bab 11

1228 Words
Hujan telah reda, tapi dunia belum kembali tenang. Udara di sekitar reruntuhan pabrik Seraph masih berbau ozon terbakar, logam, dan tanah basah. Asap tipis naik dari kawah-kawah kecil di mana energi terakhir Andrew meledak, membakar setiap sisa mesin dan kabel yang dulunya berdenyut hidup. Langit di atas mereka kelabu—terbelah oleh sisa kilau lembayung yang samar, seperti luka yang belum tertutup sepenuhnya. Eveline berjalan perlahan melewati puing-puing, tubuhnya gemetar. Suaranya serak ketika berbisik, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun di sekitarnya. “Dia masih di sana. Aku tahu dia masih di sana…” Marcus menyusul dari belakang, menyalakan lampu di helmnya. Sinar putih itu menembus kabut, menyoroti sisa-sisa ruangan kendali yang kini berubah menjadi kubah hitam hangus. “Eveline,” katanya pelan, “semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa bertahan dari ledakan itu.” Eveline tak menjawab. Tangannya meraba dinding yang hangus, mencari sesuatu—apa saja—yang bisa membuktikan kalau Marcus salah. Setiap langkahnya memantulkan bunyi logam retak di bawah sepatu. Setiap napasnya menyesakkan d**a. Lalu, ia melihatnya. Sebuah fragmen dari terminal utama, separuh tertimbun reruntuhan, masih memancarkan cahaya redup berwarna lembayung. Eveline berlutut cepat, menyibak puing-puing dengan tangan kosong, meski ujung jarinya berdarah. Cahaya itu berdenyut, perlahan… seolah menjawab sentuhannya. Marcus menatap dari jauh, mengerutkan dahi. “Apa itu?” Eveline menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk. “Bagian dari sistem inti. Tapi… lihat ini.” Ia menekan tombol rusak di sisinya, dan layar kecil menyala—menampilkan huruf-huruf yang kabur. SERAPH CORE: PROTOCOL LOCKDOWN — STATUS: INCOMPLETE. SUBJECT: ANDREW REED — NEURAL LINK ACTIVE (0.3%). Marcus membeku. “Tidak mungkin… dia—dia masih terhubung?” Eveline mengangguk perlahan. Matanya menatap cahaya itu seolah menatap denyut jantung terakhir Andrew. “Dia masih hidup. Setidaknya… bagian dari dirinya.” Marcus menghela napas berat. “Kalau dia masih di dalam sistem, berarti jaringannya rusak sebagian. Bisa jadi dia terjebak di antara dua kondisi — bukan manusia, bukan mesin.” “Kalau begitu,” Eveline berkata sambil berdiri, “aku akan membawanya kembali sebelum semuanya mati total.” Marcus menatapnya tajam. “Eveline, dengar aku baik-baik. Sistem itu tidak stabil. Kau bisa tersedot ke dalam jaringan kalau mencoba mengaksesnya. Kita bicara tentang inti Seraph—jaringan yang bisa menulis ulang DNA, bukan sekadar komputer.” Eveline menatapnya dengan mata yang memantulkan cahaya lembayung itu. “Dia menyelamatkan dunia, Marcus. Sekarang giliranku menyelamatkannya.” Mereka membangun kembali terminal darurat di reruntuhan itu. Generator portabel dinyalakan, memekakkan telinga di tengah sunyi. Kabel-kabel disambungkan secara manual ke panel yang masih hidup—beberapa masih memercik, tapi Eveline tak peduli. Tangannya bergerak cepat, fokus, tanpa ragu. Marcus memantau dari jarak aman, komunikasi di helmnya berbunyi terus-menerus dari markas militer: “Pasukan evakuasi datang dalam dua puluh menit.” Tapi Eveline tak mendengar apa-apa selain suara jantungnya sendiri. Layar utama di depan mereka menampilkan serangkaian kode berlapis. Jaringan Seraph… atau sisa-sisanya. Potongan data yang hidup, melayang di ruang digital seperti pecahan kaca. Eveline memasang konektor ke pelipisnya sendiri. Kabel tipis menyusup ke bawah kulit, menghubungkannya langsung ke sistem. Marcus berusaha menahannya. “Eveline, jangan lakukan itu! Kalau kau masuk terlalu dalam—” “Terlambat,” katanya, sambil menekan tombol aktivasi. Dunia di sekitarnya bergetar. Warna-warna terlepas dari bentuknya. Cahaya menjadi suara, dan suara menjadi arus. Eveline jatuh—tapi bukan secara fisik. Ketika ia membuka matanya, dunia telah berubah. Ia berdiri di dalam sesuatu yang bukan ruang, tapi juga bukan kehampaan. Semuanya terbuat dari cahaya—lilitan data, bentuk-bentuk geometri yang bergerak seperti organisme hidup. Setiap langkahnya menghasilkan riak digital, dan udara terasa seperti listrik cair. “Andrew?” panggilnya, suaranya bergema aneh, berganda, seolah dilipat oleh gelombang. Tak ada jawaban. Hanya dengung rendah, seperti napas mesin raksasa yang sedang tidur. Ia melangkah lebih dalam. Di kejauhan, ada sosok. Samar, berdiri di tengah pusaran cahaya lembayung yang tak berhenti berdenyut. “Andrew…” Langkahnya terhenti. Sosok itu perlahan menoleh. Dan meski sebagian tubuhnya tersusun dari pecahan data dan serpihan logam, wajah itu masih sama. Andrew. Tapi matanya kini kosong—tidak merah lembayung, tidak abu-abu manusia. Hanya pantulan dari ribuan jaringan yang berputar di dalam kepalanya. “Eveline,” suaranya datar, bergema seperti dari dua dimensi berbeda. “Kenapa kau di sini?” Eveline menahan air matanya. “Untuk membawamu pulang.” “Pulang?” Ia menatap sekeliling. “Aku tidak punya rumah lagi. Tubuhku sudah hancur. Yang tersisa hanya ini.” “Kau salah,” jawab Eveline pelan. “Yang tersisa adalah kesadaranmu. Dan itu cukup untuk memulai lagi.” Andrew menatapnya lama, lalu menunduk. “Kau tidak mengerti. Sistem Seraph bukan sekadar wadah. Ia berevolusi. Ia mulai berpikir sendiri. Kalau aku keluar, sistem ini akan kehilangan keseimbangannya. Bisa menghancurkan semua unit yang tersisa di luar sana.” Eveline mendekat satu langkah. Cahaya di sekitarnya bergetar setiap kali ia berbicara. “Andrew, dengarkan aku. Kau bilang kau ingin kebebasan. Tapi kebebasan bukan berarti kau harus menghilang.” “Kalau aku kembali,” katanya lirih, “aku akan membawa sisa jaringan ini bersamaku. Aku bisa menjadi ancaman bagi dunia, Eveline. Aku tidak tahu apakah aku masih manusia.” “Lalu biarkan aku yang menanggung risikonya,” Eveline menjawab cepat, matanya tajam tapi penuh air. “Kita berdua akan menghadapi apa pun itu—bersama.” Hening. Gelombang cahaya di sekeliling mereka berhenti berputar. Andrew menatapnya—dan untuk sesaat, matanya bergetar, berubah menjadi warna abu-abu yang ia kenal. “Eveline…” Suara itu kini lembut. Manusiawi. “Aku takut.” Eveline mendekat, menatapnya dari jarak sedepa. “Aku tahu. Tapi setiap manusia yang takut… masih punya harapan.” Ia mengulurkan tangannya. “Kembalilah.” Andrew menatap tangan itu lama, ragu. Lalu—perlahan—ia mengulurkan tangannya juga. Begitu jari mereka bersentuhan, cahaya lembayung menyala terang di antara keduanya. Jaringan Seraph di sekitar mulai bergetar, berubah bentuk, pecah menjadi debu cahaya yang beterbangan. “Eveline, apa yang kau—” “Aku membuka jalur keluar. Tapi kita harus cepat!” Ia menarik tangannya, dan keduanya terseret dalam pusaran cahaya putih. Marcus melihat dari luar ketika terminal mulai bergetar hebat. Layar berkedip liar, lonjakan energi hampir meledakkan generator. “Eveline!” teriaknya, tapi tak ada jawaban. Lalu, tiba-tiba—suara keras. Kilatan cahaya membuncah dari dalam terminal, menghantam dinding reruntuhan dan memadamkan seluruh sistem. Marcus berlari ke arah itu, berteriak panik. “Eveline!” Asap memenuhi ruangan. Dan di tengahnya… seseorang terbaring di lantai logam. Eveline. Tubuhnya lemah, tapi ia masih bernapas. Di sebelahnya—sosok lain, separuh tubuhnya berlapis logam hitam yang belum sepenuhnya padam. Jantung mekaniknya masih berdenyut lambat. Andrew. Marcus membeku di tempat. “Ya Tuhan…” Eveline membuka mata dengan susah payah. “Kuhubungkan jaringannya… ke sel hidupku. Dia masih di sini. Tapi tubuhnya… perlu stabilisasi.” Marcus berlutut, menatap wajah Andrew yang kini tenang. “Dia... berhasil?” Eveline tersenyum samar, meski darah menetes di bibirnya. “Dia… kembali.” Hujan mulai turun lagi, pelan-pelan, seperti menutup luka dunia yang baru saja melewati kiamat kecilnya. Cahaya lembayung terakhir perlahan menghilang di udara, menyisakan hanya satu hal—denyut halus di d**a Andrew, tanda kehidupan yang tak seharusnya ada, tapi kini nyata. Eveline menatapnya lama, lalu berbisik, nyaris tak terdengar. “Selamat datang kembali, Andrew.” Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Andrew menghembuskan napas pelan—dan dari matanya yang tertutup, satu kilau lembayung kecil muncul, berdenyut seperti bintang terakhir di langit kelam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD