro. "Kamu ini bisa aja". Alvaro tersenyum tipis sambil mengacak - acak rambut Quenny. "Wow... saya jadi tersepona jika Bapak tersenyum seperti tadi, coba kalau Bapak sering - sering senyum, kadar kegantengan Bapak jadi tambah berlipat - lipat". Goda Quenny sambil tersenyum - senyum. Dalam hati Quenny, "lama - lama bisa diabetes dah gue liat senyum doi kayak gitu".  "Tidak perlu senyum pun saya sudah ganteng". Ucap Alvaro dengan datar dan narsisnya mulai kumat. "Ishh.. nyebelin, baru juga dipuji sedikit balik dingin lagi, geer pula". Quenny mengguman pelan. "Saya dengar apa yang kamu bicarakan Quenny". Alvaro mendengar Quenny berguman namun hatinya senang melihat Quenny cemberut. **** "Excuse me mam, can we change the seat, my girl friend and I have a little bit problem, she was angry with me, so I want to solve our problem while we are on board. I Seat on 24K, same with your number but different row". Alvaro berbicara kepada wanita yang duduk disebelah Quenny. "Ok, It's not a big problem to me and good luck, you are a good gentlement". Ucap sang wanita dan menuju kursi yang seharusnya ditempati oleh Alvaro. Quenny hanya bisa menatap Alvaro dengan tatapan yang tidak habis pikir."WTF, what the hell are you doing? I'm not your girl friend". Guman Quenny dalam hati, namun jantungnya berdetak kencang sekali. "Kenapa kamu lihat saya seperti itu, tidak pernah melihat pria ganteng?" Tanya Alvaro kepada Quenny. "I'm speechless with you, Sir". Ucap Quenny sambil geleng - geleng kepala. "Kamu duduk di dalam, biar saya yang duduk di aisle". Ucap Alvaro kepada Quenny. Tanpa menjawab Alvaro, Quenny mulai duduk di dekat jendela dan sudah siap dengan head set serta bantal lehernya, cukuplah bagi Quenny untuk tidur 4 jam selama penerbangan menuju HongKong. "Kamu nanti mau saya bangunkan untuk snack?" Tanya Alvaro kepada Quenny, karena untuk penerbangan malam, airlines hanya memberikan snack ringan saja.  "Tidak perlu Pak, saya hanya ingin tidur saja, saya tidak mau menyia - nyiakan waktu istirahat saya hanya untuk sekedar makan snack". Ucap Quenny yang sedang meredakan deguban jantungnya karena bisa duduk berduaan dengan Alvaro. Quenny harus bisa menguasai dirinya duduk disamping Alvaro yang parfumnya Alvaro itu membuat Quenny mabuk kepayang. "Baiklah, kamu bisa tidur, kamu juga bisa bersandar dibahu saya kalau kamu mau". Ucap Alvaro lagi kepada Quenny dan itu membuat muka Quenny langsung merah. "Terima kasih pak, tapi tidak perlu, saya sudah menggunakan bantal leher saya". Jawab Quenny sambil menahan malu. Alvaro mengangguk - angukkan kepalanya menandakan dirinya setuju dengan ucapan Quenny. Hatinya senang sekali bisa duduk berdua dengan Quenny. Jantung Alvaro pun berdegub dengan cepat karena masih memikirkan duduk berdua dengan Quenny. **** Hati Alvaro diselimuti dengan kehangatan yang tiada tara. Dirinya sangat senang dan jantungnya tidak bisa diajak kompromi, berdegub kencang saat mengetahui dirinya bisa duduk berduaan dengan Quenny selama penerbangan menuju HongKong walaupun dirinya ditinggal tidur oleh Quenny. Alvaro memang tidak terbiasa untuk duduk di economy class mengingat tubuhnya yang tinggi sehingga menyisakan ruang lututnya dan kursi didepannya hanya 10 centi. Kalaupun ingin menggunakan penerbangan komersial, minimal Alvaro menggunakan business class karena jarak lututnya dengan kursi didepannya masih sisa banyak. Namun hal itu tidak digubris oleh Alvaro, yang penting dirinya bisa berduaan dengan Quenny. Lelah fisik bisa tergantikan hanya dengan istirahat, itu yang dipikirkan oleh Alvaro. Alvaro melihat Quenny yang sedang tertidur di pundaknya. Dengan senyuman yang hangat dirinya mengelus lembut rambut Quenny yang tercium harum vanilla. Alvaro merasa sudah bertemu candunya, yaitu harum vanilla dari rambutnya Quenny. "Kenapa hatiku terasa nyaman dan hangat bersama gadis ini? Kamu telah mencuri hatiku my lil queen". Guman Alvaro dalam hatinya. "Aku akan mengejar hatimu, cintamu hanya untuk diriku". Alvaro mengucapkan janjinya untuk Quenny didalam hatinya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD