Setelah berbicara beberapa lama, pada akhirnya Melisa mengetahui wanita cantik di hadapannya bukan lah bibi yang merawatnya, melainkan mereka hanya mirip saja sangat mirip, sifat mereka juga berbeda, penyihir ini lebih banyak bicara dan terlihat sangat percaya diri, dibandingkan bibi nya yang ia kenal jarang berbicara.
"Oke aku berkenalan sekali diri ku sekali lagi, aku adalah penyihir ungu, penyihir yang mengisolasi dirinya untuk meneliti sihir. Sepertinya kamu tersesat di hutan ini dan beruntung kamu tertidur di tempurung Kuro"
"Tempurung Kuro?" Ucap Melisa bingung
"Seperti kamu tak tau, akan aku perkenalkan kamu nanti, untuk saat ini sebaiknya kamu makan sup ini ada herbal di dalamnya yang baik untuk mu" penyihir ungu memang tak seperti bibi yang jarang bicara, tapi kepedulian yang penyihir ungu berikan tak jauh beda dengan Melisa saat pertama kali ia bertemu dengan bibi.
Saat itu Melisa tak banyak berbicara juga, tapi bibinya selalu ada dan mengerti ketika Melisa merasa sedih, saat itu bibi coba menghibur Melisa terkadang ia juga berbicara banyak dan mengingat itu membuat Melisa sedikit tersenyum
"Nona penyihir" ucap Melisa "di mana aku saat ini?"
Sambil tersenyum nona penyihir menjelaskan "Saat ini kamu berada di rumah sang penyihir lebih tepatnya di hutan kegelapan"
"Hutan kegelapan?" Melisa bingung
"Coba kamu lihat ke jendela" ucap penyihir ungu sambil menunjuk jendela bulat kecil
Melisa yang tadi terduduk di kasurnya berdiri dan membuka tirai yang menutupi jendela, ia terkejut melihat ke luar yang mirip seperti apa yang ia lihat saat sebelumnya dan itu membuatnya mengingat sang badut
"Ada apa?" Tanya penyihir ungu yang terlihat khawatir dengan ekspresi yang ditunjukkan Melisa
"Apa ini hutan kegelapan? Tapi kenapa semuanya berwarna putih dan hitam" ucap Melisa
"Apa maksudnya?" Tanya penyihir yang terlihat bingung dengan penjelasan yang diberikan Melisa, sang penyihir melihat ke luar dan juga ikut memastikan, tapi yang ia lihat adalah sebuah hutan yang berwarna hijau dan rindang, dan matahari yang sudah mulai senja.
"Hutan itu tetap hijau dan matahari tetap berwarna oranye di sore hari, apa yang kamu maksud dengan hitam putih?"
Melisa menatap ke luar jendela dan menjelaskan apa yang ia lihat sambil menunjuk jari nya "aku melihat daun daun itu berwarna hitam dan juga batang nya, dan tanah di sekitarnya juga berwarna hitam, matahari itu juga berwarna hitam, awan awan itu juga berwarna hitam"
Penyihir ungu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Melisa, dan tentu ia tahu Melisa tak berbohong, ini pertama kalinya ia melihat kejadian ini
"Lalu bagaimana dengan ku?" Tanya nya karena penasaran
"Anda dan seisi ruangan ini berwarna seperti biasanya, dan anda juga dengan gaun ungu cantik anda dan topi penyihir berwarna ungu anda"
Penyihir makin penasaran dan entah kenapa banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertanya pertanyaan ke Melisa.
"Terima kasih aku selalu menyukai gaun ini" ucap penyihir ungu dengan ekspresi senang
"Kita akan bahas itu nanti, sebaiknya kamu habiskan sup herbal itu nanti dan beristirahatlah" penyihir ungu tidak kehilangan senyuman nya sampai ia berbalik dan pergi keluar ruangan
&&&
Di ruangan penelitian penyihir ungu, Melisa terduduk di bangku kayu dan menjawab beberapa pertanyaan dari penyihir.
"Oke jadi kesimpulannya, semua yang ada di rumah ini berwarna tetapi untuk ruangan di luar tidak berwarna dan hanya hitam putih" ucap penyihir ungu
"Iya benar"
"mari kita jalankan beberapa tes" ucap Penyihir ungu dengan semangat berapi api "tes pertama kita akan coba mengeluarkan benda berwarna ke luar rumah, lalu tes kedua kita akan memasukan benda yang tak berwarna ke dalam rumah"
Jadi saat ini mereka ada berada di tangan rumah, perbatasan antara berwarna dan tak berwarna yang dilihat melisa. Jadi ini adalah batu berwarna yang aku dapatkan dan kita akan membawa batu ini keluar dari lingkungan rumah
Penyihir ungu berjalan perlahan lahan menuju tak berwarna yang dilihat Melisa, Melisa memperhatikan batu yang berwarna merah itu dengan seksama
"Bagaimana Melisa?" Tanya nona penyihir
Tapi Melisa terdiam, ia dikejutkan dengan penyihir ungu yang membuat semua yang ada disekitarnya menjadi berwarna, mulai dari tanah yang ia injak dan beberapa rantik yang tergeletak sudah tidak lagi berwarna hitam saja, Melisa terlihat kagum seakan-akan ia melihat nona penyihir memancarkan aura di tubuhnya yang membuat sekitar nya berwarna.
"Ada apa Melisa" penyihir yang melihat ekspresi Melihat membuat nya menyimpulkan "pasti ada sesuatu yang tak kita kira akan terjadi ya kan?"
Melisa tersadar lagi kekagumannya dan memberi penjelasan kepada penyihir ungu tentang apa yang ia lihat
Penyihir ungu berpikir sejenak dan menyimpulkan bahwa mungkin ini ada hubungannya dengan mana. Lalu sang penyihir menggunakan sihir untuk membuat batu yang tadi di tangannya melayang
"Bagaimana Melisa apa yang kamu lihat?" Tanya penyihir ungu
"Aku melihat seakan ada butiran cahaya yang mengangkat batu tersebut yang keluar dari ujung tangan nona penyihir" ucap Melisa dengan kagumnya yang tak sekagum sebelumnya
"Seperti aku sedikit mengerti, apa yang kamu lihat ini adalah mana, sesuatu yang dimiliki penyihir, ku simpulkan kamu sepertinya memiliki kemampuan untuk melihat mana, dan untuk benda benda di ruangan kemungkinan berwarna karena pelepasan mana yang biasa aku lakukan" jelas penyihir ungu
Melisa terdiam, Seketika Melisa mengingat kejadian sebelumnya soal badut yang semua kepalanya berwarna warni. Apakah makhluk itu juga penyihir? Dan itu juga membuat nya ragu untuk mengatakan kepada penyihir ungu soal badut itu
Melisa mendengar suara seseorang yang sedang memotong kayu, lalu ia bertanya "siapa itu?"
"Oh itu Jo" ucap Penyihir ungu "aku akan bawa kamu untuk memperkenalkannya
Saat Melisa tiba betapa kagetnya ia melihat sebuah tangan yang melompat lipat dengan pegas di bawahnya
"Itu Jo, jadi bagaimana apakah kamu melihat warna di dirinya?"
"Tidak ada warna"
"Ia kah?" Penyihir ungu tiba tiba bersemangat, dan ia kembali bertanya tanya "bagaimana ia bisa bergerak padahal ia tak punya mana sedikit pun"
Tentu tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu, itu akan menjadi bahan penelitian nya selanjutnya
Setelah melihat Jo Melisa memutuskan memberitahu sang penyihir ungu soal badut yang di lihat nya sebelumnya
"Soal badut itu menurutku adalah penyihir atau mungkin alat penyihir" ucapnya dengan serius
"Akhirnya aku sedikit mengerti, semua yang berwarna kemungkinan dekat dengan penyihir, tapi Jo tidak berwarna yang berarti ia bukan ciptaan penyihir Lagian saat aku pertama ke rumah ini aku sudah bertemu Jo yang terus bekerja setiap saat sudah membuat ku aneh, kupikir penyihir apa yang bisa membuat Jo terus bergerak tanpa kehabisan mana"
Lalu di tengah percakapan mereka tuan Kuro tiba tiba datang dengan cepat, Melisa yang tak bisa melihat kecepatan itu dikejutkan dengan tuan Kuro yang tiba tiba berada di hadapannya. Melisa terkejut dan jatuh karena ia tak melihat tuan Kuro berwarna dan ia masih belum biasa dengan makhluk tak berwarna