Him

1710 Words
"Babe, akhirnya kita yang menang bidding Angkasa Cemerlang tour ke Hongkong". Teo memberitahukan Quenny jikalau mereka memenangkan bidding tersebut dari Pak Boss. "Yoii babe, tadi pagi Pak Boss juga info ke gue". Quenny menjawab  "Babe, nanti tolong gue kumpulin berkas dan data - data yang mau ke HongKong ya, gue kudu ikut Pak Boss meeting dulu neh". Quenny kembali berujar ke Teo. "Siapp my queen". Teo menjawab dengan tatapan masih fokus ke layar komputer. "Saranghae cinggu". Setelah selesai membereskan berkas yang akan dibawa, Quenny memberikan jari berbentuk heart ala - ala fangirl Korea ke arah Teo. "Quenny, blazer elo dipake tuh, kemeja elo ketipisan, tali sorga elo kelihatan, nti cowok - cowok ngeliatin elo pada napsu lagi". Teo memberikan komentarnya kepada Quenny. "Ashiappp bosque, kamu manis sekali sih selalu mengingatkan saya terus, saya takut, nanti saya jatuh cinta sama kamu sayang". Quenny tersenyum dan menoel lengan Teo sambil mengedipkan matanya dan langsung menuju ruangan si Pak Boss.  "Gue siap Queen buat bertanggung jawab kalau elo jatuh hati dengan gue". Guman Teo dalam hati dan menatap nanar kepergian Quenny. **** "Puffftt... Adek lelah sangat neh bang, ada yang mau traktirin gue nongki ga?" Ucap Quenny kepada teman - teman perkumpulan di kantornya, setibanya dari selesai meeting seharian diluar. "Lama aja lo cong meeting? Elo meeting apa mijit yang penting - penting sama si Pak Boss?" Tanya Gita sambil terkikik berdua dengan Vanni. "Ehhh, elo berdua ya... kita ini kerja di Jekardahh, yang namanya macet sudah makanan kita sehari - hari. Kalau ga macet itu berarti Jakarta lagi lebaran, orang - orang pada mudik... Gue kejebak macet sama si Pak Boss.. benconggg. Lagian Pak Boss itu ga bisa bikin gue "basah". Quenny menahan gemas dengan kedua temannya. "Weitsss .. maenannya "basah - basahan" sekarang si bencong satu ini, ya ga Vann?" Seru Gita masih sambil terkikik berdua Vanni. Sedangkan Teo dan Lebang hanya geleng - geleng kepala mendengarkan celotehan ketiga teman mereka itu. "Teo sayangggg... elo sudah minta data - data yang ikut jadi peserta ke HongKong nya sama PT. Angkasa?" Tanya Quenny kepada Teo. "Udahh... giliran ada maunya aja, gue dipanggil sayang". Gerutu Teo kepada Quenny. "Love you Teo sayang". Quenny memperagakan mencium orang dari jarak jauh. Teo melihat aksi Quenny yang memperagakan sikap cium dari jarak jauhnya. "Tuh bibir pengen banget kena cipok gue". Guman Teo dalam hati. "Gue uda masukin datanya, nama - nama mereka sudah gue kirim ke airlines buat di booking". Teo memberitahu Quenny apa yang sudah dikerjakannya selepas Quenny meeting tadi bersama Pak Boss nya. Quenny memeriksa data - data para peserta yang akan ikut ke HongKong dari PT. Angkasa untuk menghidari kesalahan nama dalam pemesanan kursi di pesawat. Quenny juga membuat pembagian kamar para peserta. Setelah dihitung, masih kurang dua nama lagi berdasarkan kuota peserta. "Te, namanya masih kurang dua ya? Kira - kira kapan mau dikasihnya?" Tanya Quenny kepada Teo. "Paspor nya masih dipakai sama mereka, lusa baru dikasih ke kita, sekalian elo disuruh ambil semua paspor para peserta di kantor mereka. Elo disuruh ketemu sama sekretaris Boss nya". Ucap Teo sambil mengecek berkas - berkas serta paspor untuk mengajukan visa Eropa. Teo sedang mengerjakan grup lain yang akan wisata ke Eropa dan Teo bertanggung jawab grup tersebut dari awal sampai selesai grup tersebut dan kembali ke tanah air.   "Ooo..". Quenny hanya membulatkan mulutnya membentu huruf O. **** "Mbak Quenny, ini semua paspor yang sudah dikumpulkan, untuk paspor yang satu ini, Bapak minta kamarnya sendirian, bapak minta single supplement". Sekretaris yang ditemui oleh Quenny memberitahukan apa saja permintaan dari PT. Angkasa untuk perjalanannya ke HongKong. "Baik bu". Quenny menjawabnya dengan sopan. "Sisca, tolong pesankan restauran untuk dinner nanti, saya ada meeting dengan Pak Rafael". Alvaro memberi perintah kepada sekretarisnya. "Ehh, Alvaro? Kok ada disini? Kerja disini?" Tanya Quenny dengan antusiasnya kepada Alvaro yang baru menyadari kedatangan Alvaro karena sedari tadi dirinya sibuk memeriksa paspor yang baru saja diterima. "Loh, kamu.. Quenny, kok kamu disini? Oh kamu yang mengurus perjalanan kami?" Tanya Alvaro sambil melihat tangan Quenny yang sibuk membereskan paspor.  "Iya Al, aku yang mengurus perjalanan PT. Angkasa ke HongKong". Seru Quenny. "Pak, saya sudah pesan restauran Itali buat nanti malam". Sang sekretaris menjawab permintaan atasannya. Alvaro berjalan mendekati meja sekretarisnya yang di depannya sedang ada Quenny. "Quenny, kamu sudah makan siang? Temani saya makan siang ya, saya tunggu kamu di lobby". Tanpa menunggu jawaban dari Quenny, Alvaro meninggalkan Quenny dan sekretarisnya menuju lift. "Eh... oh.. loh.." Quenny bingung dengan sikap Alvaro yang tanpa menunggunya memberi jawaban. "Ini masukan semua berkas dan paspornya ke dalam tas ini saja Mbak Quenny, si Boss tidak suka menunggu". Sisca sang sekretaris memberitahu jikalau Alvaro, boss nya tidak suka menunggu. "Memangnya dia siapa sih bu? bukannya Boss nya itu pak Dharma yang waktu itu meeting dengan saya?" Tanya Quenny penasaran. "Pak Alvaro itu Boss besar, dia itu CEO disini". Jawab Sisca dengan santai "Matenggg gue". Guman Quenny yang didengar oleh Sisca sambil mengembangkan senyumnya. Quenny baru menyadari kalau sikapnya tidak sopan yang memanggil Alvaro tanpa sebutan Bapak.  **** "Maaf pak Alvaro membuat bapak menunggu". Quenny berkata kepada Alvaro yang sudah menunggunya di Lobby. "Tidak apa - apa, saya pun masih menunggu mobil saya. Mari, itu mobil saya sudah di depan". Alvaro mengajak Quenny menuju mobilnya. "Suruh siapa kamu duduk dibelakang? Kamu kira saya supir kamu?" Alvaro memberi perintah kepada Quenny untuk pindah dan duduk didepan, disampingnya. "Ohhh... ehhh... maaf pak, saya tidak enak jika duduk di depan, kurang sopan rasanya". Quenny membalas Alvaro dengan memasang senyum yang tidak enak hati. Namun dalam hatinya dia merasa jengkel atas sikap Alvaro yang bicara dengan nada ketus dan jutek. Lalu Quenny pun duduk disamping Alvaro. Dalam mobil mereka hanya berdiam diri, tanpa ada yang membuka suara. Tetapi Quenny ini tidak suka dengan keheningan yang tercipta di dalam mobil itu. "Hmm.. Pak Alvaro.. Bapak itu CEO PT. Angkasa ya? Maaf saya bersikap tidak sopan dengan memanggil Bapak tidak memakai sebutan Bapak". Ujar Quenny kepada Alvaro guna memecahkan keheningan di dalam mobil. "Kamu tidak bertanya, buat apa saya menjelaskannya kepadamu?" Alvaro masih dengan mode jutek nya serta mukanya yang datar menjawab Quenny namun terukir senyum tipis disudut bibirnya. Alvaro suka dengan muka merahnya Quenny jika digoda dan mukanya yang cemberut dengan bibirnya yang dimajukan, rasanya Alvaro ingin menciumnya. "What? Mencium Quenny?" Rasanya ada yang salah dengan otak Alvaro saat ini. "Ya ga perlu juga sih Bapak menjelaskannya kepada saya, karena yang saya tahu kalau Bapak itu temannya Kak Rafa". Terang Quenny kepada Alvaro dengan memasang muka cemberutnya. "Kamu tuh ya... buat saya gemas saja". Alvaro mengacak rambut Quenny karena Alvaro sudah merasa gemas melihat tingkah Quenny. "Ishhh si Bapak pegang - pegang kepala saya, nanti ada yang marah loh". Ucap Quenny masih dengan mode cemberutnya karena dirinya tidak suka ada orang yang mengacak rambutnya, hal itu membuat rambutnya jadi berantakan. "Siapa yang marah? Si Rafael marah kalau saya mengacak rambut pacarnya?" Alvaro menahan rasa kesal dengan menutupi sikapnya memasang kembali wajah datarnya. "Pacar Bapak lah yang bakal marah". Quenny menjawabnya dengan malas malasan. **** "Kamu pesan apa saja yang mau kamu makan, saya yang akan bayar". Jelas Alvaro kepada Quenny. "Ya harus Bapaklah yang bayar, kan Bapak Boss, masa karyawan kayak saya yang harus traktir Boss sih? Lagian kalau Bapak tidak mau traktir saya, akan saya kasih tahu ke Kak Rafa jika temannya yang bernama Alvaro itu pelit, tidak mau traktir adiknya yang tersayang". Quenny berceloteh sambil membalik - balikkan buku menu. "Degg.. ternyata dia adiknya si Rafael, pantas saja muka mereka pada mirip, kok aku ga sadar sih". Guman Alvaro dalam hati. Alvaro sangat senang sekali mengetahui kebenaran ini dan setelah menata jantungnya yang berdegub kencang, Alvaro memulai aksinya untuk bertanya - tanya. "Oh, jadi kamu adiknya Rafael itu, kok saya tidak tahu ya? Waktu wisuda di London, kok kamu tidak ikut?" Sesi tanya jawab dimulai oleh Alvaro. "Bapak tidak tanya yang jelas sih sama saya, kalau Bapak tanyanya ke Kak Rafa sama saja bohong, dia itu posesif sekali sama saya, dia tidak akan membiarkan saya dekat dengan pria - pria yang menurutnya brengsek... Dan juga waktu itu saya tidak bisa hadir karena saya sedang job tranning di Bali guna menyelesaikan nilai mata kuliah saya". Terang Quenny kepada Alvaro. "Saya kira kalian pacaran sebab tingkah kalian mesra sekali seperti orang pacaran". Alvaro memberikan pernyataan. "Kenapa pak? Cemburu ya lihat kedekatan kami?" Quenny terkikik menahan ocehannya. "Sedikit cemburu melihat kalian". Alvaro berucap dan dirinya baru sadar jika dia tidak mengontrol omongannya. "Shitt, napa aku jadi ngomong seperti ini". Alvaro mengumpat dalam hati. Blushh, muka Quenny langsung merah dan dirinya tidak bisa berkata apa - apa lagi dan Quenny meminum habis air putih yang ada disampingnya. Alvaro melihat tingkah Quenny, hatinya senang sekali melihat muka Quenny memerah akibat ucapannya. Dan mulai detik itu juga, dirinya memutuskan untuk selalu menggoda Quenny. "Sudah, habisi makananmu, setelah itu saya antar kamu ke kantor". Ucap Alvaro menahan senyumnya karena Quenny masih salah tingkah. "Tapi saya masih bingung, orang tua kamu kan cukup berada, kamu bisa membantu papamu dan kakakmu buat kerja di kantor mereka. Tapi kenapa kamu malah kerja di Travel Agent?" Alvaro masih penasaran dengan Quenny. "Saya itu suka sekali jalan - jalan Pak, saya suka bertemu dengan orang - orang yang baru daripada harus bekerja di belakang meja. Kalau kerja dibelakang meja itu, hanya orang itu - itu saja yang saya temui, tetapi jika saya bekerja di Travel Agent, saya menemui banyak orang yang berbeda - beda karakter. Lagian saya juga mau belajar mandiri tanpa meminta uang kepada orang tua karena saya sudah dewasa. Tetapi memang orang tua saya masih memberi saya uang untuk kebutuhan saya. Daddy bilang kalau saya belum menikah, hal itu masih tanggung jawab mereka, tetapi jika saya sudah menikah, maka itu menjadi tanggung jawab suami saya. Bapak bersedia bertanggung jawab dengan semua keperluan saya?" Ucap Quenny dengan polosnya. "Uhukk .. uhukk". Alvaro langsung terbatuk karena tersedak salivanya sendiri akibat ucapan Quenny yang to the point sekali di kalimat terakhirnya. "Maaf pak, saya bercanda.. abis muka Bapak serius banget sih". Quenny memberikan minum kepada Alvaro karena tersedak sambil Quenny menahan senyumnya karena berhasil menjahil Alvaro. "Sudah selesaikan pak makannya, ayo antarkan saya kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang menanti saya di kantor". Quenny mengajak Alvaro untuk keluar dari restaurant dan kembali ke kantornya. "Kamu jangan panggil saya Pak, saya jadi merasa tua, dan juga saya ini kan teman Kakakmu, kami seusia kok, panggil saya tanpa embel - embel Pak. Kita juga tidak dalam situasi yang mengharuskan kita bekerja sama saat ini. Kita sudah diluar kantor walaupun status kita masih dalam tahan client dan customer". Ucap Alvaro panjang lebar. "Baiklah Kakak Alvaro yang jutek and dingin sedingin Freezer dirumah saya". Ucap Quenny sambil terkikik dan Alvaro langsung cemberut akibat ucapan Quenny. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD