bab 6

1067 Words
Angin laut dari pelabuhan timur berhembus menusuk kulit, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau solar dari kapal-kapal kargo yang sedang bersandar. Lampu-lampu jalan di kawasan industri itu remang, beberapa bahkan mati, meninggalkan bayangan panjang yang bergerak setiap kali angin menggoyang ranting pohon liar di tepi jalan. Eveline melangkah mantap, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Suara derap sepatu boots-nya terdengar jelas di antara kesunyian yang sesekali dipatahkan oleh klakson kapal jauh di lautan. Marcus sudah menunggunya di pintu masuk gudang tua yang malam ini tampak lebih hidup daripada biasanya. Beberapa mobil hitam berderet, dengan pria-pria berbadan kekar berdiri di dekatnya. Wajah mereka keras, dingin, dan setiap gerakan tangan selalu dekat dengan senjata yang tersembunyi di balik jas. “Kau datang,” suara Marcus berat namun datar, matanya menilai Eveline dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Boss sudah di dalam. Jangan buat kesalahan malam ini.” Eveline menahan tatapannya. “Kapan aku pernah membuat kesalahan?” Marcus mendekat, berbisik tajam. “Jangan terlalu percaya diri. Boss lebih suka mereka yang tahu batas.” Eveline menahan diri untuk tidak membalas. Ia tahu, Marcus tidak menyukainya sejak awal. Mungkin karena Andrew terlalu sering menaruh perhatian padanya. Atau mungkin karena Marcus merasa Eveline ancaman. Pintu besi gudang terbuka. Cahaya lampu sorot putih menyilaukan begitu ia melangkah masuk. Ruangan itu luas, dengan kontainer baja tersusun di sisi kanan dan kiri. Di tengah, ada meja panjang dengan kursi di kedua sisinya. Andrew duduk di ujung meja, mengenakan jas abu-abu tua yang elegan. Di hadapannya, tiga pria asing dengan wajah keras. Dari bahasa tubuh mereka, Eveline bisa menebak—mereka bukan sekadar pebisnis. Mereka orang lapangan, orang yang sudah terbiasa hidup dengan darah dan peluru. Andrew menoleh ketika Eveline masuk. Senyum tipis menghiasi wajahnya, sebuah senyum yang membuat tubuh Eveline terasa bergetar meski ia mencoba menyangkal. “Eveline,” ucap Andrew tenang, “duduklah di sini.” Ia menunjuk kursi tepat di sampingnya. Marcus sempat bereaksi, tapi tatapan Andrew cukup untuk membuatnya bungkam. Eveline melangkah dan duduk, merasakan kehangatan aneh hanya karena jarak mereka begitu dekat. Negosiasi pun dimulai. Pria asing itu berbicara dengan aksen tebal, membahas tentang pengiriman barang, keamanan jalur laut, dan jaminan perlindungan. Eveline memperhatikan dengan saksama, mencatat setiap detail dalam pikirannya. Barang itu bukan sekadar kargo biasa—ini jelas senjata. Andrew bicara dengan tenang, setiap kata dipilih dengan hati-hati. Ia menawarkan kerjasama dengan nada yang hampir terdengar seperti musik. Eveline terkejut melihat bagaimana Andrew bisa begitu fasih memainkan peran seorang diplomat sekaligus penguasa bayangan. Namun, di sela pembicaraan serius itu, ia sesekali menoleh pada Eveline. Pandangan yang membuat Eveline merasa dirinya bukan sekadar pion, tapi bagian penting dari permainan ini. Ketika diskusi semakin panas, salah satu pria asing menepuk meja keras. “Kami butuh jaminan nyata! Bagaimana aku bisa percaya jika hanya dengan kata-kata?” Andrew tidak bereaksi marah. Ia tersenyum tipis, lalu menoleh ke Eveline. “Mungkin kau bisa menjelaskan pada mereka, Eveline. Mengapa mereka seharusnya percaya padaku.” Darah Eveline seolah berhenti mengalir. Apa maksud Andrew? Mengapa ia menyerahkan sesuatu sepenting ini padanya? Namun, tatapan abu-abu itu menuntut jawaban. Eveline menegakkan tubuhnya, menatap para pria asing itu satu per satu. “Jika kalian tidak percaya padanya,” katanya mantap, meski jantungnya berdegup kencang, “maka kalian tidak tahu siapa yang sebenarnya kalian hadapi. Andrew tidak pernah kalah. Sekali kalian berdiri di sisinya, kalian akan melihat bahwa memilih musuh darinya sama saja dengan menggali kubur sendiri. Kalian ingin keamanan? Hanya dia yang bisa memberikannya.” Hening. Para pria asing itu saling pandang, lalu tertawa pendek. “Gadis ini punya mulut yang tajam,” kata salah satu dari mereka. “Tapi aku suka caramu bicara.” Andrew tersenyum samar, lalu menepuk pelan punggung tangan Eveline di bawah meja. Sentuhan singkat itu membuat Eveline terkejut, namun ia berusaha tidak menunjukkannya. Pertemuan berakhir dengan kesepakatan. Para tamu asing itu pergi dengan ekspresi puas, diiringi Marcus dan beberapa anak buah. Tinggallah Andrew dan Eveline di ruangan luas yang kini terasa terlalu hening. Andrew bersandar di kursinya, menyalakan rokok. Asap putih mengepul, melingkar di udara. “Kau tahu,” katanya perlahan, “kata-kata tadi menyelamatkan situasi. Marcus tidak akan bisa mengucapkannya sebaik kau.” Eveline menelan ludah. “Aku hanya bicara apa yang ada di pikiranku.” Andrew menoleh, matanya menelanjangi wajah Eveline. “Dan apa yang ada di pikiranmu tentangku, Eveline?” Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada peluru. Eveline membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Andrew tersenyum tipis, seakan puas melihatnya gelagapan. “Aku tidak butuh jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu… aku bisa membaca matamu. Kau menyembunyikan sesuatu, tapi juga ada hal lain. Hal yang bahkan kau sendiri takut akui.” Eveline berdiri cepat, mencoba menguasai diri. “Aku harus pergi.” Andrew mematikan rokoknya. “Aku akan mengantarmu.” Perjalanan pulang kali ini berbeda. Hening tetap mendominasi, tapi hawa di dalam mobil begitu tebal oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Eveline menatap keluar jendela, tapi sesekali ia bisa merasakan tatapan Andrew padanya. Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, Andrew tidak langsung membuka pintu. Ia menatap Eveline lama, lalu berkata pelan: “Suatu hari, Eveline, kau harus memilih. Antara dendam… atau sesuatu yang lebih besar dari itu.” Eveline menoleh cepat. Ia menahan nafas. “Apa maksudmu?” Andrew tersenyum samar. “Kau akan tahu. Cepat atau lambat.” Ia turun, membukakan pintu, lalu menunduk sedikit seperti seorang gentleman. “Selamat malam, Eveline.” Dengan langkah tergesa, Eveline masuk ke apartemen. Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung melemas. Ia jatuh terduduk, tangannya menggenggam kalung salib erat-erat. Apakah Andrew tau tentang dirinya? Dan misi balas dendamnya? Air matanya mengalir. Bukan karena takut. Bukan juga karena marah. Tapi karena ia benci menyadari bahwa bagian dari dirinya mulai… peduli. Peduli pada pria yang seharusnya ia benci. Malam itu, Eveline duduk lama di lantai, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah. Wajah Andrew terus menghantui, bersama suara ayahnya di ingatan. “Ayah, aku… aku tidak tahu lagi apa yang benar,” bisiknya lirih. Ponselnya bergetar. Pesan masuk. Dari nomor tak dikenal. Isi pesan itu hanya satu kalimat, “Besok tengah malam. Gedung tua di distrik utara. Datang sendiri. Kau akan tahu kebenaran tentang Andrew.” Eveline terdiam. Kebenaran? Siapa pengirimnya? Tangannya gemetar. Ia tahu, ini bisa jadi jebakan. Tapi juga bisa jadi pintu menuju jawaban yang selama ini ia cari. Tentang Andrew. Tentang ayahnya. Tentang semua dendam yang mengikatnya. Dan ia sadar, apa pun yang menunggunya di sana… akan mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD