bab 15

1173 Words
Beberapa hari berlalu setelah malam di bar tua itu. Kota Argen kembali hidup dalam irama yang sama — sirine, hujan, dan suara mesin yang tak pernah berhenti. Tapi bagi Eveline, waktu seakan berjalan dengan detak yang berbeda sejak malam itu. Sejak tatapan mata Andrew menembus ruang di antara mereka, membawa rasa yang tak seharusnya ada di dunia seperti ini. Di apartemennya di lantai dua puluh, Eveline berdiri di depan jendela besar. Hujan menetes di kaca, menulis garis-garis acak seperti rahasia yang tak pernah selesai. Ia mengenakan kemeja putih longgar, rambutnya masih lembap. Di tangannya — segelas anggur merah yang sudah mulai kehilangan suhu. Ia memandangi refleksi dirinya. Bukan lagi wanita dingin yang selalu siap dengan pistol di balik gaun sutra. Ada sesuatu di wajahnya sekarang — semacam keretakan kecil, yang bahkan ia sendiri takut untuk mengakui. Andrew. Nama itu menggema pelan di pikirannya. Ia ingat caranya menatap — bukan seperti pria lain yang memandang wanita, tapi seperti seseorang yang sedang menakar jarak antara hidup dan kematian. Dingin, tapi jujur. Itu yang membuat Eveline benci. Dan mungkin, juga alasan ia tak bisa berhenti memikirkannya. Di sisi lain kota, Andrew berdiri di ruang bawah tanah markasnya. Lampu neon putih memantulkan bayangan samar di wajahnya. Di meja logam, chip data dari Eveline terbuka di bawah proyeksi hologram — menampilkan jaringan data yang kompleks, file rusak, dan simbol-simbol yang pernah menjadi bagian dari hidupnya yang lama: Project Seraph. Ia menatap layar itu tanpa berkedip. Setiap garis data membawa kenangan — darah, jeritan, laboratorium terbakar, dan wajah seseorang yang dulu ia lindungi mati-matian. Wajah yang samar-samar mirip dengan Eveline. Marcus masuk tanpa mengetuk. “Kau belum tidur lagi, bos.” Andrew tidak menjawab. “Data itu,” lanjut Marcus, “sebagian sudah kupulihkan. Ada nama yang terus muncul — Director. Tapi ada satu lagi yang menarik: kode akses lama milikmu masih aktif di sistem mereka.” Andrew menatapnya, lalu menyalakan rokok. “Artinya mereka sengaja membiarkan pintu itu terbuka.” “Perangkap?” “Mungkin.” Asap rokok naik pelan di antara mereka. Marcus ragu sejenak. “Dan Eveline?” Andrew menatap bara rokoknya. “Ada apa dengan Eveline?” “Kau tahu maksudku. Dia bukan orang biasa, Drew. Dan bukan pertama kali seseorang mencoba mendekatimu lewat kelemahan.” Andrew tersenyum tipis. “Kau pikir aku masih punya kelemahan?” Marcus mendesah. “Kau manusia, bos. Setidaknya… aku harap begitu.” Andrew tidak menjawab. Tapi tatapannya menerawang — jauh, ke tempat di mana masa lalunya terkubur bersama sesuatu yang pernah ia cintai. Sedangkan Eveline duduk di bar yang sama beberapa malam kemudian. Kursi di seberangnya kosong, tapi ia tetap menatapnya, seolah Andrew masih duduk di sana. Musik jazz yang sama, asap rokok yang sama, bahkan pelayan yang sama — tapi malam ini terasa lebih dingin. Ia mengeluarkan kartu kecil dari tasnya. Foto lama, kabur — Andrew, lebih muda, mengenakan seragam militer hitam dengan simbol sayap Seraph di pundak. Di belakang foto itu, tulisan samar: “Untuk mereka yang masih percaya.” “Aku percaya,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Percaya apa?” suara dari belakang membuatnya hampir menjatuhkan gelas. Andrew berdiri di sana, jasnya basah oleh hujan, tapi tatapannya tenang. “Andrew…” suara Eveline bergetar sedikit. “Kau—kau mau minum?” Andrew duduk tanpa menjawab, seperti biasa. “Kau memanggilku lagi.” Eveline tersenyum miring. “Kau membiarkanku waktu itu.” “Kali ini aku tidak melarang,” jawab Andrew datar, tapi di matanya ada sesuatu — kilau lembut yang jarang muncul. Hening sesaat. Eveline memutar gelas di tangannya. “Kau temukan sesuatu dari chip itu?” Andrew menatap ke luar jendela, di mana hujan mulai berubah jadi kabut. “Ya. Dan aku harap aku tidak menemukannya.” Eveline mendesah. “Kau selalu bicara seperti orang yang membawa dosa dunia.” Andrew tertawa kecil, pertama kalinya dalam waktu yang lama. “Mungkin karena aku memang melakukannya.” Eveline menatapnya lama. “Kau tahu, kadang aku pikir… kau bukan lelaki yang lahir untuk hidup di dunia ini.” Andrew menatap balik. “Dan kau pikir aku cocok di neraka?” “Tidak,” katanya pelan. “Aku pikir kau menciptakannya.” Kata-kata itu menggantung di udara. Lalu mereka berdua tertawa kecil, getir tapi jujur. Untuk sesaat, dunia luar terasa berhenti — hanya ada mereka, dua jiwa yang terlalu rusak untuk diselamatkan, tapi terlalu keras kepala untuk menyerah. Malam itu, setelah bar tutup, mereka berjalan berdua melewati gang sempit di belakang gedung. Hujan sudah reda, tapi udara masih berbau logam basah. Andrew menyalakan rokok lagi. Eveline berjalan di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Lalu tiba-tiba ia berhenti. “Aku tahu apa yang kau sembunyikan,” katanya pelan. Andrew menoleh. “Kau tahu banyak hal.” “Tidak, kali ini aku benar-benar tahu.” Ia mendekat selangkah. “Tentang Project Seraph. Tentang bagaimana kau jadi seperti ini.” Andrew diam. Uap napasnya tampak di udara dingin. “Aku tidak datang hanya karena pekerjaan,” lanjut Eveline. “Aku ingin tahu kenapa seseorang seperti kau masih bertahan. Setelah kehilangan segalanya.” Andrew menatapnya lama. Tatapannya bukan marah, bukan dingin — tapi seolah ia sedang melihat sesuatu yang ia kira sudah hilang selamanya. “Karena aku tidak tahu cara mati dengan tenang,” jawabnya akhirnya. Eveline menelan ludah. “Atau mungkin karena kau masih ingin hidup untuk seseorang.” Andrew tersenyum samar. “Seseorang itu sudah lama mati.” “Belum tentu,” Eveline mendekat lagi, hampir menyentuhnya. “Mungkin dia hanya berganti nama.” Hujan mulai turun lagi, pelan-pelan. Eveline berdiri sangat dekat — cukup dekat hingga Andrew bisa merasakan detak jantungnya. Tapi ia tak mundur. Hening. Cahaya neon dari kejauhan memantul di genangan, menyorot wajah mereka — dua bayangan yang saling menatap di antara sisa-sisa dunia yang retak. Andrew akhirnya berkata pelan, “Kau bermain dengan api, Eveline.” Ia tersenyum. “Kau lupa? Aku tahan api.” Sejak malam itu, sesuatu berubah di antara mereka. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada sentuhan yang terlalu lama. Tapi setiap kali mereka bertemu — di bar, di markas, atau bahkan di lorong-lorong gelap kota Argen — udara di antara mereka membawa sesuatu yang tak terucap. Kadang Andrew hanya menatapnya dari jauh, memperhatikan bagaimana Eveline memberi perintah pada anak buahnya dengan dingin dan elegan. Kadang Eveline menunggu Andrew di atap gedung tempat ia biasa berdiri, hanya untuk berbicara lima menit — tentang hal-hal sepele, seperti rasa rokok, atau warna langit setelah hujan. Tapi di balik percakapan kecil itu, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Bukan cinta yang lembut — tapi cinta yang lahir dari luka, dari kehancuran, dari rasa takut kehilangan yang terlalu akrab. Andrew tahu, jika ia membiarkan dirinya jatuh, dunia yang rapuh ini bisa runtuh lagi. Tapi setiap kali Eveline menatapnya — dengan mata yang menyimpan rahasia sekaligus ketulusan — ia tak bisa berpaling. Suatu malam, Eveline berkata tanpa menatapnya, “Jika dunia ini hancur lagi, aku tak peduli. Asal aku tahu siapa yang akan memegang tanganku saat semuanya berakhir.” Andrew tak menjawab. Tapi ia menatap langit — dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia berharap hujan tidak berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD