menjadi murid penyihir dan "siapa anak lelaki tampan itu?"

1152 Words
“apa kamu tidak apa apa?” tanya tuan Kuro kepada Melisa yang terjatuh ke tanah “Melisa ini tuan Kuro, yang membawamu kesini, kamu lihat kecepatan tadi? ia telah berjuang untuk memastikan kamu tidak terjatuh saat tertidur di tempurungnya” Melisa kembali bangun dan menundukan sedikit kepalanya dan berterima kasih atas bantuan kuro “terimakasih telah membawa Melisa ke tempat yang aman” ucap Melisa penyihir ungu mulai bertanya kepada Kuro soal badut yang dilihat oleh melisa. Tuan Kuro mulai menceritakan soal badut tersebut tepatnya saat ia sedang berkeliling hutan ia merasakan ada pembatas yang aneh saat ia berlari dan di sana ia melihat seekor badut yang tertawa sangat kencang dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, seharusnya Tuan Kuro melaporkan kejadian itu kepada Penyihir ungu tetapi Kuro berkata “makhluk itu begitu lambat, dan aku berpikir itu tak akan mengancam orang lain” memang badut itu sangat lambat, tapi di mata Kuro yang memiliki kecepatan ia melihatnya sangat super super lambat dan maknanya kuro pikir ia bukan makhluk yang berbahaya “mau berbahaya maupun tidak, sudah perjanjiannya kau harus melaporkan apapun kepada ku” tegas penyihir ungu kepada Kuro. Kuro yang cepat sebenarnya seorang pengecut yang kadang mudah ketakutan, dan ia membuat perjanjian dengan penyihir ungu untuk melindungi dirinya sekarang Penyihir ungu memutuskan untuk melihat makhluk itu secara langsung “mari kita lihat dan bunuh badut itu Melisa” ucapnya kepada melisa yang ragu ragu untuk ikut, tapi ia berhasil di yakinkan oleh ekspresi percaya diri yang ditunjukkan oleh Penyihir ungu. penyihir ungu juga punya tujuan lain, ia merasa sedih melihat Melisa yang ketakutan, ia pikir ini kesempatan yang bagus untuk memberi tau Melisa bahwa seberapa kuat dirinya dan tak ada yang harus ditakutkan saat Melisa bersama dengan dirinya. di perjalanan itu Melisa naik ke tempurung Tuan Kuro dan dengan bantuan sihir dari Penyihir ungu membuatnya tak merasakan apa apa walaupun dalam kecepatan yang sangat cepat. mereka berhasil sampai dengan tanda tanda beberapa pohon tumbang “badut itu pasti tak jauh di sekitar sini” ucap Penyihir ungu dan lalu ia membaca mantra di telapak tangannya, hanya melisa yang melihat ada seperti cahaya bola bola kecil yang berkumpul di telapak tangan sang penyihir lalu melayang ke segala sisi, ternyata bola bola itu mencari keberadaan badut ke segala sisi dan untuk Melisa pemandangan itu sangat cantik seperti sebuah petasan canggih yang belum pernah ia lihat sebelumnya. semua bola cahaya itu tiba tiba kembali ke penyihir seakan memberi tahunya keberadaan sang badut itu sang penyihir tersenyum lalu ia kembali membaca mantra “Melisa perhatikan ini” ucapnya lalu bola bola kecil muncul lagi di telapak tangan dan perlahan menjadi sebuah bola api seukuran kelereng, penyihir ungu segera melempar bola itu ke tempat yang ia tahu di salah sang badut berada entah sedang apa mungkin kelelahan setelah mengamuk Bola api itu dilempar seperti sebuah bola tenis, yang meledak di depan tempat sang penyihir membidik tadi, terdengar suara teriakan seorang pria yang kasar, yang ternyata suara itu berasal dari badut yang setengah kepalanya gosong dengan mata yang keluar salah satunya, tentu ia kembali mengamuk dan tahu keberadaan mereka, karena tak berotak badut itu langsung saja menyerang tapi penyihir ungu terlihat tenang dan sudah memprediksi hal tersebut. sang penyihir sekali lagi membaca mantra di telapak tangannya sekarang bola api itu benar benar seukuran bola tenis, yang langsung saja ia lemparkan kepada sang badut lambat dengan tubuh nya yang menyerupai dinosaurus itu. kali ini lemparan itu seperti peluru yang lurus tajam tanpa berbelok sedikit pun dan ledakan nya sangat besar untuk memusnahkan badut itu tanpa tersisa, tentu sisa sisa api masih terbakar di situ yang berwarna merah. Melisa terkagum kagum dengan apa yang ia lihat, ledakan sebesar itu tak memberikannya sedikit pun efek karena perlindungan dari penyihir ungu. “bagaimana melisa, apa kamu bisa melihat indahnya mana?” tanya penyihir ungu yang mengerti kemungkinan apa yang dilihat melisa berbeda dengan apa yang ia lihat “itu sangat cantik” ucap melisa yang telah melupakan ketakutan nya sebelumnya, seakan itu tidak pernah ada "Apa kamu tertarik untuk mempelajarinya?" Ucap penyihir ungu yang sudah memutuskan dari awal perjalanan, menurutnya dengan bantuan Melisa ia akan membuat sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia buat, soal sesuatu selain sihir dan kekuatan yang mungkin berbeda dengan sihir "Apa aku bisa mempelajarinya?" Tanya Melisa yang terlihat sedikit bersemangat untuk sihir "Tentu kamu bisa, selain itu kita juga akan meneliti kekuatan selain sihir dan kita juga akan bereksperimen dengan sihir dan banyak hal yang akan kita lakukan, sebaiknya kita segera bergegas pulang, supaya aku bisa memberikan pelajaran dasar soal sihir kepada mu" penyihir ungu sangat bersemangat seakan akan ini sudah menjadi penantian lamanya, dia akan menerima penerus &&& Sudah setahun Melisa bersama penyihir ungu dan ia lumayan dalam penguasaan sihir walau tak sehebat gurunya, sihir favorit Melisa adalah sihir cahaya yang sering sekali ia gunakan, sihir ini membuat penerangan yang tak seperti sihir api, sihir ini membuat Melisa mampu melihat seperti sebuah obor di dunia tanpa warnanya "Hai tuan Kuro" ucap Melisa Melisa tak takut lagi kepada tuan Kuro karena sihir cahaya nya mampu membuat nya melihat sosok tuan Kuro yang tua seperti kura kura yang telah hidup ribuan tahun, walaupun kura kura ia adalah makhluk tercepat di hutan ini "Hai nona Melisa, ku harap aku tak mengganggu penelitian mu" ucap Kuro Melisa mamang di sibukkan penelitian nya soal sihir cahaya, saat ini Melisa mencoba membuat agar cahaya itu bisa berada di depannya, ia memang mampu membuat jangkau nya lebih besar tapi itu memakan banyak sekali energi untuk Melisa Melisa melihat sumber mana itu berkumpul di kepalanya dan sekitar dahinya, ia berharap bisa membuat sumber itu berada 2 kali dari dirinya tapi itu tak mudah, karena Melisa sendiri tidak bisa melihat sumber cahaya di kepalanya, dan terkadang penyihir ungu tertawa melihat ia memakai sihir ini karena dahi dan sekitar Kepala Melisa bercahaya Beberapa kali Melisa memikirkan bola yang besar seperti lampu taman yang dapat ia gerakan sebebasnya, tapi itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena ketika ia berhasil membentuk bola cahaya, dan berusaha mengerjakan perlahan bola itu langsung memudar, ini seperti mengerjakan soal IPA dan matematika bersamaan dan di waktu yang sama Saat sedang fokus Melisa mendengar suara tawa "hahaha itu sangat lucu, kepalanya bersinar" Melisa yang tak sengaja mendengarnya mulai kesal dan berkata "siapapun dirimu keluarlah!" "Maafkan aku apa aku membuat membuatmu marah, tapi aku tak mampu menahan tawa ku" ucap sosok pria yang seumuran dengannya, Melisa sangat terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat sosok bayang yang berbentuk manusia dan berbicara kepadanya. Dan karena terkejut Melisa tak sengaja melempar sisa dari sihir cahaya itu ke arah anak laki laki itu dan membuat anak laki laki itu juga terkejut karena kesilauan. "Hentikan silau" ucapnya sambil menutup mata nya dengan lengan nya Cahaya yang memudar perlahan membuat Melisa bisa melihat sosok anak laki laki itu, yang berwajah tampan seperti bangsawan Eropa dengan pakaian yang modis, dan untuk sesaat Melisa terkagum dengan penampilan anak lelaki itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD