A Day With Mom

1657 Words
"Loh, kapan kamu sampai rumah? Kok mommy ga tau sih?" Mommy Tania bertanya kepada Quenny yang tiba - tiba sudah duduk di meja makan buat sarapan bersama. "Semalam mom, barang si babang, kami abis kencan semalam". Jawab Quenny sambil mengambil roti tawar yang akan diolesnya dengan selai rasa coklat kesukaannya. "Ohh gitu, kencan berdua aja, mommy ga diajak sama kalian?"Mommy Tania mendengus karena dirinya tidak diajak sama anak - anaknya. "Astaga dragon... Mommy kan bisa ajak daddy kalau mau kencan, kenapa mesti ganggu kami yang masih pada single sih?" Rafael menjawab mommy nya dengan nada jutek guna menggoda mommy nya karena dia tahu jika mommy nya ga rela jika anak - anaknya pergi nonton, dirinya tidak diajak. "Makanya cari pacar, jangan kamu ajak adik kamu terus, adik kamu juga perlu pacaran kaleee kak, masa dijaga terus sama kakaknya yang posesif sih?" Mommynya menjawab si sulung sambil menoyor kepalanya. Quenny dan adiknya serta sang daddy hanya senyum - senyum saja dengan kelakukan antara si sulung dengan mommy nya. Sudah kebiasaan bagi mereka jika mommy mereka cemberut dan berargumen dengan anak - anaknya. Bahkan sang kepala keluarga juga menikmati tingkah laku anak - anaknya dengan istrinya yang kadang suka absurd. Karena dengan begitu, terciptalah kerukunan dan keharmonisan rumah tangga mereka. "Ce, kamu masih inget pulang ke rumah, kira mommy kamu sudah lupa ingatan buat jalan pulang ke rumah?" Dan si mommy mulai dengan drama queen nya karena anak cewek satu - satunya ini jarang pulang, apalagi kalau sedang dinas keluar negeri, dalam sebulan belum tentu bisa pulang ke rumah. "Ya alissss kanjeng ratu mommy Tania yang cantik sejagad rumah, aku tuh sudah ada di rumah, masih aja ditanya, kalau aku tidak pulang - pulang, baru deh kanjeng ratu mommy mengomel. Lah ini sudah duduk manis di meja makan buat sarapan bersama, masih aja dipertanyakan". Quenny menjawab mommy nya sambil memajukan bibirnya. "Yaa kamu kan sudah lama ga pulang - pulang, mommy kan sepi dirumah sendirian, para lelaki ini pada sibuk dengan kegiatan masing - masing". Mommy menjawab sambil merengutkan mukanya. "Hmmm... ada yang curcol neh kayaknya". Av, si bungsu menyeletuk omongan mommy nya. Mereka semua punya nama kesayangan sendiri di rumah. Si sulung dipanggil dengan nama sayangnya, Ab. Sedang anak tengah dipanggil dengan nama sayangnya, Ce. Dan si bungsu dipanggil dengan nama sayang, Av. Dan anak - anak memanggil daddy kesayangan mereka dengan sebutan Baginda Raja Aryana, sedangkan sang mommy dipanggil dengan nama kesayangan Kanjeng Ratu Mommy Tania. "Makanya Baginda Raja, cobalah tolong luangkan waktu buat Kanjeng Ratu, ajak mommy honeymoon. Kan dikantor ada babang Ab, Baginda Raja bisa cuti sejenak. Ga kasian kah Baginda Raja kepada Kanjeng Ratu yang setiap weekend curcol terus sama anak - anaknya?" Giliran Av yang menyeletuk dengan santainya.   "Betul itu Baginda Raja". Ab dan Ce menjawab celetukan si Av. Sang kepala keluarga hanya senyum - senyum mengangguk - anggukkan kepalanya, sedangkan sang pendamping hidupnya hanya senyum - senyum menahan malu, dan anak - anaknya yang lain menahan ketawa dengan kelakuan kedua orang tuanya. "Baiklah, besok kita honeymoon ya sayang, biar babang Ab yang urus perusahaan dibantu dengan Ce". Sang kepala keluarga langsung memutuskan tanpa bertanya terlebih dahulu dengan si sulung dan si tengah,  apakah sudah siap dibebankan pekerjaan. "Eitttsss... tidak bisa Baginda Raja, Selasa aku harus meeting di Bali. Bulan depan aja Baginda Raja kalau mau cuti". Tolak si sulung, Ab. "No way.. aku kan kerja Baginda Raja, sebentar lagi high season kerjaanku banyak dan dikejar dead line. Tidak bisa Baginda Raja. Lagian kan aku ini hanya anak buah di travel milik orang lain". Ce juga menolak keputusan sang kepala keluarga. "Lah, kata kalian, Kanjeng Ratu butuh liburan, giliran daddy mutuskan untuk besok honeymoon, kalian menolaknya, jadi kalian ini sebenarnya mau apa sih?" Si daddy pura - pura merajuk di depan anak - anaknya. "Yaaa, ga dadakan juga kaleee Baginda, kan bisa pergi bulan depan, memangnya babang ga ada kerjaan di kantor?" Ab menggerutu karena daddynya yang memberi keputusan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Daddy dan mommy nya hanya senyum - senyum aja melihat tingkah laku Ab dan Ce yang cemberut dengan sikap daddynya, sedangkan si bontot hanya menaik turunkan alis nya. **** "Ce, temenin mommy ke mall yok, mommy mau beli gaun buat kita untuk acara tunangan sepupumu". Sambil membereskan meja makan, sang mommy mengajak putri satu - satunya untuk jalan - jalan. "Memangnya sepupu aku yang mana mom yang mau tunangan?" Tanya Quenny dengan tingkat kekepoan nya yang tinggi. "Ya siapa lagi sepupu kamu yang suka sekali memamerkan apa saja, apalagi calon tunangannya yang katanya orang kaya". Sang mommy memang agak kurang suka dengan sifat keponakannya yang suka pamer itu tetapi dia tetap sayang denggan keponakannya itu. "Ohhh, Sherly... Good donk jika dia bisa menikah dengan orang kaya, jadi cita - cita tercapai menjadi istri orang kaya". Jawab Quenny dengan cuek, toh walaupun sepupunya menikah dengan orang kaya, tidak ada efek samping dengannya karena Quenny tidak pernah minta untuk dibiayai hidupnya. Dia merasa bersyukur jika dirinya bisa bekerja dan menghidupi diri sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Itulah kebanggannya. "Hai, my queens, kalian mau kemana? Perlu babang tamvan antar?" Ab bertanya kepada adik dan mommy nya. "Si mommy mau ke butik di mall, mau beli gaun buat aku dan mommy. Aku bawa mobil sendiri aja kakakku yang tamvan dan baik hati, kami hanya butuh kartu kreditnya saja buat kami shopping, ya ga mom?" Quenny cekikikan dengan mommy nya menggoda sang kakak. "Pake CC daddy aja kalo kalian mau shopping, bisa jebol tagihanku jika kalian berkelompot untuk shopping berdua. Gajiku masih belum cukup untuk kalian berdua. Hanya cukup untuk satu orang". Keluh Rafael, karena dirinya tahu selera mommy nya kalau sudah shopping, walaupun uang Rafael sanggup buat beli beberapa penthouse. Tapi memang Rafael ini suka sekali menggoda adiknya. "Isshhh pelitnya si babang ini, udalah ga jadi ganteng dan baik hati serta rajin menabung lagi dehh". Quenny menggerutu sama kakaknya. "Kakakmu yang ganteng, baik hati serta rajin menabung ini hanya bisa bayarin kamu es krim aja". Rafael menggoda adiknya sambil menoel pipi adiknya. "Ga perlu, aku juga bisa kalau hanya es krim aja. Aku masih mampu, ga perlu kakak traktir". Quenny menjawabnya sambil menjulurkan lidah. Rafael dan mommy nya hanya senyum - senyum aja dengan kelakukan Quenny.  "Mom, ini kartunya jikalau mom dan Ce mau shopping, belikan Ce sepatu serta tas juga yang cocok dengan gaunnya. Ce sudah pasti menolak jika aku kasih kartu ini, mom tahukan seperti apa sifat Ce, dia tidak mau merepotkan kakaknya, padahal kakaknya tidak pernah keberatan untuk direpotkan". Rafael memberikan kartunya dan mewanti - wanti mommy nya untuk tidak memberitahu kalau kartu itu miliknya. Quenny tidak akan menolak apabila mommy dan daddynya membelikan baju atau yang lainnya karena daddy nya pernah berpesan. Selama Quenny belum menikah, maka tanggung jawab masih ada di tangan orang tuanya, tetapi jika sudah menikah, maka tanggung jawab keperluan Quenny ada ditangan suaminya." "How sweet you are my boy, you will get the best women who gonna take care of your future life". Mommynya mencium pipi anaknya dengan kasih sayang. **** "Mom, ini bagus ya mom, Ce mau yang ini aja". Quenny sudah mencoba gaunnya dan mematut dirinya didepan kaca dengan mata yang berbinar - binar dan berdecak kagum jika dirinya terlihat cantik dengan gaun itu. "Bagus sayang, ya sudah kamu ambil yang ini, mommy juga sudah dapat yang mommy suka. Kamu sudah lihat sepatu dan tas nya supaya cocok dengan gaun yang kamu pakai sayang?" Tanya mommy nya lagi. "Sudah mom, aku sudah ambil yang aku suka, kita tinggal bayar. Makasih ya Kanjeng Ratu atas traktirannya, nanti aku yang traktir lunch nya ya". Quenny mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi mommy nya. "Sama - sama sayang, ayo kita bayar dulu terus kita lunch". Mommy nya mengajak Quenny menuju kasir. Disudut butik tampak sepasang mata sedang memperhatikan tingkah laku kedua wanita tersebut. "How sweet they are". Guman sang pria yang sedang menatap kepada kedua wanita itu. "Mom, kita makan pho aja ya, aku sudah lama tidak makan masakan Vietnam". Ajak Quenny kepada mommy nya. "Let's go have our lunch". Mommy menyambut ajakan anaknya yang imut dan cantik. "Loh, kamu Alvaro Kalandra kan? Temannya kak Rafael?" Tanya Quenny yang tak sengaja bertemu di kasir butik. "Ohh.. hmm... yaa saya Alvaro temannya Rafael.. dan kamu Quenny kan pacarnya Rafael?" Tanya Alvaro dengan muka datarnya. Sang mommy dan anaknya hanya saling berpandang - pandangan dengan pernyataaan dari Alvaro. Dan dengan sigap Quenny mengenalkan mommy nya dengan Alvaro. "Mom, kenalkan ini Alvaro, temannya kak Rafael, dan Alvaro, kenalkan ini mommy Tania, mommy nya kak Rafael". Quenny mengenalkan mereka berdua "Alvaro Kalandra, tan.." Ucap Alvaro menjabat tangan mommy Tania tetapi matanya masih melirik Quenny. "Tania Pradipta, panggil mommy Tania saja". Ucap mommy Tania sambil membalas jabatan tangan dan memperhatikan gerak - geriknya Alvaro yang selalu mencuri pandang kepada anaknya. "Kalau begitu saya permisi dulu tante dan salam buat Rafael, mari tante, Quenny.." Alvaro permisi kepada kedua wanita tersebut dan berjalan keluar butik. "Ce, itu temennya babang kamu? Kok dari tadi mommy lihat, Alvaro itu melirik kamu terus sih, kayaknya dia suka deh sama kamu, curi - curi pandang terus. Dan kamu juga kok kenalin mommy ini mommy nya Rafael. Kan mommy ini mommy nya kalian berdua yang sudah melahirkan kalian?" Tanya Tania dengan tingkat penasarannya yang tinggi "Jadi gini loh mom, waktu kami berdua kencan itu, kami bertemu dengan Alvaro, nah mommy kan tau kalau kami sedang berkencan, si babang Ab itu tingkahnya melebihin segala - galanya, orang beranggapan jika kami ini pacaran. Terus si babang itu mengenal kami berdua tanpa menjelaskan status kami yang sebagai kakak adik. Jadi, Ce rasa Alvaro itu beranggapan jika kami berdua ini pacaran karena si babang tidak memberikan pernyataan apapun, hanya pernyataan yang ambigu mom". Quenny menjelaskan kepada mommy nya dengan sabar. "Ohhhh begono ceritanya, yokk ahhh cuss kita lunch, mommy sudah lapar". Ajak Tania kepada anaknya. Dan Alvaro kembali mendesah dan berguman. "Ternyata mereka sudah sampai sedekat ini hubungannya antara Rafael dan Quenny, bagaimana aku bisa masuk, jika mereka sudah sedekat ini, huffttt.." ****     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD