"Expresso nya 1". Alvaro sedang memesan kopi untuk meredakan kantuknya yang sedang menghampirinya. Dalam perjalanan menuju penthousenya setelah meeting seharian di luar kantor, dirinya membutuhkan sesuatu untuk membuatnya tetap sadar karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk bahan meeting esok hari. Ia menyuruh supirnya untuk berhenti sebentar di cafe yang sepertinya baru buka dan terlihat ramai.
"Ada tambahan lagi pak?" Tanya sang pelayan.
"Cukup". Singkat jelas dan padat yang dijawab oleh Alvaro, tak lupa dengan tatapan datarnya.
"Totalnya empat puluh lima ribu pak". Ucap sang pelayan.
"Ini, kembaliannya buat kamu". Alvaro menyodorkan uang selembar berwarna biru kepada pelayan.
"Terima kasih pak, kami tunggu kedatangannya kembali". Pelayan mengambil uang yang diberikan oleh Alvaro dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Ehhhmm.. lumayan pahit untuk membuatku tetap terjaga". Guman Alvaro sambil menyesap dan menikmati kopi yang dipesannya. Dan Alvaro berjalan menuju pintu keluar.
"Bughh, awwww jidat gue benjol dah". Omel wanita yang ada menabrak Alvaro.
"Ahhh.. siapa lagi ini yang buat ulah, ga liat ya kalau ada orang jalan". Guman alvaro dalam hati.
"Kalau jalan itu lihat - lihat donk, jalan itu lihat ke depan bukan ke henpon". Alvaro mendumel karena wanita didepannya itu menabraknya sehingga kopinya tumpah mengenai kemejanya. Saat mata mereka bersitatap, Alvaro tampak tertegun sejenak melihat penampilan wanita dihadapannya.
"Imut, cantik!" Guman Alvaro dalam hati.
"Ehhh sori mas, saya ga liat, maaf ya mas, aduh bajunya kena kopi ya? Maaf ini mah mas, saya ganti mas biaya laundry nya, kasih saya no henpon mas nya, nanti kalau sudah selesai laundry, saya ganti biayanya". Ucap wanita tersebut kepada Alvaro.
"Ga perlu, saya masih mampu buat biaya laundry". Alvaro menjawab wanita yang menabraknya.
Oklah kalau begitu, makasih ya mas... betewe jutek banget sih mas nya, kan saya sudah minta maaf, jangan jutek - jutek mas, nanti ga cewek yang mau loh sama mas nya". Wanita itu berceloteh sambil senyum - senyum.
"Gaje banget". Alvaro berguman pelan dan langsung meninggalkan wanita yang menabraknya tanpa melihatnya lagi sambil senyum tipis tanpa diketahui oleh siapapun yang melihat adegan mereka.
****
"Bro, ga perlu elo antar gue balik, masa seorang Boss besar mengantar gue yang hanya seorang jongos". Ucap Rafael kepada Alvaro.
"Ga usah basa basi bro, elo itu temen gue, elo bukan jongos, jangan merendahkan diri, siapa yang tidak kenal dengan Rafael Abrisam Pradipta? Orang pada kenal dengan nama keluarga elo bro. Gue juga mau sekalian jalan meeting diluar". Alvaro menoyor lengan sahabatnya.
"Ting". Lift yang mereka naiki terbuka di lantai lobby.
"Bro, gue cuss dulu ya, weekend ini kita jadikan kumpul sama yang lain?" Rafael pamit kepada Alvaro, teman satu kuliahannya.
"Ok bro, jangan lupa telpon gue ya, takut lupa". Alvaro mengingatkan Rafael.
"Eitsss main tarik - tarik aja tangan gue". Ada seorang yang mengomel dengan orang yang dengan sengaja menarik tangannya.
"Maaf pak, tolong jaga sopan santunnya, kenapa Bapak menarik tangan partner saya?" Ucap pria yang berada di sebelah wanita itu kepada Rafael yang menarik tangan wanita tersebut dengan tiba - tiba.
"Saya akan membawa saudari Quenny karena dia adalah orang yang berarti bagi saya". Ucap tegas Rafael kepada pria yang bertanya pada Rafael.
"Tapi Bapak siapanya Quenny?" Tanya ulang pria tersebut.
"Sudah saya bilang kalau saudari Quenny itu adalah orang yang berarti bagi hidup saya". Ulang Rafael dengan tegas dan tatapan yang tajam kepada pria itu.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap wanita yang tangannya ditarik Rafael.
"Apakah kamu lupa sayang, kalau kamu ditunggu dirumah oleh orang tua kita?" Jawab Rafael kepada wanita itu.
"Maaf pak, tapi saya masih sibuk, saya masih ada presentasi satu lagi di gedung sebelah". Ucap wanita itu kembali.
"Tidak ada penolakan, kamu harus ikut saya sayang, kamu harus presentasi di kantor saya, apa kamu lupa dengan permintaan dari perusahaan saya, setelah itu kita pulang ke rumah orang tua saya?" Ucap Rafael masih kepada wanita tersebut.
"Baiklah pak, saya akan ikut dengan Bapak buat presentasi". Dan pada akhirnya, wanita itu mengiyakan ajakan Rafael.
"Te, gue presentasi dulu ya, elo bisa kan sendiri presentasi di gedung sebelah? Gue nanti pulang naik taksi aja, tolong bilang Pak Boss ya". Wanita itu meminta ijin kepada temannya untuk pergi bersama Rafael.
"Ok lah, jangan lupa balik kantor buat absen pulang". Temannya mengingatkan wanita tersebut.
"Elo aja deh yang absenin gue balik, tolong bilang Pak Boss, lagian kan elo ga bisa absenin gue, kudu pake jari gue. Bilang pak boss aja biar nanti Pak Boss ijin ke HRD". Ucap Cewek itu kembali.
"Ok, see u then". Sambil melambaikan tangan mereka berserta Rafael pergi meninggalkan gedung Angkasa Cemerlang.
Dalam diamnya, Alvaro mengamati interaksi antara mereka bertiga."Ohh, tenyata namanya Quenny, dia adalah pacar Rafael". Ada rasa sedikit tercubit dihati Alvaro, namun dia masih belum tahu rasa apa itu. Mereka berdua bersitatap mata hanya sebentar sebelum Quenny meninggalkan gedung itu. Alvaro menyadari jikalau Quenny adalah cewek yang menabraknya di cafe dari semenjak Rafael menarik tangan Quenny dengan tiba - tiba.
****
"Loh, itu bukannya si Rafael sama Quenny". Alvaro memperhatikan gerak gerik antara Rafael dan Quenny yang duduknya tidak jauh dari Alvaro yang baru saja selesai meeting dengan client nya sambil makan malam.
"Hai bro, lagi dinner? Sejak kapan elo punya pacar, kok ga cerita sama kita- kita?" Alvaro bertanya kepada Rafael yang sedikit merasa penasaran dengan hubungan sahabatnya dengan Quenny yang masih memasang mukanya yang datar.
"Ehhh bro, sama siapa? Sendirian? Oh ya kenalkan sayang, ini temen aku waktu sama - sama kuliah di London". Rafael mengenalkan Quenny kepadanya.
"Quenny Acelin". Quenny menyodorkan tangannya.
"Alvaro Kalandra". Dan dirinyapun menyambut tangan Quenny untuk berjabat.
"Sayang, kamu kalau makan berantakan sih, tuh liat sausnya sampai berantakan". Rafael membersihkan saus di bibir Quenny yang berantakan dengan jempolnya dan langsung menjilat jempolnya. Dan, blushh, muka Quenny langsung merah.
Sedang Alvaro memperhatikan muka Quenny yang memerah karena perlakukan manis dari sahabatnya Rafael. "Ahh, imut banget sih kamu dengan muka merahmu seperti itu". Guman Alvaro dalam hati.
"Ahhh sayang, maaf ya, habis enak sih steik ini". Ucap Quenny kepada Rafael.
"Ayo sayang kita lanjutkan kencan kita, habis itu baru kita pulang ke rumah aku ya". Rafael mengambil tangan Quenny untuk meninggalkan restaurant tempat mereka dinner.
"Sorry ya bro, gue mau lanjutin kencan kami dulu". Rafael meminta ijin kepadanya dan memegang pinggang Quenny untuk mengajaknya pergi meninggalkan restaurant.
"Ohhh, Ok bro, see you and good luck". Dengan muka datar, Alvaro menjawab Rafael.
Alvaro menghela napas dan dirinyapun ikut berjalan keluar dan menuju mobilnya yang terparkir untuk kembali pulang ke penthousenya.
****
Alvaro sedang berada di dalam butik yang berada di mall. Dirinya berencana untuk mengambil pesanan gaun untuk adik dan mamanya tersayang karena mamanya bilang kepada Alvaro kalau mereka akan menghadiri sebuah acara dan keluarganya diharuskan datang semua. Sedang memperhatikan gaun yang ditunjukkan oleh pelayan butik yang dipesan oleh mamanya, Alvaro mendengar ada dua wanita yang sedang berbicara. Dirinya merasa mengenal suara dari salah satu wanita tersebut. Dan benar saja tebakan Alvaro jika itu adalah suara Quenny. Dalam diamnya, Alvaro memperhatikan interaksi kedua wanita itu dan hatinya pun terasa hangat.
"Ya sudah mbak, tolong bungkus dan bawa ke kasir, saya langsung bayar". Titah Alvaro kepada pelayan tersebut, namun tatapannya masih menuju kepada Quenny.
"Loh, kamu Alvaro Kalandra kan? Temannya Kak Rafael?" Tanya Quenny kepada Alvaro sesampainya mereka berada di kasir butik.
"Ohh.. hmm... yaa saya Alvaro temannya Rafael.. dan kamu Quenny kan pacarnya Rafael?" Tanya Alvaro dengan muka datarnya kepada Quenny.
"Mom, kenalkan ini Alvaro, temannya kak Rafael, dan Alvaro, kenalkan ini mommy Tania, mommy nya kak Rafael". Quenny mengenalkan wanita cantik disebelah Quenny yang diperkirakan usianya seusia mamanya.
"Alvaro Kalandra, tan.." Ucap Alvaro menjabat tangan wanita paruh baya itu dan matanya melirik kearah Quenny.
"Tania Pradipta, panggil mommy Tania saja". Ucap mommy Tania sambil membalas jabatan tangan Alvaro.
"Kalau begitu saya permisi dulu tante dan salam buat Rafael, mari tante.. Quenny.." Dirinya permisi kepada kedua wanita tersebut dan berjalan keluar butik.
Dan Alvaro kembali mendesah dan berguman. "Ternyata mereka sudah sampai sedekat ini hubungannya antara Rafael dan Quenny, bagaimana aku bisa masuk, jika mereka sudah sedekat ini, huffttt.."
"Seandainya... seandainya dirinya terlebih dahulu mengenal Quenny daripada Rafael". Alvaro berperang dengan hati kecilnya.
****