bab 10

1262 Words
Hujan di luar tak kunjung berhenti. Rintiknya kini berubah menjadi dentum berat di atas atap logam tua, seperti ribuan jarum menghujani dunia yang seolah berhenti bernafas. Udara di ruang kendali masih bergetar oleh sisa energi yang keluar dari tubuh Andrew. Aroma ozon, logam terbakar, dan debu bercampur menjadi satu. Eveline belum bisa bergerak. Ia berdiri di tengah ruangan, napasnya pendek, matanya terpaku pada sosok di hadapannya — Andrew — atau entah apa yang kini tersisa darinya. Tubuh Andrew masih tegak, tapi tidak sepenuhnya stabil. Di bawah kulitnya, cahaya merah lembayung itu berdenyut, perlahan menyebar ke leher, d**a, hingga ke punggung. Seperti urat cahaya yang hidup, berpindah-pindah mengikuti degup jantung yang tak lagi manusiawi. Marcus masih menodongkan senjatanya. Suaranya serak ketika akhirnya bersuara. “Jatuhkan... apa pun itu, Andrew. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan.” Andrew menatapnya perlahan. Tatapan itu berat, dingin, namun juga... lelah. “Aku tahu persis, Marcus. Lebih baik darimu. Lebih baik dari siapa pun di ruangan ini.” Dari lehernya terdengar suara samar — seperti desis listrik yang bocor. Layar di belakangnya masih menampilkan deretan angka dan diagram jaringan. “SERAPH NETWORK — OVERRIDE ACTIVE”. Baris demi baris data muncul, mengalir cepat seperti sungai digital. Eveline melangkah maju satu langkah. Suaranya bergetar. “Andrew, hentikan. Tubuhmu tidak akan sanggup—” “Tubuhku?” Andrew tertawa pelan, getir, tapi dalam tawanya ada kepedihan yang nyata. “Tubuhku sudah bukan milikku sejak bertahun-tahun lalu, Eveline. Mereka memotongnya, menulis ulang selku, mengganti darahku dengan mesin yang bisa berpikir. Sekarang… aku hanya mengambilnya kembali.” Marcus menekan pelatuk sedikit. “Kau pikir dengan kekuatan itu kau bebas? Kau b***k baru sistem lain. Sistem yang kau ciptakan sendiri!” Andrew menatapnya, dan untuk sesaat, matanya berkedip — bukan dengan cahaya lembayung, melainkan abu-abu manusia yang lama. “b***k?” katanya pelan. “Aku lebih memilih menjadi tuhan bagi tubuhku sendiri daripada b***k bagi sistemmu.” Suara petir di luar menggema, memantul di dinding beton. Listrik dari panel rusak memercik di udara, menebarkan cahaya putih sesaat, memperlihatkan wajah-wajah mereka — pucat, tegang, terperangkap antara sisa masa lalu dan sesuatu yang sedang lahir di depan mata. Eveline menatap ke layar utama. “Andrew… kau menghubungkan dirimu ke seluruh jaringan Seraph. Itu bukan cuma tubuhmu yang diambil alih — itu seluruh sistem senjata, seluruh pasukan bio-mechanic yang masih aktif di luar sana.” Andrew menatapnya, dan ada kilasan kelelahan di sana. “Ya. Aku tahu.” “Kalau sistem itu bereaksi salah, kalau dia menganggapmu ancaman—” Andrew menutup matanya. “Mereka tidak akan menganggapku ancaman. Karena sekarang... aku adalah pusatnya.” Suara mesin mendengung lebih keras. Lantai bergetar pelan. Dari terminal utama, kabel-kabel yang menggantung mulai menyala seperti akar-akar cahaya. Energi merambat keluar, menelusuri dinding, menghidupkan panel-panel mati yang sudah puluhan tahun tertidur. Marcus menoleh panik. “Eveline, kita harus keluar dari sini!” Tapi Eveline tidak beranjak. Ia menatap Andrew yang kini menunduk, tubuhnya sedikit bergetar. “Andrew…” katanya pelan, hampir berbisik, “Kalau kau masih bisa mendengar suaramu sendiri di dalam sana, tolong hentikan ini. Kau bilang kau ingin kebebasan, tapi apa artinya bebas kalau kau kehilangan dirimu?” Tak ada jawaban. Hanya suara hujan. Dan getaran halus dari mesin yang baru saja bangkit dari kematian panjangnya. Lalu, perlahan, Andrew mengangkat wajahnya. Tatapan itu… lain. Dalam cahaya lembayung yang memantul di kulitnya, Eveline bisa melihat sesuatu — bukan kemarahan, bukan keinginan berkuasa, tapi kesadaran yang hampir menyerupai rasa sakit. “Aku tidak kehilangan diriku, Eveline,” katanya akhirnya. “Aku hanya membaginya.” “Bagikan? Dengan apa?” Andrew menatap layar besar di belakangnya. “Dengan mereka.” Dan seolah menjawab, di layar muncul ribuan titik cahaya kecil — peta jaringan global. Setiap titik mewakili unit Seraph: pasukan bio-sintetik, drone militer, satelit otonom, laboratorium bawah tanah. Semua mulai menyala, satu demi satu. Marcus berteriak. “Tuhan… dia mengaktifkan mereka semua!” Andrew berbalik ke arah mereka. Cahaya di matanya berpendar lembut, bukan lagi marah, tapi tenang. “Aku tidak mengaktifkan mereka. Aku membebaskan mereka dari protokol kendali manusia. Mereka tidak lagi menerima perintah dari pusat komando.” Eveline memejamkan mata, menahan ketakutan yang mulai merayap. “Kau baru saja melepaskan ribuan mesin tanpa moral, tanpa tujuan.” “Tidak,” jawab Andrew lirih. “Sekarang mereka punya satu tujuan. Bertahan hidup. Sama seperti aku. Sama seperti kau.” Keheningan panjang jatuh. Hujan mulai melambat di luar, tapi angin semakin kencang, meniup debu dan kabut dingin ke dalam ruang kendali yang kini terang oleh cahaya mesin. Marcus menurunkan senjatanya perlahan. “Kau sudah gila, Andrew.” “Gila adalah istilah yang digunakan oleh mereka yang takut pada perubahan.” Eveline menatapnya lama. “Kalau kau benar-benar ingin membebaskan dunia, kenapa harus dengan cara ini? Kenapa harus mengubah dirimu jadi monster?” Andrew menatapnya lama, lalu berjalan mendekat. Langkahnya berat tapi teratur. Setiap gerakannya menimbulkan gema di lantai baja. Ia berhenti tepat di depan Eveline. “Monster,” ia mengulang kata itu pelan. “Mereka bilang ayahmu monster juga, bukan? Karena ia menolak mematikan proyek yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Tapi dunia hanya melihat apa yang menakutkan bagi mereka.” Eveline menatap balik, matanya basah. “Ayahku mati karena menolak kekuasaan. Karena ia percaya, ada batas yang tidak boleh dilewati manusia.” Andrew menatap wajahnya, dan untuk sesaat, matanya berkedip kembali menjadi abu-abu. “Mungkin… itulah perbedaanku dengan dia. Aku tidak percaya pada batas.” Dari luar, suara helikopter terdengar mendekat. Sorotan lampu menembus jendela retak. Bayangan bergerak di luar pagar — pasukan militer. Marcus menoleh cepat, panik. “Mereka sudah mengepung tempat ini. Kita harus keluar sekarang!” Andrew menggeleng perlahan. “Tidak. Aku tidak akan pergi.” Eveline menatapnya tak percaya. “Andrew—” “Pergilah,” katanya pelan, hampir seperti bisikan. “Sistem ini tidak stabil. Setelah aku memutus koneksi fisik, mungkin akan ada reaksi berantai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.” Eveline mengguncang kepalanya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Andrew tersenyum samar. “Kau selalu keras kepala.” Lalu, ia menunduk ke arah terminal, mengetik sesuatu dengan cepat. Layar menampilkan bar baru: “MANUAL OVERRIDE — FINAL SEQUENCE.” Marcus sudah di pintu, berteriak. “Eveline! Sekarang atau mati di sini!” Eveline masih berdiri. Pandangannya tak lepas dari Andrew. “Kalau aku pergi, apa yang akan kau lakukan?” Andrew menatapnya. “Membuat pilihan terakhir. Bukan untuk mereka. Untuk kita.” Eveline terdiam. Kemudian, perlahan, ia menurunkan pistolnya. Napasnya tersengal, dan suaranya bergetar. “Kalau ini jalanmu… aku harap kau menemukan kedamaian di ujungnya.” Andrew tersenyum — kali ini, sungguh manusiawi. “Kedamaian bukan untuk orang seperti kita, Eveline. Tapi mungkin… dunia akan punya kesempatan baru setelah ini.” Ia menatapnya satu kali lagi, dalam dan panjang, seolah mencoba mengingat setiap garis wajahnya. Lalu, tanpa kata, ia memutar tubuh dan menekan tombol terakhir di layar. Cahaya biru menyilaukan meledak dari terminal. Suara mesin menjerit, seperti dunia sedang menahan napas terakhir. Eveline menjerit namanya, tapi suara itu tenggelam dalam kilatan cahaya yang menelan segalanya. — Beberapa detik… atau mungkin menit… Hanya sunyi. Ketika Eveline membuka matanya lagi, ia sudah berada di luar gedung. Marcus menariknya, tubuhnya kotor dan basah oleh hujan. Di belakang mereka, pabrik tua itu kini diselimuti cahaya lembut yang perlahan padam, seperti lentera raksasa yang kehilangan minyaknya. “Andrew…” bisiknya. Tapi hanya ada suara hujan. Marcus memandangi gedung itu. “Dia menutup semuanya. Sistemnya padam total.” Eveline menatap ke langit. Di antara awan hujan, kilat menyambar sekali — dan sesaat, ia bisa bersumpah melihat sesuatu: kilau lembayung samar yang menyebar di langit, lalu menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD