bab 8

1131 Words
Kertas-kertas dalam map itu sudah menguning di tepinya, sebagian terlipat, sebagian lagi penuh coretan tangan yang tergesa. Eveline menelan ludah, jemarinya menyentuh halaman pertama—dokumen militer dengan kop rahasia dan cap stempel merah: “PROJECT SERAPH – CONFIDENTIAL.” Matanya bergerak cepat. Nama ayahnya tertera jelas: Dr. Nathaniel W. Cross – Head of Bioethics Research Division. Dan di bawahnya, nama lain: Andrew Hale – Field Commander, Special Operations. “Ayah dan kau…” Eveline berbisik. “Kalian bekerja dalam proyek yang sama?” Andrew tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat jendela besar, punggungnya tegak, siluetnya dikelilingi cahaya hujan kota. Eveline terus membaca. Baris demi baris mulai membentuk gambaran samar. “Project Seraph” bukan sekadar riset medis. Ini adalah proyek pemerintah bayangan—eksperimen manusia untuk menciptakan tentara dengan kemampuan sensorik yang ditingkatkan. Ayahnya adalah otak moral proyek itu, ilmuwan yang percaya semua eksperimen harus memiliki batas. Andrew, sebaliknya, adalah alat yang mereka bentuk—pemimpin tim pertama yang diuji coba serum eksperimental. Lalu, di salah satu halaman, Eveline menemukan foto yang membuat darahnya membeku. Ayahnya tergeletak di lantai laboratorium, bersimbah darah. Di belakangnya, berdiri siluet seseorang… wajahnya samar, tapi bentuk tubuhnya—posturnya—terlalu familiar. “Andrew…” Eveline menatapnya tajam, suaranya bergetar. “Itu kau, bukan? Katakan padaku!” Andrew berbalik perlahan. Ada sesuatu di matanya—campuran antara lelah dan menyesal. “Kau ingin kebenaran? Baik. Tapi bersiaplah, karena setelah kau tahu, kau takkan pernah bisa kembali mempercayaiku.” “Aku sudah kehilangan kepercayaan itu sejak malam ayah mati,” balas Eveline tajam. Andrew melangkah mendekat, lalu meletakkan sesuatu di atas meja—sebuah rekaman video kecil dari drive lama. Ia menyalakannya. Layar menampilkan laboratorium yang sama dengan di foto. Ayahnya sedang berdebat dengan seseorang di luar kamera. “Aku tak akan biarkan mereka memperlakukan manusia seperti bahan percobaan!” suara ayahnya keras, jelas marah. “Proyek ini harus dihentikan, Andrew!” Lalu terdengar suara Andrew—muda, penuh tekanan. “Kau tahu mereka takkan mengizinkannya. Mereka sudah terlalu jauh, Nate!” “Aku tak peduli! Aku akan buka semua ini ke publik!” Tiba-tiba, suara tembakan. Kamera bergetar. Tubuh Dr. Nathaniel jatuh. Tapi yang menarik pelatuk bukanlah Andrew—melainkan pria lain dengan seragam hitam, mengenakan topeng operasi. Dan di belakang pria itu… berdiri Marcus. Rekaman berhenti. Dunia di sekitar Eveline seolah berhenti juga. “Marcus…” bisiknya tak percaya. “Dia… dia yang membunuh ayahku?” Andrew mengangguk pelan. “Aku mencoba menghentikannya, tapi saat aku tiba, semua sudah terlambat. Mereka membuatnya seolah aku yang menembak. Mereka butuh kambing hitam—dan aku adalah yang paling mudah dijadikan sasaran.” Eveline menatapnya lama. Ada amarah yang menolak percaya, tapi juga kejujuran di wajah Andrew yang tak bisa ia abaikan. “Lalu kenapa kau tidak membela diri? Kenapa membiarkan aku membencimu selama ini?” Andrew menunduk, suaranya pelan. “Karena lebih mudah bagimu untuk membenciku… daripada menanggung kenyataan bahwa ayahmu mati karena pengkhianatan sahabatnya sendiri.” Keheningan panjang merayap di antara mereka. Hanya suara hujan di luar yang terdengar, mengetuk kaca seperti detak jantung yang tak sabar. Eveline perlahan menutup map itu. “Jadi Marcus bekerja untuk mereka? Untuk orang-orang di balik proyek ini?” Andrew mengangguk. “Ya. Dia bukan hanya sekadar agen keamanan. Dia bagian dari organisasi yang menciptakan Project Seraph. Dan mereka belum berhenti, Eveline. Mereka masih beroperasi, dalam bayangan. Dan sekarang, mereka tahu kau tahu sesuatu.” Tubuh Eveline menegang. “Itu sebabnya mereka menjebakku di gedung tua tadi malam.” Andrew mendekat, tatapannya tajam tapi lembut. “Kau harus mempercayai aku kali ini. Aku bisa melindungimu. Tapi untuk itu, kita harus bekerja sama.” Eveline mundur selangkah. “Percaya padamu? Setelah semua ini?” Andrew menghela napas, lalu membuka kerah bajunya sedikit. Di bawah kulit lehernya, tampak bekas luka panjang—dan di tengahnya, implan logam kecil yang berdenyut samar, seolah hidup. “Mereka menanamkan ini padaku. Alat kendali. Aku bukan sepenuhnya bebas sejak hari itu. Setiap gerakanku diawasi. Setiap misi, setiap pembunuhan yang mereka lakukan atas namaku—semua diatur dari jarak jauh.” Eveline menatapnya dengan mata membesar. “Jadi selama ini kau…” “Ya. Boneka mereka.” Andrew menatapnya lurus. “Tapi aku berencana memutus kendali itu. Dan aku butuh bantuanmu.” Eveline menatap implan itu—dalam benaknya terlintas semua yang ia alami: kematian ayahnya, kebohongan Marcus, dan kebingungan terhadap perasaannya sendiri terhadap Andrew. Antara dendam dan rasa yang tak mau hilang. “Kau mau aku membantu… orang yang mungkin membunuh ayahku secara tak langsung?” tanyanya getir. Andrew mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Tidak. Aku ingin kau membantu menebusnya.” Mata mereka bertemu. Ada listrik halus di udara, bukan dari ketegangan, tapi sesuatu yang lebih dalam—campuran luka, amarah, dan rasa yang tak mau padam. Eveline menunduk, menarik napas panjang. “Kau punya rencana?” Andrew menatap keluar jendela, ke langit malam yang dilumuri cahaya kota. “Ya. Dan semuanya dimulai di tempat yang sama di mana semua ini berakhir—fasilitas lama di bawah distrik selatan. Di sanalah semua data tersimpan. Jika kita bisa masuk ke sana, kita bisa menghapus kendali ini… dan mengungkap kebenaran sepenuhnya.” Eveline terdiam. Hujan di luar berubah deras, seolah ikut menyembunyikan keputusan besar yang lahir di ruangan itu. Setelah beberapa detik, ia berkata lirih, “Baik. Aku akan ikut. Tapi kalau aku tahu kau berbohong lagi, Andrew… aku akan menarik pelatuknya sendiri.” Andrew menatapnya lama, lalu mengangguk. “Itu adil.” Ia mengambil pistol dari saku jasnya, menaruhnya di meja di depan Eveline. “Mulai malam ini, kita berada di sisi yang sama.” --- Beberapa jam kemudian, dini hari menyelimuti kota. Mobil hitam mereka melaju di jalanan basah, menuju distrik selatan. Lampu kota di kaca depan berpendar kabur oleh hujan, sementara di dalam kabin, keheningan membentang panjang. Eveline menatap Andrew dari kursi penumpang. Pria itu tampak tenang, tapi dari jarak dekat, ia bisa melihat urat di lehernya menegang, seperti sedang menahan sesuatu—rasa sakit, mungkin. Atau rasa takut. Ia memalingkan wajah ke jendela. Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri—mata yang dulu dipenuhi dendam, kini mulai diisi oleh sesuatu yang berbeda: tekad, dan keraguan yang sama besarnya. Andrew berbicara pelan tanpa menoleh, “Jika sesuatu terjadi padaku nanti, jangan berhenti. Bawa data itu keluar. Dunia harus tahu.” Eveline hanya menjawab dengan satu kalimat yang membuat Andrew akhirnya menatapnya: “Kalau kau mati, Andrew, aku pastikan dunia ini juga ikut terbakar.” Mobil itu meluncur semakin jauh ke dalam malam, menembus kabut dan hujan. Di kejauhan, siluet distrik selatan muncul—gedung-gedung runtuh, jembatan besi tua, dan di bawahnya… cahaya redup dari fasilitas bawah tanah yang seolah menunggu. Tempat di mana masa lalu dan masa depan mereka akan bertabrakan. Dan mungkin, tempat di mana cinta dan kebenaran akan saling menghancurkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD