bab 7

1203 Words
Angin malam kembali berembus dari jendela apartemen Eveline yang terbuka sedikit. Tirai tipis bergoyang pelan, menyapu wajahnya yang masih lembab oleh sisa air mata. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, tapi matanya sama sekali tidak mau terpejam. Pesan singkat yang ia terima tadi seperti mantra yang terus berulang-ulang di kepalanya: “Besok tengah malam. Gedung tua di distrik utara. Datang sendiri. Kau akan tahu kebenaran tentang Andrew.” Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri. Langkahnya terhuyung menuju meja kecil di dekat ranjang, di mana sebuah bingkai foto lama masih tersimpan. Foto ayahnya—sosok pria paruh baya dengan senyum hangat, memeluk Eveline kecil di tepi pantai. “Ayah…” suaranya parau, nyaris pecah. “Kalau benar Andrew orang yang bertanggung jawab atas kematianmu… mengapa hatiku jadi seperti ini?” Kalung salib kecil di lehernya ia genggam lebih erat, seakan benda itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kebingungan. Pagi menyapa kota dengan cahaya pucat. Eveline mencoba beraktivitas seperti biasa—bangun, menyiapkan kopi, menyalakan televisi. Tapi pikirannya tidak bisa lepas dari pertemuan di gudang semalam, dan pesan misterius yang menunggunya. Suara Andrew, tatapan matanya, bahkan sentuhan singkat di punggung tangannya masih terasa nyata. Tubuhnya sendiri mengkhianati pikirannya; bagaimana bisa ia mulai mengingat pria itu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sebagai musuh? Ia berjalan ke cermin besar di ruang tamu. Wajahnya tampak lelah, tapi di balik sorot matanya ada tekad yang semakin mengeras. “Malam ini,” gumamnya lirih, “aku akan tahu siapa dia sebenarnya.” Hujan tipis turun ketika malam tiba. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, menciptakan kilauan muram di aspal yang hitam. Eveline mengenakan jaket kulit gelap, rambutnya ia ikat kencang ke belakang. Di pinggang, tersembunyi pistol kecil—warisan ayahnya, yang ia simpan hanya untuk momen penting. Distrik utara adalah kawasan yang sudah lama ditinggalkan. Gedung-gedung tua berdiri seperti raksasa terlupakan, dindingnya ditumbuhi lumut, kaca-kaca pecah, dan grafiti menutupi hampir setiap sudut. Ketika mobilnya berhenti di depan gedung tua yang dimaksud, Eveline merasakan hawa dingin menjalar hingga ke tulang. Lampu jalan hanya sedikit yang menyala. Selebihnya, gelap pekat. Ia turun, langkahnya bergema di jalanan sepi. Pintu besi gedung itu terbuka sedikit, seakan memang menunggunya. Ruangan dalam gedung tua itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang menembus dari jendela besar yang retak. Bau debu dan karat menusuk hidung. “Eveline.” Suara itu membuatnya refleks meraih pistol. Dari bayangan, seorang pria melangkah keluar. Tinggi, tegap, wajahnya separuh tersembunyi oleh cahaya redup. “Aku tahu siapa Andrew sebenarnya,” kata pria itu. “Dan aku tahu siapa yang membunuh ayahmu.” Eveline menajamkan mata. “Siapa kau? Dan mengapa aku harus percaya padamu?” Pria itu mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah amplop kusam. “Ini buktinya. Dokumen yang membongkar jaringan Andrew—dan rahasia masa lalunya dengan keluargamu.” Ia melempar amplop itu ke arah Eveline. Dengan cepat Eveline meraihnya, membuka, dan menemukan foto-foto lama: Andrew masih muda, berdiri bersama beberapa pria berseragam militer bayangan. Di salah satu foto, ayah Eveline ada di sana. Matanya membesar. “Ayah… dan Andrew?” “Ya,” jawab pria misterius itu. “Mereka dulu kawan. Rekan seperjuangan. Tapi Andrew mengkhianatinya. Itu sebabnya ayahmu mati.” Eveline merasa darahnya mendidih. Tapi sekaligus, keraguan besar mencengkeram hatinya. Andrew… seorang pengkhianat? Lalu mengapa ia memperlakukannya berbeda dari yang lain? Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, suara langkah berat terdengar dari pintu belakang gedung. Sinar senter menyapu dinding, dan suara Marcus menggema: “Eveline! Aku tahu kau di sini!” Jantung Eveline berdetak kencang. Marcus? Bagaimana ia bisa tahu? Pria misterius itu langsung menunduk. “Ini jebakan. Kau harus pergi sekarang!” Eveline mengangkat pistolnya. “Kau… siapa sebenarnya?” Namun sebelum ia mendapat jawaban, suara tembakan pecah. Dinding di dekat kepalanya berdebu, peluru hampir mengenainya. Marcus dan anak buahnya sudah masuk, senjata terangkat. Eveline berlari, menyusuri lorong gelap gedung tua itu. Suara sepatu berat mengejarnya, disertai teriakan kasar. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam pistol erat-erat. Pria misterius tadi entah ke mana. Seakan menghilang begitu saja. “Berhenti, Eveline!” Marcus berteriak. “Jangan buat dirimu mati konyol!” “Persetan!” teriak Eveline, menembak sekali ke arah mereka. Bukan untuk membunuh, hanya untuk memperlambat. Ia menendang pintu kayu lapuk dan berlari menuruni tangga darurat. Suara langkah di belakangnya semakin dekat. Hatinya berkecamuk. Jika Marcus tahu ia di sini, apakah Andrew juga tahu? Atau… apakah Andrew yang mengirimnya? Hujan deras menyambutnya begitu ia keluar lewat pintu samping. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, sementara kilat sesekali membelah langit. Marcus muncul di belakangnya, senjata terarah. “Kau pikir bisa melawan Andrew? Dia akan menghancurkanmu, Eveline. Sama seperti dia menghancurkan ayahmu.” Kata-kata itu menghantam seperti petir. Eveline terhenti sejenak, tubuhnya gemetar. Namun tepat saat Marcus siap menembak, sebuah mobil hitam meluncur dari kegelapan, berhenti mendadak di antara mereka. Pintu terbuka. “Masuk!” Suara Andrew. Eveline hampir membeku. Otaknya berkata jangan. Tapi tubuhnya bergerak lebih cepat. Ia berlari masuk, pintu tertutup, dan mobil melaju kencang menembus hujan. Marcus hanya bisa berteriak marah dari kejauhan. Hening mencekam memenuhi mobil. Andrew duduk di kursi pengemudi, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tangannya tenang di kemudi, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal sepele. “Kau seharusnya tidak ada di sana,” ucap Andrew datar. Eveline menoleh tajam. “Jadi kau tahu?” Andrew tidak menjawab langsung. Ia hanya menghela napas, lalu menoleh sekilas padanya. Mata abu-abu itu berkilat samar di bawah cahaya lampu jalan. “Aku sudah bilang, Eveline. Cepat atau lambat kau akan tahu.” “Dan kebenaran itu apa?” Eveline menekan. “Bahwa kau membunuh ayahku?!” Kata-katanya meluncur seperti pisau. Tapi Andrew tidak bereaksi marah. Hanya sebuah senyum samar, yang entah mengapa membuat Eveline semakin bingung. “Jika aku bilang tidak,” Andrew berucap pelan, “apakah kau akan percaya?” Eveline menggertakkan gigi. “Kau selalu pandai bicara. Tapi aku butuh bukti, Andrew. Bukti nyata.” Andrew terdiam cukup lama. Suara hujan di atap mobil menjadi satu-satunya irama. Lalu ia berkata: “Bukti itu ada. Dan aku akan menunjukkannya padamu. Tapi kau harus siap. Karena setelah itu, tidak ada jalan kembali.” Malam itu, Andrew tidak langsung membawa Eveline pulang. Mobil mereka berhenti di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Andrew memintanya masuk, dengan alasan “lebih aman di sini daripada di luar.” Eveline ragu. Tapi rasa ingin tahu mengalahkan segalanya. Di dalam, apartemen itu rapi, minimalis, dengan aroma kopi dan rokok yang samar. Andrew membuka lemari besi di sudut ruangan, lalu mengeluarkan sebuah map tebal. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk berhadapan dengan Eveline. “Di dalam sini ada catatan. Tentang ayahmu. Tentang aku. Tentang masa lalu yang tidak pernah diceritakan padamu.” Eveline menatap map itu, tapi tangannya enggan bergerak. Seolah membuka lembaran itu sama dengan membuka luka yang tidak akan pernah sembuh. Andrew memperhatikan wajahnya dengan seksama. “Kau masih punya waktu untuk mundur. Jika kau buka ini, Eveline… kau tidak akan lagi melihat dunia dengan cara yang sama.” Eveline akhirnya mengulurkan tangan. Jemarinya gemetar ketika menyentuh map itu. Ia menatap Andrew sekali lagi, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang ia lihat hanya keteduhan aneh, bercampur dengan sesuatu yang hampir… tulus. Ia membuka map itu perlahan. Dan apa yang ia lihat, mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD