"Om.. Tan, saya ijin bawa Quenny jalan - jalan dulu". Ucap Alvaro kepada kedua orang tua Quenny setelah Quenny selesai berganti pakaian.
"Hati - hati di jalan, jangan kebut - kebutan, jangan buat yang aneh - aneh, jangan sampai mobil bergoyang". Terang sang daddynya Quenny kepada Alvaro.
"Baik Om". Jawab Alvaro salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ucapan daddynya Quenny.
"Kok mobil goyang sih dad? Yaa jelas goyanglah mobil kalau lagi jalan, apalagi kalau ada polisi tidur". Ucap Quenny yang tidak mengerti ucapan daddynya karena kepolosan Quenny.
"Ya sudah kalian sana pergi, jangan malam - malam pulangnya". Usir sang daddy kepada Quenny sambil menahan senyum dengan ucapan Quenny. Tidak hanya sang daddy, mommy dan adiknya Av pun serta Alvaro menahan senyum dengan kepolosan Quenny.
"Ayo kak kita jalan... bye dad... bye mom... bye Av". Quenny pamit pada keluarganya sambil mecium pipi mereka satu persatu.
"Mari Om... Tan.. Av". Pamit Alvaro kepada keluarga Quenny sambil menundukkan kepala.
"Iya.. hati - hati ya". Mommy Quenny kali ini yang berbicara sambil tersenyum puas karena sudah berhasil menginterogasi Alvaro tadi di ruang tamu saat Quenny sedang berganti pakaian.
Flashback on
"Kamu suka apanya nak Al dari diri Quenny?" Tanya sang mommy Tania.
"Saya suka Quenny apa adanya, dia tidak menutup - nutupi dirinya, jika sedang marah, dia akan marah, jika sedang senang, dia akan tertawa lepas. Quenny tidak munafik, apa adanya yang ditampakkan Quenny kepada saya. Hatinya sangat lembut, selalu menolong orang lain yang walaupun dirinya sudah lelah sekali. Sewaktu kami di Hongkong, temannya menitip tas. Quenny keliling mencarinya sampai dapat. Dan juga waktu tante menitip dibelikan asinan kiwi. Quenny keluar masuk market hanya untuk mencari asinan kiwi itu. Dan untungnya, dia mendapatkan di station MRT terakhir sebelum kami kembali ke hotel. Dirinya tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah lelah. Dirinya berusaha untuk membahagiakan orang - orang yang disayanginnya". Selain itu juga Quenny sangat mandiri. Dia lebih suka bekerja supaya mempunyai penghasilan sendiri, padahal orang tua sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan Quenny". Terang Alvaro kepada mommy Tania.
"Itulah Quenny, selalu berusaha untuk membahagiakan orang lain, tidak memikirkan dirinya sendiri". Jawab mommy dengan lesunya karena merasa bersalah sudah membuat anaknya keliling mencari asinan kiwi yang dititipkan kepada anaknya.
"Bagaimana usahamu Al? Lancar? Kamu bantu usaha ayahmu kan?" Kali ini daddynya Quenny yang bertanya.
"Thank God Om.. semuanya lancar - lancar saja. Saya punya perusahaan sendiri, tapi saya pun masih membantu perusahaan papi". Terang Alvaro kepada daddynya Quenny.
"Oh kamu punya perusahaan sendiri? Apa nama perusahaan kamu?" Cecar daddynya Quenny kembali dengan penasaran.
"PT. Angkasa Cemerlang.. Om?" Jawab Alvaro sambil tersenyum.
"Itu punyamu? Tanya daddynya Quenny dengan Antusiasnya. "Om tahu perusahaan itu.. Luar biasa hebat, banyak cabangnya, ada di seluruh kota besar di Indonesia dan juga sudah merambah sampai ke Eropa". Ucap daddynya Quenny yang merasa bangga karena usia Alvaro yang masih muda sudah berhasil di kancah nasional maupun internasional.
"Iya Om.. itu punya saya... Perusahaan Om juga hebat, saya masih tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan perusahaan Om". Ucap Alvaro dengan rendah hati.
"Kamu bisa aja Al.. Kerja keras memang tidak akan mengecewakan hasil pada akhirnya jika mau berusaha dengan keras". Jawab daddynya Quenny dengan diplomatis.
Flashback off.
****
"Kita mau jalan kemana kak? Mall pun belum pada buka jam segini". Tanya Quenny dengan penasaran.
"Kita kuliner di jalan Surya Kencana, Bogor ya. Mumpung masih pagi, jadi jalanan belum terlalu macet kalo kita ke bogor". Jawab Alvaro sambil menyetir dengan pandangannya yang kedepan.
"Let's gohhh babe". Jawab Quenny dengan semangat dan Alvaro tersenyum melihat semangatnya Quenny buat kulineran.
"Kakak mau makan apa di SurKen?" Tanya Quenny penasaran.
"Kakak lagi pengen makan soto mie Bogor sama bir kotjok". Jawab Alvaro tanpa menoleh ke Quenny karena dirinya harus fokus menyetir.
"Aku juga mau.. sudah lama ga makan soto mie". Jawab Quenny dengan semangat.
"Tringggg". Suara video call berbunyi dari henponnya Quenny.
"Ishhh si kepo mulai deh mau mengintrogasi". Quenny melihat henpon dan membacanya dengan malas nama seseorang yang sudah membuat video call dengannya.
"Siapa sayang yang telpon?" Tanya Alvaro dengan penasaran.
"Biasa, si babang yang posesif". Jawab Quenny malas dan jarinya mulai menggeser tombol hijau untuk mulai menjawab video call dari kakak kesayangannya.
"Ceeee... Kamu pacaran sama Alvaro, sahabat kakak itu? Sejak kapan? Kok kamu ga cerita sama kakak? Kenapa kamu terima jadi pacarnya Alvaro? Kamu kan belum kenal sama Alvaro". Begitu banyak pertanyaan yang diberondong oleh Rafael kepada adiknya. Dirinya tidak rela kalau adiknya pacaran tetapi tidak cerita - cerita kepadanya. Rafael sejujurnya setuju jika Quenny berpacaran dengan Alvaro karena Rafael sudah mengenal sahabatnya itu sejak mereka sama - sama waktu kuliah di London.
"Yaa elahhh kak, banyak amat sih pertanyaan, aku bingung mau jawab yang mana dulu". Quenny menjawabnya dengan malas sambil memutarkan bola matanya.
"Kamu lagi di mobil? Mau kemana?" Tanya kakaknya penasaran,
"Aku mau kuliner di SurKen sama kak Al". Jawab Quenny sambil tersenyum sipu.
"Mana si Varo nya, kakak mau bicara". Perintah Rafael kepada Quenny.
"Kak Al lagi nyetir, babang tersayang". Ucap Quenny kembali dengan malasnya.
"Ya uda kamu pegang aja henpon nya, kasih liat muka tuh anak, kakak mau bicara sama dia". Perintah Rafael kembali.
"Iyeee.. sabar napa". Jawab Quenny dengan kesal.
"Woii bro.. elo ga ngomong - ngomong ma gue kalo elo macarin adik tersayang gue. Awas lo yak ngapa - ngapain adik gue. Abis lo sama gue. Elo hutang cerita sama gue. Gue tunggu setelah gue balik dari Jepang". Perintah Rafael kepada Alvaro.
"Eitss.. sabar donk mas bro... ga usah ngegas juga kaleee. Iyee, gue bakal jelasin semuanya ke elo. Kabarin gue kalo uda touch down Jakarta. Kita kumpul tempat biasa ya". Ucap Alvaro hanya melirik sekilas ke arah henponnya Quenny dan kembali fokus ke jalan raya.
"Okeh.. gue tunggu!!!" Jawab Rafa dengan tegas kepada sahabatnya.
"Ya uda Ce... hati - hati dijalan, jangan kebut - kebut bilangin si kunyuk satu itu. Pulangnya jangan malam - malam bilangin tuh anak. Awas dia kalo berani macam - macam. Abis tuh juniornya kakak sikat". Ancam Rafael kepada sahabatnya. Alvaro hanya tersenyum kecut dengan ancaman Rafael, karena dia tahu kalau Rafael itu jago Taekwando. Maka tidak heran jika Rafael bisa melibasnya dengan sekali gerak.
"Ok babangku yang tersayang". Ucap Quenny sambil memberikan ciuman jarak jauhnya.
"Kamu juga harus cerita sama kakak, tidak boleh terlewatkan sedikitpun juga". Perintah Rafael kepada adiknya.
"Ishhh kepo.. want to know aja". Quenny pura - pura merajuk sama kakaknya.
"Hati - hati ya kalian berdua.. Bye.. Kiss n hug to you my lil queen". Rafael menyudahi video call nya bersama dengan adiknya dengan senyum yang menggembang.
"You too babang kesayangan Ce... Jaga diri disana, istirahat yang cukup biar ga sakit, jangan di forsil kerjaannya. Love you kak... muachhh". Tutup Quenny mengakhiri video callnya bersama sang kakak.
"Kalian dekat sekali sih, kakak jadi cemburu dengan kedekatan kalian". Ucap Alvaro sambil tersenyum.
"Kami memang dekat sekali, jika tidak ada yang mengenal kami, maka orang tersebut akan menganggap kami seperti orang pacaran". Ungkap Quenny kepada Alvaro.
"Kakakpun sempat berpikir seperti itu dahulu, itulah yang membuat kakak menahan diri untuk tidak mendekatimu sayang". Jujur Alvaro, dirinya mengingat kejadian dimana dia melihat sahabatnya Rafael dengan Quenny di perusahaannya dan di restauran yang tanpa sengaja mereka bertemu.
"Ciye.. ciye.. ada yang curhat neh". Goda Quenny sambil menoel lengan Alvaro. Dan Alvaropun hanya tersenyum dengan godaan Quenny.
****
"Sayang, kamu mau makan apalagi? Kita bungkus ya soto mie nya buat orangtua kamu dan Av". Tawar Alvaro kepada Quenny.
"Aku sudah kenyang kak. Ya sudah bungkus aja, tapi dipisah kuahnya. Kalau dicampur nanti kuahnya keburu habis karena pada mengembang semua itu mie dan risolesnya". Terang Quenny.
"Siappp my Queen". Jawab Alvaro sambil memegang pinggang Quenny dengan posesif karena sedari tadi, cowok - cowok pada ngeliatin Quenny yang cantik dan imut, padahal Quenny hanya menggunakan dress yang panjangnya 7/8 dengan motif bunga - bunga kecil dipadu padankan dengan sneakers dan sling bag warna coklat. Sangat fashionable sekali menurut Alvaro.
"Habis ini kita jalan kemana lagi kak?" Tanya Quenny sambil menjilat es krim yang tadi dibelinya.
"Shittt... errghhh Quenny, kenapa jilat - jilat es krim kayak gitu, gimana nanti kalau Quenny menjilati lolipop miliknya. Ahhhh, jadi sesak kan yang dibawa". Guman Alvaro lirih dalam hatinya yang menahan sesak akibat sang junior beraksi.
"Ehh.. hmmm... ki.. kita balik ke Jakarta ya.. kita nonton aja nanti". Ucap Alvaro salah tingkah sambil terbata - bata menjawab pertanyaan Quenny.
"Let's gohhhh back to Jekardahhhh". Jawab Quenny dengan semangat empat limanya.
"Ayo sayang". Alvaro menggenggam tangan Quenny yang mungil itu.
"Mantabbb sekali kita ini, ke Bogor hanya untuk makan soto mie dan minum bir kotjok, cuss langsung balik lagi ke Jakarta". Ucap Quenny sambil tertawa.
"Tapi aku suka, makasih ya babe". Ucap Quenny sambil mengecup pipi Alvaro singkat.
"Sama - sama sayang". Jawab Alvaro sambil mengecup kening Quenny dengan singkat dan mulai menjalankan mobilnya kembali ke Jakarta.
"Kamu tidur aja kalau ngantuk". Ucap Alvaro melihat Quenny yang menahan kuap karena mengantuk.
"Hehehehehe.. maaf ya kak, aku ngantuk sekali karena kekenyangan makan". Ucap Quenny sambil menahan malu.
"Ga apa - apa, kamu mundurin aja bangkunya, biar kamu tidurnya nyaman". Alvaro memerintah Quenny untuk tidur sambil mengelus rambut Quenny dengan sayang.
"Aku tidur sebentar ya kak, maaf ya kak, ngantuk banget". Ucap Quenny
"Tidur aja sayang, nanti kalau sudah sampai, kakak bangunin kamu". Ujar Alvaro.
"Makasih kak". Ucap Quenny sambil memejamkan matanya.
****
"Sayang.. bangun sayang.. my lil queen". Panggil Alvaro pelan sambil mengusap - usap pipi Quenny dengan lembut untuk membangunkannya.
"Hmmmmm". Quenny merentangkan tangannya sambil menutup mulutnya dan berusaha bangun dari tidurnya.
"Kita sudah sampai kak? Kita di mall mana sekarang?
"Kita sekarang ada di pantai, kakak tidak tega bangunin kamu yang tidurnya nyenyak. Jadi kakak nyetir ke pantai aja biar agak jauh jalannya dan kamu bisa tidur lamaan". Ucap Alvaro menjelaskan kepada Quenny kenapa akhirnya mereka bisa sampai di pantai.
"Hmmm". Jawab Quenny sambil mengerjap - ngerjapkan matanya guna mengumpulkan nyawanya setelah bangun dari tidurnya .
"Minum dulu sayang". Alvaro menyodorkan sebotol minum air mineral.
"Yok, kita duduk dekat pantai, kakak sudah pesankan kelapa muda buat kamu". Ajak Alvaro.
Alvaro menikmati sorenya duduk dipinggir pantai sambil melihat Quenny yang berlari jika ombak datang mendekatinya. Dirinya tertawa melihat tingkah Quenny yang sangat lucu itu. Alvaro berharap waktu berhenti sampai disini saja, hatinya merasakan kehangatan akan kehadiran Quenny di sisinya saat ini. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Sudah sembilan tahun ia tidak merasakannya. Terakhir yang dirasakan saat dirinya masih kelas XII, wanita yang pernah mengisi hari - harinya, wanita yang pernah singgah dihatinya. "Ada dimana wanita itu sekarang". Guman Alvaro dalam hatinya.
"Sudah capek sayang main ombaknya?" Tanya Alvaro sambil menyelipkan anak rambut Quenny disamping telinganya dan Quenny mengambil tempat duduk disamping Alvaro sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Alvaro.
"Hmmmm". Quenny hanya berguman dan dia menikmati pemandangan didepannya yang mana matahari akan kembali ke peraduannya.
Dalam diam, mereka menikmati sunset dengan pikirannya masing - masing. Tak ada satu katapun yang terucap dari bibir mereka, sampai matahari benar - benar tenggelam.
"Kita makan yok, habis itu kakak antar kamu pulang". Ajak Alvaro
Tanpa menjawab Alvaro, Quenny langsung mengamit lengan Alvaro dan beranjak ke mobil menuju restauran.
****
"Terima kasih kak buat hari ini, aku senang sekali". Ungkap Quenny sambil mengecup pipi Alvaro dan hendak membuka pintu mobil karena mereka sudah tiba di depan rumah Quenny. Namun sebelum Quenny sempat membuka pintu, Alvaro sudah menangkap tangan Quenny dan menariknya untuk lebih dekat.
"Terima kasih juga kamu sudah ada menemani kakak hari ini". Ucap Alvaro yang sudah membingkai muka Quenny dan mengelus bibirnya yang pink dengan jari jempolnya. Quenny hanya tersenyum dengan ucapan Alvaro.
"Sela... hmmmppp". Belum sempat Quenny mengucapkan sebuah kata, Alvaro sudah menyambar bibir Quenny, dirinya sudah tidak tahan untuk tidak mencicipi bibir Quenny yang sudah menjadi candunya. Mereka saling beradu untuk mencari lidah pasangannya, dan mereka berlomba untuk mengabsen gigi pasangannya. Mereka sudah saling bertukar saliva sampai - sampai mereka kehabisan oksigen. Alvaro melepaskan ciuman mereka guna memberikan kesempatan pada mereka untuk menghirup oksigen.
Alvaro meraup kembali bibir Quenny sambil menekan tengkuk Quenny agar ciuman mereka menjadi lebih dalam. "Eeuuunggghhh". Quenny mulai mendesah akibat ciuman mereka yang dalam. Alvaro mendengar Quenny sudah mulai mendesah, kesadarannya pun kembali. Dirinya tidak boleh bertindak lebih jauh, ia sayang dengan Quenny. Dia tidak mau kebablasan. Dan Alvaro melepaskan ciuman mereka.
"Good night my lil queen and sleep tight". Ucap Alvaro sambil membersihkan salivanya yang tertinggal di bibir Quenny.
"Good night my king, careful" Ucap Quenny sambil mengecup kembali pipi Alvaro dengan singkat.
"Kamu masuk duluan ke rumah, baru kakak jalan". Ujar Alvaro sambil mengacak rambut Quenny dengan sayang.
"Bye kak, titidj". Ucap Quenny sambil berjalan masuk ke rumahnya. Dirinya mengusap bibirnya yang baru saja berciuman dengan Alvaro. "Gileee... kissable banget sih kak Al, jadi pengen cipokan terus ma doi". Quenny terkikik dengan pikirannya.
****