On Duty

1932 Words
"Ce, kamu bener nih ninggalin kakak dua minggu? Kamu ga kangen sama kakak?". Tanya Alvaro sambil memasang muka yang memelas. Saat ini Alvaro sedang menemani Quenny yang membereskan berkas - berkas serta memulai menyiapkan apa saja yang perlu dibawa untuk perjalanan dinasnya ke Eropa selama 16 hari. Quenny diberi tugas oleh Pak Boss nya untuk membawa grup ke Eropa selama 2 minggu. Sedangkan sahabat - sahabatnya, ada yang bertugas ke New York, China, Timur Tengah. Dan kebetulan Quenny dan Teo mendapatkan tugas yang sama yaitu ke Eropa, tetapi beda rute. Mereka akan bertemu di Eropa dengan jadwal kunjungan di menara Eiffel. "Kangennnnnn, tapi aku harusss". Jawab Quenny dengan sedih. Baru kali ini Quenny bawa tour paling lama, biasa paling lama hanya 7 hari, tapi ini mengharuskannya meninggalkan Alvaro selama dua minggu. Dia tidak rela, namun apa daya kalau ini adalah pekerjaan yang sangat dicintainya. "Kapan kamu berangkat?" Tanya Alvaro dengan lesu. "Lusa kak". Jawab Quenny yang kembali fokus dengan pekerjaannya. "Cepet amat sih sudah mau pergi, lama pula sampai 2 minggu, kalau kakak kangen gimana coba? Apa kakak susul kamu ya ke Eropa, biar sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil kamu kerja, sambil kita kencan". Goda Alvaro sambil menoel - noel pipi Quenny. "Bukan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui tetapi kita tenggelam". Kekeh Quenny karena ucapannya sendiri. "Mana bisa sih kak, aku kerja tapi sambil kencan, tidak profesional itu namanya". Terang Quenny sambil tersenyum kepada Alvaro. "Nanti setelah high season, kita vacation ya". Ajak Quenny. "Hehehehehehe... siapa tahu kamu pengen kakak nyusul gitu, biar kita bisa kencan di Eiffel. Kan jadi romantis kalo kita kencan di Eiffel". Alvaro menggoda Quenny kembali sambil menggerlingkan matanya. "Baiklah setelah kamu selesai dinas keluar negri, kamu ambil cuti ya, kita vacation. Kamu mau kemana?" Tanya Alvaro sambil mencium lembut puncak kepala Quenny yang sedang duduk di karpet sedangkan Alvaro duduk di sofa. "Ga perlu jauh - jauh.. ke Bali saja, Ce sudah senang sekali kak". Ucap Quenny dengan menyebutkan nama panggilan kesayangan keluarganya yaitu Ce. "Baiklah.. kakak hari sampai lusa tidur di tempat kamu, biar kakak bisa peluk kamu dengan puas karena kamu bakal tinggalin kakak dua minggu". Ucap Alvaro sambil merajuk. "Iya my king, sayangnya Ce". Ucap Quenny sambil mengecup lengan Alvaro yang ada disamping kepalanya. "Kamu sudah selesai belum kerjanya, kalau sudah kita tidur yok". Ajak Alvaro. "Sebentar lagi kak, ini Ce beresin berkas dulu, takut tercecer, nanti malah ga kebawa lagi". Terang Quenny. "Kakak duluan aja tidur, sepuluh menit lagi Ce menyusul". Ujar Quenny sambil merapikan berkas - berkasnya ke dalam tasnya yang akan dibawa Quenny untuk tugas. "Ya sudah kakak tunggu dikamar ya". Jawab Alvaro sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berganti pakaian untuk tidur dan menuju kamar Quenny. "Ishhhh katanya nungguin tidurnya, malah uda molor duluan". Gerutu Quenny yang melihat Alvaro sudah memejamkan matanya. Quenny mengambil tempat disamping Alvaro untuk menyusulnya tidur. Namun baru saja Quenny mencium pipi Alvaro, tangan Alvaro menarik muka Quenny dan tangannya sudah dibingkai oleh Alvaro lalu membuka matanya.  "Kamu sudah selesai?" Tanya Alvaro dan Quenny sambil menganggukan kepalanya menatap mata Alvaro dengan rasa sayangnya. Alvaro mulai mencium bibir Quenny dengan lembut dan hangat tanpa menuntut, namun lama kelamaan menjadi lebih dalam dan mata Alvaro sudah mulai berkabut. Sedangkan sang junior sudah mulai sesak didalam celana bokser karena ciuman mereka. Mereka menikmati ciuman yang mereka ciptakan, ciuman Alvaro mulai turun ke leher Quenny dan dia mulai menyesapnya serta menandakan kissmark sebagai tanda kepemilikannya. "Ehhmmmmpppp". Quenny mulai mendesah dan sambil berbicara pelan "ahh.. ja.. ngan disitu kak engghhh.. nan.. ti.. kelihatan.. ahh.. ceee.. harus ker..ja... eehhmmpp nanti dilihat ooo.. ranggg". Ungkap Quenny. Alvaro meninggalkan leher Quenny dan mulai turun lagi menuju d**a Quenny yang masih tertutup piyama. Tidak tinggal diam, tangan Alvaropun mulai bergerilya mulai meraba bukit kembarnya Quenny. Alvaro merasa pas dengan tangannya, tidak besar ataupun kecil, sangat pas sekali. "Arrgghhh" Quenny mulai mendesah lagi. Dan Alvaro mulai membuka kancing piyama Quenny sampai terlihat dua bukit kembarnya Quenny yang ditutupi dengan bra berwarna putih s**u. Alvaro sudah sangat b*******h sekali, tangan sudah mulai meremas bukit kembar Quenny dengan lembut. "Euungghhh" Quenny mendesah sambil menggigit bibir bawahnya menahan hasrat yang diberikan Alvaro. Bibir Alvaro menyesap bukit kembar milik Quenny tanpa membuka bra nya. Alvaro menyesap dan kembali memberikan tanda kepemilikannya. "Arrggghhhh.. pelan - pelan kak". Ucap Quenny karena Alvaro meremas bukit kembar Quenny agak keras karena sudah terlampau b*******h. Alvaro melepaskan tangannya yang sedang meremas bukit kembar Quenny. Alvaro langsung tersadar dengan perlakukannya kepada Quenny. Dirinya langsung ingat kembali apa yang pernah diucapkan oleh papinya. Alvaro langsung mengecup kening Quenny lama dan menyalurkan rasa sayangnya kepada sang kekasih. "Maaf sudah membuat bajumu berantakan, tidurlah sayang.. sudah malam". Ucap Alvaro sambil mengancing kembali piyama Quenny yang sudah dibukanya. Dengan muka yang sudah memerah, Quenny menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher dan berbisik di kuping Alvaro sambil berkata "good night my king". Alvaro tersenyum dengan tingkah Quenny yang menyembunyikan mukanya di ceruk lehernya. Nafas Quenny sudah mulai teratur yang menandakan kalau Quenny sudah tertidur. Alvaro langsung membetulkan tidur Quenny sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Quenny. "Gue harus mandi air dingin dahhh, mesti tidurin adik gue dulu ini sih. Mana si Quenny berbisik di telinga gue lagi, jadi tambah on kan adik gue nya. Sabar Al.. sabar... belum waktunya elo manjain adik elo bareng Quenny". Guman Alvaro dalam hati sambil menggelengkan kepalanya untuk menahan hasratnya yang sudah membuncah akibat ciumannya dan berakhir dengan bermain d**a Quenny hanya sebentar. "Gimana kalau gue sampe make out? Haizzzzz... sadar Al.. sadar Alvarooo..." Dirinya merasa tertekan akibat hasratnya. Setelah selesai membuat adiknya turn off, Alvaro menyusul Quenny untuk tidur. Dirinya memeluk Quenny yang sudah tertidur, diletakkan kepala Quenny di lengannya sebagai bantalan. Alvaro mencium kening Quenny sambil berkata "Jangan sering - sering kita ciuman di malam hari, bisa sakit gue kalau kudu mandi air dingin malam - malam". Quenny mengeratkan pelukannya karena merasa nyaman dengan pelukan yang Alvaro berikan. "Ce, please jangan gerak - gerak, nanti adik gue on lagi". Pinta Alvaro dengan pelan dan memohon. Seperti mendengar apa yang dikatakan oleh Alvaro, Quenny tidur tanpa bergerak. Dan Alvaro pun mulai tenang dan nafasnya pun sudah mulai teratur menandakan dirinya sudah menyusul Quenny ke alam mimpi. ****  "Sudah siap semuanya Ce? Periksa kembali barang bawaan kamu, jangan sampai ada yang tertinggal, kamu bertanggung jawab membawa pesertamu buat jalan - jalan ke Eropa". Ucap Alvaro mengingatkan Quenny yang sedang bersiap - siap berangkat menuju bandara. "Sudahhhh my king... sayangnya Ce". Ucap Quenny tersenyum. "Thank you so much my dear". Ucap Quenny kembali sambil mencium pipi Alvaro. "Kakak sudah mulai kangen sama kamu, padahal kamu belum berangkat". Rajuk Alvaro sambil memeluk Quenny dengan erat dan enggan untuk dilepaskan. "Pesawat kamu dini hari kan? Kita jalan sekarang aja ke bandaranya ya, kita kencan disana sebelum kamu jalan, kita makan disana saja. Kamu kan belum makan malam". Ajak Alvaro dan membantu Quenny membawa kopernya menuju mobil. "Siappp my king, titah baginda raja, akan hamba lakukan". Jawab Quenny sambil tersenyum dan mengamit lengan Alvaro. "Baru jam 7 kurang sayang, kita di mobil aja dulu, nanti jam 7 tepat baru kita turun dan makan di sate house senayan aja". Perintah Alvaro kepada Quenny. "Kak pelukkkk... Ce pasti kangen berat dua minggu kita ga ketemuan". Ungkap Quenny sambil merajuk. "Sini.. duduk di pangkuan kakak". Alvaro menarik tangan Quenny untuk duduk dipangkuannya dan mulai memundurkan kursi setirnya.  Quenny memeluk pinggang Alvaro dari samping dan menyandarkan kepalanya di d**a Alvaro guna mencium parfum Alvaro secara mendalam. Dirinya akan merindukan Alvaro dan dengan mencium parfum Alvaro, dirinya berharap bisa selalu mengingat wangi Alvaro di saatnya bertugas. "Manja amat sih kamu, peluk kakak sampai erat begini. Kalau kangen, mending ga usah pergi. Temani kakak aja yok kerja di kantor". Goda Alvaro kepada Quenny. Quenny langsung melihat muka Alvaro sambil cemberut dan memajukan bibir. "Kan sudah kakak bilang, jangan cemberut seperti ini, pakai dimaju - majuin segala bibirnya, minta dicium ya?" Goda Alvaro kembali sambil menjawil hidung Quenny yang mancung. Tanpa aba - aba dan dengan gerak cepat, Quenny mencium bibir Alvaro dengan lembut dan hangat. Quenny menggigit bibir Alvaro supaya terbuka agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulut Alvaro. Ia ingin dirinya yang terlebih dahulu mengendalikan ciuman mereka. Tapi Alvaro tidak mengijinkannya, dia ingin yang mengendalikan ciuman mereka. "Ahhh.. kamu sudah mulai nakal ya". Ucap Alvaro yang sudah mulai menangkup pipi Quenny dan membuatnya jadi kerucut lalu mulai mencium bibir Quenny dengan hasrat yang menggebu, Alvaro mulai mengambil kendali untuk menciumi bibir Quenny. Lidahnya mulai mencoba masuk kedalam mulut Quenny yang mulai terbuka karena Quenny memberikan kesempatan buat lidah Alvaro masuk dan mengabsen gigi putih Quenny. Tak mau kalah, Quenny pun mulai mencari lidah Alvaro sambil meremas rambut kekasihnya, karena Alvaro sudah menekan tengkuk Quenny untuk menambah dalam ciuman mereka. Saliva sudah saling tertukar dan oksigen sudah mulai menipis, suhu dalam mobil sudah panas padahal AC mobilnya sudah dibuat auto oleh Alvaro.  Alvaro menghentikan ciumannya agar mereka mempunyai kesempatan untuk mengisi oksigen kembali. Hanya selang tiga detik, Alvaro mulai mencium kembali bibir Quenny dengan kasar. Mata Alvaro sudah berkabut, hasratnya membuncah, junior nya sudah mengeras dan tangan Alvaro sudah mulai memeras bukit kembar kekasihnya. Sedangkan Quenny sudah mulai meraba d**a bidang Alvaro yang six pack. "Ehhmmmmppp" Quenny mendesah, Alvaro sangat bersemangat mendengar desahan Quenny dan mulai menuruni ciumannya ke d**a Quenny yang masih tertutup kemeja seragam dinasnya. Tak tinggal diam, Alvaro mulai membuka semua kancing seragam Quenny. Dirinya mulai menyesap bukit kembar Quenny, memberi tanda merah disana. Tangan Alvaro mulai mencari pengait bra hitam yang dipakai Quenny untuk dibukanya. Dan Alvaro melihat puncak bukit kembar Quenny sangat menakjubkan baginya. Alvaro menghisap dan menyesap tiada henti bukit kembarnya Quenny karena dirinya takut tidak kebagian, "Assshhhhh... Ahhhhh saaa.. yaanggg". Quenny mendesah dengan menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Alvaro. "Ehhhmmmm.. pleaseee". Quenny berguman pelan agar Alvaro menyentuhnya lebih lagi. Alvaro langsung menghentikan aktifitasnya mendengar Quenny mengucapkan kata please. "Sudah cukup sampai disini ya sayang, sudah saatnya kita makan malam". Ucap Alvaro menghentikan kegiatan panas mereka. Alvaro harus menahan si junior nya agar tidak berontak dan juga sudah waktunya Quenny harus mengisi perutnya supaya kekasihnya tidak kelaparan karena penerbangan yang dini hari. Jika tidak dihentikan segera, Alvaro takut mobilnya bergoyang, walaupun kaca mobilnya gelap dan tidak terlihat dari luar.  Alvaro mulai merapikan pakaian Quenny dan mengaitkan kembali pengait bra nya. Membersihkan bibir Quenny dengan tissue dan menyisir rambut Quenny dengan jari tangannya karena sudah berantakan. Quenny pun membersihkan saliva dan bekas lip tint yang dipakainya di bibir Alvaro dengan tissue. Quenny kembali mencium bibir Alvaro dengan lembut "CUP". Mereka saling berpandangan, menyelami mata pasangannya masing - masing yang terlihat saling menahan rindu, padahal mereka saat ini belum terpisahkan. Dan "CUPPPP" Ciuman yang hanya menempel dibibir, Quenny berikan lebih lama kepada kekasihnya. "Sayanggggg... sudah donk... kamu jangan siksa aku seperti ini, kapan adikku bisa turun jika kamu cium terus". Rajuk Alvaro karena Quenny menciumi nya terus.  "Pleaseeeee... kamu duduknya pindah lagi ya sayang, aku mau turuni dia dulu, setelah itu kita makan". Alvaro memohon dan matanya menunjuk kearah bawah celana jeans yang dipakai Alvaro, sedang Quenny tertawa lepas. "Kamu rapikan lagi bibirmu, lipstiknya habis tuh aku makan". Ujar Alvaro sambil tersenyum lebar karena mengingat ciuman panas mereka. **** "Hati - hati ya sayang.. jangan lupa makan yang banyak,.. istirahat yang cukup. Kalau sudah sampai disana kabari kakak ya. JANGAN LUPA!!" Perintah Alvaro dengan menekan kata - katanya sambil memeluk Quenny bersiap untuk melepas keberangkatannya menuju Eropa. "Mimpiin kakak, kalau kamu sedang menunggu pesertamu yang sedang shopping, kamu video call kakak ya". Perintah Alvaro lagi. "Yesss my king... kesayangannya Quenny Acelin". Jawab Quenny mengeratkan pelukan mereka. "Ya sudah kamu masuk dulu, sudah hampir waktunya kamu take off. Carefull hunn.." Alvaro mencium lama kening Quenny. "Bye kak.. hati - hati nyetirnya, sudah malam". Ujar Quenny dan mulai berjalan menuju imigrasi guna mencap paspor dan tiketnya. "Bye sayangggg". Dengan berat hati Alvaro melepaskan kepergian Quenny. Setelah kekasihnya tidak terlihat lagi, Alvaro berjalan menuju mobillnya untuk pulang. "Huffftttt... kangen kamu my lil queen". Lirih Alvaro dalam hatinya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD