bab 5

1182 Words
Udara malam di kota itu terasa lebih dingin dari biasanya. Eveline duduk di tepi ranjangnya, tubuhnya masih lemah setelah muntah berkali-kali. Tangannya meraih segelas air, namun gemetar membuatnya sulit menggenggam. Ia menatap cermin besar di kamar, wajahnya pucat, bibirnya kering, dan matanya menyimpan kebingungan yang tak bisa ia ungkapkan. Kalung salib kecil masih tergantung di lehernya. Ia menggenggamnya erat, seakan itu satu-satunya pegangan agar pikirannya tidak runtuh. Ayah… kau ingin aku balas dendam, bukan? Tapi mengapa aku malah goyah setelah melihat matanya? Ia teringat jelas bagaimana Andrew menatapnya tadi—tatapan dingin, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik itu. Ada luka, atau mungkin beban. Eveline menggeleng keras. Tidak! Itu hanya manipulasi. Semua pembunuh punya cara untuk membuat mangsanya merasa iba. Namun, semakin ia berusaha menepis bayangan itu, semakin jelas wajah Andrew muncul di kepalanya. Suara beratnya, senyum tipisnya, bahkan aroma bourbon yang masih tercium samar di ingatannya. “Tidak mungkin aku jatuh ke dalam permainan ini,” gumamnya, namun suaranya terdengar lebih seperti keraguan daripada keyakinan. Pagi berikutnya, matahari belum tinggi ketika telepon genggamnya kembali bergetar. Nomor tak dikenal muncul di layar, namun Eveline tahu siapa yang berada di balik panggilan itu. Ia menekan tombol hijau. “Eveline Black,” suara itu dalam, tenang, dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Andrew. Eveline menelan ludah sebelum menjawab. “Ya, Boss?” Ada jeda singkat, seolah Andrew menikmati setiap detik keheningan sebelum ia berbicara. “Aku ingin kau menemui-ku malam ini. Restoran di tepi pelabuhan, pukul delapan. Datanglah sendiri.” Sebelum Eveline sempat menjawab, panggilan diputus. Tangannya bergetar. Mengapa Andrew ingin menemuinya berdua? Apa ini ujian berikutnya? Atau jebakan? Marcus biasanya selalu menjadi penghubung, tapi kali ini Andrew sendiri yang menelpon. Itu membuat segalanya terasa berbeda, lebih berbahaya. Eveline berdiri, berjalan ke jendela, menatap hiruk pikuk kota. Ia harus membuat keputusan: datang dan menghadapi risiko, atau menolak dan mungkin kehilangan kesempatan untuk mendekati pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia tahu jawabannya. Bagaimanapun, inilah jalannya untuk balas dendam. Malam itu, Eveline memilih gaun merah gelap dengan potongan sederhana namun anggun. Rambutnya dibiarkan terurai, memberi kesan lembut, meski di balik itu pikirannya penuh strategi. Pistol kecil tetap ia bawa, tersembunyi di tas. Restoran di tepi pelabuhan itu tampak tenang, dengan lampu-lampu gantung berwarna kuning keemasan dan alunan musik jazz pelan. Dari jendela besar, laut berkilauan diterpa cahaya bulan. Andrew sudah duduk di meja pojok, jauh dari keramaian. Jas hitamnya sempurna, kemeja putihnya kontras dengan mata abu-abu yang memantulkan cahaya lilin. Di depannya, segelas anggur merah sudah terisi setengah. Saat Eveline masuk, matanya langsung menangkap sosok Andrew. Ia berdiri, menyambutnya dengan sopan, bahkan menarikkan kursi untuknya. Sikap yang mengejutkan, mengingat malam sebelumnya pria itu dengan dingin menguji kesetiaannya. “Eveline,” ucap Andrew lembut, seakan mereka bukan dua musuh, melainkan kenalan lama yang akhirnya bertemu kembali. “Kau cantik malam ini.” Eveline terdiam sejenak, lalu duduk tanpa membalas pujian itu. Ia tahu lebih baik menjaga jarak. “Apa alasan kita bertemu di sini, Boss?” tanyanya langsung. Andrew menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kadang, bisnis tidak selalu harus dilakukan di ruang rapat atau meja makan yang penuh senjata. Ada hal-hal yang lebih… personal.” Jantung Eveline berdetak lebih cepat. “Personal?” Andrew menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Marcus bilang kau punya potensi besar. Tapi potensi itu hanya bisa k****a jika aku tahu siapa dirimu sebenarnya.” Eveline menggenggam kalungnya di bawah meja. “Aku sudah bilang kemarin. Aku ingin bertahan hidup. Itu saja.” Andrew tertawa pelan, suara rendahnya menggema. “Kau gadis pintar, Eveline. Tapi kau lupa satu hal—aku bisa mencium kebohongan lebih cepat daripada orang lain bernafas.” Tatapan mata abu-abu itu menusuk dalam. Eveline hampir merasa seluruh rahasianya terbuka di hadapan pria itu. Makan malam berlangsung dengan tenang, meski setiap kata Andrew seakan dirancang untuk mengguncang pertahanan Eveline. Ia bercerita tentang kehidupannya—bukan sebagai bos mafia, tapi sebagai pria biasa. Tentang hobinya membaca buku sejarah, tentang kecintaannya pada piano, bahkan tentang kebiasaannya bangun dini hari hanya untuk melihat matahari terbit dari balkon apartemennya. Eveline mendengarkan dengan hati-hati. Setiap detail ia simpan, karena bisa berguna suatu saat. Namun, semakin lama ia mendengar, semakin aneh perasaannya. Bagaimana bisa pembunuh ayahku juga punya sisi manusia seperti ini? Ketika makanan penutup disajikan, Andrew menatapnya serius. “Kau tahu, Eveline,” ucapnya, “di dunia ini, orang hanya melihatku sebagai monster. Tapi monster juga lahir dari sesuatu. Dari pengkhianatan, dari kehilangan, dari dendam. Kau tentu mengerti itu, bukan?” Kata dendam membuat Eveline tersentak. Ia menatap Andrew, ingin berkata bahwa dendamnya adalah padanya. Bahwa dialah alasan setiap malamnya dipenuhi mimpi buruk. Tapi lidahnya kelu. Ada kekuatan aneh yang menahannya. Andrew tersenyum samar, seakan membaca pikirannya. “Matamu menyimpan banyak rahasia. Suatu hari nanti, aku ingin kau memberitahuku apa yang sebenarnya kau sembunyikan.” Setelah makan malam selesai, Andrew menawarkan untuk mengantarnya pulang. Mobil mewah hitam menunggu di depan restoran, dengan sopir pribadi. Di perjalanan, hening mendominasi. Eveline duduk di samping Andrew, berusaha menjaga jarak, tapi tubuhnya tetap tegang. “Eveline,” tiba-tiba Andrew bersuara, “aku tidak percaya pada kebetulan. Ada alasan mengapa kau masuk ke dalam lingkaranku. Aku akan mencari tahu apa itu.” Eveline menahan napas. “Dan jika alasan itu tidak kau sukai?” Andrew menoleh, mata abu-abu itu kembali menelannya. “Maka aku akan memutuskan apakah kau akan hidup… atau mati.” Mobil berhenti di depan apartemen Eveline. Andrew turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. “Tidurlah dengan tenang malam ini,” ucapnya pelan. “Besok, permainan baru akan dimulai.” Eveline masuk ke apartemen dengan tubuh lemas. Begitu pintu tertutup, ia jatuh terduduk, menangis tanpa suara. Ia membenci dirinya sendiri karena merasakan getaran aneh setiap kali Andrew menatapnya. Ia membenci kenyataan bahwa bagian dari dirinya mulai… penasaran pada pria yang seharusnya ia benci. Ayah… apa aku sudah mengkhianatimu? Malam itu, Eveline bermimpi. Ia berdiri di sebuah lorong panjang, dengan dinding gelap dan pintu-pintu tertutup. Dari salah satu pintu terdengar suara ayahnya, memanggil namanya. Ia berlari, membuka pintu itu—dan menemukan Andrew berdiri di sana, dengan pistol di tangan. Tapi alih-alih menembak, Andrew meraih tangannya. “Ikutlah denganku, Eveline. Aku bisa memberimu dunia. Aku bisa memberimu kebenaran.” Ia terbangun dengan teriakan, tubuhnya berkeringat. Nafasnya terengah. Kebenaran? Apa yang dia maksud dengan itu? Keesokan harinya, Eveline mendapat pesan singkat dari Marcus, “Boss ingin kau ikut dalam pertemuan dengan tamu asing. Pukul 10 malam, pelabuhan timur.” Eveline tahu ini kesempatan penting. Ia bisa melihat lebih jauh tentang jaringan Andrew, mungkin menemukan celah untuk menghancurkannya. Namun, bagian lain dari dirinya tahu jika setiap kali ia semakin dekat dengan Andrew, batas antara dendam dan perasaan itu semakin kabur. Di depan cermin, ia mengenakan jaket kulit hitam, celana ketat, dan sepatu boots. Rambutnya diikat kuda, wajahnya tanpa make-up berlebihan. Ia ingin terlihat siap, bukan sebagai wanita rapuh. Sebelum pergi, ia kembali menyentuh kalung salib itu. “Ayah, lindungilah aku. Jangan biarkan aku jatuh ke dalam perangkapnya.” Namun, jauh di lubuk hatinya, Eveline sadar—perangkap itu bukan hanya soal nyawa. Itu juga soal hatinya sendiri. Dan malam ini, segalanya bisa berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD