bab 16

1145 Words
Langit Argen malam itu berwarna perak kehitaman. Awan bergerak pelan, seperti gumpalan asap dari kota yang tak pernah berhenti bernafas. Di bawahnya, lampu-lampu neon menyala temaram, meneteskan cahaya ke jalan-jalan basah yang berkelip bagai urat nadi dari makhluk hidup raksasa bernama “kota”. Angin membawa bau ozon, logam, dan sedikit wangi tembakau — aroma yang menjadi napas keseharian bagi mereka yang terlalu lama hidup di antara dosa dan rahasia. Eveline melangkah menyusuri jembatan tua di distrik utara. Hujan baru saja berhenti, tapi genangan di bawahnya masih memantulkan wajahnya — samar, bergetar oleh hembusan angin. Ia mengenakan mantel panjang warna abu, kerahnya berdiri menutupi sebagian leher. Sepatu boot-nya menginjak air, meninggalkan riak kecil yang cepat hilang. Sudah dua hari sejak pertemuan terakhir dengan Andrew di bar itu. Dua hari yang terasa seperti sebulan. Ia tidur di siang hari dan terjaga di malam, mencoba menghapus wajah Andrew dari pikirannya, tapi semakin ia melawan, semakin dalam bayangan itu menempel. Setiap kali menutup mata, ia mendengar suaranya — tenang, berat, seolah sedang berbicara dari tempat yang jauh di dalam dirinya sendiri. “Karena aku tidak tahu cara mati dengan tenang.” Kalimat itu menghantamnya seperti mimpi buruk yang indah. Eveline berhenti di tengah jembatan, menatap lampu-lampu kapal patroli yang bergerak di sungai bawah sana. Suara mesin menggema, lalu lenyap ditelan kabut. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkan kartu data dari saku mantel. Di permukaannya, simbol Seraph tampak jelas — sayap setengah terbakar, tanda dari proyek yang seharusnya sudah lama dimusnahkan. Tapi kenyataannya, tidak ada yang benar-benar musnah di Argen. Ia menatap simbol itu lama. Di matanya, bukan hanya refleksi masa lalu Andrew yang muncul, tapi juga bayangannya sendiri. Ia sadar — semakin dalam ia terlibat, semakin kabur batas antara tugas dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tak berani beri nama. Di tempat lain, Andrew duduk di ruang arsip bawah markas lama militer Argen. Dinding-dindingnya lembap, tertutup lapisan debu dan karat. Lampu neon di langit-langit bergetar lemah, memantulkan bayangan panjang dari tubuhnya yang membungkuk di depan meja. Di hadapannya, ada tumpukan berkas tua, foto-foto yang sebagian terbakar, dan satu proyektor kecil yang menampilkan citra digital: wajah-wajah dari Project Seraph — manusia yang pernah diubah menjadi senjata. Di antara semua itu, satu foto berhenti di layar. Seorang perempuan muda, mata abu-abu, mengenakan seragam hitam. Andrew menatapnya lama. Bibirnya mengeras. Ia ingat betul siapa perempuan itu. Evelyn Hart. Subjek Seraph-07. Perempuan pertama yang lolos dari laboratorium, lalu menghilang — hingga laporan terakhir menyebutkan: mati dalam operasi pembersihan. Tapi nama itu… Evelyn. Dan wajahnya. Mirip. Terlalu mirip dengan Eveline. Andrew menatap layar itu lebih lama dari seharusnya. Tangannya gemetar sedikit, lalu ia menekan tombol delete. File itu hilang dari layar, tapi tidak dari pikirannya. Ia tahu, sebagian dari kebenaran selalu bersembunyi di tempat yang tak bisa dijangkau — di antara kesalahan masa lalu dan sesuatu yang menyerupai penyesalan. Suara langkah pelan terdengar dari lorong belakang. Marcus muncul membawa dua cangkir kopi. “Kau belum pulang?” Andrew menggeleng, tanpa menoleh. “Belum.” Marcus meletakkan cangkir di dekatnya. “Aku bicara dengan intel dari sektor barat. Mereka menemukan sisa jaringan Seraph di distrik bawah. Sepertinya mereka bereksperimen lagi.” Andrew menatapnya cepat. “Dengan siapa?” Marcus mengangkat bahu. “Belum tahu. Tapi mereka menyebut kode ‘E-07’.” Andrew terdiam. Angin dari ventilasi tua berdesir pelan. Ia berdiri tanpa sepatah kata, mengambil jas, dan berjalan menuju pintu. Marcus menatapnya dari belakang. “Kau tahu ke mana kau akan pergi, kan?” Andrew berhenti sejenak, lalu berkata lirih, “Ke masa lalu.” Eveline tiba di apartemen menjelang dini hari. Langit di luar jendela sudah mulai memucat, pertanda fajar akan datang, tapi kota Argen tidak pernah benar-benar tidur. Lampu menara komunikasi masih berkelip merah, memantulkan cahaya di kaca apartemennya. Ia melepas mantel, menaruh pistol di meja, lalu duduk di kursi dekat jendela. Rasa letih menjalar pelan dari ujung jari ke seluruh tubuhnya. Tapi matanya masih hidup — berisi sesuatu antara amarah dan rindu. Dari meja, ia mengambil segelas air, lalu memandangi refleksinya di kaca. Cahaya lampu kota menelusuri garis wajahnya. Ada sesuatu di sana — sesuatu yang ia tidak ingat pernah punya: kelembutan. “Evelyn Hart,” ia berbisik pelan, mencoba merasakan bagaimana nama itu meluncur di bibirnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya ingatan itu. Hanya kilasan — laboratorium, suara alarm, api, dan seorang pria dengan seragam hitam menatapnya dari balik kaca tebal. Matanya abu-abu. Sama seperti milik Andrew. Gelas di tangannya retak. Eveline berdiri tergesa, napasnya memburu. Ia membuka laci di bawah meja, mengeluarkan satu chip data tersembunyi — yang tidak pernah ia berikan pada Andrew. Di atas chip itu terukir angka: 07. Tangannya bergetar. Ia tahu, sebagian dirinya bukan miliknya sendiri. Andrew tiba di distrik bawah saat langit mulai berwarna biru tua. Tempat itu seperti perut kota — lembap, berisik, dan berbau darah besi. Lampu-lampu pabrik berkedip tak teratur, dan dari celah-celah dinding, uap panas keluar seperti napas monster. Ia menyusuri lorong-lorong sempit yang pernah ia kenal. Setiap langkah membawa ingatan. Setiap bau, setiap suara — memanggil hantu dari masa lalu. Di ujung lorong, ia menemukan pintu logam dengan logo Seraph yang pudar. Ia menempelkan tangan ke panel lama. Lampu hijau menyala. Kode aksesnya masih berfungsi. Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan suara berat seperti keluhan dari dunia lain. Ruangan di baliknya sunyi. Tapi di meja tengah, ada foto. Eveline — dengan rambut panjang, mengenakan seragam militer hitam, mata yang sama dinginnya dengan yang ia lihat malam itu di bar. Andrew memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus merasa apa. Rasa bersalah, atau kehilangan. Atau mungkin, keduanya adalah hal yang sama. Sementara itu, Eveline berdiri di balkon apartemennya, memandangi kota yang mulai diselimuti cahaya pagi. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa aroma hujan yang belum benar-benar pergi. Ia menyalakan rokok, meski jarang melakukannya. Asapnya naik perlahan, menari di udara yang lembap. Suara dari komunikator di meja membuatnya menoleh. Sinyal masuk — dari Marcus. “Eveline,” suara itu berat. “Andrew ke distrik bawah. Kami kehilangan kontak visual.” Jantungnya berdetak keras. “Apa?” “Dia membuka akses lama. Project Seraph.” Eveline menatap jauh, ke arah kabut yang menyelimuti utara kota. Ia tahu. Semua yang mereka hindari selama ini sedang kembali. Dan di balik semua itu, ada kebenaran yang tak bisa mereka tolak lagi — bahwa mereka berdua, mungkin bukan hanya dua orang yang terluka… tapi dua pecahan dari satu kesalahan besar yang sama. Ia mengambil pistol, memasukkannya ke dalam holster, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Jika dunia ini hancur lagi… maka biarlah aku yang menyalakan apinya.” Langkah kakinya bergema di lorong panjang, seiring fajar yang mulai naik di atas kota Argen. Di langit, awan bergerak perlahan — dan di antara cahaya yang dingin, bayangan dua orang tampak berjalan menuju satu arah yang sama. Bukan untuk menyelamatkan dunia. Tapi untuk menghadapi apa pun yang tersisa darinya. Dan mungkin, untuk saling menemukan di tengah reruntuhannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD